Thursday, 14 June 2018

A Rank Chapter 4


TranslatorKagami
Editor
Eden
Proof Reader
Shiro7D

Chapter 4 :
Peri di Taman Bunga






Setelah meletakkan barang-barangku di dalam tas rami di rumah kepala desa, aku pergi ke luar dengan membawa beberapa makanan seperti keju, raspberry, dan biskuit.

Entah kenapa, aku masih ingat jalan ke ladang bunga tersebut.

Kalau tidak salah, dengan berjalan ke arah barat dari alun-alun pusat desa lalu mengikuti jalan yang dikelilingi pepohonan, aku akan sampai di ladang bunga.

Aku berjalan ke selatan dari rumah kepala desa, dan menuju ke barat dari alun-alun.

Jumlah orang dan rumah semakin berkurang saat aku berjalan semakin jauh, dan akhirnya aku memasuki jalan yang dikelilingi oleh pepohonan.

Dedaunan rimbun yang bergoyang karena angin seolah-olah menyambut kedatangku.

Dan, seolah-olah pepohonan memikatku untuk masuk lebih dalam dan lebih dalam, aku terus berjalan.

Jika aku dengar dengan seksama, aku bisa mendengar suara serangga di semak-semak dan suara kicau burung di pepohonan.

Aku tidak bisa menikmati alam dengan santai seperti ini saat menjadi petualang, karena aku selalu berada di tempat yang dipenuhi monster.

Jika saja dulu aku tahu betapa menyegarkannya perasaan ini, pasti menyenangkan jika pergi piknik atau berjalan di sini bersama anggota kelompok ku.

Tapi yah… saat itu, yang aku lakukan hanya berusaha menjadi lebih kuat, karena aku putus asa untuk hidup.

Jadi ketika aku melewati tempat-tempat seperti ini, yang aku lakukan hanyalah tidur di kereta kuda, atau melakukan semacam pelatihan otot, sambil mengabaikan hal lain. Setelah di pikir-pikir lagi, hidupku saat itu sunggu sia-sia.

Kurasa sekarang aku mengerti alasan anggota kelompok ku, terdiam tanpa kata-kata saat itu.
(TL: Pas pembubaran)

Udara menjadi berat saat aku terus berjalan lebih jauh di jalan yang dikelilingi pepohonan. Ini mulai tampak seperti hutan yang pernah kukunjungi.

“Hmm... Jika aku keluar dari sini...”

Ladang bunga yang indah ada disanaAku semakin dekat dengan tujuan.

Aku bisa merasakan kakiku bergerak lebih cepat dan lebih cepat ketika aku maju selangkah demi selangkah.

crunch *, * crunch *, aku menggerakkan kakiku dengan segenap kekuatan saat aku menginjak tanah. Langkahku berangsur-angsur menjadi cepat.

Apa yang ada di depanku adalah tempat yang aku dambakan.

Aku penasaran sudah berapa kali aku memimpikan momen ini sejak aku meninggalkan kerajaan.

Saat itu aku terus menggali sisa-sisa ingatanku dari sembilan tahun yang lalu, dan menggunakan imajinasiku untuk mengisi kekosongan yang aku rindukan.

Akan tetapi, saat itu. Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya dengan cukup baik dan selalu berpikir, “Tidak, tidak seperti ini”, setiap kali aku mengumpulkan gambaran di kepalaku.

Namun, sekarang aku akan melihat pemandangan yang sebenarnya, pemandangan yang belum memudar sedikit pun sejak sembilan tahun lalu.

Jalan dengan pepohonan di kedua sisi berakhir, dengan cahaya menyilaukan yang datang dari ujung jalan.

Aku berlari menuju cahaya itu - dan itu dia, hamparan bunga yang luas.

Bunga-bunga dalam warna merah cerah, merah muda, oranye, kuning, dan putih sepenuhnya mekar, dan bunga-bunga itu membentang sejauh mata memandang. Warna bunga-bunga ini adalah sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya kujelaskan dalam kata-kata karena kurangnya pengetahuan dan pemilihan kosakata yang buruk; Aku hanya tahu bunga-bunganya memiliki gradasi warna yang lebar.

Ini seperti karpet bunga yang terbuat dari berbagai jenis bunga.

Beberapa jenis yang aku lihat ketika aku berjalan mendekat adalah Rapeseed blossom, Tulip, Poppy, dan *Kiruruku dll.
(*Kiruruku adalah jenis bunga yang ada di cerita ini)

Ketika angin bertiup dari satu arah, aroma harum bunga-bunga melayang ketika bunga-bunga itu bergoyang.

……

Aku menatap pemandangan ini tanpa berkedip sedikitpun. Tidak, mungkin lebih tepatnya aku tidak bisa mengalihkan pandanganku karena ini terlalu indah bagiku.

Menyaksikan pemandangan yang begitu indah sehingga orang tidak akan mengira itu bisa ada di dunia ini ... Ini bahkan seperti aku terisolasi sendiri di dalam dimensi yang berbeda.

Ketika aku melihat pemandangan dunia lain yang diselingi dengan warna ini, aku bicara pada diri sendiri-

Tidak perlu lagi membicarakan kenangan impianku, jika dibandingkan, pemandangan di depan mataku jauh lebih indah.

Warna, bunga, dan nuansa udara, semuanya sangat berbeda dari apa yang sering kubayangkan. Karena aku tidak bisa membayangkan aroma, angin, atau suara dengan Imajinasiku yang kurang luas.

Aku pikir pemandangan sembilan tahun yang lalu terukir dalam pikiranku karena itu tak terlupakan. Itu adalah fakta yang diketahui bahwa ingatan manusia cukup kuat.

“Aku akhirnya di sini.

Kata-kata itu keluar dari mulutku yang kering.

Inilah pemandangan yang aku impikan, tempat yang telah aku rindukan selama satu setengah bulan terakhir.

Sekarang aku disini.

Air mata keluar saat perasaan hangat memenuhi dadaku dengan emosi kebahagiaan dan kegembiraan yang bercampur bersama.

Aku menghapus air mata dari pipiku secara terburu-buru dengan punggung tanganku saat aku terkejut karena air mata itu.

Aku penasaran apakah air mata ini terbentuk oleh semua emosiku yang tertahan sejak lama, Entahlah….

Ini pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini.

Aku merasa bingung karena tidak memahami emosi yang aku rasakan, tetapi rasanya seperti lubang kekosongan yang terbentuk sejak aku menjadi seorang pembunuh naga telah sedikit terisi.

Aku selesai menyeka air mataku, dan aku mulai berjalan lagi setelah merasa lebih tenang.

Aku ingin menikmati pemandangan bunga-bunga indah ini dari berbagai sudut, tidak hanya satu sudut.

Aku memilih area tanpa bunga mekar untuk berjalan.

Ketika aku memandang ke arah lain, aku melihat lebih banyak jenis bunga.

Bunga dalam bentuk yang belum pernah aku lihat sebelumnya, sebagian berbentuk aneh dengan panjang yang berbeda-beda, sebagian memiliki banyak lapisan kelopak yang ditumpuk bersama. Sangat disayangkan aku tidak tahu nama-nama bunga itu.

Namun, sedikit menyenangkan juga saat aku memikirkan dan bertanya-tanya. Apa nama bunga itu, kapan bunga-bunga itu mekar, dan arti nama bunga itu.

Aku menjelajahi ladang bunga sambil menikmati warna dan aromanya, bersama dengan bau tanah dan rumput. Mencium aroma yang menyenangkan dari bunga-bunga yang menempel di pakaianku saat berjalan, rasanya bahkan mungkin tidak apa-apa jika aku tidak mencucinya. Aku menduga aroma bunga yang tercium dari Fiona-san juga berasal dari bunga-bunga ini.

Aku berjalan di atas bukit sambil memikirkan hal-hal itu ketika aku menatap bunga-bunga.

Aku sudah berjalan sekitar seratus meter di kejauhan setelah melintasi bukit, tetapi ladang bunga masih terus berlanjut.

Selain itu, bentuk dan warna mereka bahkan sedikit berbeda dari yang aku lihat sebelumnya.

Di sini saja sudah ada banyak jenis bunga.

Hal yang tampak berbeda dibanding beberapa saat yang lalu hanyalah sebuah pohon yang terlihat di kejauhan.

Baik besar maupun kecil, itu adalah pohon yang dapat kau temukan di mana saja, tetapi dengan aneh bercampur dengan bunga-bunga disini.

Hanya karena itu, aku ingin beristirahat di bawah pohon disana.

Rasanya menyenangkan jika tidur sambil berbaring di bawah naungan pohon. Ini pasti akan menjadi tempat yang nyaman untuk menghindari panas di musim panas.

Aku berjalan menuju pohon yang ingin kutempati.

Aku teringat musim panas dari pikiranku. Namun, aku tahu bunga-bunga tertentu di tempat ini berubah warna tergantung pada musim.

Siapa yang mengajariku ini?

Aku tidak dapat mengingatnya dengan baik, karena itu sembilan tahun yang lalu ...

Aku memutuskan untuk mengusir pikiran-pikiran macam itu dari kepalaku, karena mudah untuk membuat kenangan palsu jika kau berusaha terlalu keras untuk mengingat sesuatu saat sedang kebingungan.

Itu bukan hal yang penting sekarang. Mari kita nikmati pemandangan indah di sini.

Kemudian, aku sudah sampai di sisi pohon saat aku menikmati pemandangan indah ini secara menyeluruh.

Kakiku sedikit lelah, kurasa aku akan beristirahat sebentar di sini?”

Saat aku mulai berbaring di bawah naungan pohon, seorang wanita muncul dari ladang bunga.

Dengan rambut pirang yang mencapai pinggangnya, dan mata bundar berwarna giok yang seperti batu zamrud.

Aku bisa melihat bahwa dia lebih muda dariku, karena dia memiliki wajah yang babyface, seperti boneka.

Tubuh rampingnya ditutupi blus putih yang membawa aura bersih, dan pinggulnya yang melengkung ditutupi dengan rok berwarna biru gelap.

Wanita tersebut sangat cantik sampai-sampai aku berfikir kalau dia adalah Seorang peri yang tiba-tiba mampir ke taman bunga ini.

dilihat dari keranjang yang berisikan berbagai buah dan bunga yang ada di tangannya, aku yakin bahwa dia telah mengumpulkannya sejak tadi.

Peri itu menatapku dengan ekspresi kaget.

Karena agak memalukan jika hanya saling memandang, aku memutuskan untuk berbicara dengan sang Peri itu.

“Um, hai.

―?!”

Bahu peri itu bergetar saat aku memulai interaksi dengan memberikan salam.

Mungkin dia terkejut karena seorang pria berumur dua puluh tujuh tahun tiba-tiba berbicara dengannya.

Agar tidak membuatnya merasa semakin takut, aku memasang ekspresi lembut di wajahku tanpa bergerak satu inci pun.

...E, erm…

Gadis itu bergumam dengan suara samar yang malu-malu, dengan wajah yang sedikit merah.

Dia dengan gelisah mengalihkan pandangan matanya yang bulat, dan berwarna giok itu, dari mataku. Apakah dia orang yang pemalu?

Saat kukira dia akan tetap takut dengan ekspresi apapun yang kupasang, sebuah ekspresi muncul di wajah gadis itu, seolah dia mempersiapkan dirinya setelah mengumpulkan semua keberaniannya dan ...

... H, Halo!”

Dia berteriak. Dan dia lari ke arah desa.

Sementara aku melihat punggung kecilnya yang terus berubah menjadi lebih kecil dan lebih kecil saat aku berkedip, aku bergumam pada diriku sendiri.

... Apakah wajahku benar-benar menakutkan?”






Sebelumnya || Daftar Chapter  ||  Selanjutnya

4 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author ... ( tu pd spam apaan sih, tega" nya sama hasil kerja orang )
    Sabar bossque

    ReplyDelete