Sunday, 22 April 2018

Evil God Chapter 30


TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu
Chapter 30 :
Latihan Khusus (2)


Keesokan harinya.
Pada akhirnya aku pergi ke ibukota Kerajaan Briton, Rhodan, bersama Adrigori.
Langitnya terlihat biasa saja dan berawan.
Lalu kami mengunjungi kafe yang sama untuk melakukan rapat strategi.

[Apa Anda mengerti? Target kita adalah wanita yang sedang senggang. Tidak ada gunanya jika kita mengajak bicara wanita yang sedang sibuk. Nanti mereka malah jadi kesal.]

Aku mengangguk pada Adrigori.
Soalnya aku sudah mengalaminya semalam.
Tapi dia lebih baik dari yang kusangka karena mengetahui hal itu.
Sepertinya aku mulai bisa mengharapkannya.

[Dan satu hal lagi, target kita... coba lihat wanita yang di sana.]

Karena kami akan ketahuan jika menunjuk padanya, Adrigori hanya mengarahkan pandangannya pada wanita itu.

[Dia cantik sekali.]
[Itu tidak bagus.]
[Tidak bagus? Kenapa?]
[Wanita yang cantik sudah terbiasa digoda. Terlebih lagi oleh pria yang sudah berpengalaman. Dia akan dengan mudah mengatasi pemula seperti kita.]

Aku sedikit paham tentang apa yang dikatakannya.

[Kalau begitu-]
[Tapi wanita yang jelek juga tidak bagus. Mereka tidak bisa diajak kerjasama. Dan saat kita memanggil mereka, mereka akan berpikir ‘kau pasti sedang melakukan permainan hukuman, ‘kan?’ atau semacamnya. Tentu saja kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman itu, tapi tak mungkin kita melakukan sampai sejauh itu hanya demi wanita yang jelek.]
[O-Oh...]

Adrigori berkata seperti dia telah membaca pikiranku.
Dia jago sekali dalam hal ini.

[Dengan begitu, target kita adalah wanita seperti yang di sana itu.]
Di ujung area penglihatan Adrigori, ada seorang wanita biasa saja yang sepertinya sedang senggang.
[Yang itu?]
[Ya, soalnya dia terlihat sedikit di bawah rata-rata seperti Ashtal-sama.]
[Siapa yang kau bilang di bawah rata-rata? Aku ini termasuk rata-rata.]
[Begitukah? Wanita itu juga akan berpikir begitu. Bahwa dia tidak jelek. Bahwa dia termasuk rata-rata. Tentu saja jika kita membaginya dalam 3 skala, maka dia termasuk yang di tengah. Tapi jika kita membagi kategorinya lagi, maka dia akan berada di bagian bawah. Semua orang di sekitarnya pasti akan berpikir begitu.]

Perkataannya cukup menyakitkan.

[Oleh sebab itu, dia akan merasa aneh karena tidak ada yang menggodanya. Mungkin dia berpikir ‘Kenapa ya? Para pria pasti tak punya mata yang bagus’, lalu dia akan dengan mudah diajak berbicara oleh Anda.]

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan setelah itu.
Bagiku sudah cukup hanya jika bisa berbicara dengannya.

[Kalau begitu, silakan Anda coba]

Aku pun memanggil wanita itu.

[Hai, apa kau punya waktu?]

Aku memanggilnya setelah diberi saran oleh Adrigori. Sepertinya menggunakan ‘Umm...’ atau ‘Maaf’ sangat buruk untuk membuka percakapan.

[Ah... ya. Temanku baru saja pergi, jadi sekarang aku sedang senggang.]

Wanita itu membalas dengan senyuman. Luar biasa! Aku mendapat respon yang bagus.
Adrigori ternyata memang hebat!

.... Nah, semuanya dimulai sekarang.

Jadi, apa yang harus aku bicarakan?
Pada saat seperti ini, aku hanya bisa mengandalkan bantuan.
Ayo bantu aku, Adrigori-san!

  1. Hari ini tidak terlalu panas, ya?
  2. Hari ini berawan, ya?
  3. Mungkin nanti siang akan turun hujan.

Lagi-lagi... kenapa semua topiknya tentang cuaca?
Mana mungkin wanita akan tertarik membicarakan hal itu.

Aku memutar jari-jari di kedua tanganku. Ini adalah tanda untuk mengganti pilihannya.
Dengan cepat, Adrigori menggantinya dengan kertas catatan yang lain.

  1. Kukumu sangat menawan.
  2. Tasnya bagus sekali!

Kalau tidak ada yang pantas dipuji, puji benda apa saja dan dapatkan poin darinya!

[KhUkYuMwu SangeAt MawnuAn.][TL: Kukumu sangat menawan.]
[Ah! Aku baru ingat kalau aku masih ada urusan yang harus diselesaikan. Sampai jumpa lain waktu ....]

Senyum manisnya tadi telah menghilang, dan dengan wajah kaku, wanita itu pun pergi menjauh.

Yah, karena ini lebih baik daripada Jeko, maka aku tak akan memecatnya.
Kami pun mengadakan rapat strategi lagi.

[Begitu ya, jadi pada saat itu, pikiran Anda jadi kosong kemudian menyebabkan Anda menjadi membeku.]
[Yah, begitulah.]

Meskipun pikiranku tidak menjadi kosong, aku tetap tak tahu apa yang harus dibicarakan.

[Kalau begitu, mungkin lebih baik merencanakan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.]
[Tapi kalau begitu, bukan latihan namanya.]
[Benar juga. Bagaimana kalau aku beri contoh?]
[Boleh juga.]

Sepertinya aku tak punya pilihan lain selain melihat contohnya.
Aku tersenyum kecut karena idenya sama dengan Jeko.

[Silakan dicoba.]
[Baiklah.]

Aku putuskan memberi Adrigori kesempatan untuk mencobanya.

Seperti halnya Jeko, Adrigori mempunyai penampilan seorang pria berumur 20-an.
Dengan rambut pirang dan wajah yang termasuk di atas rata-rata.
Dia pun menunjukkan keseriusan di wajahnya.

Yah, setidaknya dia tak akan ditolak karena wajahnya.
Adrigori memanggil seorang wanita, dan berhasil mengajaknya pergi berbelanja.
Setelah itu, dia membelikan wanita itu pakaian, aksesoris, dan dengan mudah menghabiskan uangnya.

[Bagaimana menurut Anda?]

Adrigori kembali dengan percaya diri.

[Kau terlalu mudah diperdaya.]
[Ha?]

Adrigori menenangkan diri dan berpikir tentang apa yang telah dilakukannya.

[Aku, yang sudah membaca banyak buku panduan dan buku tentang psikologi wanita, telah diperdaya?]

Dia adalah tipe yang berpikir kalau dia bisa melakukan sesuatu karena telah membacanya di buku.
Apa sebelumnya dia adalah orang yang tidak percaya diri akan kemampuannya?
Kenyataan sungguh pahit baginya.

[Terlebih lagi, aku tidak mendapat alamatnya. I-Ini tidak bisa dimaafkan. Sudah kuduga, seharusnya aku menghajar para wanita dan membuat mereka menurutiku.]
[Astaga.] [Tl: -_-]

Hasilnya sama saja dengan Jeko.
Tentu saja, aku juga melarangnya.


***


Seharusnya ini sudah cukup sebagai pengalaman. Tapi Adrigori masih ingin melanjutkannya.

[Bagaimana kalau begini saja, kita panggil 2 orang wanita, dan kita akan mengajak mereka mengobrol berempat.]
[Itu kedengarannya memang lebih mudah daripada berbicara satu lawan satu.]
[Kalau begitu, aku akan pergi mencari 2 orang, Anda tunggu di sini saja.]

[Fuuuh]

Aku berkonsentrasi dan menenangkan hatiku.
Suara Adrigori terdengar saat aku menutup mata.
Aku bisa mendengar suara 2 orang wanita.

[Bagaimana kalau minum teh bersama kami? Kebetulan kami juga berjumlah dua orang.]
[Ah, maaf, tapi kami sedang menunggu seseorang.]
[Ayolah, tempatnya di sana. Lihatlah, aku bahkan sudah memesan tempat duduk dan temanku sedang menunggu di sana.]
[Ah!!!]

Hmm? Sepertinya aku mengenal suara ini.
Aku membuka mataku dan melihat ke sana.
Ada seorang wanita tinggi menggunakan sebuah T-shirt dan celana pendek. Dan juga seorang gadis kecil menggunakan gaun one piece.

Aku kenal dengan mereka.

[Apa yang kau lakukan?]

Tiraiza bertanya padaku dengan mata menyipit.
[Tl : -_-]

Tentu saja, wanita tinggi yang satu lagi itu adalah Jiemi.


1 comment: