Thursday, 14 June 2018

A Rank Chapter 9


TranslatorKagami
Editor
Eden
Proof Reader
Shiro7D

Chapter 9 :
Bersih-bersih Selesai






Karena sudah siang, Ergys-san dan aku memutuskan untuk makan siang di dekat sungai.

Kami duduk di tempat yang agak landai, dan mengangkat kain yang menutupi keranjang.

Ada Sandwich yang dibungkus memenuhi keranjang. Sandwichnya diisi dengan tomat segar, selada, dan daging ayam goreng. Kelihatannya sangat lezat.

Aroma bahan-bahan segar dan gandum rasanya tak tertahankan.

Rasa laparku muncul ketika perutku berbunyi karena aroma yang sedap.

Kelihatannya enak, kan?”

Ya, mengapa kita tidak langsung memakannya saja?

Agar tidak ada basa-basi lagi, aku langsung menggigit sandwich.

Tekstur roti yang lembut dengan selada renyah membawa gigitan yang menyenangkan. Dan, karena selada dan tomat yang lembab, rasanya jadi tepat karena menahan rasa kuat dari ayam tumis herbal yang kering. Keseimbangan rasa dari bahan-bahan yang digunakan sangat dipertimbangkan. Aku bisa tahu kalau Flora bersungguh sungguh dalam membuatnya.

Saat aku memakan sandwich itu dengan nikmat untuk sementara waktu, sampai perutku kenyang, aku pun mulai memperhatikan keadaan di sekitarku.

Hembusan angin yang bertiup kencang ketika gelombang di sungai berulang kali terbentuk dan menghilang.

Aku bisa melihat ikan air tawar kecil yang berenang mengikuti arus sungai di depanku.

Apakah ikan di sungai ini rasanya enak?”

Ya, rasanya sangat enak jika Kamu memasaknya dengan benar, karena ikan di sini sedikit berbau amis.”

Aku hanya memikirkan keindahan aliran sungai, tetapi sepertinya ikan di sini juga lezat. Meskipun aku sering memasak, aku tidak tau cara yang benar untuk menghilangkan bau amis karena sungai tempat mereka hidup selalu kotor.

Sudah lama aku tidak makan beberapa ikan panggang dengan garam.”

Ohh, kedengarannya enak. Apakah Kau ingin aku meminjamkanmu pancingan atau jaring dari rumahku?

Bolehkah? Itu akan sangat membantu. Terima kasih.”

Tentu saja, tak masalah. Kau bisa memberiku sedikit hasil tangkapanmu sebagai bayarannya. Kau membuatku ingin memakannya juga.

Ya tentu saja. Kalau begitu, aku akan menangkap ikan banyak saat itu.

Kami menghabiskan sandwich sambil berbicara dengan santai...

Baiklah, sudah waktunya aku pamit karena aku tahu kau harus membersihkan rumahmu Aldo-san.”

Ergys-san berdiri dengan membawa kedua keranjang makan siang kami di tangannya saat aku sedang bersantai dan meneguk air.

Aku berencana terus bicara santai dengannya, tetapi aku harus membersihkan rumah atau tidak sama sekali. Jika aku terlalu banyak bersantai di sini mungkin tidak cukup waktu sampai matahari terbenam.

Ya, terima kasih banyak telah memperkenalkan rumah yang bagus ini kepadaku. Ah, ngomong-ngomong, apakah ada orang yang bisa membuat perabotan di desa ini?”

Setelah aku membersihkan rumah, aku perlu mengatur kebutuhan sehari-hari seperti furnitur dan peralatan makan.

Aku ingin cepat mendapatkannya agar aku bisa menjalani kehidupan sehari-hariku.

Ah. Betul. Ada baiknya Kamu bertanya lebih awal karena perlu waktu untuk membuatnya. Tapi ya, ada. Dia dekat juga.”

Dengan kata-kata itu, Ergys-san mengarahkan jarinya ke arah rumah pribadi yang bercampur di antara hutan sebelumnya.

Di sana ada rumah Toack-san, pengrajin kayu. Aku akan memberitahunya setelah ini, jadi kau bisa pergi kesana dan menananyakan padanya tentang itu.

Aku terkejut bahwa kami tinggal sangat dekat satu sama lain. Jika kami tinggal sedekat ini, aku bahkan bisa pergi sekarang.

Baiklah. Toack-san, kan? Terima kasih banyak!

Setelah kata-kata terima kasihku, Ergys-san mengangkat keranjang itu dengan ekspresi puas ........

Beritahu aku setelah kamu sudah selesai menyiapkan rumahmu. Karena aku akan memperkenalkanmu pada pemburu lainnya di desa ini.”

Baiklah!

Kalau begitu, aku akan pergi.”

Setelah memberiku balasan, Ergys-san berbalik dan mulai berjalan.

Aku melihatnya semakin menjauh, kemudian aku kembali ke rumahku.

Sekarang saatnya untuk bersih-bersih.

***

Aku akan langsung mulai karena aku sudah memiliki banyak kekuatan dan energi karena perutku terisi penuh sekarang.

Meskipun tidak ada orang yang tinggal di sini, rumah ini tidak dalam kondisi buruk.

Sepertinya itu semua berkat penduduk desa di daerah ini yang bergantian menjaga rumah-rumah kosong ini agar tidak rusak.

Namun, karena sudah lama sejak pembersihan terakhir, bagian dalam rumah tertutup debu.

Pertama, mari kita buka semua jendela untuk membiarkan udara masuk.

Dari sana, aku akan membawa sapu dan menyapu tempat ini, lalu membuat semuanya berkilau dan bersih dengan kain.

Setelah merencanakan semuanya dengan matang, aku mulai membuka jendela di ruang tamu.

*uhuk uhuk*

Saat aku membukanya, debu-debu berterbangan dan membuatku batuk.

Akan lebih baik jika aku menutup mulut dengan kain terlebih dahulu sebelum melakukan itu.

Aku mengambil sepotong kecil kain dari tas ramiku lalu menutupi kedua hidung dan mulutku.

Aku tidak bisa melakukan lebih dari ini karena sudah ada debu yang masuk ke mataku.

Selanjutnya, aku akan membuka semua jendela yang ada di ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, ruang penyimpanan, dan toilet.

Dengan begitu, seluruh udara disini ditutupi debu yang berterbangan. Aku bisa melihat debu dengan jelas melalui sinar matahari dari jendela.

Aku pikir lebih baik jika aku keluar dari rumah untuk saat ini, jadi aku keluar dengan terburu-buru.

Namun, aku tidak ingin berdiri di sini dan tidak melakukan apa-apa, jadi aku pergi melihat-lihat rumahku untuk melihat apakah ada retakan di dinding.

Aku mengamati dinding di sekitar rumah, sepertinya tidak ada dinding yang retak.

Rumah itu dalam kondisi yang cukup bagus.

Ada rumput liar yang tumbuh di sekitar bagian luar rumah, bahkan ada yang tumbuh di sepanjang dinding, tetapi menghilangkanya tidak akan sulit.

Aku berterima kasih kepada orang-orang yang merawat rumah ini saat tidak ada yang menghuninya. Aku harus berterima kasih kepada mereka secara pribadi ketika aku bertemu mereka.

Aku mengenakan sepasang sarung tangan dan mulai mencabut rumput liar yang menempel di dinding.

Untuk gulma yang terlalu sulit dicabut dengan tangan, aku mengikisnya dengan pisau.

Aku terus melakukannya sampai tidak ada lagi gulma di dinding, lalu aku berjalan kembali ke rumah untuk melihat situasi.

Baik. Udara sudah mulai bersih dari debu. Sepertinya sudah baik-baik saja.

Aku mengambil sapu yang dipinjamkan Ergys-san dan mulai membersihkan lantai.

Aku sudah meminjam semua alat pembersih yang diperlukan dari tempatnya jadi ini sempurna.

Debu yang menumpuk di lantai mulai beterbangan lagi, tapi aku baik-baik saja kali ini berkat kain yang menutupi mulut dan hidungku.

Setelah menyapu ruang penyimpanan, kamar mandi, dan kamar tidur, aku membersihkan semua debu yang berkumpul di dalam pengki.

Selanjutnya, aku pergi ke ruang tamu dan menyapunya.

Setelah aku memastikan bahwa sebagian besar debu telah hilang, termasuk debu dari dapur, aku menuju ke sungai di luar dengan ember untuk mengambil air.

Tidak apa-apa jika aku tidak menggunakan air dari sumur untuk mengepel. Tapi aku rasa air sungai sudah cukup, karena airnya juga bersih.

Aku merendam lap ke air di ember, dan mulai membersihkan dinding dapur. Jika aku langsung mengepel lantai, kain pelnya akan langung kotor.

Lalu, aku bersihkan dinding ruang tamu dan dapur, bilas kotoran dengan air dan mengulanginya lagi.

Berikutnya adalah dinding di ruang belakang. Setelah itu barulah mengepel lantai.

Aku berkali-kali pergi ke sungai untuk mengganti air kotor, dan meremas lapnya berkali-kali.

Tiba-tiba aku merasa sakit di punggung bawahku ketika sedang mengepel lantai, aku tahu bahwa aku sudah membuat ototku kaku secara tidak sengaja.
(TL : sejenis kayak keram/ otot tegang/ ototnya ngenceng gitu, apa sih namanya?)
(ED : mungkin kram, tapi kok di punggung?)
(PR : Keseleo? Enggak, gw rasa encok )

Aku meraih punggungku untuk mengendurkan otot yang kaku.

Uuu…

Aku benar-benar harus menyerahkan tugas ini kepada ibu rumah tangga. Selain bersih-bersih, mereka juga menangani tugas-tugas seperti memasak, mencuci pakaian, dan mengasuh anak. Kemudian, mereka juga membantu di ladang ...

Aku mulai merasa frustasi, rasanya sekarang aku dapat memahami perasaan para ibu rumah tangga yang mengeluh tentang suami mereka karena tidak memuji kerja keras mereka.

Aku fokus bersih-bersih sambil mengagumi kehebatan ibu rumah tangga dan berhasil menyelesaikannya sebelum matahari terbenam.

Ohh, kelihatannya cukup bagus. Aku lebih sulit mengenali tempat ini sebelumnya.

Aku mengeluarkan kekaguman hanya dengan melihat ke kamar yang bersih.

Dinding dan lantai berdebu dipoles dengan indah, sehingga warna aslinya kembali.

Warna-warna cerah di dinding terlihat jauh lebih bagus daripada saat pertama kali kulihat.

Rasa pencapaian dan kepuasan karena membuat rumahku sendiri terlihat bagus menyebar di hatiku. Aku merasa segar kembali.

Aku duduk di lantai yang sudah dibersihkan dan bergumam ketika aku melihat ruang tamu.

Apakah ini yang disebut sukacita seorang ibu rumah tangga?

Ini terasa sangat berbeda dari rasa puas yang aku dapatkan ketika aku menyelesaikan sebuah quest. Apakah karena quest kali ini di rumah yang aku tempati?

Aku merasa ini agak lucu dan tertawa.

Ketika aku melepas kain yang menutupi mulutku, aku melihat kain tertutup kotoran.

Oh tidak, kainnya kotor. Rambut dan bajuku pasti juga kotor. Apakah aku tidak akan membuat lantai kotor lagi jika aku duduk di sini?

Setelah memikirkan itu, aku berlari ke luar rumah dengan cepat untuk menyingkirkan debu yang menempel di tubuhku.

Debu beterbangan setiap kali aku menepuk pakaianku dengan kibasan.

Aku menyadari bahwa tubuhku masih kotor, aku jadi ingin mandi karna merasa tidak nyaman.

Aku akan berkunjung ke rumah Toack-san besok untuk memesan perabotan, jadi lebih baik aku membuat penampilanku lebih baik.

Aku pergi untuk mempersiapkan kamar mandi.

Mengambil dua gelang dari tas ramiku, dan menuju ke kamar mandi setelah aku memakainya.

Aku sudah membersihkan bak mandi besar dan istimewa di rumah ini, semuanya berkilau dan bersih untuk menjawab perasaan yang ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya.

Aku mengulurkan tanganku yang sudah mengenakan gelang dengan formasi mantra biru muda yang terukir di atasnya dan mengucapkan,

Water

Lingkaran sihir biru muda muncul di telapak tanganku setelah lantunan pendek barusan. Kemudian dari sana, air keluar.

Jika mantra yang aku berikan adalah Water lance atau Water boll, itu akan menembakkan air yang berbentuk seperti tombak atau bola, tetapi konsumsi mana juga akan sangat meningkat.

Tapi, jika itu hanya Water, konsumsi mana akan menjadi kecil dan aku bisa menggunakan ini untuk waktu yang lama.

Ketika bak mandi sudah penuh, aku menutup telapak tanganku.

Setelah aku melakukan itu, lingkaran sihir menghilang, dan mantranya berhenti. Ini mudah digunakan.

Selanjutnya memanaskan air.

Kali ini aku menjulurkan tangan kiriku yang menggunakan gelang yang memiliki formasi sihir merah yang terukir di atasnya, dan melantunkan,

Fire.”

Kemudian, lingkaran sihir merah muncul di telapak tanganku, dari mana api sebesar kepalan tangan ditembakkan.

Karna aku menembakan api dengan suhu tinggi ke air, air di bak mandi mulai mengeluarkan suara dan gelembung mulai bermunculan.

Tampak jauh lebih menakutkan dari yang kupikir, jadi aku pergi berlindung ke ruang ganti.

Woah, menakutkan. Kupikir ini tidak akan menjadi masalah besar karena Kurune selalu menggunakannya dengan mudah...

Setelah suara yang muncul di air telah mereda, aku kembali ke kamar mandi untuk melihat keadaan.

Ada awan panas dan beruap keluar dari air di bak mandi.

Kurasa jika yang melakukannya si penyihir, Kurune, pasti bisa mengatur suhu dengan tepat. Menurutnya, mantra dari alat ajaib tidak dapat benar-benar disesuaikan sedetail itu sehingga mungkin akan melewati suhu yang tepat untuk air panas dalam bak mandi.

Sekarang, aku akan membuka jendela dan menunggu sebentar sebelum aku memasukkan tanganku ke dalam air untuk menguji suhu air yang mengerikan ini.

Ya, ini masih terlalu panas. Untung aku menunggu sebentar daripada meletakkan tanganku di sana tiba-tiba.

Setelah menunggu sedikit lebih lama. Suhunya sudah mulai bagus.

Sama seperti kemarin, aku membilas tubuhku dengan air panas untuk membersihkan kotoran terlebih dahulu.

Saat ini aku belum memiliki sabun, jadi aku hanya bisa mencuci tubuh dengan handuk dan air panas.

setelah kepala dan tubuhku dicuci bersih, aku pergi ke bak mandi untuk menghilangkan kelelahan hari ini.

Ketika aku bangun dari bak mandi, aku menuju ke ruang tamu untuk berganti pakaian karena aku lupa membawanya ke ruang ganti.

Karena tubuhku masih hangat setelah mandi, rasanya masih nyaman berjalan di sekitar rumah dengan telanjang. Aku bisa terbiasa melakukan ini. Aku tinggal di rumah orang lain kemarin jadi aku tidak bisa bertindak seperti ini.

Ketika aku merasa gembira, aku mulai mengeluarkan pakaian dari tas ramiku. Pada saat itu, aku mendengar seseorang mengetuk pintu.

Masuk.”

Aku memberi jawaban yang sangat alami.

- Oh, sial. Sudah terlambat ketika aku menyadarinya.
(Eden : LOL. Gw yakin Bang Jon bakal seneng bacanya)
(Shiro7D : Ya iyalah, diakan JONES)

Maaf mengganggu, Aldo-san. Um, aku pikir aku akan membawakanmu makan malam karena mungkin kamu sibuk membersihkan rumah—"

Flora masuk setelah membuka pintu, dan tubuh telanjangku berada tepat di depan matanya.

Kenapa aku ingin berteriak seperti gadis sekarang?

“”…………””

Aku bisa merasakan mata Flora perlahan-lahan memindai dari wajahku. Saat dia semakin rendah dan rendah, wajahnya mulai memerah.

U, Umm.”

Aku tergagap tanpa sengaja karena aku tidak tahu harus berkata apa pada saat seperti ini, tetapi kemudian Flora memulainya duluan.

A,AKU M, MAAF !! PERMISI!!

Dia berteriak saat dia berlari keluar.

Ah, sekarang aku sudah melakukannya. Aku membuatnya melarikan diri lagi kali ini.


Tepat ketika aku berpikir bahwa kami sudah sedikit lebih dekat.





Sebelumnya || Daftar Chapter  ||  Selanjutnya

3 comments:

  1. Semoga aja Bang Jon kita (Ramune) seneng baca chapter ini, LoL

    -Eden

    ReplyDelete
  2. Ceritanya kebalik biasanya yang masuk laki laki dan didalam ada perempuan.
    Mayanlah. Lanjut

    ReplyDelete