Sunday, 25 March 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 175 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Shiro7D
Proof Reader
-


Arc 21: Pertempuran Wanita

Chapter 175: Suku Racun, dan Kekuatan Asli Onee-san




Anda Onee-san kedua Touya-san!?(Lindze)

Begitulah ~nanoyo. Dia adalah adik perempuanku ~nanoyo. Namanya Mochizuki 《望月》 Moroha《諸刃》, Moroha-chan ~nanoyo.(Karen)


Senang bertemu denganmu(Maroha)

Dewi Pedang…… bukan, Moroha-nee-san, menjabat tangan Lindzey saat diperkenalkan oleh Karen-nee-san. Semuanya mungkin terkejut dengan kemunculan onee-san lain secara tiba-tiba. Aku mengerti, karena aku juga terkejut.

Maafkan keterlambatan perkenalan diri. Kami semua bertunangan dengan Touya-san……(Yumina)

Aku kenal kamu ~yo. Kamu Yumina, dan dia Lindze sedangkan gadis ini Sue, kan(Maroha)

Anda sudah mengenal kami?(Yumina)

Ah, aku sudah melihat kalian semua dari atas sana…….(Maroha)

Aaah, begini lho! Ia tahu kalian dari surat yang dikirim Karen-nee-san!(Touya)

Onee-san baru ini, hampir saja mengatakan hal yang tidak perlu, jadi aku menyelanya dan akhirnya bisa menipu mereka. Nee-san ini, sepertinya ia tidak bisa membaca situasi. Apa dia bodoh?

Moroha-nee-san hampir secantik Karen-nee-san, tapi jika dibilang Karen-nee-san adalah tipe cantik yang imut, maka Moroha-nee-san adalah tipe cantik yang berwibawa.

Ia tinggi, dan memancarkan keanggunan dalam setiap gerakanya. Bahkan hal itu tidak akan dianggap abnormal jika ia mainkan sebuah opera.

Tapi, kenapa onee-sannya Touya bisa ada di tempat ini ~ja??」(Sue)

Hmm~ aku memaksa untuk ikut Karena sepertinya menarik. walaupun aku kalah karena ini kompetisi tim. Jadi yah, bisa dibilang aku datang kesini untuk menguji hasil latihanku.(Maroha)

Moroha-nee-san mengarang alasan yang cukup baik dan menghindari pertanyaan Sue.

Rupanya, dia, menganggap kalau acara ini sangat menarik saat melihat dari atas sana, ia pun turun, memaksa untuk masuk ke suku tertentu, dan akhirnya bertarung sebagai anggota suku seakan-akan hal itu normal. Sepertinya suku yang ditempatinya mengganggap dirinya sebagai teman. Apa karena hipnotis? Yah, karena dia Dewi maka hal yang mustahil akan jadi mungkin, kan?

Walaupun sebenarnya, 2 orang itu seharusnya tidak boleh mengganggu apa yang terjadi di bawah. Yah, walau sepertinya mereka tidak boleh mengganggu sebagai [Dewa], ternyata mereka boleh mengganggu sebagai [Manusia] yang ada di titik terkuat. Kemampuan fisik mereka sepertinya juga ada di titik [Maksimal] dalam standar manusia. Tapi daripada dibilang ada di kelas-master, mereka lebih ke kelas-monster.
(ED : Atau mungkin kelas-dewa :P)

Oleh karena itu meskipun aku meminta mereka dalam hal seperti [Tolong kalahkan Fraze] atau [Tolong kembalikan Yuuron seperti semula], itu mustahil.
Pokoknya, telah diketahui kalau mereka tidak berguna sebagai manusia jika hal yang diminta bukanlah pekerjaannya…….


Saat Anda bilang berlatih, apakah yang mengajari teknik berpedang Touya-san adalah Moroha-nee-sama?(Yumina)

Ah~……Yah, bisa dibilang begitu. Tapi Touya-kun juga telah menambahkan teknik berpedangnya sendiri(Maroha)


Tidak ada yang bisa mengalahkan Moroha-chan dalam kemampuan berpedang ~noyo. Ia yang terbaik di dunia ~nanoyo(Karen)

Karen-nee-san membanggakannya seolah dirinya sendiri. Yah, kurasa ia memang benar. Karena ia adalah seorang Dewi. Ah, apa aku bisa memintanya untuk melatih orde ksatria kami, yah……?

Akan tetapi, karena ia adalah [Dewi Pedang], apakah ia tidak bisa menggunakan senjata lain seperti kapak dan tombak. Sepertinya senjata seperti [Belati] atau [Pedang Ganda] mungkin masih bisa, Apa sebaiknya aku menanyakannya nanti?

Oh, sepertinya pertandingan tim Yae akan dimulai! Bukankah jika mereka memenangkan ini, mereka akan maju ke final besok ~jaro?(Sue)

Aku pun berhenti berpikir karena suara Sue dan akhirnya melihat arena. Hari ini, 8 peserta terbaik akan bertarung untuk [Suku Raja Pohon] besok. Dengan kata lain, 16 besar bertanding sekarang.

Suku Balum juga menang dan lolos(Touya)

Tidak seperti orang yang mencari masalah dengan kita kemarin. Sepertinya para perserta mereka cukup kuat(Lindze)

Kurasa itu sudah jelas. Karena Jika mereka ada di level yang sama seperti yang kemarin, aku hanya bisa berpikir kalau suku Balum sedang beruntung dan mendapat lawan yang mudah.

Oops, sebaiknya aku melihat pertandingan Yae daripada memikirkan orang-orang itu.

Lawan Yae adalah suku bertato mulai kepala sampai kaki dan berambut mohawk dengan kapak di setiap tangannya.

Orang itu mendekati Yae saat pertandingan dimulai, dan mengayunkan kapak dengan tangan kanannya. Yae menghindari serangan itu dengan mengelak ke arah kiri, dan menjaga jarak ke belakang.

Kurasa ini kemenangan Yae(Maroha)


Eh?(Touya)

Moroha-Nee-san tersenyum saat menikmati pertandingan dan mengatakannya.

Orang itu mulai memojokkan Yae di arena. Akan tetapi, Yae dengan sabar dan terus menghindari kapak itu. Apakah ia sedang menunggu sesuatu?

Akhirnya, Yae bergerak. Sambil menghindari kapak orang itu, ia mengayunkan katana-nya ke arah gagang kapak orang itu, kapak itu pun terlempar keluar arena. Lalu, katana itu juga memotong kapak satunya. Saat orang itu terheran melihat kapaknya, Yae pun menebas tubuh orang itu.

Lawannya pun kalah dengan satu serangan itu.

Mustahil untuk katana Yae untuk menebas senjata penghancur seperti kapak secara langsung. Ada kemungkinan katana itu akan rusak. Jika ia menebas kapaknya secara bertahan, hasilnya sama saja. Jadi ia mungkin mengincar waktu yang tepat untuk menghancurkan kapak tersebut. Tapi tetap saja, jika ia menarik katananya dengan cepat dan menentukan pertandingan ini dengan satu serangan tanpa bertahan, ia pasti bisa menyelesaikan pertandingan ini dengan lebih cepat. Ia pasti sedang bermain-main. Atau bisa jadi Ia masih ragu apakah ia bisa menebas kapak itu? Jika memang benar seperti itu, ia masih butuh banyak latihan ~kana(Maroha)

O~oooh. Meskipun aku tidak paham dengan yang diucapkannya, Moroha-nee-san mulai menjelaskan sesuatu. Seperti yang diharapkan dari Dewi Pedang, memahami hal tersebut dengan cepat.

Mengenai pertandingan hari ini, setelah pertandingan barusan, Pam dan Hilda juga menang, jadi suku Rauri akan maju ke babak final.

Mereka bisa lolos sampai hari terakhir tanpa merasa kesulitan, yah?

Eh?(Touya)

Saat aku melihat arena lain, suku Balum sedang bertanding melawan suku aneh.

Mereka kurus dan juga bungkuk. Tangan mereka memegang cakar panjang, dan juga bertopeng. Meskipun aku menyebutnya dengan topeng, itu bukanlah topeng, benda itu mirip seperti pelindung debu yang hanya menutupi bagian bawah wajah mereka. Untuk sesaat, aku pun mempertanyakan laut kotor mana yang akan mereka bersihkan.

Untuk suatu alasan, mata mereka, juga terlihat mencurigakan. Aku merasakan pancaran cahaya kegilaan dari mereka.

Meskipun petarung suku Balum di arena itu adalah lelaki bertombak besar, ia masih terus menerima serangan orang bertopeng itu dan mendapat luka goresan di sekujur tubuhnya.

Petarung suku Balum menusukkan tombaknya, tapi langkahnya tidak stabil. Apakah stamina nya hampir habis? Ia berkeringat deras, dan nafasnya juga berat.

Fumu, apa itu racun, yah?(Maroha)

Eh!?(Touya)

Aku terkejut saat Moroha-nee-san mengatakannya dengan yakin.


Racun, katamu……. Apa racun itu dioleskan ke cakarnya?

Racun itu tidak sampai membahayakan nyawa kok. Racun itu hanya membuat tangan dan kaki mati rasa, menghilangkan stamina, dan memusingkan lawan. Sepertinya, racun juga tersebar di arena itu(Maroha)

Apakah penggunaan racun bukan sebuah kecurangan?(Touya)

Tidak lah, sihir memang dilarang, tapi tidak ada peraturan lain selain itu. aksi yang mencoreng nama baik suku juga dilarang, jadi mereka pasti membolehkan penggunaan racun. Terlebih lagi, pengguanaan racun adalah teknik berburu yang lumrah(Pam)

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Untuk suatu alasan, aku merasa kalau itu tindakan pengecut. Memang sih, agak susah untuk mengatakan kalau suku bertopeng itu kuat secara fisik. Jadi, mereka mungkin membuat teknik berburu menggunakan racun untuk menggantikan kekurangan itu.

Kurasa bukanlah hal buruk untuk bertarung dengan speliasisasi mereka.

Saat pergerakan petarung suku Balum melambat, orang bungkuk itu maju dengan cepat, lalu menusukkan cakar tangan kanannya tepat ke perut petarung suku Balum. Pertandingan pun selesai dengan serangan itu.

Dengan pertandingan itu, suku Balum yang dominan pada kaum lelaki kehilangan semangat dan dikalahkan satu persatu oleh pemanipulasi racun lain dari suku Rivet.

Jadi SUku Balum kalah, yah?(Yumina)

Setidaknya untuk sekarang hal ini menenangkan kekhawatiran suku Rauri(Touya)

Dengan ini, suku Balum tercegah dari menjadi [Suku Raja Pohon] dan membuat peraturan yang merugikan suku Rauri.

Akan tetapi, racun itu menyusahkan. Meski tanpa menyerang, hasilnya akan sama saja karena petarung akan menghirup racun yang tersebar di arena. Apa itu tujuan mereka? Kurasa mereka memang sengaja bertarung dengan posisi bertahan untuk mengulur waktu saat bertarung. Mereka mungkin bertaruh agar racun mempengaruhi petarung lain.

Untungnya, karena perlindungan roh, racun di arena tidak tersebar kemana-mana.

Dengan kata lain, sepertinya baik roh dan wasit membolehkan penggunaan racun. Walaupun si wasit, yang saat itu ada di arena, juga terkena racunnya sih. Karena racun itu tidak membahayakan, ia akan sembuh dalam beberapa jam.
(TL: Sungguh kegoblokan yang hakiki~)

Tapi, racun seperti itu akan tetap berbahaya saat sedang bertanding. Kurasa akan lebih baik para gadis mempersiapkan sesuatu untuk hal itu. Mungkin saja mereka akan menghadapi suku itu besok.

Aku telah bertanya apakah suku Rivet pernah mengikuti [Upacara Pemangkasan] sebelumnya tapi ternyata mereka adalah suku baru, yang memisahkan diri dari suku lain. Sepertinya suku asli mereka juga menggunakan racun saat berburu. Yah, kebiasaan dari lahir memang tidak bisa dihilangkan bergitu saja.

Bagi suku yang ada di Hutan Besar, daripada disebut keluarga, mereka lebih pantas disebut koloni atau desa. Maka tidak mengherankan jika ada suku baru yang lahir dari suku lain, bahkan ada juga suku lain yang terpencah bela dan akhirnya menghilang.

Oh(Touya)

Petarung klan-naga yang kulihat kemarin sedang bertarung di arena lain. Ia menggunakan aksi yang sama, tanpa menggunakan pergerakan yang tidak diperlu. Ah, sama seperti sebelumnya, lawannya juga terlempar.

Apakah itu pertandingan ketiga mereka? Sepertinya sukunya juga lolos ke babak final besok dengan kemenangan telak.

Semua suku yang menang dan memasuki delapan besar sepertnya memiliki ciri-ciri unik atau menonjol. Satu suku memakai bulu jaguar, suku satunya memakai senjata tulang, dll. Mereka semua bervariasi.

Mungkin besok akan sedikit sulit.

***

Apa kita memang harus melakukannya?(Touya)

Jangan menahan diri. Majulah saat kau siap. Ah, tapi tidak boleh menggunakan sihir lho(Maroha)

Setelah memperkenalkan Moroha-nee-san pada para tunanganku yang berpartisipasi, Hilda dan Yae mengatakan “Tolong bertandinglah dengan kami”.

Karena Karen-nee-san terlalu membanggakan kemampuan berpedang Moroha-nee-san, Semangat Yae dan Hilda pun membara. Akan tetapi, aku tidak membolehkan mereka untuk bertanding karena mereka akan berpartisipasi dalam [Upacara Pemangkasan] besok. Aku akan khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi pada mereka.

Akan tetapi, Hilda dan Yae mengatakan melihat kemampuan Moroha-nee-san, dengan wajah memelas, jadi telah diputuskan kalau ia yang akan bertanding melawan Maroha-nee-san setelah makan malam.

Kenapa aku yang jadi lawanmu sih?(Touya)

Yah, karena tidak ada yang lain, mungkin?(Maroha)

Yah, kurasa memang benar. Aku tidak bisa membiarkan Yumina ataupun Lindze untuk bertanding dengannya walaupun mereka tidak ikut bertanding dalam [Upacara Pemangkasan].

Mau bagaimana lagi. Aku juga sedikit tertarik sih, jadi mari kita melihatnya, kah? Aku menggenggam erat-erat pedang imitasi mithril dan melawan Moroha-nee-san.

Aku tidak akan mengakhirinya dengan cepat, jadi seranglah dengan kekuatan penuhmu(Maroha)

Kalau begitu, kumulai, yah? Ne~ to!(Touya)

Untuk pemanasan, aku berlari kedepan dan mengayunkan pedangku kebawah, untuk percobaan. Onee-san ku menangkisnya dengan mudah, sambil memutar tubuhnya ke belakangku, dan mengayunkan pedangnya secara horizontal. Sambil membungkukkan badan, aku menghindari pedang itu.

Percobaan kedua, aku mencoba serangan pura-pura kali ini. Sambil berpura-pura mengincar badannya dari kanan, aku mengayunkan pedangku ke tangan kanannya. Akan tetapi, Nee-san menabrakku, sehingga membuatku kehilangan keseimbangan. Setelah hampir jatuh, aku berguling-guling di tanah dan membuat jarak dengannya. Sepertinya ia masih belum serius melawanku.

Hal ini sedikit mengesalkan karena ia masih punya waktu untuk tersenyum. Karena ia tidak serius, mari kerahkan semua kemampuanku!




Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

0 comments:

Post a Comment