Monday, 1 October 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 259 Bahasa Indonesia


TranslatorShiro7D
Editor
Shiro7D
Proof Reader
Shiro7D


Arc 26: Apa yang Bisa Dilakukan Untuk Esok Hari

Chapter 259: Dewa dan Penjamuan



Jadi, dimana letaknya? (Touya)

Seharusnya di sekitar sini ~ nanoyo. Tapi karena tiba-tiba mengilang, jadi aku tidak tau pasti dimana posisinya~nanoyo. (Karen)


Aku mengeluarkan peta di halaman setelah kami kembali ke kastil. Lalu aku meminta Karen-nee-san untuk menunjukkan secara akurat di mana tempat dia merasakan keilahian itu. Tempat yang di tunjuknya adalah ke tenggara dari sini, lebih tepatnya di daerah Hutan Besar yang sedikit melewati Kerajaan suci Ramisshu dan dekat dengan Kerajaan Lail.


Yap, Kisarannya memang terlalu luas. Aku bertanya-tanya, apakah kita dapat menemukan mereka, yah? Hm, aku baru ingat, bukankah Moroha-nee-san juga muncul di daerah Hutan besar. Apakah ada semacam landmark khusus untuk para dewa turun di sana, yah.

Omong-omong, Orang ini ... tidak, dewa ini ... Apakah tidak masalah menggunakan kekuatan ilahi-nya di dunia ini? (Touya)

Terus terang, Kami “dilarang menggunakan keilahian kami jika itu untuk ikut campur dalam urusan dunia ini, akan tetapi kami diizinkan menggunakannya jika itu untuk diri kami sendiri”. Yang berarti kami tidak masalah mengganggunya selama tidak menggunakannya untuk dunia ini ~ noyo. Yah, bisa di bilang masih banyak celah seperti itu ~ noyo (Karen)

Yah, para nee-san juga tidak akan menggunakan kekuatan ilahinya kecuali ketika mereka berurusan dengan dewa bawahan. Meskipun aku ragu, apakah Moroha-nee-san memang perlu menggunakan kekuatannya, mengingat dia sudah sangat kuat sekarang.

Kemungkinan besar pihak lain juga telah mencoba untuk mencari keberadaan keilahian kita. Tapi, tidak seperti sebelumnya, Touya-kun saat ini sudah dapat mengendalikan keilahiannya, jadi mereka pasti tidak dapat menemukan tempat ini ~ noyo (Karen)

Unuu. Apakah itu berarti aku tidak punya pilihan lain, selain pergi dan menyapa mereka secara langsung? Entah kenapa aku sangat enggan untuk melakukannya. Aku penasaran, apakah ada cara bagiku untuk tidak pergi ke sana, yah?... Mengingat jumlah orang yang merepotkan akan meningkat lagi nantinya ... aduh-aduh!

Bukankah kau baru saja memikirkan hal yang tidak sopan lagi~ noyo? (Karen)

Awu… saukit, kuwamohon lepaskan!(Touya)

Pipiku pun dicubit oleh Karen-nee-san. Bukankah persepsinya untuk hal-hal seperti ini sudah sudah mencapai level dewa! Meskipun dia adalah dewa!

Apa yang sedang terjadi di sini? (Moroha)

Ah, Moroha-chan (Karen)

Saat aku memikirkan itu, kakak-ku yang lain, tiba-tiba muncul entah dari mana. Yah, kurasa wajar jika Moroha-nee-san juga merasakannya karena Karen-nee-san juga merasakannya.

Tampaknya Karen-nee-san merasakannya juga. (Moroha)

Tentu saja ~ noyo. Jadi, saat ini kami sedang membahas apakah kita akan menyapa mereka atau tidak ~ noyo (Karen)

Yah, aku tidak segan untuk bertemu dengan mereka. Hanya saja, aku sedikit tertarik pada siapa yang turun. Walaupun kupikir itu akan baik-baik saja selama bukan dewa seperti dewa penghancur yang turun.(Moroha)

Bukankah itu berbahaya ?! jika dewa seperti itu yang turun, aku harap dia segera kembali!

Tidak ada yang bisa turun kecuali mereka memiliki izin dari Dewa Dunia, jadi aku tidak berpikir bahwa dewa seperti itu akan datang. Namun bisa saja seseorang seperti Dewa Blacksmith, Dewa Pertanian atau Dewa Perdagangan yang turun. (Moroha)

Muuu ... Dewa Blacksmith atau Dewa Pertanian masih baik-baik saja, tetapi jika Dewa Perdagangan ... itu sedikit mengesalkan ~ noyo (Karen)

Kecocokan Karen-nee-san dengan Dewa Perdagangan itu cukup buruk, bukan? (Moroha)

Sambil mendengarkan celotehan dari kedua dewa itu, aku sekali lagi menegaskan bahwa bahkan di antara para dewapun ada juga yang baik dan yang bukan.

Bagiku, kurasa akan lebih baik jika Dewa Katana, Dewa Tombak atau Dewa Seni Militer yang turun. Karena akhir-akhir ini Touya-kun tidak menemaniku. (Moroha)

Yah, tolong ampuni aku soal itu. karena setiap kali Maroha-nee-san mengajakku latihan, aku pasti akan sangat kelelahan. Sampai-sampai aku merasa tidak bisa bergerak selama seharian. Semua itu karena Moroha-nee-san yang besungguh-sunggun menyerangku dengan niat membunuhnya! Omong-omong, hasil pertandingan kami dalam berpedang adalah 52 kekalahan dari 52 pertandingan, jadi apa yang salah dengan itu?

Aku tidak mengenal Dewa Katana atau Dewa Tombak dengan baik, tetapi mereka mungkin mirip dengannya. Selain itu, membuat mereka menemaninya bertarung itu... yah, jika mereka bisa menjadi lawan tandingnya, kurasa aku akan senang ... Mungkin?

Yah, terserahlah. Yang lebih penting, mari kita lihat langsung tempat itu. Mungkin saja akan ada semacam reaksi jika aku melepaskan keilahianku di sana (Moroha)

Benar juga. Selain itu, sisi lain harus juga akan menyadari Touya-kun nantinya. Jadi sepertinya oke ~ nanoyo (Karen)

 Akupun segera membuka [Gerbang] ke perbatasan Kerajaan Lail di mana aku menaklukkan Scorpinas raksasa. Dan dari sana, kami akan menuju ke Hutan Besar.

Omong-omong, apakah para Nee-san bisa terbang? (Touya)

Bukannya tidak bisa, hanya saja akan sedikit meropotkan karena membutuhkan kekuatan ilahi untuk melakukannya. (Moroha)

Moroha-nee-san membalas. Tapi akan sulit jika kita berjalan kaki sampai ke Hutan Besar… Ah, haruskah aku mencoba menggunakan benda “itu”? yang kebetulan kutemukan di [Gudang] beberapa hari yang lalu.

Akupun mengambil “Benda itu” yang dari dalam [Penyimpanan] dan membentangkannya di tanah. Benda Ini memiliki ukuran sekitar 4,5 tikar tatami.

Touya-kun, apa ini ~ nanoyo? (Karen)

Yah, sebut saja ini karpet ajaib. Ini akan baik-baik saja, jadi silakan duduklah di atasnya.(Touya)

Aku mengajak Karen-nee-san dan Moroha-nee-san yang memasang ekspresi bingung, untuk duduk di karpet. Akupun kemudian duduk di depan mereka. Pada saat itu, karpet itupun tiba-tiba mengambang sekitar 1M di udara.

Baiklah, ayo berangkat!!! (Touya)

Karpetpun mulai bergerak maju secara perlahan. Omong-omong, karpet ini telah di pasang penghalang di sekitarnya, jadi kami tidak akan jatuh dari sini atau merasakan angin secara langsung. Terlebih saat ini, aku juga menerapkan sihir [Tidak Terlihat], jadi orang-orang di sekitarnya tidak akan melihat kami melayang.

Hee. Ini cukup menyenangkan juga ~ nanoyo (Karen)

Masalahnya terdapat pada pengendalian karpet ini yang tidak akan bisa terbang dalam untuk waktu yang lama jika orang yang mengendalikannya tidak memiliki kekuatan sihir yang cukup banyak. (Touya)

Karena sepertinya mereka berdua sudah terbiasa, jadi aku menaikkan ketinggian dan kecepatannya. Meskipun seperti yang diharapkan, aku tidak bisa melakukan gerakan seperti akrobatik.

Tak lama kemudian, kami tiba di langit Hutan Besar. Akupun menghentikan karpet sambil tetap melayang di udara.

Aku akan mencoba melepaskan sedikit keilahian dari sini. (Touya)

Saat aku dengan ringan melepaskan “Pelepasan Dewa”, keilahian yang serupa mulai terasa dari hutan di kejauhan. Apakah mereka menunjukkan kepada kita lokasi mereka dengan cara seperti itu?

Nn? (Moroha)

Oya? (Karen)

Karen-nee-san dan Moroha-nee-san yang duduk di belakangku menunjukkan ekspresi yang sedikit terkejut.

Kenapa? (Touya)

Tidak, ini tentang keilahian yang sedang dipancarkan saat ini ... (Moroha)

Aku merasakan lebih dari satu ~ noyo (Karen)

 Apa katamu?

Aku tidak bisa merasakan secara mendetail seperti itu... Lalu apa itu berarti… Ada banyak dewa yang turun di sana?

Apa maksudnya ini? (Touya)

Siapa yang tahu ... Bagaimanapun, kita akan mengerti begitu kita sampai di sana ~ noyo. Touya-kun, ayo berangkat ~ noyo! (Karen)

Walaupun ada banyak hal yang ingin aku tanyakan saat ini, tetapi kurasa tidak ada pilihan lain selain pergi ke sana dan lihat apa yang sedang terjadi. Untuk saat ini, aku membuat karpet terbang melaju ke arah dimana aku merasakan keilahian.

Aku tidak bisa melihat secara sejelas karena tertutup oleh pepohonan. Tapi paling tidak, aku bisa melihat secara sekilas, bahwa ada beberapa orang di sana.

Saat kami turun di dekatnya, bunyi musik yang ramai mulai terdengar bersamaan dengan tawa riang dan bau yang lezat.

... Apa ini? (Touya)

Kore wa, kora wa (Moroha)
(TL : Yah, gw enggak tau enaknya di TL apaan. Tapi gw rasa ini udah pas)

Ya ampun ~ nanoyo… (Karen)

 Pesta? Itu benar, ini sebuah pesta.

Di dalam hutan, ada seorang pemuda yang memainkan instrumen musik yang mirip mandolin, seorang gadis berwajah merah karena sedang minum alkohol, seorang wanita yang sedang memanggang daging di atas api unggun, dan seorang pria yang sedang makan kacang dan berry sambil tersenyum.

Apa ini?

Setelah turun dari karpet, aku mengalihkan pandanganku ke Karen-nee-san di belakangku.

Mereka adalah Dewa Musik, Dewi Alkohol, Dewi Berburu, dan Dewa Pertanian ~ nanoyo (Karen)


Apa?! Jadi ada empat dewa yang turun?!

Sementara aku tercengang, seorang gadis kecil yang memperhatikan kami, melambaikan tangannya ke arah kami dengan gerakan yang berlebihan.

Ooooh ~! Bukankah itu adalah Dewi Cinta dan Dewi Pedang ~! Mari minum bersama ~! (Gadis kecil)

Seorang gadis kecil yang terlihat berusia 7 tahun, yang bahkan lebih muda dari Suu. Memiliki rambut biru panjang yang tampak transparan, mengayunkan botol sake besar seolah itu mainannya. Are?! Apakah tidak masalah anak seperti ini menjadi Dewi Alkohol?!

Orang yang memegang instrumen yang tampak seperti Mandolin itu pasti si Dewa Musik. Dia adalah seorang pemuda tampan dengan rambut pirang di usia pertengahan dua puluhan. Meskipun dia terus menunjukkan senyum lembut ke arah kami, tapi tangannya masih tidak berhenti memainkan musik.

Orang ini mungkin mengekspresikan emosinya melalui alat musiknya. Bahkan, dia mengubah musiknya setelah dia memperhatikan kami.

Pria yang tadinya sedang memakan buah-buahan tersenyum kearah kami. Dia memiliki mata sipit dengan penampilan yang damai, rambut coklat polos dan suasana yang sederhana di sekitarnya. Mungkin orang inilah Dewa Pertanian.

Jadi itu berarti wanita yang tersisa dengan rambut ekor kuda hijaunya adalah Dewi Berburu. Di sampingnya tergeletak busur dan panah yang di buat sendiri.

Dan daging yang di panggangnya saat ini pastilah hasil buruannya sendiri. Omong-omong, bagian tubuh dari hewan apa yang di masaknya itu? Daging itu terlibat persis seperti daging-daging yang ada dalam komik. Aku penasaran!

Kalian. Mengapa kalian semua turun ke sini ~ noyo? Tidak peduli berapa banyak kamu melihatnya, tidakkah ini terlalu banyak jika untuk melawan dewa bawahan ~ noyo? (Karen)

Unya ~, Itu berbeda. Kami di sini tidak bertanggung jawab atas dewa bawahan.(Dewi Berburu)

Sambil merobek potongan daging panggangnya, dewi berburu menjawab pertanyaan Karen-nee-san. Ternyata dia adalah orang yang cukup liar... tidak dia itu Dewa. Apa maksudnya " tidak bertanggung jawab atas Dewa Bawahan"?

Saat ini tanggung jawab kami adalah kau, Mochizuki Touya-kun (Dewa Pertanian)

Aku?! (Touya)

Si Pria bermata sipit itu ... tidak, Dewa Pertanian oji-san berbalik dan menunjuk ke arahku. Kemudian akupun juga ikut menunjuk diriku sendiri.

Apa maksudmu "Bertanggung jawab atas Touya-kun"? (Moroha)

Moroha-nee-san pun bertanya menggantikan diriku.

Ya. Karena dia adalah orang telah menerima keilahian dari Dewa Dunia, jadi pada akhirnya diapun akan berkembang menjadi salah satu dari kita. Jadi tugas kami saat ini adalah mendidiknya sebagai seorang seniornya, dan mendukungnya sehingga menjadi dewa muda yang berjalan di jalan yang benar... (Dewa Pertanian)

Itulah yang kami putuskan beberapa waktu lalu ~! Tapi saat ini kami datang untuk bersenang-senang ~! (Dewi Alkohol)

Hei! Dewi Alkohol-san, tidakkan kau terlalu berterus terang!

Bukankah itu itu berarti tidak ada alasan khusus bagi mereka untuk datang ke sini? Apa semua dewa itu tidak ada kerjaan, yah?

Saat mendengar itu, Dewi Berburu tertawa terbahak-bahak.

Yah ~, Sudah beberapa ribu tahun sejak kami turun ke tanah, jadi meskipun kami telah melakukan “Humanifikasi”, kami masih perlu membiasakan diri dengan tubuh-tubuh ini. Tadi aku mencoba berburu 2-3 binatang buas, dan ternyata cukup menyenangkan juga berburu tanpa menggunakan kekuatan ilahi.(Dewi Berburu)

Setuju ~! Itu sudah lama sekali bagiku unutk meminum sesuatu selain anggur suci ~! Aku mabuk ~! Sungguh indah ~! (Dewi Alkohol)

Aku juga sudah lama tidak merasakan berkah dari tanah. Ini benar-benar nikmat (Dewa Pertanian)

………… (Dewa Musik)

Dewa Musik dengan ceria memainkan alat musiknya, dan itu bergema seolah-olah setuju dengan tiga yang lainnya. Apakah orang itu tidak akan berbicara sama sekali ?!

Aku kagum ~ nanoyo. Kerja bagus karena bisa menerima izin dari Dewa Dunia ~ noyo (Karen)

Tidak-tidak, ini sangat mudah, kau tau. Ketika kami mengatakan bahwa “kami ingin pergi”, dia hanya mengatakan kepada kami “kalian boleh pergi”. Meskipun Kami tetap diberitahukan menjaga dan membantu pada anak laki-laki ini.(Dewi Berburu)

Tolong berhentilah memanggilku "anak laki-laki ini... (Touya)

Umuu. Kami-sama mungkin mencoba membantu, tetapi semua orang di sini tampaknya memiliki satu atau dua ciri khas khusus...

 Sudah-sudah, jangan cemas! Mari sini minum bersamaku! (Dewi Berburu)

Dewi berburu-nee-san mendorongku ke sebuah cangkir kayu berisi alkohol. Yah, itu tidak seperti aku tidak bisa minum, tetapi dia cukup memaksa!

Omong-omong, dari mana kau mendapatkan alkohol ini? (Touya)

N ~? Sebuah suku di dalam hutan ini sedang diserang oleh binatang buas, dan mereka memberikannya kepada kami sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu mereka ~. Meskipun aku adalah Dewa Alkohol, tapi aku tidak terlalu suka dengan alkohol yang ada di surga, karena itu terbuat dari bahan yang terlalu aman~. Tapi alkohol di sini sangatlah nikmat ~! Rasanya sangat kuat, sampai membuatku ingin mengatakan beginilah seharusnya rasa alkohol, apa ada masalah?!” atau semacamnya ~ (Dewa Alkohol)

Dewi Alkohol tertawa dengan seringai. Apakah dia sudah mabuk ?! Aku tidak terlalu mengerti dia dengan baik, tapi entah kenapa aku khawatir dengannya karena dia terlihat seperti gadis kecil. Apakah dia baik-baik saja ?! wajahnya sudah merah terang.

Dewi itu lalu berjalan ke arahku dengan goyah lalu berpegangan pada kakiku. Apa yang dia lakukan…?

 Touya-onii-chan ~. Aku ingin camilan untuk alkohol ~. Cumi kering, edamame, yakitori ~. Kau memiliki beberapa, kan ~? (Alkohol Dewi)

Mengapa kamu tahu tentang itu ?! Memang benar bahwa aku memiliki beberapa di [Penyimpanan], tapi tetap saja! Apakah ini bisa dibilang "kekuatan dari sang dewa" ...!

Oh, kedengarannya bagus ~. Jika kau memiliki sesuatu seperti itu, keluarkan saja. Kami sedang kekurangan makanan saat ini. Semua penghuni surga, saat ini mari kita singkirkan barisan kita dan bersenang-senang bersama, bagaimana? (Berburu Dewi)

Ide bagus. Aku ingin mencoba memakan makanan yang dipanen dari tanah ini juga (Dewa Pertanian)

………… (Dewa Musik)

Dewa Pertanian menyetujui pidato Dewi Berburu, dan Dewa Musik memainkan instrumen dengan suara "Po-ro-ro-ro-o-n". Karen-nee-san dan Moroha-nee-san menghela nafas seolah-olah mereka sudah menyerah.

Yare-yare. Apa boleh buat, kan? (Moroha)

Ya sudahlah~ noyo. Touya-kun. Jika kau memiliki masih memiliki makanan lain tidak masalah di keluarkan ~ noyo (Karen)

Aku pun mematuhi apa yang Nee-san katakan lalu mengambil makanan dan minuman dari [Penyimpanan] bersama dengan mejanya.

Dewi Berburu dengan rakus memakan makanan tersebut, sementara Dewa Pertanian memastikan dan memakannya secara perlahan. Dewi Alkohol masih melanjutkan minumnya sambil menikmati camilan, jadi masing-masing dari mereka sedang menikmati memakan yang telah aku letakkan di atas meja. Namun yang tersisa hanyalah Dewa Musik yang terus memainkan musik dengan nada sedih tanpa melepaskan alat musiknya. Akhirnya, Dewi Alkohol tidak tahan lagi, dan menyuapi yakitori ke mulutnya. Melodinya pun segera berubah menjadi ceria setelah itu. Seperti yang kuduga. Dia terhubung dengan alat musiknya dan menggambarkan emosinya dari musik juga, bukan? Omong-omong ada satu hal yang ingin aku katakan, lepaskan saja alat music itu.

Para nee-san akhirnya mulai mabuk dan mulai serius berpesta. Inipun berubah menjadi acara pesta para dewa.

Apa yang terjadi?

***

Apa yang sedang terjadi sebenarnya? (Touya)

Nah, itu karena mereka telah bekerja tanpa henti selama bertahun-tahun, jadi aku berpikir untuk membiarkan mereka memiliki hari libur di sana (Kami-sama)

Sejujurnya aku tidak ingin dunia ini menjadi tempat hiburan bagi para dewa.

Saat semuanya sedang sibuk berpesta, aku menelpon Kami-sama untuk meminta penjelasan.

Aku bertanya-tanya apakah tidak masalah membiarkan dewa-dewa yang tidak bijaksana untuk turun seperti ini. Tetapi setelah aku ingat kembali, dalam legenda biasanya memang dewa-dewa yang tidak bijaksanalah yang turun ke Bumi.

Yah, aku rasa mereka tidak akan menjadi penghalang begimu jadi tolong perlakukan mereka dengan baik. Walaupun mereka pasti akan merepotkanmu (Kami-sama)

Baru saja, Anda mengatakan "merepotkan", bukan? Anda tahu ini akan menjadi merepotkan, bukan ?!

Meskipun aku berkata mengatakan demikian, tapi suatu hari nanti keilahianmu pasti akan menjadi lebih tinggi dari mereka. Jadi bukankah lebih baik untukmu terbiasa dengan mereka dari sekarang? (Kami-sama)

Apa-apaan perasaan ini? Ini seperti aku yang akan menjadi CEO berikutnya, sedang diperlakukan sebagai karyawan baru dan diberi tahu untuk "Terbiasalah dengan pekerjaanmu!" Oleh orang tuaku, yang merupakan CEO saat ini.

Aku menarik napas panjang setelah menutup telepon. Apa yang harus aku lakukan mulai sekarang ~ ...?

Touya-onii-chan! Jangan murung murung bergitu, dan ayo Minum bersama-sama~ o Sake itu dapat membuatmu~ dapat membuat semua orang ~! Menjadi lebih legahhh ~ Dan melupakan masalah dari kehidupan ~ Lo Kalau begitu ini, ambillah secangkir ~! (Dewa Alkohol)

Dewi Alkohol mendatangiku dengan senyuman aneh. Gadis ini pasti sudah mabuk berat! Dan lebih parahnya lagi, aku di paksa untuk ikut minum dangannya. Apa-apaan Kekuatan ini! Jangan bilang kalau dia semacam master kenpou yang menjadi lebih kuat, semakin dia mabuk ?!

Setelah aku di paksa untuk duduk di mejanya, tiba-tiba Karen-nee-san mendekatiku sambil memegang alkohol.

 Jadi, Touya-kun? Seberapa jauh kamu sudah pergi dengan gadis-gadis itu ~ ?! Tolong beri tahu Onee-san ~ nanoyo Anda (Karen)

 Karen-nee-san menyeringai dengan wajah merah.


 ... Kamu juga mabuk, kan, Karen-nee-san? (Touya)

Aku tidak mabuk ~ noyo ~. Aku SE-PE-NUH-NYA tidak~ Fumu ~~ noyo ~ (Karen)

Kau itu mabuk! Kau benar-benar telah mabuk! Cara berbicaramu saja sudah seperti seorang peminum keras. Nafasmu juga menjadi aneh.

Saat aku ingin mencari Moroha-nee-san untuk meminta bantuan, tetapi ternyata dia sudah bersujud di atas meja. Lemah?! Dewi Pedang kita sangat lemah !!

Dia mungkin bisa berkali-kali menyelamatkanku dengan pedangnya setelah mabuk, tapi saat ini aku ingin dia menyelamatkanku sekarang.

Dewi Alkohol sedang minum dengan tegukan besar, sementara Dewi berburu sedang tertawa dengan keras. Dewa Pertanian hanya menikmati hidangan, dan Dewa Musik terus memainkan alat musik. Tidak ada satu pun sekutuku di sini.

Ah, ayolah! Sekarang aku mengerti apa arti dari “Biarkan saja anjing tertidur"!
(TL: “Let sleeping dogs lie” atau [触らぬ神に祟りなし] (sawaranukaminitatarinashi), artinya “jangan melakukan sesuatu tidak penting yang dapat menimbulkan masalah.”)







Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

6 comments:

  1. keren min terjemahan sama TLnya, tapi perbaiki terus min kesalahan-kesalahan yg ada biar lebih bagus seru bacanya

    ReplyDelete
  2. Mungkin belum ada yang tau nama dari Dewa/i dalam bahasa Jepang :

    Dewi Cinta : Renai-shin
    Dewi Pedang : Ken-jin
    Dewi Brrburu : Shuryou-shin
    Dewi Sake : Sake-shin
    Dewa Pertanian : Noukou-shin
    Dewa Musik : Ongaku-shin
    Dewa Dunia : Kamisama

    ReplyDelete
  3. KEMBALI KE PERADABAN SETELAH BENCANA LANGSUNG BUKA NIGHTFALL.....
    RINDUNGA LUAR BINASA....

    ReplyDelete