Thursday, 15 February 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 169 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Shiro7D
Proof Reader
-


Arc 21: Pertempuran Wanita

Chapter 169: Pedang Suci, dan Raja Ksatria Baru


Beberapa hari kemudian, aku membawa semua orang dari Restia kembali ke Kerajaan Ksatria, menggunakan [Gate].

Setelah dipandu ke istana, aku bertemu dengan Baginda Raja Ksatria, Reid Yunas Restia di ruangan resepsi sesuai rencana Hilda dan Raja sebelumnya. Meskipun Raja sebelumnya sudah memberi aku restu, tetapi setidaknya aku harus menyampaikan beberapa hal sendiri.

Kurasa terlalu cepat untuk menduga hal ini. Tapi mungkin saja Raja ini juga tipe orang yang mirip seperti aku dan Raja sebelumnya.
(TL: Entah kenapa dia juga bilang aku, jadi dia ngaku kalau dia aneh juga, yah)

Hmmm……. Apakah aku nantinya akan menjadi ero-jiji sepertinya juga, yah……..?

[Fu~…… Meski sudah terlambat, tapi sekali lagi saya di kejutkan oleh aksi gila ayah, dan mengenai pernikahan Hilda. Saya rasa, tidak ada yang perlu dihalangi. Karena saya pikir Raja Penguasa adalah orang yang luar biasa karena dapat mengurus gadis tomboy dan keras kepala seperti Hilda. Malahan ini bisa di katakan sebagai berkah dari tuhan] (Raja Restia)

[Saya juga berpikir demikian. Syukurlah, Hilda. Kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri] (Ratu)

[Selamat, Hilda. Raja Penguasa, tolong rawatlah adikku] (Pangeran)

Oou…….. Raja, Ratu dan juga Pangeran sangat normal. Kemarin aku sudah siap untuk menerima kenyataan kalau mereka adalah orang-orang aneh karena memiliki pak tua semacam ini sebagai keluarga, tapi ternyata mereka adalah keluarga yang normal.

Tidak, pasti karena memiliki pak tua seperti ini lah, mereka menjadi normal….. Ia adalah contoh bagus untuk sesuatu yang tidak pantas ditiru.

Mereka bertiga terlihat lemah lembut, dan tampak seperti orang yang sangat baik. Apakah Sang Raja berusia sekitar 50 tahunan? Ia memiliki rambut coklat gelap pendek dan kumis yang sedikit beruban, tapi hal itu menambah romansa kelabu milikinya. Ia mungkin populer semasa mudanya.

Apakah Ratu Esther berumur 40 tahunan? ia entah kenapa memiliki aura yang menghangatkan hati seperti Cecil-san kami. Apakah ia seorang putri dari keluarga yang takkan menua seiring berjalannya waktu? Ia terasa seperti seorang ibu yang lemah lembut.

Kakak Hilda, Pangeran Reinhardt, adalah seorang yang benar-benar cocok disebut dengan sebagai Seorang Pangeran. Umurnya sekitar 25 tahunan dan memiliki rambut blonde sama seperti Hilda. Kurasa mereka mendapatnya dari ibu mereka. Sial… Ternyata ia juga seorang yang tampan…… sepertinya, ia sudah memiliki tunangan. Ia baik terhadap semua orang, pandai berpedang, dan pintar. Bukankah ia terlalu sempurna untuk menjadi Raja selanjutnya?

[Ayah, ibu, kakak……. Aku, pasti akan bahagia!] (Hilda)

Hilda menangis sejadi-jadinya dan melompat ke dada ibunya. Ini adalah pemandangan yang indah, tapi sebagai pihak lain, aku tidak terlalu tenang. Karena aku seperti sedang menghancurkan keluarga yang sangat dekat ini.

[Dan, ~jano. Sebenarnya, ada persoalan penting juga yang ingin saya sampaikan. Saya berpikir untuk turun takhta dan menyerahkannya pada Reinhardt ~ja. Akan tetapi, ada suatu masalah kecil yang terjadi pada pedang berharga yang biasa digunakan dalam upacara tersebut] (Yunas)

[Pedang berharga?] (Touya)

[Itu adalah pedang suci yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga kerajaan. Pedang Suci Restia. Pedang itu dinamakan sama seperti nama negara kami, dan bisa disebut sebagai simbol negara kami] (Hilda)

Aku mendengar penjelasan Hilda dan seorang ksatria masuk sambil memberikan kotak panjang tersegel pada Raja dan pergi.

Pada saat Raja Ksatria mengucapkan mantra, terdengar suara sesuatu terbuka dan segel di penutupnya dilepas. Aku mendengar sedikit suara udara yang keluar darinya. Apakah itu kotak itu kedap udara? Ada pedang panjang di dalamnya.

Itu adalah pedang indah yang dihiasi dengan hiasan emas dan perak. Bilah pedang itu agak lebar, dan sebuah sarung pedang yang sama indahnya diletakan disampingnya. Pedang itu memang pantas disebut sebagai [Pedang Sang Raja].

 [Hmm!?, ini…….] (Touya)

Alasan kenapa aku bergumang seperti itu adalah karena pedang bagus itu retak dan patah di bagian tengahnya, Kerusakan itu menghancurkan segala keindahan padang itu.

[Inilah Pedang Suci Restia. Selama tidak ada masalah serius seperti Negara sedang berperang atau upacara pengangkatan terjadi, saya tidak membuka segelnya. Terakhir kali pedang ini digunakan adalah saat pengangkatan Hilda menjadi ksatria] (Yunas)

[Dan saat saya memutuskan untuk menyerahkan takhta kepada Reinhardt, saya membuka segelnya dan melihat pedangnya sudah hancur seperti ini. Saya tidak tahu kenapa pedang ini hancur, dan meskipun saya tahu kenapa ini bisa terjadi, upacara tetap tidak bisa dilakukan dengannya. Tapi saat saya berpikir untuk menggunakan jalan terakhir yaitu membuat imitasinya, Hilda memberikan kabar tentang Raja Penguasa kepada saya] (Yunas)

Raja Ksatria pun menarik pedang di pinggangnya dan menunjukkannya. Ah, itu adalah pedang yang kuberikan pada Hilda waktu itu.

[Jika ia orang yang bisa membuat pedang sebagus ini, bukankah ia juga bisa memperbaiki Restia? Itulah alasan kenapa saya pergi ke Brunhild ~jayo. Terlebih lagi, saya juga penasaran ~no. Seberapa bagus orang yang diharapkan oleh Hilda? Jadi saya pun berpikir “Mari temui dia”] (Galen)

[O~, Ojii-sama !?] (Hilda)

[Beberapa bulan ini, kapanpun ia berbicara, isinya hanya tentang Raja Penguasa Brunhild saja. Ia selalu menghela nafas panjang dan terus menatap pedang yang telah ia terima. Ia juga sering bertanya tentang Brunhild kepada pedagang sekitar karena tidak bisa tenang. Orang seperti saya pun pasti akan menyadarinya jika melihat tinggahnya yang seperti itu] (Reinhardt)

[Ka-kakak juga!?] (Hilda)

Sambil melirik Hilda yang panik, aku mengobservasi Pedang Suci didepanku. Umm……. Pedang ini cukup tua tapi…….. ada beberapa huruf kuno yang terukir di bagian tengahnya. Dan sebuah kristal dimasukkan di gagangnya.

[Bolehkah saya memegangnya?] (Touya)

[Silahkan] (Yunas)

Aku memegang bagian yang hancur dan melihatnya, aku bisa merasakan sisa kekuatan sihir yang tipis padanya.

[Apakah pedang ini telah diberikan suatu penguatan tertentu?] (Touya)

[Seperti yang diharapkan dari Raja Penguasa ~jana. Apakah Anda bisa mengetahuinya hanya dengan melihatnya? Pedang itu memang memiliki efek penyembuhan pada orang yang memegangnya. Saat seseorang memegangnya, luka kecil akan langsung sembuh, dan luka serius akan sembuh secara perlahan ~ja] (Yunas)
                                                                                                                                      
Begitu ya. Jadi pedang ini diberi efek ‘penyembuhan’? Akan tetapi, penguatan itu mungkin juga rusak. Atau lebih tepatnya, penguatan itu tidak bisa digunakan lagi.

[Para pandai besi terbaik Negara kami pun telah angkat tangan soal ini. Pertama, saya diberitahu kalau material pedang ini adalah material yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Efek penyembuhannya juga telah menghilang, dan saya telah berpikir kalau pedang ini sudah tidak dapat diperbaiki, tapi…..] (Yunas)

[Apa arti dari huruf kuno ini?] (Touya)

[Entahlah. Tidak ada informasi mengenainya. Tapi sepertinya huruf itu di tuliskan dalam bahasa Paruteno Kuno] (Yunas)

Sungguhan? Kalau begitu, haruskah aku memeriksanya?

[Reading: Bahasa Paruteno Kuno] (Touya)

Ini adalah sihir non-atribut [Reading]. Jika aku mengetahui bahasa apa itu, huruf itu akan diterjemahkan secara otomatis… sungguh sihir yang praktis…..

[Sialan…..] (Touya)

Aku pun menurunkan bahuku karena merasa kecewa. Aku kehilangan semua kekuatan dalam tubuhku. Huruf-huruf ini adalah semacam tanda tangan. Seperti halnya sebuah perusahaan memberi tanda pada hasil buatan mereka. Aku membaca huruf-huruf tersebut dengan [Reading] dan ini lah yang tertulis.


Dibuat oleh Regina Babylon(Touya)



Itu saja, tidak ada lagi…… Professor itu, apakah ia membuat benda seperti ini juga? Apakah ini juga semacam takdir? Walau aku tidak bisa mengatakan apa-apa setelah kejadian ini.

[Ada apa, Touya-sama?] (Hilda)

[Tidak ada apa-apa…… Hanya saja pedang ini…… Sepertinya dibuat oleh orang sama dengan orang yang membuat FrameGear……]

[Apa…..!?] (Galen)

Raja sebelumnya membuka matanya lebar-lebar. Meski aku tidak menyangka akan bertemu dengan pedang ini di tempat seperti ini. Apakah ini betul-betul [Pedang Suci]? Ini bukankah [Pedang Sex] atau semacamnya, kan?
(TL: Kanji dari kata Sei bisa berarti: 1. Suci [
– sei], atau 2. Sex [ – sei])

[Mungkin kekuatan sihirnya telah habis karena pedang ini sudah berusia 5000 tahun atau lebih. Anda selalu menyegelnya, kan? Ini hanya dugaan saya, tapi perbuatan itu mungkin telah membuat pedang itu tidak bisa menyerap sihir di udara dan hancur secara perlahan-lahan……] (Touya)

Mungkin karena pedang itu sedikit retak, dan sihir yang menjaga kondisinya tidak dapat di gunakan karena tidak dapat menyerap kekuatan sihir, dan hasilnya retakan itu manjadi membesar. Pedang itu juga tidak bisa sempat menyerap kekuatan sihir yang cukup banyak pada saat upacara Negara berlangsung. Jadi sudah sewajarnya pedang ini manjadi rusak.

Hal ini sama dengan hewan yang tidak mendapat makanan, lalu kehilangan berat badannya dan mati secara perlahan-lahan.

[5000 tahun? A-akan tetapi, itu adalah pedang yang digunakan Pendiri Negara ini. Saya rasa waktunya tidak selama itu…….] (Yunas)

[Sudah berapa tahun sejak Restia dibentuk?] (Touya)

[Sekitar 300 yang lalu. Atau lebih tepatnya 291 tahun. Saya telah diberitahukan kalau Sang Pendiri menggunakan kekuatan Pedang Suci untuk mengakhiri perselisihan di tempat ini, dan mendirikan Kerajaan Ksatria] (Reinhardt)

……….Aku paham. Sebuah teori pun melayang di pikiranku setelah mendengar penjelasan Pangeran. Tidak, ini lebih ke perkiraan daripada teori. Kenapa? Karena aku sudah menemui banyak situasi yang sama  !

Pedang ini pasti jatuh dari [Gudang], dan seorang ksatria, yang merupakan Pendiri Negara ini, mengambilnya. Lalu, ia membuat Negara dengan kekuatan itu……. Kalau dipikir-pikir, teori ini cukup seru rupanya…..

Aku telah menemui banyak masalah karena ke-kikukan penjaga [Gudang], tapi kurasa kali ini adalah hal yang baik. Pada akhirnya, tak peduli sebagus apapun item yang digunakan, semuanya masih tergantung pada penggunaannya, kan?

[Yah, saya bisa memperbaikinya tanpa ada masalah. Saya juga dapat memberikan penguatan yang sama seperti sebelumnya] (Touya)

Aku mengaplikasikan [Modeling] pada pedang suci itu dan menyambungkannya. Sihir yang dulu telah hilang, tapi tidak masalah karena aku akan memberi sihir penyembuhan yang baru, dan aku juga membuat kapasitas kekuatan sihirnya sedikit lebih banyak. Kurasa pedang ini akan baik-baik saja selama mereka tidak menyimpannya didalam kotak itu lagi.

[Oh……!] (Yunas)

[Dan, selesai. Sudah kembali seperti semula] (Touya)

[Terima kasih. Sekarang upacara penobatan bisa dilakukan dengan lancar dengan ini. Sekali lagi terima kasih banyak!] (Yunas)

Baginda Raja memegang pedangnya dengan tangan kanan, dan sedikit mengiris tangan kirinya. Aliran merah pun mengalir dari luka, tapi luka itu langsung menutup. Dengan kata lain, sembuh.

[Efeknya memang sama seperti sebelumnya. Terlebih lagi, saya merasa kalau penyembuhannya lebih cepat dari sebelumnya] (Yunas)

Huh? Apakah aku memberi sihir yang 1 tingkat lebih kuat? Jika memang betul, kekuatan sihirnya akan lebih cepat habis tapi……. Yah, kurasa tidak masalah karena aku sudah membuat kapasitas sihirnya bertambah.

Pedang itu menyerap kekuatan sihir dari udara dan mengumpulkannya sampai pada batasan tertentu. Lalu pedang itu dapat menyembuhkan penggunanya dan menjaga bentuk pedang itu sendiri. Tapi normalnya, kekuatan sihir itu akan berkurang.

Lalu, pedang itu akan mengembalikan kekuatan sihir yang hilang dengan menyerap sihir di udara. Pengembaliannya tidak akan cepat, tapi akan terkumpul secara perlahan. Jika kekuatan sihirnya habis, efek penyembuhannya pun juga akan habis.

Meski begitu, mustahil untuk menyembuhkan lebih diri 10 kali [Cure Heal], dan kurasa pedang itu hanya bisa menggunakan [Mega Heal] tidak lebih dari 5 kali. Meski aku percaya kalau setelah menambah akumulasi kekuatan sihir, pedang itu bisa menyimpan lebih banyak dari yang sebelumnya.

Yah, pedang sebelumnya juga tidak terlalu hebat jadi seharusnya tidak ada masalah. Karena sesuatu seperti penyembuhan tak terbatas itu mustahil.

Aku merasa kalau aku bisa membuat sesuatu seperti itu, tapi sepertinya mustahil. Skenario terburuknya, aku mungkin akan menjadi seperti mayat hidup sama seperti pengguna [Permata Keabadian] sebelumnya. Kehidupanmu sebagai manusia berakhir saat kau memakai sesuatu yang dapat mengambil nyawamu.

[Mungkin agak sedikit berbeda dari yang sebelumnya tapi……..] (Touya)

[Tidak, ini udah cukup. Terima kasih banyak!] (Yunas)

Raja menyarungkan pedangnya, dan kali ini ia tidak memasukkannya ke kotak segel. Ia tidak perlu melakukan sampai sejauh itu sih…. Aku telah menjelaskan kalau pedang itu tidak akan rusak selama ia mengangin-anginkannya seharian dalam setahun. Lalu ia mengatakan kalau ia akan membuka segel kotak pada hari pendirian Negara.

Setelah itu, aku memberi salamat pada kenaikan takhta Raja baru dan memberinya pedang kristal padanya. Aku telah memberinya pada Raja sebelumnya, Baginda Raja, dan Hilda, tapi saat itu aku tidak tahu kalau ada Pangeran.

Aku telah mendesainnya sama seperti pedang suci. Pedang itu ringan, tajam, kuat, dan tidak akan pernah rusak. Pedang itu sempurna untuk sebuah pertarungan. Pedang itu terlalu tajam sampai-sampai tidak bagus digunakan pada saat pertandingan kecuali lawannya juga memakai pedang kristal. Pedang musuh pasti akan hancur jika melawannya.

[Yah, ini mengagumkan. Sebenarnya, saya iri karena semuanya memiliki pedang kristal masing-masing. Tapi, pedang yang satu ini lebih bagus daripada milik mereka. Ini adalah hadiah terbaik] (Reinhardt)

Aku lega ia senang. Hal ini baik karena orang ini akan menjadi kakak iparku.


Beberapa hari kemudian, Raja baru telah lahir di Kerajaan Ksatria Restia, dan pada saat upacara tersebut, pertunangan Tuan Putri pertama, Tuan Putri Hildegarde, dengan Raja Penguasa Brunhild telah disebar luaskan. Hilda pun menjadi tunanganku secara sah.



2 comments: