Wednesday, 3 January 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 219 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Zero
Proof Reader
Mizuki Hashima


Arc 24: Sang Raja Sibuk Dalam
Berbagai Hal 

Chapter 219: Dewa Bawahan, dan

Dunia Roh


O~ssu, Ini Touya lho~!

Aku merasa ingin mengucapkan sesuatu seperti itu karena rambutku menjadi pirang (blonde) platinum dan memanjang sampai pinggangku sementara tubuhku memancarkan aura Dewa. Kurasa sebaiknya aku tidak memikirkan hal itu, lebih baik bagiku untuk tidak memikirkan hal itu.
(TLN: Referensi Dragon Ball)

Omong-omong tentang orang tua didepanku, hal yang sama juga terjadi padanya, tapi auranya terlihat keruh meski keemasan juga. Warnanya sama dengan “Emas gelap”. Tiba-tiba, ledakan besar misterius pun terjadi.

Sheyaa!!(Orang Tua)

Orang tua itu, yang terlihat seperti belalang sembah kurus, mulai menembakkan kekuatan Dewa dari tangannya, tapi dengan cara yang sama aku menahan serangan itu dengan tanganku. Setelah itu, Semua yang ada di sekitar aula resepsi dimana kami berada meledak. Baik dinding dan lantai menara istana emas hancur berantakan, dan kami berada di tengah-tengahnya.

Kohaku dan Yae terlihat seakan-akan mereka akan jatuh dari istana yang hancur, jadi aku menangkap mereka.

Ukyaa────────a!!?

Si monyet yang memakai baju emas tadi jatuh ke lantai bawah dengan posisi kepala dibawah bersama puing-puing bangunan. Monyet pun juga jatuh dari pohon ya… Tidak, ia jatuh dari istana.

Tinggal aku dan orang tua itu… kami terus menatap satu sama lain sementara identitas orang tua itu sudah terbongkar.

Huh? Saat ini, aku mengapung tanpa menggunakan [Fly] atau [Levitation]. Apakah ini efek kekuatan Surgawi?

Sementara aku berpikir betapa misteriusnya ini, orang tua berjenggot yang mirip dengan belalang sembah itu pun membuka mulutnya.
(TLn: Orang tua itu memanipulasi si monyet berbaju emas bernama Hideyoshi)

Siapa kau bajingan…? Apakah kau Dewa-rendah atau Dewa-bawahan yang datang dari dunia para Dewa untuk menangkapku…?(Orang tua)
Bukan keduanya, dan itu bukan tugasku. Daripada membahas itu, kenapa kau tidak menurut saja dan menyerah? Tidakkah kau berpikir kalau ini buruk bagimu untuk turun seenak jidat ke bawah? Dan untuk memperparahnya, bukankah kau juga telah ikut campur dari belakang layar, membuat kekacauan di Ishen?(Touya)
Diamlah! Bisakah kau memahami kesakitan yang kami terima dari
Kebosanan dari hari demi hari? Tidak ada satupun baik aku maupun Dewa lain yang bisa tahan dari rasa kekosongan itu!
(Orang tua)

Ah~, apakah itu berarti kalau Dewa yang posisinya bahkan ada di bawah Dewa-rendah tidak memiliki pekerjaan apa-apa? Karen-nee-san adalah Dewi cinta yang menguasai rasa kasih sayang dan cinta, dan Moroha-nee-san adalah Dewi pedang yang menguasai pedang. Dengan kata lain, apakah Dewa ini pengangguran? Seorang NEET?
(TLn: NEET: Not in Employment, Education nor Training atau bisa disebut sebagai pengangguran)

Aku hanya belum berusaha! Aku akan menjadi Dewa dengan posisi yang pantas dan kekuatan yang akan dipuja oleh semua orang…!(Orang tua)

Meski kata-katanya pun seperti seorang NEET. Bukankah baik kalau ia menjadi Dewa NEET atau semacamnya?
(TL: Dewa NEET..? Kegoblokan macam apa lagi ini..?)

Pada akhirnya, apakah ini berarti kalau Dewa ini, yang tidak puas terhadap dunia para Dewa dimana kemampuannya tidak diakui, turun ke dunia ini, dan secara diam-diam mencoba untuk merubah dunia?

Terlebih lagi, hal itu digunakan untuk mendapatkan pekerjaan… Daripada mendapatkannya, inilah yang terjadi saat ia berpikir untuk menjadi Dewa-rendah. Benar-benar merepotkan.

Pokoknya, hal-hal yang telah kau lakukan selama ini melanggar peraturan dunia para Dewa, tidakkah kau berpikir demikian? Kupikir akan lebih baik bagimu untuk menyerah saja.(Touya)
Hmmm, aku bisa merasakannya. KeDewaanmu masih tidak stabil. Mungkin, kau adalah Dewa baru, ya. Masih belum lama sejak kau menjadi Dewa, kan? Apakah mereka berpikir orang sepertimu bisa menangkapku?(Orang Tua)
Tidak akan, karena itu bukanlah tugasku …(Touya)

Saat aku mau membetulkan ucapan Dewa bawahan itu, pemandangan sekitar kami tiba-tiba berubah.

Tapi aku baru mengetahuinya setelah hal itu terjadi, daerah sekitarku telah berubah menjadi dunia berisi bola cahaya menyilaukan yang mengelilingi kami di galaksi bima sakti. Galaksi yang indah dan misterius menyebar tak terbatas di semua arah. Tidak ada daratan dan semacamnya, dan kami melayang seakan-akan kami berada di ruang yang kosong.

Ini…(Touya)
Ini dunia roh ~nanoyo. Disini, kita tidak akan mengganggu dunia bawah walaupun menggunakan kekuatan Surgawi ~nanoyo.(Karen)

Karen-nee-san muncul disampingku seperti angin. Apakah Nee-san memindahkan kami disini? Ah! Bagaimana dengan Yae dan Kohaku!?

Tidak perlu khawatir tentang mereka berdua. Aku telah memindahkan mereka ke markas sekutu setelah membatalkan hipnosisnya. Aku tidak melupakan mereka.(Moroha)

Dan kali ini, Moroha-nee-san muncul dengan cara yang sama. Melihat itu membuat Dewa bawahan itu mulai mundur sambil memperlihatkan ekspresi terkejut.

Dewi cinta dan Dewi pedang!? Ke-kenapa bisa ada di-disini…!?(Orang Tua)
Kau telah mengganggu dunia bawah dengan melakukan apapun semaumu, jadi telah diputuskan kalau kami akan datang untuk menangkapmu. Sepertinya kau cukup bagus sampai bisa menghindari pencarian kami selama ini, tapi inilah saatnya untuk menebus kesalahanmu.(Moroha)

Moroha-nee-san menarik sebuah pedang dari pinggangnya. Pedang itu tidaklah sepesial, hanya pedang besi biasa. Akan tetapi, lain ceritanya jika yang memegangnya adalah Dewi pedang. Pedang biasa pun menjadi pedang surgawi.

Ada berbagai peraturan tentang penggunaan kekuatan Surgawi di dunia bawah. Tapi kau telah melanggarnya, kan? Atau daripada dikatakan seperti itu, kau tidak boleh menggunakannya meski saat kau pengangguran ~nanoyo(Karen)
Gunnnu…!(Orang Tua)

Dewa bawahan itu pun mengertakan giginya pada apa yang Karen-nee-san katakan. Pada dasarnya, masing-masing kakakku meyakinkan diri mereka untuk tidak menggunakan kekuatan sama sekali kecuali pada hal yang menyangkut pedang dan cinta. Sepertinya ada peraturan tersendiri, tapi aku telah mendengar kalau posisiku mulai menjadi sesuatu yang sulit.

Aku masih bukan Dewa tapi memiliki kekuatannya. Jika aku bukan Dewa, lalu batasan itu tidak berlaku padaku. Mungkin seperti itu.

Sepertinya aku akan bisa bergabung ke kelompok Dewa jika Kami-sama mengakuiku dengan mengatakan kalau aku adalah Dewa dari sesuatu. Pertama-tama, aku tidak ingin menjadi Dewa.

Nah, semuanya akan lebih mudah jika kau membiarkan dirimu untuk ditangkap. Meski menurut apa yang telah kami dengar, tidak ada keringanan sama sekali sih.(Moroha)
Hukumannya adalah direinkarnasikan menjadi makhluk bawah selama sekitar 100 juta tahun ~nanoyo.(Karen)
Ciih, jangan bercanda!!(Orang Tua)

Dewa bawahan itu pun menembakkan kekuatan Surgawinya lagi, tapi Moroha-nee-san bergerak lebih cepat darinya. Ia memotong tangan kanannya yang ia ulurkan di sikunya dengan sekali tebasan.

Guuuuuuu!!(Orang Tua)

Darah, yang seharusnya keluar, tidak keluar dari tangan yang telah terpotong dan melayang di angkasa.

Dewa tetaplah Dewa tak peduli levelnya. Pada akhirnya, apakah ia memang makhluk abadi? Kalau begitu, dia menjadi orang tua karena perasaannya, meski ia mungkin memang ingin menjadi orang tua. Telah dikatakan bahwa ada beberapa orang yang ingin memfokuskan diri pada parasnya saja.

Aku akan memotong lehermu jika kau membuatnya menjadi lebih sulit. Kau mungkin akan direinkarnasikan menjadi Dewa lagi jika kau mengganti kerugian yang telah disebabkan oleh kejahatanmu, tapi apakah kau ingin menghilang seutuhnya?(Moroha)

Sepertinya keberadaan seperti Dewa pun tidak abadi meski jika mereka muda selamanya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan kalau keingintahuan membunuh kucing, tapi kebosanan membunuh bahkan keberadaan seperti Dewa. Meski Dewa mungkin bisa mati ya. Mungkin.

Jika aku akan direinkarnasikan sebagai makluk rendahan, maka biarkanlah aku untuk berusaha sampai detik terakhir! Haa!!(Orang Tua)
Muu?! Itu tidak akan terjadi tahu!(Moroha)

Pada saat aku sadar sebuah cahaya menyilaukan tiba-tiba ditembakkan oleh Dewa bawahan itu, pedang Moroha-nee-san menebasnya dari kepala hingga menjadi dua. Ouah. Tidak ada darah yang keluar tapi gambarannya terlalu hebat.

Kufuu, hal yang sama tidak akan terjadi lagi nanti…(Orang tua)
Nanti, katamu?(Moroha)
Moroha-chan, tangannya!(Karen)

Karen-nee-san berteriak disampingnya saat Dewa bawahan itu tertawa sambil jatuh kebawah.

Tangan malayang yang sudah dipotong tadi menghilang dari tempat ini dengan remang-remang dan tak lama kemudian, tubuh Dewa bawahan yang telah ditebas tadi hancur layaknya pasir.

Kuu. Dewa ini ternyata cerdik juga ya.(Moroha)
…Ini buruk ~noyo. KeDewaannya telah rusak ~nanoyo.(Karen)
Eh? Memangnya apa yang terjadi?(Touya)

Aku menanyai mereka berdua karena aku tidak paham sama sekali mengenai apa yang barusan terjadi.

Begini, Dewa ini telah memindahkan sebagian besar KeDewaannya dan kekuatan Surgawinya ke tangan kanannya dan telah berpindah ke dunia bawah sebagai titisan darinya. Terlebih lagi, sekali lagi, ia juga telah menghapus kekuatan Surgawinya, dan menyamar menjadi sesuatu yang lain.(Moroha)
Dengan kata lain, kita kembali pada situasi dimana kita memulainya, dan itu berarti kita akan melakukan semuanya dari awal ~nanoyo.(Karen)

Menyebalkan sekali. Aku tidak percaya ia bisa kabur meski sudah terpojok.
Ia telah menghapus kekuatan Surgawinya, jadi k
ami tidak akan bisa merasakannya atau menggunakan [Search] untuk mencarinya karena kami juga tidak mengetahui ia menyamar sebagai makhluk apa.

Apakah ia seperti kadal yang ekornya terpotong? Kalau begitu, tubuh aslinya adalah bagian yang telah dipotong.

Dan… Touya-kun? Ada apa dengan penampilanmu ini ~noyo?(Karen)

Karen-nee-san sedikit mundur setelah melihat penampilanku. Aksinya barusan mengingatkanku, aku masih menyamar dengan topeng, jadi aku mungkin terlihat aneh.

Aku menyamar karena akan buruk jika relasiku dengan Brunhild diketahui. Hmm, kesampingkan samaran, kenapa ini? Kenapa warna rambutku tiba-tiba berubah dan memanajang seperti ini?!(Touya)
Fumu. Mungkin perubahan ini dikarenakan kekuatan Surgawi yang kau aktifkan. Omong-omong tentang ini, kau mungkin tidak menyadarinya, tapi warna matamu juga menjadi emas, lho?(Moroha)

Eh?! Aku mengambil sebuah cermin dari [Storage] dan melihatnya. Setelah melakukan itu, aku telah yakin kalau bahkan warna mataku berubah menjadi emas.

Akankah warnya akan kembali seperti semula?(Touya)
Aku percaya kalau itu akan kembali jika kau menekan kekuatan Surgawimu ~noyo. Sekarang kau bisa mengendalikannya, kan?(Karen)
O~to, untuk kebaikanmu sendiri jangan lakukan itu disini, di dunia roh. Saat ini, tidak ada yang mendekati kita karena kita semua mengeluarkan kekuatan Surgawi, tapi jika makhluk disini merasa kalau ada manusia disini, roh atau makhluk mistis akan menyerang. Kedatangan mereka disini akan menyebalkan.(Moroha)

Begitu ya? Kalau begitu aku akan menerima nasehat Moroha-nee-san.

Tiba-tiba smartphone ku mulai bergetar. Aku megeluarkannya yang telah ku-set menjadi silent mode. Layarnya menunjukkan kalau ada panggilan masuk dari Kami-sama.

Halo?(Touya)
Yaa. Ini Touya-kun ya? Sepertinya kekuatan surgawimu telah bagkit seutuhnya, ya?(Kami-sama)
Tidak akan ada efek samping atau semacamnya, kan?(Touya)
Unnya? Punya kekuatan itu tidak berarti kau telah menjadi Dewa, jadi seharusnya tidak ada masalah, Aku percaya itu. Akan tetapi, yang telah membawamu dan memperbaiki tubuhmu ke dunia para Dewa adalah aku sendiri, jadi secara kualitas, kekuatan Surgawimu sepertinya sama dengan milikku.(Kami-sama)

Apakah kekuatan Surgawi juga memiliki kualitas atau semacamnya? Ah, tapi kekuatan Surgawi Dewa bawahan itu memiliki tanda-tanda kegelapan.

Aku mencoba melihat miliki kakak-kakakku. Kekuatan Surgawi Karen-nee-san  sepertinya bercampur dengan warna merah muda, dan milik Moroha-nee-san bercampur dengan sedikit warna biru langit. Apakah itu perbedaan di kualitas?

Fumu. Lantas apa yang harus kulakukan dengan itu ya? Seseorang akan menjadi dependant seutuhnya jika ia memiliki kekuatan Surgawi dengan kualitas yang sama… Yah, tidak apa-apa, kan? Aku tidak keberatan jika yang memilikinya adalah Touya-kun.(Kami-sama)
Apa yang dimaksud Kami-sama?(Touya)
Touya-kun memiliki kekuatan Dewa meski masih menjadi seorang manusia. Aku harus memutuskan dengan jelas posisimu di dunia para Dewa, oke. Sepertinya aku tidak bisa menunjukmu dengan menjadi Dewa dari sesuatu ataupun membuatmu menjadi Dewa bawahan. Oleh karena itu, aku telah memutuskan kau untuk menjadi dependant-ku.(Kami-sama)
Dengan kata lain, kita akan menjadi keluarga ~nanoyo.(Karen)

Karen-nee-san menjelaskannya padaku selagi aku berpikir dengan keras, tidak terlalu paham maksud perkataannya. Begitu ya. Hei! Tolong jangan menguping isi telpon orang lain dong!

Keluarga. Beliau mengatakan kalau aku adalah keluarga Dewa dunia… Kedengarannya bagus, ya?

Tidak apa-apa untuk tidak memikirkannya terlalu dalam kok. Kau telah memiliki 2 kakak, jadi tidak apa-apa untuk berpikir kalau kau mendapatkan kakek baru.(Kami-sama)

Yah, itu lompatan yang tinggi. Oh, iya…

Anoo, tidakkah anda tahu keberadaan Dewa bawahan yang barusan kabur?(Touya)
Tidak tahu ya… Hawa keberadaannya menjadi pasir seutuhnya. Terlebih lagi, ini bukan tugasku. Jika dilihat dari sisi yang lain, rasanya aku akan diomeli oleh Dewa lain jika ia ditemukan… (Kami-sama)

Sekali lagi, aku memiringkan kepala pada apa yang Kami-sama ucapkan, melihat itu Moroha-nee-san berbisik pelan padaku.

Ini tentang izin untuk turun ke dunia bawah akan dihentikan. Itu karena dari permukaan, aku disini sebagai pembantu Karen-nee-san.(Moroha)
Eeeh, apakah hal ini memiliki alasan serumit itu? Tunggu dulu, jangan-jangan…
Lalu aku pun menatap Moroha-nee-san dengan tatapan kesal, melihat itu ia mengayunkan kedua tangannya dengan
cepat seakan-akan ia panik.
Bukan, bukan seperti itu kok. Ini tidak seperti ia melakukannya karena alasan tertentu. Mustahil bagi kami untuk mencampur pekerjaan resmi dengan urusan pribadi sampai segitunya.(Moroha)

Sungguh? Yah, sepertinya memang benar mengingat dari kejadian kali ini. Hm?  Jadi apakah itu berarti kalau beberapa Dewa ada yang masih mau turun ke dunia bawah?

Pokoknya, begitulah, jadi mulai sekarang aku akan mengandalkanmu ya. Sampai jumpa~.(Kami-sama)

Aah, telponnya telah diputus bahkan sebelum aku bisa menjawabnya.
Yup, untuk saat ini haruskah aku mencoba apakah aku bisa melakukan sesuatu di mode Dewa ini? Aku telah tahu kalau aku bisa menggunakan sihir tanpa perlu merapalnya, tapi menakutkan jika aku tidak bisa mengendalikan seutuhnya.


Aku memikirkannya pada saat kami meninggalkan dunia roh.

Sebelumnya || Daftar Chapter  ||  Selanjutnya

2 comments: