Saturday, 10 November 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 273 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu


Arc 27: Dunia Kebalikan

Chapter 273: 3 Behemoth, dan Pelerius



Setelah meminjam indra penglihatan burung panggilan yang dikirim ke pulau misterius itu, aku pun mengaktifkan [Gate].

Jumlah kekuatan sihir yang digunakan [Gate] ini 5x kekuatan sihir biasanya. Ini mungkin efek dari barir [Pemusnah Sihir]. Sepertinya koneksi [Gate] akan langsung terputus jika aku berhenti mengalirkan kekuatan sihir. Kalau kami ke sini dengan kendaraan terbang atau lainnya yang menggunakan kekuatan sihir untuk penerbangannya, kami pasti akan langsung terjatuh karena kekuatan sihirnya dipotong dari kendaraan itu.

Ooh, akhirnya bisa juga!(Touya)

Kota, yang ada di sebelah selatan pulau misterius itu bisa dilihat dari kejauhan. Kota itu dikelilingi tembok tinggi, yang bagian atas dan bahkan sampingnya diberi balista. Kota itu memberi impresi kota benteng.

Saat ini, kota itu dikelilingi 3 behemoth.

Behemoth tipe kera, Ular-Kong, yang berbulu coklat sedang memukuli barir. Behemoth tipe babi, Grand-Babi hutan, sedang menjauh untuk mendapatkan momentum pas lalu melancarkan serangan tabrakan berkali-kali. Behemoth tipe bison, Power-Bison, sedang menabrakkan tanduk besarnya yang terlihat seperti bor.

Salah satu dari mereka, yakni si Grand-Babi, dihujani panah dari ballista tembok kota.

Ooo…jadi barir sihir itu cuma mencegah masuknya sesuatu ke dalam, yah. Yah, kurasa itu sudah pasti.(Touya)

Para warga pasti tidak akan bisa menyerang balik behemoth itu kalau barirnya menghalangi mereka dari menyerang di kota. Omong-omong, terdapat banyak barir seperti ini di setiap Negara.

Tapi ya…sepertinya panah dari ballista tidak terlalu efektif. Beberapa panah memang menancap, tapi kebanyakan terpental oleh bulu tebalnya. Apa mungkin bulu itu diperkuat oleh sihir pengeras yah...

Aku hanya mengamati barir ini sebentar saja, tapi aku tidak yakin barir ini bisa bertahan. Asumsiku, barir itu bisa menahan serangan berlevel 10. Untuk para behemoth itu sendiri ya… Ular-Kong punya kekuatan level 3, Grand-Babi hutan level 5, sedangkan Power-Bison level 4.

Barir itu bisa bertahan dari serangan beruntun mereka kalau 2 dari mereka yang menyerang secara bersamaan. Kalau ketiga-tiganya menyerang pada waktu yang sama, barir itu akan hancur.

Kelihatannya aku tidak akan bisa berbicara dengan mereka. Jadi untuk sekarang, ayo bantu mereka terlebih dahulu.(Touya)

Setelah mengambil smartphone dari saku, aku mengkonfirmasi persiapan semuanya yang ada di Brunhild melalui panggilan. Setelah itu, aku pun membuka [Gate] di langit.

FrameGear pun turun satu persatu dari [Gate] yang kubuka itu. Dengan jatuhnya  ratusan mesin itu dari langit, bumi berguncang setiap kali mereka mendarat.

Baiklah. Elzie, urusi Ular-Kong. Yae, kau urusi Grand-Babi hutan. Hilda, kau lawan Power-Bison. Yang lain hanya akan berjaga-jaga. Berhati-hatilah karena mungkin di sekitar sini ada behemoth lain.(Touya)

Oke.

3 Frame milik Elzie dkk pun bergerak menuju behemoth masing-masing.

Setelah menyadari kehadiran mereka, behemoth itu terlihat seolah-olah sedang menyiapkan kuda-kuda menyerang pada Frame yang bergerak ke arah mereka.

Pertama, Ular-Kong menyerang Gerhilde milik Elzie. Frame merah kelam itu menghindari serangannya yang kemudian mendaratkan pukulan balik pada dada lawannya.

Explosion!!!!

Duaarrr! Serangan Pile Bunker pun menembus dada behemoth itu. Darah pun terciprat ke mana-mana dan behemoth itu terjatuh ke tanah.

Di sisi lain, Yae sedang meladeni Grand-Babi hutan. Schwertleite-nya berlari secepat peluru dan memotongnya menjadi dua dengan satu tebasan dari depan. Cepat sekali. Dengan tebasan indah tersebut, babi itu pun jatuh setelah terpotong menjadi dua.

Pada saat yang sama, Siegrune milik Hilda menghentikan serangan Power-Bison dengan perisainya dan memotong kepalanya layaknya guillotine dengan pedangnya.

Semuanya pun berakhir. Proses meladeni 3 behemoth itu bahkan tidak memakan satu menit.

Setelah mengalahkan mereka, 3 Frame itu pun menjauh dari kota dan berbaris di depan gerbang utamanyanya. Di belakang mereka, Frame putih, yakni Shining Count, maju ke depan dari gerombolan Frame yang berbaris rapi.

Sambil berdiri di bahu Frame itu, aku pun mengaktifkan beberapa speaker sihir di atas agar suaraku terdengar di setiap sudut kota. Setelah itu, aku mengatifkan mik smartphone untuk menyapa semua warga kota.

Kami adalah warga Daerah Kebangsawanan Brunhild yang terdapat di kontinen yang berada di selatan pulau ini. Kami tidak punya niatan jahat sama sekali dan berharap bisa berbicara dengan perwakilan kota kalian. Kami akan menunggu jawaban kalian dalam 1 jam.

Alasan memberi mereka 1 jam adalah agar mereka memaksa siapapun yang pantas menjadi perwakilan.

Dalam waktu sesingkat itu, mereka akan cepat-cepat mengumpulkan perwakilan karena kami tidak ingin mereka berpikir bahwa “tidak akan ada masalah tak peduli apapun yang mereka lakukan karena adanya barir pelindung ini”.
Akan bermasalah jadinya kalau tidak ada siapapun yang keluar untuk berkomunikasi. Walau aku berkata kami tidak punya niatan jahat, ada kemungkinan mereka punya impresi “kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kalau kita tidak keluar!”  

Jalan keluar terbaik adalah agar seseorang yang seperti gubernur atau pemimpin daerah keluar dan berbicara dengan kami, tapi mereka mungkin berpikir bahwa mereka pasti akan dibunuh. Jika begitu, kami masih menerima jika mereka mengirim pembaaw pesan. Tak masalah bagiku selama itu bisa menjadi awal mula untuk berdiskusi dengan mereka.

Mereka akan keluar, kan?(Rain)

Entahlah. Yah, tidak masalah kalau mereka tidak mau keluar sih, toh kita bisa pergi ke kota lain.(Touya)

Aku dengan santai menjawab pertanyaan komandan Rain. Meski begitu, jika kami pergi ke kota lain, kami tak akan bisa member kesan bahwa kami akan membantu mereka melawab behemoth dan bahwa kami bukan musuh mereka, jadi tak aneh jika kami tiba-tiba diserang oleh penghuni kota tersebut.

Kalau bisa, aku ingin membuat kota ini menjadi titik awal hubungan masa depan di antara kita dan membuat mereka menyampaikan pesan kita ke kota lain.

Aku memanggil Kougyoku dan memintanya untuk melaporkan situasi di kota.

Sepertinya seisi kota sedang heboh. Mereka mengobservasi kita dengan teleskop sambil menyiapkan semua balista dan pelontar.(Kougyoku)

Sudah kuduga.(Touya)
(Ramune: Kalau ini terjadi di Indonesia 2018..
aku cuma bisa berpikir:
Sepertinya seisi kota sedang heboh. Mereka mengambil foto kita dengan smartphone masing-masing sambil membuka media sosial masing-masing..
Mirisnya…)

Aku tidak tahu keputusan pemimpin mereka, tapi aku penasaran apa yang terjadi sampai-sampai mereka bersiap-siap untuk berperang.

Walaupun dari rumor yang kudengar, pemimpin mereka belum memutuskan apapun.

Kalau macam-macam, kami mungkin akan akan ditembaki panah dari ballista tembok, jadi pilihan kami hanyalah diam sambil tetap siaga. Bosannya….
Saat ini aku sedang tidur-tiduran di bahu Shining Count sambil menatap langit.

Baginda, gerbangnya sudah terbuka.(Rain)
Oh, apa mereka sudah keluar?(Touya)

Dari tadi, Rain telah mengobservasi situasi melalui kokpit Shining Count, jadi aku pun langsung melompat ke tanah saat ia mengatakannya.

Dari gerbang kota, terlihat kelompok ksatria berkuda sedang menuju ke mari. Mereka semua memakai armor di sekujur badannya, tegang sekali, yah.

Desain armor mereka terlihat berbeda. Apa ini karena mereka tidak terlalu berkembang sejak era Paruteno, yah? Mungkin karena mereka tidak punya banyak perang dengan sesama manusia, maka wajar saja jika teknologi mereka tidak berkembang.

Saat aku berdiri di depan barisan Framegear, para ksatria itu berhenti tepat 10 meter di depanku. Kemudian, seorang ksatria yang memakai armor plate mail kusam dan berjubah maju ke depan.

Saat ia berada tepat di depanku, ia turun dari kudanya dan mulai berjalan. Helmnya persis dengan helm bergaya Corinth dari zaman Yunani kuno, bagian depannya punya celah berbentuk T dan dekorasi kepala melekat di sampingnya.

Helm itu bukan helm yang menutupi sebagian besar wajah pemakainya seperti tipe bascinet atau armet yang kita lihat di film atau anime, jadi wajahnya bisa dilihat dengan jelas.

Ia lelaki berbadan besar dengan wajah tegang. Matanya lurus menatapku. Aku memang tidak merasakan adanya emosi sepeti marah atau benci darinya, tapi…

Saya Dient South, pewakilan kota sebelah selatan, Meridias, salah satu dari 4 murid utama dan juga keturunan Freyend South. Terima kasih karena telah membantu kami dalam insiden ini. Jadi….siapakah Anda?(Dient)

Saya Mochizuki Touya, Raja Penguasa Daerah Kebangsawanan Brunhild. Senang bertemu denganmu, Perwakilan Dient.(Touya)

Walaupun ia terkejut karena tidak menduga aku akan memperkenalkan diri sebagai Raja, ia tetap menggenggam tanganku dan memperlihatkan sikap ramah. Aku penasaran kalau apa yang terjadi sampai sekarang bisa dikatakan sebagai suatu kemajuan.

Saya telah mendengar bahwasannya Baginda datang dari arah selatan, jadi… dunia tidak hancur, apa itu benar?(Dient)

Begitu ya. Seperti yang saya pikirkan. Pulau ini memutus hubungan ke dunia luar sebelum Paruteno dihancurkan. Dunia memang tidak hancur. Sebagai buktinya, ada banyak Negara yang masih bertahan di dunia ini.(Touya)

Aku pun memproyeksikan peta dunia dari smartphone-ku. Peta itu juga mencakup pulau ini.

Inilah dunia saat ini.(Touya)
Ooh…(Dient)

Dient pun melihatnya.

Pulau ini ada di sini. Daerah Kebangsawanan Brunhild ada di sini. Brunhild adalah Negara yang sangat kecil, tapi kami memiliki Prajurit raksasa itu…. yang kami sebut dengan “FrameGear”, mereka merupakan warisan Paruteno. Hanya kami lah yang memiliki mereka. Karena alasan itu lah Negara kami tidak diinvasi Negara lain.(Touya)

Menakjubkan…(Dient)

Akan susah jadinya kalau ia meremehkan ukuran Brunhild yang kecil, jadi aku pun sedikit membesar-besarkannya. Walaupun bagian kami belum diinvasi sama sekali itu benar sih, Brunhild baru berdiri tahun lalu.

Kami berpikir bahwa dunia luar telah dihancurkan dan dikuasai makhluk kristal…(Dient)

Kalau tidak salah, peradaban masa lalu pernah hancur. Akan tetapi, orang-orang telah bangkit. Bagaimana kalau kita mendiskusikan masalah ini secara detail? Selain itu, ada beberapa hal yang ingin saya dengar dari Anda.(Touya)

…Fumu. Baiklah.(Dient)

Aku pun mengeluarkan meja dan beberapa kursi dari [Storage] dan menaruhnya di tanah. Dient terlihat bingung atas kemunculannya yang tiba-tiba dan akhirnya duduk ke kursi dengan sedikit takut.

***

Hal pertama yang kutahu adalah nama pulau ini. Namanya adalah pulau Palerius, diambil dari Penyihir Paruteno, Alerias Pelerius, Sang Petapa Waktu.

5000 tahun yang lalu, ia dating sendirian ke pulau ini, yang saat itu dinamakan pulau iblis, dan menemukan struktur yang bisa membuat barir alami. Iapun memutuskan untuk membuat pulau ini sebagai tempat eksperimennya.

Saat Palerius mati di Paruteno dan invasi Fraze terjadi, para muridnya yang sadar akan bahaya itu, langsung mengevakuasi keluarga masing-masing dan warga kampung halamannya ke pulau ini.

Mereka menggunakan peninggalan Palerius untuk memperkuat barir dan untuk mencegah masuknya Fraze. Pada akhirnya, pulau ini terputus dari dunia luar dan warganya pun tidak bisa meninggalkannya

Dikarenakan dahsyatnya invasi itu, 4 murid Palerius dan yang lainnya yakin bahwa dunia luar benar-benar hancur dan dikuasai oleh Fraze. Merekapun memutuskan untuk tinggal di pulau ini. Dan itu lah bagaimana mereka berakhir di situasi seperti ini…

Seperti yang saya duga, rupanya kalian terkurung di sini, yah?(Touya)

Tidak, kami menduga bahwa dunia luar telah dihancurkan oleh iblis kristal… oleh Fraze. Kami percaya bahwa semenjak invasi itu, dunia telah dikuasai mereka, jadi… kami tidak berpikir kalau kami telah terkurung sama sekali. Di masa lalu, ada beberapa orang yang berlayar ke dunia luar, tapi mereka semua malah kembali lagi ke titik awal.(Dient)

Mungkin karena barir [pengganggu rute], yah. Barir itu berupa kabut sihir yang ada di sekitar pesisir pantai pulau.

Aku kurang lebih sudah paham akan situasi pulau ini, jadi akupun memutuskan untuk mengangkat topik utama.

Topik utamanya adalah apakah mereka punya niatan untuk berinteraksi dengan Negara lain dan kemungkinan menurunnya angka kelahiran behemoth dengan menghilangkan barir.

Masalahnya adalah Fraze mungkin juga akan muncul jika kalian menghilangkan barir itu, tapi… (Touya)

Tidak…  saya berani mengatakan dua hal itu tidak ada hubungannya sama sekali. Kalau anda berkata kenapa, itu karena Fraze sudah pernah muncul di pulau ini.(Dient)

Eh?(Touya)

Saat aku bertanya apa maksudnya, ia mengatakan bahwa Fraze pernah muncul dua kali dalam dua tahun terakhir ini. Yang muncul cuma kelas-bawah, jadi penduduk pulau bisa mengalahkannya. Akan tetapi, penduduk sangat ketakutan akan kemunculan iblis kristal yang ada di legenda 5000 tahun yang lalu.

Mereka tidak bisa terhindar dari kemunculannya walaupun mereka bisa menahan invasinya.

Dengan kata lain, Fraze yang melintas ke dunia ini tidak bisa menginvasi pulau dari luar barir, tapi mereka bisa muncul ke dalam pulau ini secara langsung yang artinya tidak bisa ditahan oleh barir.

Kalau begitu, lalu apa gunanya barir itu? Barir itu tidak bisa menahan kemunculan Fraze. Penduduk tidak bisa keluar ke dunia luar. Dan juga, behemoth lahir di mana-mana. Situasi saat ini tidak begitu bagus.

Tepat sekali. Tapi tetap saja, saya berharap anda tidak merasa marah karena mustahil bagi kami untuk mempercayai semua ucapan Baginda Raja Penguasa — kami tidak punya cara untuk memastikan kebenaran ucapan anda.(Dient)

Yah, tentu saja. Mereka tidak bisa 100% percaya pada informasi yang diberikan orang yang tidak mereka ketahui dan ditambah lagi dengan kenapa orang itu tiba-tiba datang ke sini.

Masalah ini bukanlah sesuatu yang bisa saya tentukan sendirian. Kalau saja saya bisa berbicara dengan perwakilan Utara, Timur, dan Barat, serta Central-sama dari kuil utama…(Dient)

Central-sama?(Touya)

Central Palerius-sama adalah keturunan Sang Penyihir Waktu, Alerias Palerius. Barir pulau ini adalah warisannya, dan beliau lah yang selama ini menjaga [Pintu](Dient)

[Pintu]?(Touya)

Itu adalah artifak yang Palerius-sama coba buat saat masih hidup. Telah dikatakan bahwa kami bisa pergi ke dunia lain jika Pintu itu selesai. 4 muridnya memang meneruskan pembuatannya, tapi mereka tidak bisa menyelesaikannya.(Dient)

Pintu itu pasti gerbang transisi. Apa mereka mencoba melarikan diri dari pulau ini dengan menggunakannya? Tapi yah, kalau itu sesuatu yang Palerius coba buat, pastinya itu sebelum muridnya datang pulau ini. Apa artinya semua ini?

Aku penasaran apakah murid-muridnya mencoba kembali ke dunia luar barir setelah mengubah gerbang transisi itu menjadi Pintu yang Palerius coba buat. Terlebih lagi mereka tidak punya kepastian apakah mereka bisa menghubungi dunia luar 5000 tahun yang lalu.

Kalau begitu, bisakah saya meminta anda mengatakan hal ini pada perwakilan lain dan Central-sama? Tidak mau pun tidak masalah. Jika itu terjadi, kami tidak akan menginjakkan kaki lagi ke pulau ini. Negara-negara lain juga tidak bisa kemari kalau barirnya tidak dihilangkan.(Touya)

…saya mengerti. Ini hanya pendapat pribadi, tapi saya ingin terbebas dari barir ini.
Saya sudah muak hidup ketakutan karena behemoth.
(Dient)

Kami tentunya juga akan membuat kontrak pemusnahan behemoth dengan kalian. Sebagai gantinya, kami akan mengambil material behemoth yang dikalahkan.(Touya)

Setelah membuat perjanjian dengan Dient, perrwakilan kota selatan Merideis bahwa kedatangan kami selanjutnya adalah 2 minggu lagi, kami pun memutuskan untuk meninggalkan pulau.

Aku tidak punya firasat buruk akan pertemuan ini. Aku senang karena mereka tidak menjadi musuh, seperti yang terjadi di Sandora.

Akan tetapi, aku penasaran siapa yang memperbaiki [Barir Dunia] yang menutupi seluruh dunia ini 5000 tahun lalu. Kurasa Palerius, tapi sepertinya ia mati sebelum [Barir Dunia] diperbaiki.

Orang mungkin akan berpikir bahwa muridnyalah yang melakukannya, tapi itu tidak benar mengingat ke-4 muridnya mengucilkan diri di pulau ini.

Apa mungkin orang lain, yah?…atau… apa ada hal lain yang kami belum tahu? Para murid memperkuat Barir Dunia dengan warisan Palerius yang ada di pulau ini… Tidak-tidak. Seberapa membingungkannya kalau memang itu yang terjadi? Dan juga, kalau kita berasumsi ada efek samping pada percobaan pertama, maka akan sulit untuk melakukannya untuk kedua kalinya.

Kurasa aku tidak punya pilihan lain kecuali harus sampai di titik di mana aku bisa memperbaiki Barir Dunia sendirian. Untuk melakukannya, sepertinya aku harus menguasai Kekuatan Surgawiku dulu. Menurut Kami-sama, memperbaikinya butuh konsentrasi seperti memperbaiki jaring laba-laba dengan tangan kosong, tapi ya… haaa….

Kurasa menghabisi seluruh Fraze lebih mudah. Tapi ya, kelihatannya akan ada banyak hal yang tidak dinginkan kalau Barir dunia berlubang. Fraze bukan satu-satunya makhluk yang bisa melintasi dunia. Tolong hindarkan aku dari kemunculan makhkluk seperti Fraze yang ke-2 atau yang ke-3.

Aku mungkin bisa meminta keturunan Palerius, yang bernama Central itu untuk mengajarkanku hal-hal tentang barir pulau ini.

Haruskah aku mengharapkan sesuatu seperti itu? Karena kalau dipikir-pikir, aku juga sedikit tertarik pada “peninggalan” Palerius.

(Ramune: Siapa yang tidak penasaran/tertarik ke peninggalan orang hebat? Semua orang pasti tertarik.)



Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

4 comments: