Wednesday, 23 May 2018

A Rank Chapter 2


TranslatorKagami
Editor
Shiro7D
Proof Reader
Shiro7D

Chapter 2 :
Nordende





Aku melanjutkan perjalanan di jalan yang landai.

Di kedua sisi jalan dilukiskan dengan pemandangan hijau yang subur yang berasal dari sawah dan kebun anggur.

Dari kejauhan, terlihat barisan pegunungan yang di latar belakangi langit biru yang jernih. Sampai saat ini aku masih belum melihat satupun orang disini. Mungkin mereka sedang bekerja disuatu ladang di tempat lain, jadi aku belum melihat mereka.

Sudah sebulan sejak perjalanan dari kerajaan Abalonia. Dan akhirnya aku sampai di Nordende.

Pemandangannya masih sama dengan sembilan tahun yang lalu, kecuali lahan perkebunan mereka yang bertambah besar. Yah, itu wajar jika tempat ini berkembang karena sudah sembilan tahun berlalu sejak saat itu.

Saat angin lembut berhembus kearahku, tercium bau tanah dan rumput yang menggelitik hidungku.

Aku menutup mataku sejenak untuk merasakan berhembus angin yang kearahku itu, lalu aku menatap pemandangan yang membentang sejauh mata memandang.

Jika aku terus berjalan lurus di jalan ini, seharusnya aku bisa menemukan beberapa rumah desa di depan. Kemudian, di belakang sana, seharusnya tempat bunga-bunga yang pernah aku lihat dulu.

Itu adalah tempat yang aku impikan selama perjalanan. Aku merasa sedikit cemas setelah memikirkannya lagi.

Di perkebunan anggur yang indah, aku melihat seorang yang sedang berjalan sambil membawa tas jerami di pundaknya.

Kemudian, seorang wanita yang bekerja keluar dari kebun anggur tersebut.

Wanita itu memiliki kulit kecokelatan ringan, dan mengugunakan jepit rambut untuk menjepit rambutnya kebelakang. Tinggi badannya sekitar 160 cm, fisiknya kurang jelas karena pakaian kerja tebal yang ia kenakan.

Wanita berambut merah itu berjalan ke arahku dengan elegan, dan menatapku dengan mata merahnya. Kemauannya yang kuat terlihat oleh tatapan matanya yang tajam.

Saat ini, akan aneh jika aku tetap diam, jadi aku harus mengatakan sesuatu untuk memberi tahu bahwa aku tidak memiliki niat jahat.

"…Halo"

“…Halo. dan kau ini siapa? Aku belum pernah melihatmu disini sebelumnya. Karena kau telah memasuki ladang seseorang tampa izin, jadi sudah sewajarnya aku curiga terhadapmu

Matanya melihatku seperti melihat orang yang mencurigakan.

Dilihat dari cara dia membalas sapaanku dengan anggun, sepertinya ia bukan orang jahat. Walaupun cara bicaranya sedikit kasar, tapi dari sudut pandangnya, tentu saja aku terlihat sebagai orang mencurigakan yang berdiri di depan ladangnya. Yah, pendatang baru yang datang ke pedesaan sudah wajar disambut seperti ini.

Ahh, maafkan aku. Aku datang kesini untuk pindah ke desa ini, dan aku bukan orang yang mencurigakan”

Dia bergumam "Hmmm" dengan nada ringan sebagai balasannya.

“... Rambut hitam dan mata hitam, ya ...”

“Eh?”

Aku tidak begitu mendengar apa yang dia katakan barusan, jadi aku tidak sengaja mengeluarkan balasan pertanyaan.

“Oh, bukan apa-apa. Jadi, dari mana kau datang?”

“Kerajaan Abalonia”

Dia terlihat tidak puas dengan jawabanku, tetapi jika aku ragu-ragu menjawab di sini, itu akan membuatku terlihat mencurigakan, jadi aku menjawabnya dengan jujur.

“Kau datang dari tempat yang sangat jauh, ya? Yah... kau tidak terlihat seperti seorang pencuri bagiku. Aku akan memandu mu ke tempat kepala desa”

"Terima kasih"
Ketika aku datang ke sini sembilan tahun yang lalu, aku tidak harus berkunjung ke rumah kepala desa. Untung saja ada orang yang mau membawaku kesana.

“Tidak ada gunanya meninggalkan orang asing berkeliaran sendirian disini, karena itu akan membuat orang di sekitar manjadi gelisah. Ikuti aku”

Gadis itu melambaikan tangannya ke arah ku seolah-olah dia mengatakan “tidak perlu khawatir; ini bukan masalah besar". Kemudian, dia berbalik dan mulai berjalan.

Sambil memikirkan betapa terbukanya dia, aku mulai mengikutinya sambil tetap diam.

Ketika aku mengikuti di belakang wanita itu, perumahan desa dengan atap berwarna coklat yang berbaris dalam barisan sangat dekat satu sama lain mulai terlihat di kejauhan. Mungkin di sana, bagian desa yang paling padat atau bisa dibilang bagian tengah desa.

Seharusnya ada beberapa ratus orang yang tinggal di desa ini jika populasinya tidak meningkat secara eksplosif sejak terakhir kali aku di sini.

Saat kami terus berjalan di jalan tanah berumput. kami bertemu dengan seorang pria yang sedang mendorong gerobak.

“Oya, Aisha, siapa pria ini?”

Tentu saja, pria yang tidak tahu siapa aku itu menghentikan langkahnya dan bertanya.

Jadi namanya Aisha.
Aku datang untuk pindah ke sini”

"Ohh, Ini jarang sekali terjadi. Aku berharap bisa berteman denganmu!”

“Terima kasih, aku menantikannya juga!”

Aku menundukkan kepala kepada pria yang menunjukkan senyum ramah itu.

“Oya oya, ternyata kamu orang yang cukup sopan juga yah…

Pria itu tampak seperti sedikit terkejut, lalu dia menjawab sambil tersenyum cerah.

Mungkin kebiasaanku waktu manjadi petualang pemula telah terbangun kembali. Meskipun aku adalah seorang petualang waktu itu, tapi aku tatap menunjukan formalitas dan rasa hormat kepada para seniorku layaknya seorang pekerja magang di tempat pengrajin yang ketat.

… Itupun jika ia mendapat izin dari kepala desa”

Aisha-san, bagian itu tolong tidak usah memberitahukan.

Sepertinya ia tipe orang yang mengatakan apapun yang ia pikirkan.
(ED : Atau bisa juga disebut Blakblakan)

“Hmm... yah, Jika dia orangnya, aku pikir itu tidak masalah. Beri tahu aku jika dia sudah disetujui yah…

Pria itu sepertinya sudah terbiasa dengan perilaku Aisha. Diapun mulai menarik gerobaknya lagi sambil tersenyum riang.

***

Setelah mengalami kejadian yang sama beberapa kali saat berjalan bersama Aisha, kami telah sampai di bagian tengah desa, tempat dimana banyak rumah pribadi berkumpul.

Aku dapat merasakan tatapan dari orang-orang yang sedang melakukan berbagai jenis pekerjaan rumah tangga, dan para wanita yang sedang mengeringkan cucian mereka. Tapi aku sudah terbiasa dengan tatapan ini, karena ini sudah sering terjadi saat aku menjadi petualang.

Kurasa tidak ada perbadaan saat kamu menjadi pendatang baru di sebuah desa atau menjadi petualang pemula yang baru mulai.

Meskipun kurasa ini masih lebih baik karena kita tidak akan dikejutkan oleh tatapan para petualang yang kasar. Walaupun ditatapi dari kejauhan juga terasa tidak nyaman dengan caranya sendiri.

Mungkin jika aku tidak bersama Aisha saat ini, kurasa hal ini akan jauh lebih buruk lagi.

Aku pun terus berjalan sambil berusaha mengabaikan tatapan mata semua orang.

Untuk sekarang mari kita melihat-lihat pemandangan di sekitar.

Dibandingkan sembilan tahun yang lalu, jumlah bunga yang ditanam disini tampaknya telah meningkat, dan desa ini terasa lebih ramai dari sebelumnya.

Ada bunga dalam warna-warna hangat seperti merah dan kuning, serta warna-warna dingin, seperti biru dan ungu.

Aku tidak merasakan apa pun kecuali sukacita saat aku melihat rumah-rumah itu.

Rumah di sana sepertinya menggunakan warna yang berbeda untuk menunjukkan gradasi yang terampil.

Bagaimana cara mereka menanamnya agar menjadi seperti itu?

Bagaimanapun juga, bunga Nordende sangat indah.

Meskipun bunga bukanlah tanaman yang bisa dimakan, tapi mereka masih menanam dan memeliharanya dengan hati-hati di rumah mereka sendiri.

“Desa ini selalu begitu indah ketika bunga-bunga bermekaran yah…

"Selalu? Apakah kau pernah kesini sebelumnya?”

Aisha, yang berjalan di depanku, melihat ke belakang dan bertanya sebagai tanggapan dari gumaman yang aku keluarkan saat mengamati bunga dari rumah penduduk desa.

“Hanya sekali, sembilan tahun lalu”
“Sembilan tahun yang lalu ?!”

Aisha meninggikan suaranya setelah mendengar apa yang aku katakan.

Itu cukup mengejutkan, untuk melihat seorang gadis yang selalu bisa menjaga ketenangannya terkejut seperti itu.

“Ya, tapi apakah itu benar-benar mengejutkan?“

“Tidak, itu bukan apa-apa. Maaf soal itu”

Atas pertanyaanku, Aisha memberikan jawaban dengan nada lembut dan meminta maaf.

Tidak, tunggu, bahkan jika kamu mengatakan itu bukan apa-apa, kamu membuatku sangat ingin tahu tentang ini ... Apakah aku melakukan sesuatu ketika aku di sini sembilan tahun yang lalu? Aku tidak dapat mengingatnya.

"Di sini. Rumah kepala desa

Ketika aku ingin bertanya lebih lanjut pada Aisha tentang hal tersebut, tetapi sepertinya kami telah tiba di tempat kepala desa.

Ini adalah rumah besar yang dibangun agak jauh dari bagian tengah desa. Di belakangnya, sepertinya terdapat gudang yang digunakan untuk menyimpan makanan.

Rumput hijau subur yang tumbuh di sekitar area rumah. Sepertinya akan terasa sangat nyaman untuk berbaring disana.

“Di sini, ya. ..”

“Baiklah, ayo cepat masuk”

Begitu aku mulai mempersiapkan diri untuk masuk ... * tokk * * tokk *, Aisha sudah mulai mengetuk pintu.

... Hmm? Mengapa aku merasa sangat gugup meskipun aku sudah pernah bertemu dengan orang yang memiliki kedudukan sosial lebih tinggi? Apakah karena aku takut tidak bisa tinggal di sini jika kepala desa mengatakan tidak? Aku rasa aku tidak merasa segugup ini saat melawan monster.

Tak lama, aku mendengar suara wanita datang dari balik pintu yang menjawab "Haii".

Ah, ayo masuk”

Setelah mendengar jawaban itu, Aisha membuka pintu tanpa khawatir dan memasuki rumah. Apakah tidak masalah jika kita masuk tampa menunggu orangnya?

“Cepat masuk”

Setelah Aisha mengatakannya, aku ikut dengannya walaupun sedikit sedikit merasa ragu.

“Ara, sudah kuduga. Itu Aisha-chan”

Orang yang menyambut kami adalah seorang wanita cantik dengan rambut pirang bergelombang dan mata berwarna giok.

Aku pikir orang ini seharusnya sudah cukup tua, tetapi dia terlihat seperti seorang istri yang berhasil menjaga wajah cantiknya tampa menunjukkan tanda-tanda penuaan.

... Aku rasa pernah melihatnya sebelumnya. Apakah itu hanya perasaanku saja, yah?

“Fiona-san, bukankah aku cukup dewasa untuk tidak dipanggil dengan sebutan "chan" di belakang namaku?”

Aku sudah menganggapmu seperti putriku sejak kamu masih kecil, jadi Aisha-chan akan selalu menjadi anak kecil di hatiku, tahu?

Wanita itu menjawab protes Aisha dengan senyuman.

Sepertinya Aisha tidak dapat memberikan belasan atas perkataan itu, bahkan  tubuhnya bergerak sedikit seolah dia merasa malu. Rupanya, untuk orang yang mengatakan apa yang dia pikirkan seperti Aisha. Fiona-san adalah lawan yang buruk.

“Jadi, kamu membawa tamu yang belum pernah aku lihat sebelumnya di sini? Apakah kamu ingin memperkenalkanku kepada pacarmu?”

Wanita itu dengan tenang melihat ke arah sini dengan mata gioknya.

Memiliki Aisha sebagai pacarku kurasa bukan ide yang buruk, tapi seperti dia tipe orang yang suka mengatur pacarnya.

“Bukan itu. Dia berasal dari kerajaan Abalonia, dia ingin pindah ke desa ini.”

Ara.. kamu datang dari tempat yang sangat jauh yah... Masuklah dan mari bicarakan hal ini secara detail dengan suamiku, yang merupakan kepala desa disini

“Haii”

Daripada disebut orang yang memperkenalkan pacarnya, dia lebih mirip dengan seseorang yang tinggal di rumah ini. Untuk berbicara dengan kepala desa, kami dipandu ke sebuah ruangan di dalam oleh istri kepala desa.





Sebelumnya || Daftar Chapter  ||  Selanjutnya

5 comments: