Wednesday, 16 May 2018

80.000 Gold Chapter 1


TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Chapter 1 :
Mitsuha Pergi ke Dunia Lain


Seorang gadis meletakkan tangannya pada sebuah pagar kayu di pinggir jurang yang terjal.

Tidak, dia tidak sedang berpikir untuk bunuh diri.

Yamano Mitsuha berumur 18 tahun. Dengan rambut panjang sebahu berwarna hitam yang berkilau alami, tinggi tubuh 152cm yang tergolong pendek untuk anak seusianya. Dia adalah seorang gadis kecil yang bisa saja salah dianggap sebagai anak SMP, atau bahkan anak SD.

Mitsuha kehilangan kedua orangtuanya dan kakaknya yang berusia dua tahun lebih tua darinya pada sebuah kecelakaan 6 bulan yang lalu sehingga membuatnya menjadi sebatang kara.

Meskipun dia mempunyai saudara seperti paman dan bibi, namun dia hanya pernah beberapa kali bertemu dengan mereka.

Segera setelah acara pemakaman selesai diadakan, Mitsuha harus berkelahi dengan pamannya yang mencoba mencuri harta warisan dan uang asuransi yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Dan saat tinggal sendirian, dia harus mengusir para preman sekolah yang ingin menggunakan uang dan rumahnya untuk tempat tongkrongan mereka. Semua waktu yang terbuang dan beban mental yang diterimanya membuatnya gagal dalam ujian masuk universitas.

Mitsuha yang sangat dekat dengan kakaknya sangat menderita setelah kehilangan kakak dan kedua orangtuanya. Pada awalnya, dia masih sanggup bertahan karena kesibukannya, namun setelah itu, dia tak bisa berkonsentrasi untuk belajar karena depresi yang sangat berat.

Dan setelah rasa sakit karena gagal pada ujia masuk telah mereda, Mitsuha datang ke tempat ini untuk mengubah suasana. Dengan sebuah pagar yang terbuat dari kayu di pinggiran tempat yang memiliki pemandangan yang bagus, sebuah teropong pengamat dan toilet umum di sekitar area tersebut, dia melihat pemandangan laut dari tempat itu.
Karena saat itu adalah sore hari di hari kerja, selain Mitsuha, hanya ada pasangan anak kuliah, pasangan lansia, dan preman dengan rambut yang aneh. Yah, meskipun hanya ada tiga orang yang memenuhi kriteria terakhir.

Meski setelah gagal pada ujian masuk, masih ada banyak universitas yang bisa menerima Mitsuha dengan hasil tesnya tersebut. Tapi, hanya ada satu universitas yang dekat dengan rumah orang tuanya yang memiliki standar nilai yang tinggi. Bukan berarti Mitsuha tidak sanggup mencapai nilai tersebut, namun dia sedang mengalami kondisi terburuk saat mengikuti ujian.

Awalnya, dia berencana untuk masuk ke universitas yang memiliki asrama atau dekat dengan rumah kontrakan. Tapi karena sekarang dia tinggal sebatang kara, dia tidak ingin pergi meninggalkan rumah keluarganya dan lalu memilih universitas yang dekat dengan rumahnya tersebut.

(Oh, apa yang sebaiknya kulakukan....)

Mitsuha merasa bingung apakah dia harus ikut ujian lagi tahun depan atau mencari pekerjaan dengan hanya sebagai lulusan SMA saja.

Sisa cicilan rumah telah dilunasi dengan uang asuransi ayahnya. Meskipun masih banyak uang yang tersisa, namun masih banyak biaya yang harus dikeluarkan seperti biaya sekolah selama 4 tahun, biaya hidup, biaya perawatan rumah, dan masih banyak lagi.

Bagaimana kalau menabung uang tersebut lalu mencari pekerjaan? Pendapatannya mungkin lebih sedikit daripada lulusan sarjana, namun bukan berarti ada perusahaan besar yang berada dekat dengan rumahnya di kota ini. Lulus dari universitas juga tidak menjamin bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus di zaman ini. Jika dia menikah dan mempunyai anak, akan sulit untuk menjadi pekerja tetap. Dan kalau memikirkan soal biaya yang dikeluarkan selama 4 tahun kuliah dan jumlah uang yang bisa diperolehnya selama 4 tahun itu, akan lebih baik jika dia tidak kuliah.

Mitsuha yang tidak memiliki pekerjaan impian merenung sambil melhat lautan yang indah.

[Hey cantik, apa kau sedang bolos sekolah?]

Saat Mitsuha berbalik karena mendengar suara itu, ada tiga orang berdiri dan tertawa dengan seringai jahat di wajah mereka. Yang berbicara itu adalah salah satu dari mereka, seorang pria berumur sekitar 20 tahun dengan rambut pirang.

[Bagaimana kalau kita bersenang-senang? Kami akan membawamu ke tempat yang menarik. Kami juga akan mentraktirmu.]

(Oh, mereka pikir aku siswi SMP yang sedang bolos....)

Wajah Mitsuha terlihat lelah. Ada yang bilang kalau wanita ingin terlihat lebih muda, tapi dia tidak merasa senang jika dianggap sebagai siswi SMP.

Tapi jika dia memberitahu mereka, itu hanya akan membuat mereka lebih semangat. Yah, mungkin tidak terlalu berpengaruh karena mereka juga menargetkan siswi SMP. Sepertinya mereka tidak mungkin memanggilnya karena mengira Mitsuha adalah anak SD. Yah, Mitsuha juga tidak ingin berpikir begitu...

(Aku tidak mau berurusan dengan mereka, tapi di belakangku adalah jurang yang dibatasi oleh pagar kayu... apa boleh buat.)

[Tidak, ibu dan ayah akan segera menjemputku...]

Mitsuha berusaha terdengar lebih muda. Mereka tidak akan berani jika mereka berpikir kalau Mitsuha masih anak-anak. Mereka pasti akan segera pergi jika tahu kalau orang tua Mitsuha akan segera datang, atau begitulah pikir Mitsuha.

Pria pirang itu lalu melihat sekitar dan memastikan bahwa tidak ada orang yang terlihat seperti orang tua Mitsuha, lalu ia menggenggam lengan Mitsuha.

[Ayo ikut saja!]

Dua orang yang lain juga mendekati Mitsuha sambil menyeringai.

Saat melihat ke sekitar dengan panik, orang-orang di sekitar sepertinya tidak ingin terlibat dan berpura-pura tidak melihat kejadian ini. Apa boleh buat.

(Yah, biasanya tidak ada orang yang ingin dalam terlibat masalah. Kurasa apa boleh buat, aku akan menanganinya sendirian.)

Meski penampilannya begitu, namun kepintaran dan kemampuan fisik Mitsuha tidak buruk. Keberaniannya sangat luar biasa terutama saat sedang dibutuhkan. Jika tidak begitu, dia tak akan bisa mencegah pamannya atau kelompok preman yang mengganggunya. Tubuhnya bergerak sebelum dia merencanakan apapun, dan menendang selangkangan pria pirang yang ada di depannya.

[.......]

Pria pirang itu pun pingsan dalam kesakitan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun...

(Oh, dia pingsan.)

[Apa yang kau lakukan?]

Dua orang lainnya merasa jengkel. Setelah berkata layaknya penjahat kacangan, salah satu dari mereka pun mendorong Mitsuha.

[Ah...]

Pagar kayu di belakangnya membuat suara patah setelah terkena tubuh Mitsuha yang di dorong oleh pria tadi.

Mitsuha pun merasakan perasaan tidak enak saat tubuhnya melayang di udara.

(Eh.....)

(Aaaaaaaaa...............)



(Jatuh, jatuh, jatuh, jatuh... Aku tidak mau mati... Aku tidak mau mati!)

Mitsuha pun berteriak dan berdoa dalam hatinya.

(Aku tidak mau mati! Aku tidak mau matiiii!)

Plop!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!
(TL : ini bukan mitsuha yang berteriak karena tidak dibuat dalam tanda kurung)

Setelah mendengar suara yang aneh dan suara teriakan yang tak dikenalnya, Mitsuha pun kehilangan kesadaran.

***

[Ini...]

Saat terbangun, Mitsuha berada di sebuah hutan.

(Tidak, tidak, tidak, aku tadi jatuh dari jurang, kan? Di bawah, Laut... tidak, lebih tepatnya bebatuan di pinggir pantai! Tidak, aku tidak protes karena tidak ada bebatuan di sini! Kalau ada bebatuan, aku pasti sudah mati!)

Dan saat memikirkan hal itu, dia pun secara otomatis berdiri dan melihat apakah ada keanehan pada lengan dan badannya.


(Mitsuha POV)

Apa ini perilaku normalku? Atau skill khusus? Kebiasaan? Aku tidak tahu. Yang jelas, aku sudah seperti ini sejak kecil. Tubuhku secara otomatis bergerak sebelum aku sempat berpikir. Berbeda dari orang lain membuatku penasaran, jadi aku sering melakukan penelitian tentang itu. Tapi, aku tetap tidak mengerti apa sebabnya.

Biasanya jika ada bola yang dilempar ke arahmu, kau pasti akan segera menangkap atau menghindarinya. Tak mungkin kau akan berpikir dengan santai, ‘Oh, ada bola yang datang ke arahku. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mencoba menghindarinya? Ke kanan atau ke kiri?’ dan kemudian bertindak, kan?

Tapi sebaliknya saat kau sedang belanja, tidak mungkin kau membeli sesuatu secara refleks tanpa berpikir dulu, kan? Jika ada waktu, kau pasti akan menggunakannya untuk memutuskan sesuatu; Jika tidak, maka kau akan menggunakan informasi yang kau punya untuk memutuskannya secara intuitif. Yah, mungkin hal itu seperti bertindak saat sedang ada keadaan darurat.

Namun bagi orang lain, sepertinya itu hanya terjadi pada gerakan tubuh yang sederhana saja. Pada kasusku, ruang aplikasinya sangat luas.

Temanku pernah bilang, ‘Kau selalu berpikir setelah kau bertindak’ lalu menyebutnya ‘sekihan (セキハ)’... Seperti halnya ‘refleks tulang belakang’.
(TL : refleks tulang belakang/脊髄反射 /Sekizui Hansha).

Omong-omong soal cewek yang disebut ‘Sekihan’, kedengarannya hal itu sangat tidak baik.
(TL : sekihan juga bisa berupa anglisisme/kata serapan dari bahasa inggris yang berarti second hand/barang bekas... -_- gw sampe pusing mikirin kalimatnya yang pas gara2 lelucon gaje ini)

Pada akhirnya, hasilnya akan sama saja meski aku memikirkannya dengan perlahan setelah keputusan yang sesaat itu.  Kurasa mungkin orang lain bisa berpikir dan memutuskan dengan sangat cepat, tapi mereka biasanya berpikir secara perlahan untuk meyakinkan diri mereka bahwa itu adalah keputusan yang tepat.

Aah... tidak, tidak, sekarang aku harus memikirkan tentang keadaanku saat ini.

Tidak ada luka dan hal yang aneh pada tubuhku. Dompet dan kunci rumahku ada di saku. Aku tidak lagi memiliki kartu pelajar yang selalu kubawa selama tiga tahun terakhir. Ada tas sandang yang menggantung di bahuku. Isinya adalah payung lipat, tisu, dan kantung belanjaan. Kantung belanjaan ini bisa digunakan untuk berbagai hal.

Tempat ini adalah hutan yang sangat lebat. Tidak ada tanda-tanda perawatan, tidak ada jalan, dan tentu saja, tidak ada tanda-tanda adanya manusia.

Oke, ayo mulai berjalan. Aku masih bisa berpikir sambil berjalan.

***

Aku sangat lelah. Sudah dua jam berlalu sejak aku mulai berjalan. Aku tidak bisa menemukan arah di dalam hutan yang bahkan sinar matahari pun tidak bisa menembusnya. Aku hanya bisa berjalan ke arah yang kurasa benar saja. Tak ada jaminan aku berjalan lurus karena aku menghindari bebatuan dan pepohonan. Ada juga kemungkinan bahwa aku berjalan memutar.
Terkadang aku meninggalkan sebuah tanda, tapi aku tak pernah melihatnya lagi. Jika aku tidak keluar dari hutan ini sebelum malam tiba, aku tak akan tahu hewan buas apa yang nantinya akan muncul. Jika aku tak bisa keluar sebelum malam tiba, aku mungkin bisa memanjat pohon dan tidur di dahannya. Tapi jika aku terjatuh saat sedang tidur, aku pasti akan mati. Dan lagi, akan sangat berbahaya jika aku tidak bisa menemukan air. Apa aku bisa menemukan sebuah mata air atau buah-buahan di suatu tempat?

***

Aku sangat lelah. Sudah empat jam berlalu sejak aku mulai berjalan. Karena tidak ada jalan, aku berjalan di atas permukaan yang jelek dan membuatku sangat lelah. Jika terus begini, kakiku akan terluka.

Hari sudah mulai gelap. Jika aku menemukan pohon yang bagus, aku akan menggunakannya untuk tempatku tidur. Aku tidak akan bisa tidur dengan nyaman, tapi berjalan di hutan pada malam hari sama saja dengan bunuh diri.

***

Aku sangat lelah. Sudah tiga jam sejak aku mulai berjalan saat fajar. Semalam aku tidak bisa tidur. Aku sangat takut jatuh dari atas dahan pohon. Lagipula, aku tidak bisa tidur di pohon yang keras tanpa ada alas untuk tidur. Aku belum menemukan makanan atau minuman dan rasa sakit pada pergelangan kaki kiriku yang baru saja terkilir terasa semakin parah.  Aku lapar. Aku haus.

***

Soal keadaanku yang sekarang, aku telah berulang kali memikirkannya semalam. Soalnya aku punya banyak waktu luang. Pertama, waktu yang berlalu sejak aku kehilangan kesadaran kemarin tidak terlalu lama, kira-kira sekitar 20-30 menit. Aku telah memastikannya melalui jam tanganku. Tidak ada hutan yang lebat di sekitar tempatku jatuh yang bisa dicapai dalam waktu sesingkat itu. Lagipula, tidak mungkin aku jatuh dari tebing itu tanpa terluka sedikitpun.

Kesimpulan 1 : Aku sudah mati. Dan ini adalah alam baka.
Kesimpulan 2 : Aku sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit. Dan ini adalah mimpi.
Kesimpulan 3 : Aku terlibat dalam fenomena mistis dan berteleportasi ke.... Bahkan orang sepertiku juga pernah membaca novel fantasi!

A-Aku lebih memilih yang nomor 3. Aku tak ingin mengalami yang nomor 1 dan 2! Jika aku berhasil menemukan sebuah desa, aku akan segera menghubungi polisi jika ini masih di Jepang. Jika tempat ini di luar Jepang, aku akan mencari kantor kedutaan.

***

Aku sangat lelah. Sekarang sudah hari ketiga sejak aku terbangun di hutan. Yah, lebih tepatnya aku terbangun di sore hari dan sekarang ini sudah pagi hari, jadi kalau ditotalkan, sekarang baru satu setengah hari. Sampai sekarang, aku belum menemukan makanan dan minuman. Aku memakan daun dari tanaman yang mencurigakan. Selain dari rasa lapar, aku tak sanggup menahan rasa haus. Rasanya aku akan mati...


(Kembali ke Author POV)

Jumlah istirahat yang dilakukannya meningkat dibanding hari sebelumnya dan dia jadi sering terjatuh tersandung akar pohon karena dia sudah sempoyongan. Tangan dan kakinya sudah dipenuhi oleh luka kecil. Rasa sakit di pergelangan kaki kirinya semakin parah. Tapi dia bisa mati jika berhenti berjalan. Oleh karena itu, dia menggerakkan kedua kakinya menggunakan tekadnya. 

Saat indranya sudah tidak bisa merasakan waktu dan kesadarannya mulai menghilang, akhirnya dia menemukan sesuatu yang mirip dengan jalan setapak. Kelihatannya seperti ‘sebuah jalan’, namun lebarnya hanya cukup untuk satu orang dan permukaan tanahnya hanya sedikit keras.

(Ini jalan bekas dilalui manusia, kan? Ini bukan jalan yang dilalui oleh binatang, kan? Kumohon....)

Mungkin karena dia merasa lega setelah menemukan apa yang terlihat seperti sebuah jalan,  kesadarannya pun menghilang saat dia mencoba duduk.





|| Daftar Chapter  ||  Selanjutnya

2 comments: