Monday, 19 March 2018

Evil God Chapter 27


TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu
Chapter 27 :
Epilog






Aku dengan tenang berdiri saat semuanya sudah berakhir.
Bawahanku juga telah kembali dari persembunyian mereka.

Ayo, puji aku!

[Apa Anda memang perlu menembakkan sihir apocalypse?]

Eh? Protes?
Yang protes tadi adalah pemimpin divisi ke-8 Morgan.
Ceramahnya sangat menjengkelkan.

[Tapi kan.... itu tadi pertama kalinya aku mendapat kesempatan untuk bertarung sejak 1000 tahun lalu, jadi....]
[Aku tidak peduli bagaimana cara Anda membunuhnya, tapi lihatlah ke sekitar Anda. Bukankah ini halaman milik Anda?]

Lubang yang ada di tanah terbentang sangat jauh, dan sebuah gunung telah lenyap.
Ya. Ini adalah halaman milikku.

Sebuah dataran dengan rumput yang berwarna hijau yang rimbun. Pegunungan yang menawan.
Semuanya telah hancur.

[Di atas gunung itu ada sebuah vila, kan?]

Gareth, pemimpin pasukan divisi ke-5 berkata dengan pelan.

Mereka protes padaku, tapi kali ini akan aku maafkan.
Aku bukan tuan yang pikirannya sempit hingga tak mau menerima kritikan dari bawahanku.
Tapi, aku memiliki kekuasaan untuk menentukan apa yang akan dilakukan.

[Perbaiki.]

Jawaban dari bawahanku atas perintah itu sudah jelas....

[Tidak mau.]
[Dengan berat hati aku menolaknya.]
[Harusnya kalian bilang ‘baiklah, dewa-ku’!]

Aku mengangkat tanganku dan membalas perkataan mereka.

[Aku tidak bisa mengatakan hal itu.]
[Sepertinya tidak bisa.]

Pasukan Dewa Iblis memprotes mengikuti Morgan.

[Jangan membantah!]
[Guhaaaaaaa~]

Gareth terlempar dan menjadi bintang.
 [TL : Team rocket blast off again~ cling... ]

[Aaah... Gareth-dono!]
[Tuh kan, sudah jelas kalau yang akan pergi adalah Gareth-dono.]

Dewa Iblis yang lain pun mengangguk menyetujuinya.

***

Pertarungan di ibukota Rhodan hampir selesai keesokan harinya.
Masih banyak makhluk sihir dan ghouls yang tersisa, tapi karena sudah tidak ada iblis yang memerintah mereka, mereka tidak bisa berfungsi dengan normal.
Mereka hanya diserang secara sepihak karena tidak bisa menembus pelindung ataupun membuka gerbang.

Karena mereka semua hampir selesai dimusnahkan, para penyihir sudah tidak lagi dibutuhkan.

[Kerja bagus.]

Aku menyerahkan jus kepada Tiraiza.
Tiraiza basah akibat keringat dan jubah yang biasa dipakainya sudah basah.
Dia terduduk dan menyandar pada dinding.

[Terima kasih, tapi karena kau bisa menggunakan sihir, jadi bekerjalah!]

Pasukan penyihir menerima banyak kerusakan.
Itulah sebabnya beban yang ditanggung Tiraiza dan penyihir yang masih bisa bergerak sangat besar.

[Aku sudah cukup bekerja.]
[Benarkah?]

Tiraiza mengambil jusnya dan meminumnya.

[Masih ada yang bisa kau kerjakan meski sudah kehabisan energi sihir. Seperti itu.]

Tiraiza menunjuk orang-orang yang sedang bekerja di bangunan.
Kota ini telah mendapat kerusakan yang cukup parah, jadi akan butuh beberapa waktu untuk membangunnya kembali.

Di antara pekerja itu ada seorang gadis yang sangat familiar dan dengan tubuh yang cukup besar.

[Pendekar di kelompok pahlawan membersihkan puing-puing...]

Aku merasa kasihan padanya.

[Kita hanya bisa menyerang dari jauh dan berada di dalam pelindung, jadi aku tidak dapat banyak giliran.]
[Kan bisa pakai panah.]
[Awalnya aku juga melakukan itu, tapi orang di sampingku yang menggunakan sihir dengan area luas mengatakan ‘Tidak mungkin mereka bisa dikalahkan dengan sihir lemah begini!’ lalu aku melompat dan mulai mengamuk.]
[Bego banget.]
[Pemimpin pasukan Godref-san lalu datang, dan tentu saja dia memarahi mereka. Sekarang mereka ada di sana.]

Mereka seperti menyalahi  class  mereka. Yah, tapi sihir lemah seperti itu tak akan kena.
Dengan kata lain, tidak ada class yang bisa digunakan di setiap keadaan.

Iris sedang mengobati orang-orang yang terluka di gereja.

Kalau Yufilia saat kami membicarakannya, kami mendengar suaranya di kejauhan.
Yufilia mendekat sambil melambaikan tangannya.

[Sepertinya kau mendapat banyak masalah.]

Yufilia bersimpati dengan keadaan Tiraiza.

[Kami sudah selesai. Dan lagipula, ini adalah tanggung jawab kita, jadi kalau cuma ini sih...]

Tiraiza menggigit bibir bagian bawahnya.
Yufilia mengangguk.

[Apa maksudmu dengan ‘tanggung jawab’?]

Saat aku bertanya, Yufilia membuat ekspresi murung.

[Semua ini terjadi karena kita menemukannya, kan. Jika tidak, semua ini pasti tidak akan terjadi.]

Kerusakannya tidak sedikit.
Jumlah korban juga tidak sedikit.

Tapi

[Kalian salah.]

Mereka berdua menatapku saat aku mengatakan itu.

[Manusia mempunyai kewajiban untuk bertarung melawan iblis sejak mereka lahir. Itu semua sudah menjadi takdir mereka.]

Itu adalah aturan di dunia ini.
Iblis adalah sebuah bencana.
Mereka selalu membawa bencana bagi manusia.

[Jika kalian tidak menemukannya, generasi selanjutnya pasti akan menanggung hal ini. Apa kalian rasa hal itu lebih baik?]

Mereka menggelengkan kepala saat mendengar perkataanku.

[Jika ada yang disalahkan atas kejadian ini, dia adalah orang yang gagal melaporkan soal Fumeless. Oleh sebab itu, umat manusia telah menghiraukannya selama 400 tahun.
Kemudian, umat manusia juga harus disalahkan karena tidak menyadarinya selama 400 tahun.  Oleh sebab itu, Fumeless berhasil mengumpulkan pasukan sebanyak itu.]

Mata Yufilia dan Tiraiza terlihat sedikit basah setelah mendengarnya.

[Jadi, menemukan Fumeless adalah sebuah pencapaian, bukan kesalahan.]
[Benar juga. Aku jadi merasa lega setelah mendengar perkataanmu.]

Yufilia tersenyum.

[Oh iya, bukankah kau juga ada di sana saat kita menemukannya? Jangan pura-pura tidak terlibat dalam hal ini!]

Aku tersenyum kecut saat mendengar Tiraiza.

[Benar juga.]

Dewa Iblis bukan manusia. Jadi kami tak punya kewaiban untuk bertarung melawan iblis.
Tapi aku ini suka mengamati.
Melihat sesuatu seakan itu adalah urusan orang lain sudah menjadi kebiasaan bagiku.
Aku sudah hidup seperti itu selama 1000 tahun.

Tiraiza pulang ke rumahnya setelah selesai beristirahat.
Karena dia basah oleh keringat, mungkin dia akan segera mandi dan mengganti pakaiannya.

[Umm....]

Yufilia memanggilku dengan malu karena saat ini hanya ada kami berdua.

[Ada apa?]
[Ini soal kemarin...]

Jantungku sedikit berdetak kencang.

[Pada akhirnya ingatanku sedikit kabur sih.... tapi apa kemarin kita bertemu?]
[Oh, mungkin kau melihatku sebelum pingsan. Soalnya pak tu Julius-sensei membawamu saat kau pingsan.]
[Begitu ya... Aku harus berterima kasih padanya.]

Yufilia mulai berlari dan mencari pak tua.
Aku sedikit berbohong tentang apa yang terjadi kemarin.

Apa yang kurasakan saat itu?
Aku tidak mengerti.
Aku tak bisa menggambarkannya dalam kata-kata.
Jadi, kurasa hal itu bukan masalah untuk sekarang.




Sebelumnya || Daftar Chapter  ||  Selanjutnya

4 comments: