Sunday, 15 April 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 187 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Shiro7D
Proof Reader
UDesu


Arc 22: Jika Musim Dingin Datang, Apakah Musim Semi Masih Jauh Dibelakang Sana?

Chapter 187:  Gerbang Transisi, dan Sebuah Belati Perak





Sejak berita tentang penemuan dungeon baru tersebar, para adventurer mulai berdatangan ke Brunhild.

Pada awalnya, dungeon yang Rerisha-san temukan itu adalah dungeon yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Dungeon itu belum terjamah oleh para pencuri karena terletak di kepulauan terpencil di tengah samudera. Jadi, ada kemungkinan bahwa harta karun yang melimpah ada di dalamnya.

Dengan kata lain, situasi ini seperti pepatah “Siapa cepat dia dapat”. Para adventurer berusaha untuk menjadi yang pertama datang ke 3 dungeon yang kunamai dengan [Amaterasu], [Tsukuyomi], dan [Susanoo].

Sebelumnya, aku berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan kenyataan bahwa aku bisa menggunakan [Gate] agar tidak disalahgunakan orang-orang yang berpengaruh dan berkuasa untuk sebuah kejahatan. Akan tetapi, ada banyak orang yang mengetahuinya sekarang. Yah, soalnya aku terlalu banyak menggunakannya pada waktu pertempuran melawan Fraze sih.

Disamping itu, aku telah menjadi kuat sekarang. Kupikir tidak akan ada orang yang berani untuk berbuat macam-macam denganku sekarang. Kalaupun ada, Mereka pasti akan langsung kukalahkan.
(TL : songong amat lu touya)

Setelah melalui banyak pertimbangan dan akhirnya diberlakukan, gerbang transisi menuju pulau telah disetujui oleh berbagai pihak dengan alasan [Yah, kalau untuk raja itu sih, pasti bisa].

Karena ukuran dungeon itu cukup besar, ada banyak magic beast dan monster berkeliaran di sana. Meskipun eksplorasinya belum membuahkan hasil yang memuaskan, tapi ada juga party yang telah mencapai lantai 3.

Dan untuk guild, mereka kelihatannya tidak keberatan ataupun mengeluh karena mereka bisa mendapatkan material dan harta yang dibawa pulang oleh para  adventurer meskipun eksplorasinya tidak berjalan dengan mulus.

Kemarin aku sedikit terganggu dengan semakin buruknya layanan dan keamanan masyarakat karena bertambahnya adventurer. Yah, kukira itu wajar karena ada juga penjahat atau buronan diantara para adventurer.

Orang-orang idiot yang mengganggu warga dan menipu toko-toko di kota juga mulai bermunculan satu demi satu.

Aku tidak tahu bagaimana mereka dihukum di luar negeri, tapi aku tidak akan mengasihani mereka di negaraku ini. Jika ketahuan, mereka akan diseret oleh para ksatria ke [Devil’s whisper jail] (sebuah penjara dimana mereka dipaksa untuk mendengar suara papan yang digaruk-garuk selamanya) atau ke [Aromatic Smelling Prison] (penjara yang berisi 1/10 bau dari slime yang bau) dan mereka akan tinggal di sana sambil menyesali tindakan mereka.

Lalu, ada satu hal lagi yang kubuat, yaitu sebuah rumah sakit di kota. Rumah sakit ini adalah tempat dimana para spesialis sihir atribut cahaya dan dokter yang bisa mendiagnosa penyakit berkumpul. Obat-obatan di sini dibuat langsung oleh Flora.

Harga untuk pengobatan di sana telah ditetapkan kemarin, dan kami juga menggratiskan obat-obatan itu pada anak kecil yang punya pengasuh di negara ini.
Di dunia ini, penduduk yang berumur 13 kebawah dianggap sebagai anak kecil. Dikarenakan mahalnya pengobatan di dunia ini, mustahil bagi mereka untuk membayarnya.

Meski tadi kukatakan “GRATIS”, bukan berarti kami tidak menuntut biaya. Pengasuh mereka diharuskan bekerja sehari atau dua hari di negara ini. Tentu saja, mereka tidak harus bekerja jika mereka bisa membayarnya secara kontan.

Beberapa kios stan memenuhi jalan menuju gerbang transisi, mereka menjual perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan seperti obat, tali, lampu, makanan darurat, dan lain-lain, sementara stan lain menjual pisau lipat, kompas, staples, dan lain-lain.

Aku menuju ke salah satu stan di samping gerbang dan memanggil pemiliknya.

Hey. Bagaimana hasil penjualannya? (Touya)

Sampai saat ini cukup bagus. Kelihatannya aku akan melupakan pekerjaan utamaku dan beralih menjadi pedagang nantinya (Pedagang)

Sebenarnya orang ini adalah ninja. Dengan kata lain, dia salah satu shinobi takeda, dan anak buah Tsubaki-san.

Dia di sini untuk memantau bagaimana keadaan sambil berjualan. Agar tidak terlihat menurigakan, Aku berbisik-bisik dengannya sambil mengambil barang yang dijualnya.

Apa ada masalah akhir-akhir ini? (Touya)

Tidak ada masalah yang serius. Hanya ada masalah kecil seperti party yang membuat keributan kecil (Pedagang)

Keributan yang dibuat oleh para adventurer adalah cerita biasa. Hal ini tidak perlu ditindaklanjuti selama mereka tidak mengganggu orang lain.

Saat aku masuk dungeon kemarin, hanya kobold yang kutemui di lantai pertama. Tapi bagaimana dengan monster yang berada di lantai bawah, bisakah kau memberitahuku? (Touya)

Monster yang berada di lantai pertama yaitu goblin, kobold, tikus raksasa, kelelawar raksasa, dan kelinci bertanduk 1. Sedangkan di lantai kedua, ada monster yang identik dengan hobgoblin, goblin archer, orc, skeleton. Para adventurer juga telah mengatakan bahwa mereka melihat dullahan dan killer mantis di lantai 3 (Pedagang)

Dullahan? Kami telah melawan dullahan level rendah dulu, dan mereka cukup kuat, kan? Akan sangat sulit jika melawan mereka tanpa memiliki senjata anti undead atau membawa penyihir yang bisa memakai sihir cahaya.

Entah kenapa monster-monster yang ada di dungeon selalu berbeda. Aku merasa [Amaterasu] berisi magic beast, [Tsukuyomi] berisi undead, dan [Susanoo] berisi monster biasa (Pedagang)

Omong-omong, perbedaan monster biasa dan magic beast adalah apakah mereka buas atau tidak. Mengapa seperti itu? Aku keheranan dengan fakta ini, apakah mereka terisolasi satu sama lain? Jika aku tidak salah, mungkin hal ini berhubungan dengan hukum makan dan dimakan meski sesama magic beast. Pastinya mereka tidak akan mau hidup dengan musuh alami mereka, kan?

Setelah berterima kasih padanya, aku langsung berjalan menuju gerbang transisi. Ada 3 dungeon yang terhubung ke tempat masuk 3 dungeon yang berbeda.

Yah, pada akhirnya, karena destinasi tujuan gerbang ini akan menuju 1 tempat yang sama, tidak akan mustahil bagi mereka untuk melewati pulau dungeon lain jika mereka menaiki kapal atau berenang di lautan. Meskipun kebanyakan mereka biasanya kembali lagi dan masuk gerbang lain setelahnya.

Meskipun para adventurer diwajibkan untuk menunjukkan kartu mereka dan membayar 1 koin perunggu setiap kali masuk ke gerbang, masalah finansial pulau ini tetap bermasalah.

Mari kita pikirkan sejenak. Seseorang bisa membeli makanan yang mengenyangkan meski hanya dengan 1 koin perunggu. Jadi, apakah harganya sepadan dengan seribu yen? Jika memang seperti itu, aku rasa 2000 yen per hari di hotel terlalu murah karena menurut pengalamanku, dengan 1 koin perunggu, kami bisa tinggal sehari dengan layanan makanan 3x sehari di hotel [Silver Moon] di Leaflet. Akan tetapi, jika dihitung pengeluarannya akan mencapai 60000 yen dalam sebulan. Jika kau berpikir itu normal, coba kau pikir apakah hotel mewah dengan layanan seperti itu bisa bertahan hanya dengan 60000 yen sebulan? Dan bahkan kita mendapat makanan 3x sehari.

Jika dipikir-pikir, membandingkan nilai uang dunia ini dengan duniaku itu tidak berguna sama sekali, jadi aku berhenti memikirkannya.

Touya-dono! (Yae)

Touya-sama! (Hilda)

Huh? Yae dan Hilda? Ada apa? (Touya)

Saat aku memalingkan wajahku karena tiba-tiba dipanggil, duo ahli pedang Brunhild Yae dan Hilda berlari ke arahku. Mereka sangat akrab. Apa karena mereka selalu berlatih bersama ya?

Tadi kami telah memutusakan akan pergi sebentar untuk melakukan inspeksi sambil berlatih. Seperti yang telah Hilda-dono bilang sebelumnya, dia tidak punya cukup pengalaman untuk bertarung dengan magic beast dan monster–de gozaru(Yae)

Lihatlah Touya-sama, Aku telah menerima kartu guild! Meskipun jika dibandingkan dengan milik Yae dan yang lainnya, punyaku masih berwarna hitam.(Hilda)




Hilda kelihatan sangat senang saat ia menunjukkan kartunya padaku. Warna kartunya masih berwarna hitam menandakan bahwa ia seorang pemula. Mengatakan Putri kerajaan dari kerajaan ksatria Restia dipanggil dengan sebutan pemula bukanlah sebuah lelucon. Sedangkan kartu Yae sudah berwarna merah menandakan bahwa ia adalah adventurer kelas atas.

Yah, tumbuh sekuat itu dalam waktu 1 tahun adalah sesuatu yang abnormal … 
Meski tidak sepenuhnya benar. Karena sejak pertama kali pertemuan kami, Yae memang sudah kuat sekali.

Apa yang Touya-dono lakukan di sini degozaruka? (Yae)

Mn? Ah, aku sedang memeriksa dan memastikan keamanan daerah ini.(Touya)

Ah, kenapa Anda tidak ikut dengan kami saja? (Hilda)

Kenapa tidak. Ayo kita pergi bersama-sama (Touya)

Akhirnya kami pergi bersama-sama melalui gerbang yang menuju ke [Amaterasu] dan akhirnya sampai di pantai. Oh hampir saja lupa, aku harus membayar uang masuk gate. Kami mungkin akan mendengar [Kenapa orang-orang itu mendapat perlakuan khusus?]  jika kami langsung masuk tanpa membayar. Selain itu, kami juga akan terlihat berbeda dari yang lain. Biasanya aku menggunakan [Gate]-ku sendiri untuk perjalanan seperti ini, tapi aku ingin memastikan apakah ada kecacatan di gerbang transisi ini.

Kepulauan ini terdiri dari 7 pulau besar dan beberapa pulau kecil. Meski tidak ada dungeon di pulau terbesar, pulau itu berisi banyak magic beast dan monster.

Karena ada banyak monster jenis tanaman di sana, orang-orang harus berhati-hati karena serangannya yang mematikan. Semua orang yang masuk ke sana, termasuk para adventurer pemula, harus menjaga diri mereka sendiri dan hal itu tidak menyusahkanku. Omong-omong tentang pulau itu, ada banyak tumbuh-tumbuhan, kacang-kacangan, dan buah beri aneh yang belum pernah dilihat sebelumnya, jadi request yang menyuruh seseorang untuk mengambilnya terus berdatangan.

Akhirnya, kami memasuki dungeon setelah mengaktifkan sihir [Light]. Dungeon yang bernama [Amaterasu] ini adalah dungeon yang telah aku masuki kemarin, tapi sekarang ada lebih dari 40 adventurer di sini. Jika satu party terdiri dari 4 orang, berarti ada sekitar 10 party yang ada di sini.

Banyak sekali yang datang ke sini ya, apakah mereka tidak akan bertarung satu sama lain jika mereka saling bertemu degozaruka?(Yae)

Dungeon ini sangat luas lo. Meskipun mereka bertemu, mereka hanya akan menyapa satu sama lain dan menuju ke jalan yang berbeda. Selain itu, mungkin mereka hanya akan bernegosiasi soal air dan tumbuhan herbal saja (Touya)

Tiba-tiba ada 3 ekor serigala bertanduk 1 menyerang kami selagi kami berbicara. Hilda langsung menebas mereka sebelum kami menyadarinya. Oh, sungguh pertarungan yang mudah ya.

Apa yang akan kita lakukan dengannya? Hanya tanduknya saja yang bisa menjadi bahan material, kan? (Hilda)

Dagingnya tidak bisa dimakan karena terlalu keras, dan kulitnya pun juga tidak terlalu berguna (Yae)

Jadi apakah kita akan memotong tanduknya dan meninggalkan sisanya?(Hilda)

Seharusnya tidak apa-apa jika kita membuangnya ke samping sehingga mayatnya tidak menghalangi jalan. Mayat-mayat itu mungkin akan menjadi makanan magic beast lain, atau mungkin mereka akan membusuk dan manjadi makanan bagi para slime  (Touya)

Slime adalah makhluk hidup yang dikenal sebagai monster yang selalu ada di setiap dungeon di seluruh dunia. Meskipun terkadang mereka menyerang manusia, tapi biasanya mereka tidak berbahaya. Jika aku harus menggambarkan seperti apa slime itu, mereka seperti cairan bening dan juga pemakan bangkai. Mereka memasukkan semua sampah dan lainnya lalu menghancurkannya.

Menurut para adventurer, bahkan mayat dan kotoran pun dimakan olehnya.

Hasilnya, dungeon tetap bersih tanpa bau mayat. Ahh, terima kasih slime.

Meski slime punya karakteristik seperti itu, untuk suatu alasan, mereka tidak memakan isi kotak seperti kotak harta. Dan mereka juga tidak memakan besi. Jika dipikir-pikir, sludge slime juga membuat air lebih bersih. Tergaantung dari tipe slime, aku penasaran apakah mereka juga pilih-pilih makanan seperti manusia.

Rupanya, ada teori yang menyebutkan bahwa slime adalah buatan manusia di zaman sihir kuno*. Hal itu mungkin masuk akal. Jadi,aku akan mencarinya di [Perpustakaan] nanti.
(ED : Bukannya di Animenya sudah ada yang berhasil buat Slime)

Hilda menyeret mayat serigala itu ke samping jalan dan memotong tanduknya. Tanduk-tanduk itu bisa dijual sebagai material, jadi kami akan menjualnya pada guild setelah ini.

Setelah itu, Hilda lagi-lagi mengalahkan kelinci bertanduk 1, kelelawar raksasa, dan tikus raksasa sendirian. Aku bisa merasakan banyak makhluk sihir di sini, meskipun para goblin dan kobold terkadang juga keluar.

Omong-omong tentang perjalanan kami, aku tidak menunjukkan peta yang sudah kusimpan di smartphone-ku kemarin. Tujuan kami bukan menaklukkan dungeon. Aku pikir akan lebih menyenangkan dan menegangkan tanpa menggunakan peta itu. Meski agak lama, tapi para gadis telah menemukan tangga menuju lantai kedua dengan cepat.

Setelah kami menuruni tangga, kami sampai di tempat yang luas untuk kedua kalinya. Jalan di sini bercabang menjadi 2, kanan dan kiri. Untuk saat ini, kami memutusakan akan mengambil arah kanan. Di sana ada persimpangan lagi, dan setelah kami melewatinya, kami menemukan persimpangan sekali lagi, apa-apaan dungeon ini.

Oh, yaa hal ini mengingatkanku, peta dan kompas sangat dibutuhkan ketika kita memasuki dungeon. Seseorang akan tersesat tanpa bantuan alat itu (Touya)

Tentu saja, kebanyakan adventurer memetakan dungeon . kami kelihatan tidak begitu peduli dengan masalah ini karena aku bisa mengeluarkan [Gate] kapanpun kumau.

Setelah berjalan untuk beberapa saat, kami menemukan ujung koridor dungeon dengan pintu ganda di tengahnya. Setelah membuka dan memasukinya, kami sampai di ruangan kecil dengan ukuran kira-kira sebesar 12 tikar tatami. Di pojok ruangan ada peti harta. Oioi, jangan bilang kalau ini adalah ruangan pribadi monster… untuk sesaat aku merasa jadi seorang hero dari game tertentu yang selalu masuk ke rumah seseorang tanpa ijin, dan menggeledah barang mereka seenaknya.

Hilda nampak senang dan mencoba untuk membukanya. Saat ini aku melihatnya dengan tatapan seperti “seperti anak-anak ya…”.

Setelah dibuka, peti itu berisi berbagai jenis pisau dan pedang yang sudah berkarat. Ada banyak pisau dan belati di sini. Kurasa tidak ada barang mewah seperti perhiasan di sini. Akan tetapi, kenapa ada banyak belati di sini? Apakah pemiliknya adalah seorang maniak pisau? Jika dipikir-pikir, mahkluk hidup seperti burung gagak dan anjing juga mengumpulkan barang barang seperti ini …

Mengecewakan……(Hilda)

Yah, harta karun yang sebenarnya memang sulit untuk ditemukan (Touya)

Tunggu sebentar. Lihatlah ini, bukankah ini sebuah belati perak degozaruka?(Yae)

kata Yae sambil menunjuknya

Belati ini tertutupi debu dan kotor, tapi tidak diragukan lagi bahwa ini memang belati perak. Meskipun tidak bercorak dan sangat polos, mungkin belati ini cukup bernilai jika dijual pada guild. Yah, seperti yang sering diucapkan oleh para adventurer “sebuah harta tetaplah harta”.

Harganya mungkin tidak terlalu besar, tapi akankah kau menjualnya? (Touya)

Tidak….. aku akan menjadikannya sebagai tanda bahwa kita pernah berpetualang bersama. Sebagai tanda bahwa aku pernah menjadi seorang adventurer seperti yang lainnya. (Hilda)

Hilda menaruhnya di kantong yang ia bawa. Kurasa tidak masalah jika itu yang ia inginkan.

Aku memikirkan hal itu sambil melihat Hilda yang tersenyum senang.





Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

3 comments: