Saturday, 19 May 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 227 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Erixsu
Proof Reader
Mizuki Hashima


Arc 24: Sang Raja Sibuk Dalam
Berbagai Hal

Chapter 227: Ingatandan Pertemuan Kembali Dengan Ibu




(TL: Awal chp ini adalah POV Sakura)

Aku dikejar oleh seorang lelaki bertopeng dan berbaju hitam (atau mungkin seorang wanita, aku tidak yakin) mencabut pedang lengkung dari pinggangnya dan menebas punggungku.

Aku pun terjatuh karena terkejut, kaki kananku terpotong saat aku mencoba untuk berdiri dan melarikan diri.

Hilangnya kakiku dari lutut sampai kebawah membuatku terjatuh lagi.

Aku mengangkat tangan kananku mencoba untuk menahan tebasan pedangnya, namun tanganku pun terpotong dari lengan dan terjatuh lagi.

Darah merah segar pun terciprat di gang belakang, mewarnai pandanganku.

Aku akan mati!!

Aku akan dibunuh!!

Tidak!!

Aku tidak ingin mati!!

Aku harus melarikan diri ke tempat dimana mereka tidak bisa mengejarku!!

Aku harus kabur dari sini!!

Jika aku tidak mau mati, aku harus kabur!!

Saat ia memikirkannya, Sakura langsung mengucapkan kata-kata yang muncul di kepalanya.

Tele-port

Setelah itu, Sakura jatuh ke air.

Ia mencoba naik dengan kakinya tanpa mengetahui apa yang terjadi, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Tubuhnya tidak bisa melawan arus.

Nafasnya terengah-engah, dan kemudian, ia pun pingsan karena rasa sakit dan luka-luka yang diterimanya.

***

Aku, yang memegang kedua tangan Sakura dan mengaktifkan [Recall] setelah menyentuh dahinya, melihat ingatannya dan membuka mataku setelahnya.

Begitu ya. Jadi seperti itu rupanya?(Touya)

Aku sudah ingat. aku… Farnese… Farnese Forneus… Saat itu, aku diserang bersama dengan Spica-san. Kalau begitu aku…(Sakura)

Sakura pun memutar-mutar kata-katanya seolah-olah memeriksa ingatannya sendiri.

Aku punya spekulasi kenapa Sakura saat itu berada di Ishen.

Kemungkinan, secara tidak sadar, ia membangkitkan sihir non-atributnya karena ketakutan akan diserang.

Kegunaan [Teleport] mungkin adalah untuk berpindah tempat sesuai dengan arti namanya.

Dengan menggunakan sihir itu, ia berpindah ke Ishen dan jatuh ke sungai.

Apakah tanduknya menghilang karena kekuatan sihirnya terkuras?

Ingatan Anda… apakah ingatan Anda sudah pulih?(Spica)

Spica-san dengan malu bertanya kepada Sakura.

Masih samar, tapi… aku tahu. Tentang Spica, dan ibuku. Aku telah mengingatnya. Berbagai hal.(Sakura)

Farne-sama…(Spica)

Spica-san pun menangis lagi.

Sakura, yang melihatnya, membuat senyuman kecil, tapi aku yang masih memegang tangannya, mengerti kalau ia sedikit gemetaran.

Sakura… apakah kau takut?(Touya)

Hm… Sedikit… Karena saya tidak ingin mengingat saat-saat saya akan dibunuh.(Sakura)

Ia pun tersenyum dengan wajahnya yang pucat.

Tentu saja.

Aku telah membuatnya mengingat saat-saat ia akan dibunuh.

Ia tidak lagi amnesia, tapi itu adalah ingatan yang pasti ingin ia lupakan.

Tidak apa-apa. Aku akan menghajar siapapun yang berani menyakiti Sakura. Kau tidak perlu takut lagi.(Touya)

Aku pun mengusap-usap kepala Sakura dan memintanya agar tenang.

Mungkin kejadian itu bukanlah trauma yang bisa dihilangkan dengan mudah, tapi aku ingin melakukan sesuatu terhadapnya.

Hmm… jika saya berada disamping Raja-sama, saya akan merasa aman…(Sakura)

Sakura pun tersenyum dan memelukku dengan erat.

U-umm, Sakura-san?

Jika kau melakukannya, kau tahu, Spica-san yang duduk di depan kita akan melihatku dengan wajah yang tidak bisa kugambarkan, jadi aku ingin kau menahan dirimu, tapi…

Haa!

Aku merasakan tatapan dingin!

Aku pun melihat pintu ruangan setelah mendengarnya terbuka, dan aku bisa melihat secara jelas wajah 8 gadis berbaris secara vertikal dari celah kecil.

Hiiii!

Totem pole apa itu!?

Jadi dia yang kesembilan, yah…?



Orang yang mengatakannya secara bergiliran adalah para tunanganku.

Tunggu, hentikan!

Jangan palingkan wajah kalian seolah-olah kalian terkejut, sambil mengatakan
“aaah…” atau semacamnya!

***

[Teleport] adalah sihir yang sulit untuk dikendalikan diantara semua sihir transfer. Sejujurnya, kupikir menggunakan [Gate] lebih baik.(Rin)

Rin mengatakannya sambil meminum teh.

Memangnya sesulit apa untuk menggunakannya?(Touya)

Pertama-tama, kau berpindah ke sebuah [Lokasi] yang kau ingat dengan [Gate], tapi untuk berpindah dengan [Teleport], kau harus tahu parameter dari [Arah] dan [Jaraknya]. Kau tidak bisa berpindah ke suatu tempat jika kau terhalangi sesuatu, dan pada awalnya, hanya seorang praktisi yang bisa menggunakannya. Meskipun memungkinkan untuk berpindah bersama-sama jika kau berpegangan tangan, tapi bukankah itu artinya hanya dua orang saja yang bisa berpindah tempat?(Rin)

Nah, saat Sakura berpindah ke Ishen…(Touya)

Kurasa [Arahnya] random, dan ia berpindah sejauh mungkin dengan menghabiskan semua kekuatan sihir yang dimilikinya. Syukurlah tempat dimana ia berpindah bukan laut.(Rin)

Begitu ya.

Itu juga bisa terjadi.

Ada banyak tempat berbahaya seperti laut, kawah gunung vulkanik, atau rawa yang dalam.

Kurasa mungkin untuk berpindah ke tempat tanpa mempedulikan jarak dan arah.

Sebaliknya, [Teleport] mungkin lebih praktis jika targetnya berada di dalam jarak pandanganmu. Kau bisa berpindah dengan cepat tidak perlu berjalan melalui [Gate]. Bukankah kau bisa menggunakannya untuk melakukan serangan kejutan?(Rin)

Begitu ya.

Ini akan menjadi [Gerak Cepat].

Atau demikian, mungkin ini lebih kepada bagaimana cara penggunaannya.

Haruskah ku mencobanya?

Teleport(Touya)

Aku pun berpindah dari kursi ke pojok ruangan.

Oh, rasa tidak nyaman karena pandangaku berubah secara tiba-tiba dan itu sangat mengerikan.

Sepertinya menggunakan sihir ini akan susah digunakan dalam pertempuran jika aku masih belum terbiasa.

Tidak ada beban sama sekali di tubuh.

Kurasa aku bisa menggunakannya terus-menerus.

Suami kita memang aneh. Aku sudah terbiasa dengannya, sih.(Rin)

Rin yang melihatku mencoba bergerak secara instan, lalu menghela nafasnya.

Yah, aku juga sudah terbiasa dengan reaksi seperti itu.

Bisakah Sakura-sa… Farne-san menggunakan [Teleport]?(Lindzey)

”Sakura” saja tidak apa-apa. Mungkin untuk sekarang saya tidak bisa menggunakannya karena tidak tahu cara menggunakan kekuatan sihir.(Sakura)

Sakura pun menjawab pertanyaan Lindzey.

Begitu ya, Sakura tidak mengerti cara menggunakan sihir itu sendiri.

Sepertinya kemarin ia bisa melakukannya secara tidak sadar karena diserang.

Karena dari kejadian yang tidak diduga tersebut, nyawanya pun terselamatkan.

Kurasa ia akan bisa segera menggunakanya jika sedikit berlatih.

Jika ia hanya membangkitkan sihir non-atribut, itu berarti ia masih tidak bisa merasakan sensasinya dengan handal. Sihir tersebut tidak bisa diaktifkan walaupun kau menaruh semangat bertarungmu saat merapalnya, dan akan bisa diaktifkan jika kau merapalnya dengan cara tertentu. Nantinya, kau bisa membuat caramu sendiri tentang bagaimana cara mengaktifkannya.(Elzie)

Elzie pun memotong pembicaraan sambil mengambil kue.

Ternyata, ia juga berjuang dengan keras sampai ia bisa menggunakan [Boost].

Lalu, apa yang akan Anda lakukan? Akankah Sakura-san kembali ke Zenoasu?(Rue)

Rue langsung ke inti permasalahannya.

Kurasa memang benar.

Karena hal ini tergantung pada Sakura.

Intinya, ia adalah Tuan Putri Zenoasu meski ia merupakan anak haram.

Terlebih lagi, ada juga masalah tentang penerus tahta, kan?

Aku punya firasat kalau hal ini tidak akan bocor jika kami diam dan dia tetap disini.

Ia mungkin ingin menemui ibunya tak peduli pilihan mana yang ia buat.

Saya ingin hidup di negara ini daripada hidup di  Zenoasu. Jika memungkinkan, saya juga ingin hidup bersama dengan ibu dan Spica disini.(Sakura)

Sa-saya juga merasa sama seperti Farne-sama. Saya ingin bekerja sebagai ksatria di negara ini seperti biasanya. Intinya, kakaklah yang akan menjadi kepala keluarga, jadi tidak ada masalah!(Spica)

Spica-san pun berdiri karena ucapan Sakura, dan mengatakan keinginannya.

Akan tetapi, kita harus melakukan semuanya dengan logis.

Kurasa, setidaknya kami harus memberi penjelasan terhadap orang tua Spica-san.

Bagaimana dengan Raja Iblis?

Jika ia dan ibu Sakura tidak menikah, apakah itu artinya aku tidak perlu izin untuk membawanya bersama kami?

Setelah itu… hal mengenai pembunuh Yuuron masih menghantui pikiranku.

Ini hanya hipotesis, tapi aku berpikir bahwa ada orang yang bersekongkol dengan Yuuron.

Tujuannya adalah membunuh Sakura.

Daripada seperti itu, bukankah ada sesuatu yang harus dibayarkan kepada Yuuron?

Walau aku tidak tahu apakah itu uang atau informasi.

Jika bukan kedua hal itu, aku tidak mengerti alasan terlibatnya Yuuron.

Tapi, Zenoasu seharusnya tidak bersekongkol ataupun bertransaksi dengan negara lain.

Zenoasu seharusnya adalah negara yang tertutup.

Hasil dari semua ini adalah kesimpulan bahwa pihak yang mencoba membunuh Sakura, adalah dari Zenoasu sendiri.

Terlebih lagi, mereka pasti orang dengan jabatan yang cukup tinggi.

Yang paling mencurigakan dari pihak yang tidak mau Sakura dikenal sebagai Tuan Putri Zenoasu dan menjauhkannya dari posisi Raja Iblis, adalah pangeran pertama dan kedua tapi…

Apakah kau ingin menjadi Raja Iblis selanjutnya?(Touya)

Tidak. Saya tidak mau meski dunia akan kiamat.(Sakura)

Jika ia bersikeras, aku penasaran apakah ia tidak akan ditargetkan lagi.

Tidak.

Sebaliknya, bukankah itu lebih berbahaya?

Akan lebih aman baginya jika ia tetap pura-pura mati daripada menunjukkan dirinya.

Ada kemungkinan kalau nanti bawahan pangeran akan bergerak meski tanpa izinnya atau tanpa sepengetahuan mereka.

Pokoknya, kita harus mengunjungi Zenoasu setidaknya sekali… atau daripada Zenoasu, ibu Sakura. Dengan kata lain, ke kediaman keluarga Spica-san,
Keluarga  Frenel
.(Touya)

Itu benar. Saya rasa memang lebih baik berkonsultasi pada Fiana-sama tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya.(Spica)

Spica-san juga berkata seperti itu.

Haruskah kita pergi dan menemui ibu Sakura sekarang?

Orang yang ikut adalah aku, Sakura, Spica-san, dan juga Kohaku yang kami bawa untuk berkomunikasi.

Aku telah menerima ingatan dari Spica-san tentang lokasi kediaman orang tuanya di Ibukota Zenoasu dan membuka [Gate].

Spica-san lah yang pertama keluar dari [Gate].

Lalu, kami keluar setelahnya.

Kami berada di depan pintu masuk aula rumah setelah keluar dari [Gate].

Tempat ini adalah kediaman orang tua Spica-san, yaitu Keluarga Frenel.

Keadaannya mungkin akan memburuk jika Sakura terlihat, jadi kami langsung masuk ke dalam rumah.

Ada lukisan besar yang menghiasi tangga depan dan terdapat karpet merah.

Dalam lukisan itu, terdapat tiga anak laki-laki muda yang berdiri diantara seorang lelaki dan wanita, dan seorang gadis yang duduk di kursi.

Apakah itu foto keluarga?

Kalau begitu, apakah gadis itu Spica-san?

Wajahnya memang tampak mirip.

Rindunya… Aku sudah ingat. Aku pernah tinggal disini.(Sakura)

Sakura mengatakannya dengan suara kecil.

Apakah ingatannya sudah mulai pulih?

Dan nampaknya lebih jelas daripada sebelumnya.

Tiba-tiba, Sakura yang melihat sekeliling, mulai berlari sekuat tenaga ke koridor kanan.

Aaa, Farne-samaaa?(Spica)

Spica-san pun mengikutinya dengan panik.

Kohaku dan aku juga tidak mengerti, tapi kami mulai mengikuti mereka.

Seorang maid dengan keranjang cucian, yang melihat kami berlari di koridor dan melewatinya, berdiri dengan mata melotot.

F-Farne-samaaaa!? Dan, Nonaa!? Eh!? Eeeeeh!?

Sakura mengabaikannya dan berhenti di sebuah ruangan, lalu membuka pintunya dengan semangat.

Kami yang berhasil menyusul Sakura, melihat kedalam ruangan dari belakangnya.

Apa yang kami lihat adalah kasur besar yang berada di depan tirai putih, dimana cahaya bersinar terang, dan seorang perempuan yang mengangkat tubuh bagian atasnya dan melihat kemari.

Apakah ia berumur 30 tahun?

Rambut putih dan wajah pucatnya memberi kesan seperti itu.

Kemungkinan besar orang ini pasti…

Far-ne……?(Fiana)

Ibu… Ibuuuu~!(Sakura)

Sakura pun berlari ke arah ibunya dan melompat ke dadanya.

Ia pun memeluknya sambil menangis sekeras-kerasnya.

Tidak mungkin… apa kau benar-benar Farne? Kau hidup… Kau benar-benar masih hidup…!(Fiana)

Ibu…!(Sakura)

Fiana-sama. Orang ini benar-benar Farne-sama. Ia selamat. Ia diselamatkan oleh Sang Raja Penguasa Brunhild yang berada disini.(Spica)

Mendengar ucapan Spica-san, sang ibu pun memeluk anaknya sambil menangis.

Apakah ia sudah yakin kalau putrinya telah kembali?

Sang putri, yang ia sangka telah tewas, datang kembali.

Kebahagiannya mungkin tidak dapat dibendung.

Dan mungkin akan buruk jika menganggu mereka.

Kami pun memutuskan untuk melihat mereka berdua selama beberapa waktu.

Dan, siapa Anda?

Walau akhirnya aku dilihat dengan hati-hati oleh maid itu sebagai orang mencurigakan, sih.

Yah, tentu sajalah.





Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

5 comments: