Saturday, 10 March 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 172 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Erixsu
Proof Reader
-


Arc 21: Pertempuran Wanita

Chapter 172: Daerah Hutan Besar, dan Permulaan Game



Upacara Pemangkasan.

Adalah acara dimana semua suku yang tinggal di Hutan Besar akan berkumpul di bawah Pohon Suci dan berkompetisi untuk mendapatkan naungan dari roh hutan besar…… Yah, hal ini memang bisa disebut denganPermainan Pertempuran di Hutan Besar.

Kami juga ikut berpartisipasi dalam permainan ini sebagai angota dari suku Rauri dan membantu mereka mendapatkan gelarSuku Raja Pohon dengan cara memenangkannya.

Sejujurnya, kupikir kami tidak perlu melakukan hal ini sampai sejauh ini. Akan tetapi, jika kami tidak melakukan hal ini, Pam pesti akan terus mengikutiku.

Yah, karenaUpacara Pembabatan itu hanya berlangsung selama 3 hari, jadi kurasa tidak masalah.

Elzie dan Hilda juga bersemangat untuk bertarung. Karena menurut mereka ini adalah kesempatan bagi mereka untuk menguji kemampuan mereka.

Dan juga, jika kita dapat memenangkannya. Kami juga akan mendapat koneksi dariSuku Raja Pohonyang akan mengatur daerah Hutan besar.

Ah, dan disamping itu, aku telah mengataknnya pada yang lainnya. Kalau aku tidak akan melakukan crossdress.

Karena aku cukup menggunakanMirageuntuk memngubah penampilanku menjadi seperti perempuan, walaupun kata Lindze aku akan ketahuan jika aku di sentuh orang lain.

Dan tentu saja aku tidak berencana memakai pakaian tradisional suku Rauri yang “mengekspos terlalu banyak kulit” sama sekali.

Aku juga telah memulangkan Pam kembali ke suku Rauri menggunakanGate.

Dan untuk memepermudah berkomunikasi dengan bahasa asing, aku mempelajari sihir non-atributTranslation. Singkat kata, ini adalah sihir terjemahan. Sihir ini dapat membuat aku mengerti apa yang mereka katakana dan mereka juga akan mengeri apa yang aku katakan.

Sihir ini mungkin mirip dengan percakapan telepati-ku dengan Kohaku dan yang lain.

Untuk saat ini anggota yang ikut dalam pertanding adalah Pam, Yae, Elzie, Hilda, Rue. Awalnya aku pikir akan diperbolehkan mengganti anggotanya jika salah satu dari mereka terluka namun ternyata tidak.

Padahal akan lebih mudah jika aku diperbolehkan ikut, namun hal itu sangat ditentang oleh suku Rauri dan Pam. Ternyata, memang mustahil bagi suku Rauri mengirim lelaki dalamUpacara Pemangkasanyang suci.

Meski aku tidak diperbolehkan menjadi anggota pembantu, tapi sepertinya aku masih di izinkan untuk ikut menonton mereka.

Aku penasaran, apakah maksud mereka adalah “Lelaki harus diam dan melihat saja”. Entah kenapa rasanya aku ingin kabur.

Untuk sesaat aku jadi sedikit iri dengan suku Balum.

Yah, sebulan telah berlalu dengan ini dan itu, dan Kami pun sampai di akar Pohon suci untuk mengikutiUpacara Pemangkasan.

***

Fuaaaaaaa……

Ini pohon yang sangat besar……. Itu Kesanku saat pertama kali melihat pohon itu.

Apa-apaan ini? Apakah diameternya mencapai beberapa puluh meter? Dedauan dan rantingnya juga tumbuh sangat tebal dimana-mana.

Pohon itu memiliki Tinggi yang tidak sebanding dengan ukuran batangnya. Sehingga membuat pohon itu seperti potongan kecil dari payung.

Cahaya mentari yang menembus ranting dan dedaunan pohon, membuat suasana seperti di dongeng. Berbagai suku juga mulai berkumpulan di bawah Pohon Besar ini.

Ada beberapa tunggul pohon dengan ukuran berbeda di sekitar sini, ukuran terkecilnya kurang lebih berdiameter 20 meter. Aku dengar kalau tunggul itulah yang akan menjadi arena untuk pertandingan satu lawan satu.

Jumlah suku yang hidup di Hutan Besar kira-kira 240 suku. Diantara mereka, ada suku Jaja yang disebut sebagai [Wasit Para Suku] dan memegang kendali dalam [Upacara Pemangkasan] ini.

Mereka sudah dari dulu manjadi wasit [Upacara Pemangkasan] ini dan mereka juga manjasi satu-satunya suku yang dibolehkan oleh roh untuk menetap di akar Pohon Suci. Namun, mereka dilarang ikut berpartisipasi di [Upacara Pemangkasan]. Sepertinya mereka mirip seperti pendeta Shinto yang menyampaikan maksud dari roh.

Tapi, sukunya banyak sekali ya…….(Touya)

Aku melihat sekitar dengan perasaan tidak tenang.

Ada suku yang bertubuh besar, suku bertubuh kecil, suku dengan dekorasi aneh di kepalanya, dan suku dengan gelang berbunyi. Rasanya aneh tapi ada juga suku dengan kumis yang sangat panjang, dan suku yang memakai jubah hijau dari ujung kepala sampai kaki.

Meskipun tidak semuanya, tapi tingkat keterbukaan baju lelaki dan perempuan disini cukup tinggi. Dan tentu saja tidak ada yang mempermasalahkan hal itu, tapi sejujurnya ada juga beberapa suku dengan pakaian sangat minim sampai-sampai aku kerepotan untuk melihat mereka.

Jika seperti ini, kurasa kita tidak akan mencolok. Saya merasa sedikit lega ~degozaru……(Yae)

Touya-sama? Bukankah sebaiknya Anda tidak melihat perempuan sampai seperti itu? karena saat ini Anda adalah perempuan.(Rue)

Aku merasakan bahaya dari apa yang Rue katakan, jadi aku pun memaksa diriku untuk batuk dan membenarkan postur dudukku.

Mereka semua berpenampilan sama seperti suku Rauri. Singkatnya, dada mereka ditutupi kain dan mereka memakai cawat. Sudah diduga, apakah mereka malu dengan penampilan itu?

Mereka memakai pakaian tambahan seperti poncho pendek di bagian atas dan pakaian seperti pareo yang diikat di pinggang untuk bagian bawah.




Hanya akulah yang menyamarkan penampilanku menjadi perempuan suku Rauri dengan [Mirage]. Untuk berjaga-jaga, aku memakai kaos berlengan pendek dan celana pendek. karena jika aku tidak sengaja di sentuh, aku masih aman.

Sue juga ikut memakai pakaian suku Rauri. Tapi walaupun ia terlihat imut, tetapi tetap saja aku tidak merasakan daya tarik seksual sama sekali darinya.

Namun lain cerita saat aku melihat yang lainnya, hatiku berdegup kencang sampai-sampai membuatku mengalihkan pandangan ke arah lain.
Yah, karena suku yang lainya lebih parah, jadi aku tidak bisa berkata apapun.
(TL: Kapan yah, aku bisa kayak dia, lucky bastard!!)

Jadi, apakah ada alasan tertentu yang mengharuskan kita bertarung di tunggul itu?(Elze)

Karena kita akan mendapat perlindungan roh disana. Itu adalah perlindungan  yang dapat memhentikan serangan berbahaya. Misalkan, jika seseorang mencoba untuk menyerang dengan serius di bagian kepala, tubuh orang itu akan terkena stun.(Pam)

Aku tidak tahu sihir macam apa itu, tapi hal itu sepertinya memang kekuatan dari para roh. Aku penasaran, apakah itu sama denganShieldku. Meskipun sepertinya berbeda karena perlindungan itu tidak memblok serangan yang tidak fatal. Mungkin perlindungan itu sama seperti system yang dapat menghentikan serangan saat HP musuh tinggal 1 di game.

Jadi, kematian tidak mungkin terjadi. Tapi aku tetap tidak bisa tenang karena ada juga kasus sekarat karena hal lain seperti pingsan karena efek tubrukan.

tunggul itu kurang lebih berukuran 2 meter diatas tanah. Para peserta akan kalah jika mereka terjatuh dari sana, dan mereka mungkin bisa mati jika jatuh.

Sihir juga tidak bisa digunakan, yah?(Touya)

Ah. Sihir juga tidak dibolehkan, dan sebaiknya kita tidak menggunakan api disini. Kau akan diusir dari daerah ini dan sang wasit akan memperhatikanmu.(Pam)

Jika sihir tidak diperbolehkan. Berarti Elze juga tidak bisa menggunakan Boost, dan Kali ini semuanya membawa senjata normal karena senjata dengan penguatan sihir juga tidak dibolehkan. Tapi kurasa aku paham kenapa api dilarang. Situasi mungkin akan menjadi berbahaya jika terjadi kebakaran hutan.

Ternyata di luar daerah ini ada sungai besar, jadi semua orang akan mempersiapkan makanan disana.

Rekan-rekan suku yang datang untuk mendukung, bisa melihat pertandingan dari kursi penonton yang disiapkan di atas pohon lain.

Jadi kapan pertandingannya dimulai?(Lindze)

Sebentar lagi. Jika kita menang melawan 3 suku, maka pertandingan hari ini akan berakhir, dan kita bisa melanjutkan pertandingan selanjutnya besok.(Pam)

Yah, kurang lebih 240 suku akan bertarung 3 kali…… apakah ronde ini akan mengurangi jumlah sampai menjadi 30 suku?

Aku penasaran apakah pertandingan hari ini bisa disebut dengan babak penyisihan, sementara pertandingan besok pertandingan final.
(TL: 240/2, 120/2, 60/2; sekali kalah, langsung keluar)

Suara bel pun berbunyi dari suatu tempat dengan suara ‘sharinn’.
semua kesibukan dan percakapan di sekitar berhenti, dan suara bergema terdengar.


Inilah saatnya. Semua orang selain pemain harus meninggalkan tempat ini. Sisanya akan diserahkan kepada para roh.(Wasit)

Seorang lelaki dari [Wasit Para Suku] yang memakai baju putih yang mirip dengan baju tradisional kantoui mengatakannya dengan penuh wibawa.

Pada saat yang sama, orang-orang dari suku lain pergi ke tempat duduk penonton yang terlihat seperti rumah pohon. Jembatan yang diantara pepohonan dan atas ranting pepohonan dibuat secara berkelompok. Haruskah kami juga pergi?

Baiklah semuanya, lakukan sebisa kalian dan jangan memaksa diri.(Touya)

Baiklah~ de gozaru.(Yae)

Semuanya akan baik-baik saja.(Elze)

Serahkan saja pada kami!(Hilda)

Aku akan berjuang.(Rue)

Berangkat!(Pam)

Sambil mengikuti mereka, aku pun berjalan ke batang yang telah menjadi arena pertandingan.

Kami juga pergi ke tempat penonton yang ada di atas pohon. Setelah menaiki tangga yang menempel di sisi pohon yang berdiameter cukup luas, kami sampai di tempat yang bagus.

Entah kenapa rasanya aku bersemangat.(Sue)

Sue menyenderkan badannya di pagar dan melihat arena dibawahnya.

Penonton yang ada di tunggul ini hanya berisi suku Rauri. Tim supporter terdiri dari 50 orang, tapi sejujurnya aku merasa tidak nyaman karena akulah satu-satunya lelaki disini. Meskipun orang-orang suku Rauri melihatku sebagai perempuan, mereka juga tahu kalau aku adalah lelaki.

Uumu, kalau dipikir-pikir, bukannya lebih baik kalau aku menjadi tidak terlihat dengan [Invisible]?

Tapi kalau begitu, akan sulit untuk melakukan sesuatu jika keadaan darurat terjadi.

Meski merepotkan, kurasa lebih baik untuk disebut sebagai bagian dari [Suku Rauri].

…Ah, lihat itu, Touya-san(Lindze)

Oh?(Touya)

Di tempat yang ditunjuk Lindze, sinar matahari menembus pepohonan seperti  lampu sorot dan terfokuskan ke pemain di setiap suku.

Tak lama kemudian, cahaya itu bergerak dan memandu setiap pemain ke area masing-masing.

Saat aku melihat ranting pohon diatas, dahan-dahan dan dedaunan bergerak dengan bebas untuk mengendalikan cahaya matahari yang menembusnya.

Yang benar saja? Apakah Pohon Besar ini punya kesadaran? Dan apakah cahaya itu yang memutuskan siapa yang akan bertanding? Sebelum aku selesai memikirkannya, pertandingan pun dimulai.

Sepertinya, tidak ada upacara pembukaan.

Apakah semua orang akan bertarung satu lawan satu?(Touya)

Telah dikatakan bahwa jika 3 orang dalam tim menang , dua orang sisanya tidak perlu bertarung.(Lindze)

Dengan kata lain, jika hanya ada satu orang pendekar kuat, dan 4 orang lainnya tidak, maka suku tersebut sudah pasti kalah? Jika ini turnamen KO, seharusnya mungkin bagi 1 orang untuk mengalahkan 5 orang sendirian.

Tidak bisa bertarung atau menyerah akan anggap kalah. Yah, kalau kau jatuh dari tunggul juga akan anggap kalah.

Tidak ada yang namanya curang disini, dan jika ada orang yang menodai harga diri suatu suku yang hidup disini, orang itu akan didiskualifikasi.

Saat aku melihat pertandingan di arena lain, aku melihat lelaki besar berkapak sedang mengayunkan kapaknya ke kepala lawannya…….

Meski terlihat seperti itu, kepala orang itu tidak hancur. Lawannya hanya terjatuh di tempat. Aku penasaran, apakah ini yang disebut dengan perlindungan para roh.

Akhirnya aku paham kalau tidak semua serangan tercegah karena ada banyak luka di lawan yang kalah. Apakah perlindungan itu aktif saat seeorang diserang dengan serangan fatal seperti yang dikatakan sebelumnya?

Sepertinya lawan itu langsung pingsan.

Ah, sepertinya pertandingan suku Rauri akan dimulai sebentar lagi(Yumina)

Yumina menunjuk tempat yang sulit dilihat dari sini, jadi aku memproyeksikannya di udara dengan [Mirage] dan [Long Sense]. Sorakan pun terdengar ricuh dari orang-orang suku Rauri.
Seperti yang kuduga. Jika berada disini, sihir masih bisa digunakan.

Aku pun mengubah proyeksi itu menjadi besar dengan ukuran yang bisa dilihat semua orang.

Sepertinya Rue lah yang pertama bertanding. Lawannya adalah orang tinggi bertombak. Apakah perbedaan tinggi Rue dan lelaki itu 40 cm?

Rue melawannya dengan belati kembar berukuran 30 cm yang dipegang di kedua tangannya.

Mulai!(Wasit)

Saat wasit berbaju putih mengayunkan tangannya, Rue pun bergerak ke dada orang bertombak itu dengan lurus.

Sebaliknya, orang itu menusukkan tombaknya dengan gerakan berputar, tapi serangannya ditangkis belati Rue dan dibelokkan.

Rue, yang mendekati lawannya seakan-akan sedang meluncur, mengayunkan tangan kirinya dan meninju dada lawannya. Doo~!

Suara benturan pun terdengar dan orang itu jatuh di tempat. Padahal masih belum semenit.

Uooooooooooooo!

Sorakan semua orang dari suku Rauri terdengar cetar membahana dibelakangku. Sepertinya, latihan yang Rue lakukan bukan hanya untuk pameran. Dari sudut pandangnya, pergerakan seperti itu mudah untuk dilihat. Dan juga, belati kembar itu sangat cepat.

Pengguna akan memusingkan lawan dengan gerakannya dan memberi serangan dari arah lain. Mereka tidak menggunakan kapak besar ataupun pedang, tapi mereka memiliki kemampuan berpedang yang hebat. Meski demikian, pengguna tidak bisa membunuh lawan dengan sekali serangan. Kecuali mereka membidik dibagian vital. Secara alami, akurasi juga memang dibutuhkan bagi mereka yang cepat.

Rue melihat ke arah kami dan melambaikan tangannya dengan semangat. Dengan ini, pertandingan pertama kami berakhir.


Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

1 comment: