Wednesday, 18 October 2017

Evil God Chapter 3


TranslatorUDesu & Ramune
Editor
Zero
Proof Reader
UDesu


Chapter 3 :
Pahlawan Vs Dewa Iblis

Awal musim panas tahun 1005.
Aku menghabiskan waktuku seperti biasanya.
Semua bawahanku sepertinya sedang keluar.
Yah, mungkin mereka sedang latihan atau melakukan sesuatu.

Kira-kira tempat apa yang harus kuamati hari ini?
Meski begitu, dunia ini dalam masa dimana tidak banyak hal yang bisa diamati.

Hm?
Saat memikirkan itu, aku tiba-tiba merasa tidak enak.
Ada yang datang, tapi, keberadaan macam apa ini?
Ini bukan milik salah satu bawahanku...

Jangan-jangan...
Pintu ruang tahta terbuka lebar. Meski jumlah mereka sedikit, aku dengan mudah melihat keberadaan mereka menggunakan evil eye.

---Sang pahlawan, Yufilia Plantegenet.

Tidak salah lagi. Akhirnya hari ini tiba juga.
Aku mulai gemetar karena telah menunggu hari ini selama 1000 tahun.
Jantungku terasa berdebar kencang. Mungkin aku merasa gugup.

Lalu kelompok pahlawan tiba di hadapanku.

Apa kau... Dewa Iblis?


Yufilia bertanya padaku

Auranya terasa sangat jahat.

Seorang gadis yang berpenampilan seperti penyihir terlihat ketakutan.
Ahli sihir (Sage), Tiraiza. Salah satu anggota kelompok pahlawan yang mengalahkan raja iblis.
Dia memiliki rambut pendek berwarna biru.
Sosoknya terlihat rapuh dan sangat kecil.
Seorang ahli sihir harusnya tenang, berwajah tanpa ekspresi, dan tidak memperlihatkan emosi di wajahnya.
Tapi karena aura iblisku, dia gagal mempertahankan wajah pokerface-nya.

--Miasma.

Itu adalah aura yang dipancarkan oleh semua Dewa Iblis. Aura tersebut sangat kuat, berbeda dari aura milik manusia.
Manusia biasa pasti sudah pingsan saat merasakannya.
Kelompok pahlawan memang luar biasa.

Tak kusangka dia memang ada di sini

Yufilia menunjukkan ekspresi ragu di wajahnya.
keringat mulai mengucur di sekujur tubuhnya.
Dia sudah terlihat kelelahan meskipun hanya berada di depan Dewa Iblis.

Yufi! Apa yang harus kita lakukan? Apa kita bisa mengalahkannya?

Prajurit (Warrior) bernama Jiemi bertanya pada  Yufiia sambil mempersiapkan 
kapaknya.



Tak mungkin kita datang ke sini cuma untuk kabur lagi...


Yufilia membulatkan tekadnya.

Sudah kuduga, dia tak mungkin memilih untuk kabur.
Seperti permintaan Dewa, aku harus membuat mereka pergi setelah merasakan teror yang diberikan oleh Dewa Iblis.

---Aku akan memperlihatkan teror sesungguhnya pada kalian.

Dengan tiba-tiba, aku merentangkan sayap hitamku yang besar, lalu bersiap untuk berbicara.

BArhanyi siKraEli PeafhlAewhan sefPSertir KraRLiban urntEuek dasTleang kiE kRuiel keSgerleaPyan miSliekKrUx
(Berani sekali pahlawan seperti kalian untuk datang ke istana kegelapan milikku!)

Haaa? Apa-apaan ini? Aku tak bisa berbicara dengan baik.
Bahkan aku sendiri tak tahu apa yang kukatakan karena suara anehku ini.

Aku jadi ingat. Sudah 1000 tahun berlalu sejak kehidupanku yang sebelumnya.
Dulu aku tak bisa berbicara dengan baik pada wanita.
Aku bahkan tak bisa ngobrol dengan para gadis.
Jadi saat aku berbicara, hasilnya akan seperti ini.


Hanya saja, itu  adalah cerita dari kehidupanku sebelumnya; aku tidak menyangka kebiasaan burukku tetap ada meski telah menjadi Dewa Iblis.



 Apa-apaan orang ini…apa dia tidak bisa bicara?



Tapi ras iblis bisa bicara dengan lancar.



Prajurit Jiemi dan pendeta (priest) Iris waspada.



 Aku tak peduli akan hal itu. Ayo bunuh dia!



 Yufilia berteriak dan mulai menyerang.



 Wya, Tyunggyu duylhuey! (Translation: Tu-tunggu dulu!)



Aku tidak sudi menunggu!



 Setelah Yufiria menjawabku, pertarungan pun dimulai.



***



 Apa-apaan dia ini? Lemah sekali!



Sambil memiringkan kepalanya, Jiemi terlihat kebingungan.



Aku jatuh bersimbah darah.



 jiika dipikir-pikir, ia bahkan belum menyerang sama sekali.



Tiraiza terlihat sangat kecewa.



Ke mana perginya ketegangan yang tadi itu?



Sepertinya mereka berpikir kalau bertarung denganku sangat membosankan.



Mana mungkin aku bisa bertarung melawan wanita, berbicara dengan mereka saja aku tak bisa.



Karena kegugupanku, badanku tidak bergerak seperti yang kuinginkan.



Hatiku berdegup kencang sedangkan badanku gemetar.



kupikir aku gemetaran karena sudah 1000 tahun sejak terakhir kali aku bertarung melawan pahlawan, tapi ternyata bukan karena itu.



Aku gugup karena lawanku adalah perempuan.


Yah, soalnya sudah 1000 tahun berlalu.



Tentu saja aku tidak bisa menyerang mereka.



Kalau saja lawannya adalah pria, aku pasti sudah membunuhnya dari tadi, tapi semua anggota kelompoknya adalah perempuan.



Kenapa seperti ini?! Ketika raja iblis dikalahkan, ada pria yang ikut serta mengalahkannya.



 Iris?



Yufilia melihat Iris, sang pendeta.



Sejak tadi, Iris memutar-mutar rambut coklatnya dengan ujung jarinya.



Aku penasaran apakah ia berpikir bahwa mereka menyerang terlalu awal; ia terlihat seakan-akan mau mengkritik mereka.






Ummmm… Ada sebuah legenda di desaku… Bahwa di dunia ini ada tempat bernama Kuil kegelapan.



 Iris menjelaskannya dengang wajah yang terlihat putus asa.



Ooo, jadi alasan kenapa mereka tahu tempat ini adalah karena Iris tinggal di tempat yang mengetahui tempat ini.



Di sana diceritakan kalau ada makhluk yang lebih kuat daripada raja iblis– yakni Dewa Iblis, yang pasukannya saja bisa mengalahkan seluruh pasukan raja iblos dalam sehari. Tapi sepertinya cerita itu tidak benar.



Hah? Jika dipikir-pikir, bagaimana caranya mereka bisa sampai di tempat ini? Apa mereka tidak bertarung melawan bawahanku?



Tapi aku… sudah menyampaikan cerita itu persis seperti aslinya…



Suara Iris semakin mengecil.



Atau jangan-jangan, orang ini bukan Dewa Iblis.



Jiemi mengatakannya dengan ragu.



Aku juga pernah berpikir begitu Tapi, aku ini memang Dewa Iblis.



Kupikir kita tidak salah. Barusan dia bilang, “Kuil kegelapanku”.



 Saat Yufilia mengatakannya, ketiga temannya terkejut.



Eh!? Kau mengerti apa yang diucapkannya?



Ya… sebagian.



Yufilia menjawabnya dengan sedikit kebingungan.



Serius?



Sepertinya Tiraiza tidak percaya ucapannya dan menatap wajah Yufilia.



Ayolah, tak ada gunanya berdebat tentang bahasa orang ini. Omong-omong, apa dia sudah mati?



Aku masih hidup. Aku menjawab pertanyaan Jiemi di dalam pikiranku.



Aku dalam keadaan regenerasi otomatis. Ini adalah kemampuan yang bisa memulihkan HP.



Dan aku juga memiliki kemampuan restorasi. Dengan ini, tubuhku bisa kembali seperti semula, meski jantung atau kepalaku rusak, semua itu akan kembali seperti semula selama aku memiliki HP.



Dan kekuatan regenerasiku lebih cepat daripada serangan mereka.

Oleh karena itu, mustahil bagi mereka untuk membunuhku.


Sekarang, HP-ku sudah penuh… dan aku dalam kondisi prima.



Tentu saja, karena tadi aku mendapat luka, saat ini aku masih bersimbah darah.



Oleh karena itu, mereka berpikir kalau aku sudah mati.



Meskipun begitu, tidak mungkin bagiku untuk bangkit begitu saja dalam situasi seperti ini.

Mereka pasti akan ketakutan, dan aku pasti gugup lagi nantinya.
Jadi aku berpura-pura mati dan mendengarkan mereka.


 Meski dia masih bernafas, dia pasti akan mati.



Tapi bagaimana kalau dia bisa bertahan hidup? Sangat membingungkan kalau Dewa Iblis ternyata selemah ini. Disamping itu, tidak ada informasi sama sekali tentang tempat ini. Ternyata perjalanan hari ini sia-sia.



 Tiraiza sepertinya ingin cepat pulang.

Selama 1000 tahun, aku tidak pernah menyakiti manusia.
 Oleh karena itu, aku tidak berbahaya.
Atau begitulah sepertinya yang mereka pikirkan.


Aku tidak tahu apakah ini memang sia-sia. Mungkin kita akan menemukan harta karun jika kita mencarinya. Soalnya kan dungeon ini memiliki level kesulitan yang tinggi.



Legenda itu mengatakan bahwa meskipun Dewa Iblis dikalahkan, ia tidak akan meninggalkan harta atau apapun. Oleh karena itu, kemungkinan ada harta di sini sangatlah kecil.



Tiraiza menyanggah pernyataan Jiemi.



Ayo kita cari dulu. Yah, meskipun akan memakan waktu lama karena tempat ini sangat luas



Baiklah.



 Tiraiza menjawabnya dengan malas.



Dan setelah itu, kelompok pahlawan pun meninggalkan ruangan ini.






2 comments:

  1. Dia jd dewa iblis seharusnya sudah kehilangan emosi nya yah kan? Udh gx takut lg ngebunuh manusia. Loh kok ini malah jd lembek gitu

    ReplyDelete
  2. Mungkin hasrat kali yang hilang, bukan emosi.

    ReplyDelete