Sunday, 25 March 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 176 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Shiro7D
Proof Reader
-


Arc 21: Pertempuran Wanita

Chapter 176: Mata Sihir Naga, dan Tanda-tanda Perubahan




Aku menyerah……(Touya)

Aku mengangkat bendera putih sambil terlentang di tanah. Mustahil, sungguh sangat mustahil. Walaupun aku bisa menggoresnya beberapa kali, aku tidak bisa mendaratkan serangan sama sekali. Kurasa aku bisa jika menggunakan sihir, tapi aku tidak bisa menang pada teknik berpedangnya. Seperti yang diharapkan dari Sang Dewi Pedang.

Yah, barusan itu lebih berbahaya dari yang kuduga. Jadi aku sedikit serius.
Aku penasaran, akankah kau mencapai level-ku jika terus berlatih ~kana?
(Maroha)

Nah~nah~. Aku tidak ingin menjadi nomer 2. Sejujurnya, walaupun aku mempelajari teknik berpedang sampai sejauh itu, kupikir tidak akan ada yang bisa menjadi lawanku kecuali kau sendiri.

Aku hampir tidak melihat pedang mereka ~degozaru……(Yae)

Aku juga……. Me-mereka berdua menakjubkan sekali yah……(Hilda)

Walaupun Hilda dan Yae kebingungan, mereka masih mengutarakan pikiran mereka. Walaupun mereka berkata menakjubkan, aku ingin berteriak
“Ada dinding tinggi antara aku dan Nee-san tahu!”. Tapi aku terlalu lelah untuk mengatakannya.


Hee~. Kalian berkata [Hampir tidak melihat] yah? Apakah itu artinya kalian [Kurang lebih melihatnya]? Sepertinya kalian ini cukup menjanjikan yah?(Maroha)

Moroha-nee-san melihat Yae dan Hilda dengan gembira. Di sisi lain, mereka berdua menatap Sang Dewi Pedang dengan mata yang berkilau.

Apa mereka senang karena telah diakui olehnya walaupun hanya dalam batasan tertentu?


Aku akan mengajari kalian berdua dengan sebaik-baiknya karena aku berniat untuk tinggal di tempat Touya-kun untuk sementara waktu(Maroha)

Sungguhan?! Moroha-Onee-sama!(Hilda)

Aneue! Terima kasih banyak ~degozaru!(Yae)

Kedua gadis itu pun menatapnya dengan mata yang lebih berkilauan. Kurasa ini lah momen kelahiran murid Dewi Pedang.

Muu~ Moroha-chan mencuri 2 adik iparku ~noyo……(Karen)

A-a-aku menghormati Karen-onee-san, lho?(Lindze)

Lindze-cha~n. Kamu gadis baik yah, gadis baik, giyu ~nanoyo(Karen)

Karen-nee-san pun memeluk Lindze untuk alasan yang tidak kuketahui.

Walaupun Rue tidak seperti mereka berdua, sepertinya ia juga tertarik pada Moroha-nee-san. Yah, kurasa ia bukanlah penggila-pedang seperti mereka berdua.


Setelah memiliki kekuatan untuk kurang lebih bisa menggerakkan tubuhku,
aku merapalkan [Refresh], dan yang memulihkan staminaku. Fuu… Kurasa jalanku masih panjang.


Aku tidak tahu sejak kapan, tapi ada banyak penonton yang mengelilingi kami.
Kurasa ini hal wajar, mengingat pertandingan barusan sangat menyolok.


Oi, mereka itu siapa?

Kabar mengatakan kalau mereka adalah tamu suku Rauri. Tapi aku dengar kalau mereka bukan peserta sih…

Walaupun mereka sekuat itu……kenapa?

Mana aku tahu, goblok

Berbagai bisikan para penonton sampai di telingaku.
Jawabanku adalah. Karena aku adalah lelaki sejati lah.
(TL: jangan lupa kalau Touya menyamar sebagai perempuan)


Diantara para penonton itu, ada juga pengguna si boujutsu botak dan petarung jarak dekat dari klan-naga yang kulihat sebelumnya.

Si botak sedikit membungkuk dan menyapaku saat menyadari tatapanku, tapi si petarung jarak dekat malah terus menatapku tanpa ekspresi apapun. Oya?
Pupil mata kanannya berwarna emas, dan yang kiri berwarna merah.


…….Apa itu mata sihir yah?

Saat ia terus menatapku tanpa bergerak sedikitpun, aku melihat suatu bahaya dibelakangnya, aku pun menarik Brynhildr dari pinggangku dan menarik pelatuknya tanpa bulu.

Suara tembakan terdengar dan terlihat satu orang jatuh dari pohon besar di belakangnya dengan suara yang keras. Ia terjatuh karena karena aku mengunakan peluru Paralys. Saat aku melihat lokasi jatuhnya, ia memegang busur panah beserta anak panahnya. Jadi sudah jelas kalau ia sedang mengincar perempuan klan-naga ini.

Apa kau mengenalnya?(Touya)

Aku pun bertanya sambil menunjuk orang itu pada perempuan klan-naga  tersebut.

……Iya, ia dari suku yang kulawan barusan(Klan Naga)

Jadi ini dendam, yah? Apa ini mirip dengan dendam karena telah kalah? Suku Jaja yang merupakan [Suku Wasit] pun datang dan menyeretnya karena ia tidak bisa bergerak.

Serangan seperti barusan sering terjadi di [Upacara pemangkasan], sudah lumrah kalau sampai hal itu terjadi, dan tentu saja ada untuk hukuman hal itu. Hukuman itu adalah larangan partisipasi suku pada [Upacara Pemangkasan]. Tidak diragukan lagi kalau anggota sukunya sangat marah, dan mengusirnya dari desa.

Karena diusir dari desanya, Ia akan hidup sendirian di Hutan Besar ini. Itulah yang akan menjadi hukumannya.

Terima kasih karena telah menyelamatkanku. Namaku Sonia Paralem.
Saat ini aku adalah peserta dari suku Lulush
(Sonia)

Perempuan klan-naga itu pun berterima kasih dan menundukkan kepalanya.

Namaku Rengetsu. Aku ingin berterima kasih karena kau telah menyelamatkan Sonia-san barusan(Rengetsu)

Pengguna boujutsu botak itu juga menundukkan kepalanya seakan-akan kepalanya diberikan padaku. Rengetsu……. Apakah ia berasal dari Yuuron? Atau mungkin Ishen? Karena Rambutnya hitam…. Tunggu sebentar, diakan tidak punya rambut. Jadi bagaimana aku tahu warna rambunya, yah? Ah, mungkin saat aku melihat alis matanya yang hitam.


Rengetsu-san, dari mana kau berasal?(Touya)

Eh? Aku dari Ishen, apa ada yang salah?(Rengetsu)

Leganya~. Akan merepotkan jika ia berasal dari Yuuron. Aku baru menyadarinya saat aku bertemu dengan Yae, sepertinya orang-orang Ishen suka merantau. Ada banyak orang dari sana yang bepergian untuk berlatih.

Sebaliknya, orang Yuuron tidak terlalu senang bepergian. Karena, Akan ada berbagai hal menyusahkan jika ada orang yang mau melakukannya. Sampai-sampai orang akan berpikir “Sungguh tak dapat dipercaya kalau ternyata sesusah ini untuk pergi ke luar Negeri”. Sepertinya regulasi dalam penyebaran berita juga sama seperti itu.

Yah, para pengungsi telah meninggalkan Negara itu dan pergi ke luar Negeri karena rezim Yuuron telah hancur. Walupun epertinya pengungsi tersebut tidak terlalu banyak karena kebanyakannya dari mereka  telah bunuh oleh Fraze. Yah, tetap saja mereka akan menyusahkan Negara yang menerima mereka sih.

Namaku Mochizuki Touya. Aku tamu suku Rauri, etto……?(Touya)

Saat aku mencoba memperkenalkan diri, Sonia sekali lagi menatapku. Huh? Apakah mata sihirnya diaktifkan karena suatu alasan tertentu?

Emm……apa ada yang salah?(Touya)

……Maafkan aku jika aku lancang, tapi kenapa anda memakai pakaian perempuan?(Sonia)

Huh? Jangan katakan kalau [Mirage] tidak bekerja? Aku pun bertanya pada Sonia dengan suara rendah, dan ia pun mengangguk.

Ah, Gimana yah. Aku tahu kalau ada beberapa orang yang mempunyai hobi seperti ini, tapi tetap saja aku sedikit terkejut saat melihatnya secara langsung……(Sonia)

Tu-tu-tunggu sebentar, tunggu sebentar oi! Ini berbeda dari yang kau pikirkan! Ini hanya salah paham!(Touya)

Jika keadaannya tetap seperti ini, aku akan dianggap sebagai laki-laki dengan hobi berpakaian seperti perempuan. Walaupun ini hanya ilusi dan bukan cross-dressing!

Aku pun menuntun mereka berdua ke tempat sepi dan akhirnya menjelaskan situasinya pada mereka.


Harga diri suku Rauri tidak akan tercemar karena aku tidak berpartisipasi. Walau identitas diriku diketahui orang lain, hasilnya hanyalah aku tidak bisa melihat pertandingan, jadi sebenarnya tidak masalah walau identitasku diketahui. Dan jika saat itu tiba, ada juga pilihan selain menggunakan [Invisible].

Jadi, apakah alasan ilusinya tidak bekerja adalah karena mata sihirmu itu?(Touya)


Iya. Mata sihirku memiliki kemampuan untuk menghilangkan ilusi.
Efek visual sihir juga tidak akan bekerja dengan adanya mata kanan ini
(Sonia)
(TL: ternyata masing-masing mata memiliki kekuatan yang berbeda)

Begitu yah. Jadi sinar menyilaukan dari sihir cahaya juga tidak berefek pada mata kanan itu, yah? Tidak, mungkin itu masih akan bekerja jika ia sedang lengah karena mata itu tidak akan aktif sepanjang hari.

Yah, walaupun ini bukan masalah penting, tapi aku akan berterima kasih jika kalian merahasiakannya(Touya)

Kalau begitu, kita impas karena barusan kau sudah menyelamatkan kami(Sonia)

Oh, mereka bisa bekerjasama, yah? Secara tak terduga, mereka berdua cukup mudah di ajak bicara. Sepertinya mereka punya sifat yang ramah. Kata mereka, mereka adalah adventurer yang sedang menjelajah untuk melatih diri. Tampaknya, di tengah-tengah perjalanan mereka, mereka bertemu 2 peserta suku Lulush yang tidak bisa tampil di [Upacara Pembabatan] karena sedang sakit. Jadi mereka berdua pun menawarkan diri untuk membantu suku itu.

Dan pada akhirnya kami bisa menonton pertandingan Touya-san tadi.
Walaupun Touya-san juga hebat sih, tapi……siapa sih, wanita tadi itu?
(Sonia)

Ah. Ia adalah Moroha-nee-san…… Ia kakak keduaku. Sebenarnya, mustahil menang melawannya. Karena ia lah yang terkuat meski hanya dalam pedang(Touya)


Yang terkuat, katamu……?(Sonia)

Yah, sudah pasti mereka berpikir kalau itu terlalu berlebihan kan? Akan tetapi, itulah kebenarannya.

Untuk saat ini, kami memutuskan jika besok tim kami bertemu, kami akan bertanding sekuat tenaga dan saling bertukar teriakan serangan. Lalu berpisah dengan mereka.

Jadi kau ada disini, yah?(Pam)


Eh? Pam?(Touya)

Pam pun datang setelah aku berpisah dengan mereka. Figurnya remang-remang terlihat dari kegelapan yang disinari cahaya bulan.

Suku Balum telah kalah. Jadi kau bisa tenang kan?(Touya)


Iya ya. Akan tetapi, aku ingin mempersiapan strategi untuk [Upacara Pemangkasan] selanjutnya. Dan sudah kuduga, aku benar-benar menginginkan anak dari Touya……(Pam)

Kau telah berjanji untuk melupakannya jika kalian menang lho(Touya)

Aku tahu. Suku Rauri selalu menepati janji(Pam)

Seakan-akan ia menyesalinya, Pam menunjukkan wajah dongkol dan membuang wajahnya ke arah lain.
(TL: Tsundere confirmed)

Apakah peraturan yang kalian inginkan masih tetap mengusir suku Balum ke daerah terpencil?(Touya)

Umu, memang rencananya begitu sik. Tapi setelah berpikir sejauh ini, aku juga berpikir untuk membuat pertaruan berbeda. Sesuatu yang akan menguntungkan suku Rauri memang bagus sih, tapi……(Pam)

Pam pun memikirkannya. Sesuatu yang menguntungkan suku Rauri, yah…….
Jika dipikir secara logika, apakah itu akan jadi peraturan yang menguntungkan wanita? Karena suku Rauri dengan kuat menentang kesetaraan gender……. Tapi aku berharap kau akan memerintah semua suku Hutan Besar tanpa mempedulikan perasamaan tersebut.

Dan juga, pertentangan antar lelaki dan wanita yang separah itu hanya ada diantara suku Rauri dan Balum.

Yah, walaupun suku lain juga menganggap, kalau wanita itu lebih lemah dari pada mereka.

Bagaiamana kalau membuat sesuatu seperti [Hanya wanita yang boleh berpartisipasi dalam [Upacara Pemangkasan]]?(Touya)

Jangan macam-macam. Itu pasti akan membuat kericuhan(Pam)

Kurasa memang benar. Suku lain pasti tidak akan tinggal diam. Suku dengan wanita kuat memang ada sih, tapi mayoritasnya tetap saja ada di lelaki.

Terus bagaimana jika membedakan peserta [Upacara Pemangkasan] tergantung dengan gender?(Touya)

Mm? …………Lumayan……. Suku Rauri kami akan memiliki berbagai keuntungan jika pesertanya dibedakan oleh gender……(Pam)
(TL: Mereka tidak akan bilang kalau sebenarnya Rauri takut pada Lelaki :p)

Pam bergumam dan mulai berpikir. Oi-oi, apa kau serius? Kurasa, ide untuk lelaki dan wanita bertempur di arena yang sama tidak begitu familiar dalam dunia kami. Contoh dalam perlombaan Olympics, pesertanya dibedakan dengan gendernya. Karena Tubuh lelaki dan wanita dari awal sudah berbeda, jadi mau bagaimana lagi. Pembedaan bukalah sebuah diskriminasi.

Akan tetapi, jika peraturan itu diaplikasikan, maka suku lain mungkin akan mengikuti kedua divisi, baik untuk lelaki ataupun untuk wanita, apa kau paham? Hanya suku Rauri dan Balum lah yang tidak akan bisa melakukannya. Apa hal itu tidak masalah?(Touya)

Tidak masalah kok. Karena hal itulah yang kuharapkan. Jika peraturan itu diaplikasikan, maka itu kan membuat suku lain tidak meremehkan wanita lagi(Pam)

Ah, sungguhan? Jadi ada sudut pandang seperti itu juga, yah……. Kekuatan wanita juga akan diketahui. Mereka juga akan bisa mengambil posisi yang lebih aktif.

Walaupun aku mendengar gumaman berbahaya seperti “Dengan ini, para wanita suku lain akan membangkitkan kekuatannya. Jika mereka mencari tempat untuk menggunakan kekuatan itu, mereka mungkin secara alami akan bergabung dengan suku Rauri. Itu juga akan memperkuat suku Rauri…….tidak buruk. Yup, tidak buruk sama sekali…….”.

Kemajuan posisi wanita bukan ide buruk……. Seharusnya memang seperti itu, tapi sebagai lelaki, perasaanku bercampur aduk……. Mungkin aku telah mengusulkan sesuatu yang merepotkan.

Roh Pohon suci mungkin akan memberikan 2 peraturan jika pertempuran dibedakan melalui gender. Tapi yah, mungkin tidak akan ada masalah.

Walaupun aku mengatakan memberikan, roh itu hanya menyetujui.
Sebenarnya, peraturan itu adalah sesuatu yang diputuskan oleh semua orang.


Baiklah, aku akan mengusulkan ini pada semua orang di suku. Ini mungkin akan mengubah [Upacara Pemangkasan] secara drastis(Pam)

Pam pun pergi dengan semangat membara. Saat aku merasa gelisah apakah aku sudah melakukan hal yang tidak perlu, Roh Pohon suci pun muncul sebelum aku menyadarinya. Ia memancarkan fosforesensi hijau seperti biasanya.

Mungkin itu bukan usulan yang buruk. Hasilnya, posisi wanita di Hutan Besar akan menjadi sedikit lebih baik. Walaupun untuk menjadi seperti suku Rauri itu sedikit ekstrim sih, itu juga termasuk individualitas suku(Roh pohon suci)

Uun. Apakah memang seperti itu? Walau tidak ada jawaban pasti akan pertanyaan ini. Jawaban tentang yang mana yang akan diuntungkan.

Aku pun memutuskan untuk kembali pada semuanya sambil memikirkan kesedihan sukar ini. Roh Pohon suci juga telah menghilang sebelum aku menyadarinya.. Apakah alasan ia tidak menanyakan Moroha-nee-san adalah karena ia menahan kekuatan surgawinya dengan sempurna?

Meskipun sepertinya kekuatan itu masih bocor dalam kasusku sih.
Jika aku tidak mempelajarinya, aku punya firasat kalau masalahku akan bertambah.


Di tengah-tengah perjalanan pulang, aku menoleh ke belakang. Di sana ada beberapa bayangan yang berjalan semakin dalam ke hutan. Apakah itu……. suku Rivet? Mungkin tidak ada suku lain dengan topeng seperti itu.

Pada saat itu, kupikir mereka sedang melakukan ‘urusannya’ dan akhirnya mengabaikannya. Tapi saat aku meninjaunya kembali, itu adalah sebuah kesalahan.




Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

0 comments:

Post a Comment