Saturday, 10 November 2018

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 275 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Erixsu
Proof Reader
Mizuki Hashima


Arc 27: Dunia Kebalikan

Chapter 275: Pengaktifan, dan Tanah Asing



Setelah sampai ke lantai teratas kuil, aku pun melihat ke atas dinding.

Tempat ini persis dengan Coloseum tanpa tempat duduknya.

Tipe formasi sihir yang belum pernah kulihat menutupi lantai, sepertinya formasi ini adalah gabungan dari beberapa pola geometris.

Di tengah-tengah formasi sihir itu, ada “benda tersebut”.

Benda itu persis seperti [Pintu], tapi bukan pintu rumah.

Daripada dikatakan pintu, benda itu terlihat seperti gerbang.

Benda itu adalah [Pintu] mengkilap yang persis dengan Arch of Triumph dari Prancis.

Di atasnya, terdapat sebuah benda yang persis seperti wattmeter, dan di tengahnya ada benda semi-bundar yang persis seperti tachometer.
(Ramune: Anak Eletrik pasti tahu.)

Apakah itu terbuat dari besi, yah?

Karena mengkilapnya benda itu, aku tidak berpikir benda itu berumur lebih dari 5000 tahun.

Bolehkah saya memegangnya?(Touya)

Silahkan, lakukan apa yang ingin Anda lakukan.(Central)

Setelah mendapat izin dari Centoral.

Aku pun memegangnya dan akhirnya tahu bahwa benda itu terbuat dari besi seperti yang kuduga karena rasanya dingin.

Aku juga tahu kalau benda itu berisi banyak kekuatan sihir yang sangat kompleks.

Kelihatannya sangat kuat.(Yae)

Ini bukan orichalcum atau pun mithril… Ini besi yang belum kita ketahui sebelumnya.(Touya)

Aku mengangguk pada Yae, yang juga menyentuh lalu mengatakan pendapatnya.

Kemudian, aku mencoba memukulnya dengan kepalan tangan.

Ini memang besi.

Umu~. Ini [Chronotium], bukan? Ini pertama kalinya saya melihat Chronotium dengan tingkat kemurnian setinggi ini.(Regina)

Setelah turun dari Kohaku, profesor ikut menyentuhnya.

Dan mata Centoral menjadi bundar saat mendengar ucapannya.

Untuk bisa mengetahuinya dalam sekejap mata… Baginda, siapa anak ini?(Central)

Yah, sudah pasti ia akan terkejut karena profesor terlihat seperti bocah berumur 10 tahun.

Anak ini adalah Profesor Regina Babylon. Ia adalah insinyur sihir negara kami. Boleh kah ia menganalisa pintu ini dengan sihir non-atributnya? Saya rasa ia akan memahami sesuatu.(Touya)

Eh?! A-Ah~, bo-boleh, tidak masalah.…(Central)

Mengetahui pekerjaannya yang merupakah insinyur pasti lebih mengejutkan daripada masalah sihir dan lainnya.

4 Perwakilan di belakangnya pun juga sama terkejutnya, mereka memandangi profesor dengan tatapan penuh ketakjuban.

Profesor mengabaikan tatapan itu seolah-olah ia tak berurusan dengan mereka, lalu menyentuh [Pintu] itu dengan kedua tangannya yang kemudian dilanjutkan dengan mengaktifkan sihir analisisnya.

Analysis!(Regina)

Ia mungkin sedang menyusun semua informasi yang mengalir di kepalanya karena ia berkata “fumu” dan “hmm?” sambil mengerutkan jidat.

Aku, secara diam-diam juga mengaktifkan [Analysis], tapi aku langsung angkat tangan setelah mengetahui artifak ini dalam 2 detik.

Aku memang sedikit paham akan material dan strukturnya, tapi aku tidak paham bagaimana cara kerjanya.

Pengetahuanku dalam bidang ini dan kemampuanku untuk memahaminya sangat-sangat kurang sekali.

Ini adalah formula yang belum pernah kulihat sebelumnya. Benda ini sungguh mengagumkan. Aku yakin kalau benda ini diimbuhi sihir transisi dan waktu… seperti [Gate], tapi gimana yah… kenapa koordinatnya tidak spesifik? Enggak, daripada tidak spesifik, malah memang tidak diatur sejak awal… Jumlah kekuatan sihir yang dibutuhkan untuk mengaktifkannya sangat-sangat tinggi sekali. Yang artinya…(Regina)

Sambil mengabaikan profesor yang melalang buana di dunianya sambil mengatakan sesuatu, aku memutuskan untuk menanyakan informasi artifak itu pada Centoral.

Artifak ini peninggalan Alerias Palerius, bukan?(Touya)

Iya. Leluhur saya, Alerias Palerius membuat pulau ini sebagai tempat penelitiannya. Rupanya, kuil ini dibuat untuk [Pintu] ini, tapi Palerius meninggalkan pulau sebelum bisa menyelesaikannya. Setelah kematiannya, ke-4 muridnya mengambil alih penelitiannya. Kami semua diberitahu kalau mereka tidak bisa menyelesaikannya(Central)

Bukan, saya yakin kalau benda ini sudah selesai.(Regina)

Sambil memotong kata-kata Centoral, profesor menarik tangannya dari benda itu lalu mengusap keringat di wajah dengan jubah putihnya.

Kita tidak akan tahu kegunaannya kecuali mencobanya sendiri, tapi saya yakin kalau formula pengaktifannya melalui kekuatan sihir sudah selesai.(Regina)

Lalu kenapa artifak itu tidak bekerja walau sudah kami isi dengan kekuatan sihir?

Simpel. Kekuatan sihir kalian tidak cukup untuk mengaktifkannya.(Regina)

Tidak cukup?
…kalau dilihat dari ukurannya, kurasa pintu ini tidak akan memakan kekuatan sihir yang terlalu banyak.
Jangan katakan kalau formulanya akan memindahkan seluruh pulau.
Apa pintu artifak ini cuma dekorasi saja?

Tidak cukup…? Saya sendiri adalah orang berkekuatan sihir tinggi, tapi apa Anda pikir kekuatan sihir saya masih belum cukup?(Centoral)

Ucap Centoral pada profesor.

Walaupun kuantitas sihir Anda tinggi, saya rasa hanya sampai kuantitas sihir milik 2 atau 3 orang saja? Skala yang saya katakan di sini sangat berbeda. Saya memperkirakan bahwa setidaknya, Anda perlu mempersiapkan kekuatan sihir milik ratusan ribu orang untuk mengaktifkan formula sihirnya.(Regina)

Ratusan ribu…?!(Central)

Selain itu, jumlah sebanyak itu hanya akan mengaktifkannya dalam seper-detik. Orang biasa tidak akan pernah bisa mengaktifkannya. Kalau satu orang mengalirkan kekuatan sihirnya setiap hari, mungkin akan memakan waktu sekitar 300 tahun.(Regina)

Ia berkata bahwa satu orang itu harus mengalirkan kekuatan sihirnya terus-menerus selama 300 tahun tanpa henti, dan aktifnya kurang dari 1 detik…

Apa-apaan ini!?

Penggunaan kekuatan sihir benda ini sangat boros!
(Ramune: Semuanya teknologi memang begitu, Touya..
Dulu, PC itu segede gaban. Sekarang? Seukuran papan kecil.
5000 tahun yang lalu memang boros. Nah kalau dikembangkan gimana?)

Centoral dan 4 Perwakilan di belakangnya pun terdiam sejenak.

Cuma Yae, yang tidak bisa menggunakan sihir, yang memiringkan kepalanya.

Ia tidak paham ucapan kami.

Sepertinya orang dulu mencoba mengukir formula sihir ini untuk mencoba mendapat kekuatan sihir sebanyak itu, tapi hal itu malah bertentangan dengan formula awal. Jumlah yang dibutuhkan seharusnya berkurang sampai 1/100 dari jumlah awal kalau mereka berhasil menyelesaikannya.(Regina)

Jadi, apa kami bisa mengaktifkannya dalam tiga tahun kalau formulanya komplit?(Central)

Yah, itu hanya teori saya.(Regina)

Tiga tahun, yah?

Kalau segitu sih kurasa masih bisa.

Tiga orang akan menyelesaikannya dalam satu tahun, dan kalau 36 orang dalam satu bulan.

Setelah memikirkannya, sepertinya metode ini tidak efisien karena pengaktifannya tidak akan berjalan mulus kalau kekuatan sihirnya bermacam-macam.

Setiap orang punya gelombang sihir yang berbeda, atau harus kusebut dengan warna berbeda.

Sebuah kanvas yang dilukis selama 36 hari dengan 36 warna berbeda akan berbeda dengan 1 kanvas yang digambar dengan 1 warna selama 36 hari.

Kalau pembahasannya adalah penyatuan kekuatan sihir, akan lebih baik kalau yang melakukannya hanya 1 orang saja.     

Jadi memang belum selesai, yah…(Central)

Sudah selesai, tapi kekuatan sihirnya tidak cukup. Yah, karena di sini ada Touya-kun, ia pasti bisa mengaktifkannya.(Regina)

Ah… Jadi memang seperti ini, yah? Sudah kuduga.(Touya)

Aku pun menggaruki kepala melihat senyuman profesor.

Umm… Saya paham kalau Baginda memiliki banyak kekuatan sihir, karena ia bisa memindahkan banyak prajurit raksasa, tapi… seberapa banyak…(Central)

Entahlah. Kekuatan sihir saya hampir tidak berkurang, jadi masih banyak. Walaupun saya memanggil ratusan hewan panggilan, jumlahnya tetap tidak akan berkurang banyak.(Touya)

Ha… ?(Central)

Kurasa jumlahnya tidak berkurang bahkan setelah aku memanggil 5 hewan surgawi (Kohaku dkk) beserta anak buahnya.

Berkurangnya kekuatan sihirku semakin sedikit setelah Kekuatan Surgawi-ku bangkit.

Sejujurnya, kurasa aku sudah menjauh dari apa yang dinamakan manusia biasa.

Walau sudah lelah untuk mengatakannya sih.

Saya pasti bisa mengaktifkannya. Oleh karena itu, bolehkah saya melakukannya?(Touya)

Ah, tentu saja. Kalau itu bisa membuat kami paham akan apa yang Palerius-sama coba lakukan, maka…(Central)

Setelah mendapat izin Centoral, aku pun mempersiapkan diri.

Berdasarkan bentuk dan formulanya, seharusnya pintu ini sama dengan [Gate].
Tapi, aku tidak tahu ke mana tujuan pintu ini.

Akan berbahaya kalau tujuannya adalah bawah laut, sama seperti saat aku menemukan [Kebun Langit] milik Shesca.

Sebagai penjaga, aku tidak akan membiarkan Touya-dono berada dalam bahaya…(Yae)


Sudahlah Yae, yang dibahas ini aku. Aku pasti bisa kembali tak peduli ke mana pun aku pergi, dan pasti bisa mengurus situasi apapun seumpama hal itu terjadi.(Touya)

Akhirnya, aku bisa membujuk Yae untuk menunggu di sini walaupun ia enggan membiarkanku sendirian.

Kemudian, kami memberi barir perlindungan di area sekitar untuk berjaga-jaga seumpama pintu itu mengarah ke laut, barir berbentuk setengah kubah seharusnya bisa menahan hantaman air.

Kalau sampai itu terjadi, aku hanya harus menutup [Pintu] itu.

Baiklah, haruskah kucoba sekarang?(Touya)

Setelah menyuruh semuanya mundur, aku memegang [Pintu] itu lalu mengalirkan kekutan sihir.

Kemudian, kaset putar yang ada di atasnya mulai bergerak.

Jarum tachometer-nya juga ikut bergerak.

Oooo! Jadi gunanya untuk mengukur kekuatan sihir yang dialirkan padanya, yah.

Saat aku mengalirkannya dengan lebih cepat, kaset putar itu bergerak cepat, dan indikator di tachometer naik dari 0 ke setengah.

Selain dua hal itu, formasi sihir yang ada di lantai mulai bersinar.

Ooh…!!
Ini…!

Orang-orang di sekitar pun terkejut melihatnya, aku juga ikut terkejut tapi untuk alasan lain.

Walau kekuatan sihir yang kualirkan sudah cukup banyak, artifak itu masih belum full, dan [Pintu] itu masih menyerap kekuatanku.

Akhirnya, bukan formasi sihirnya saja, tapi kuilnya juga ikut bersinar.

Tachometer-nya menunjukkan 80%.

Kejadian naik-turun pun terjadi di tengah-tengah [Pintu].

Sedikit lagi dan gerbangnya akan terbuka.

Setelah mengetahuinya, aku pun semakin mengalirkannya.

Saat tachometer menunjukkan 100%, terlihat tanah lapang dengan pepohonan dan langit di depan [Pintu].

Ternyata, tujuan [Pintu] ini bukan tempat berbahaya.

Sudah terhubung, yah?(Touya)

Mungkin portal itu akan tertutup kalau aku berhenti mengalirkan kekuatan sihir, jadi aku pun bergerak sambil terus menyentuh [Pintu].

Baiklah, aku pergi dulu ya.(Touya)

Setelah mengatakannya, aku pun masuk ke dalamnya.

Aneh.
Rasanya seperti menerobos selaput rapuh.

Aku langsung memasukinya untuk menghilangkan perasaan tidak mengenakkan itu.

Perasaan menginjak tanah pun kembali saat aku berdiri di tengah-tengah hutan.

Aku pun menoleh ke belakang, tapi portal itu sudah tidak ada.

Seperti yang diduga, gerbang transisi itu hanya bisa digunakan 1x saja.

Aku merasa lelah karena kekuatan sihirku tinggal setengah.

Walau akan terisi kembali, sih.

Baiklah, aku penasaran di mana tempat ini.
Apa ini Hutan Besar?
…enggak.
Kelihatannya bukan.
Sepertinya ini hanya hutan biasa.

Setelah mengeluarakan smartphone, aku mencoba memproyeksikan peta.

Lho?(Touya)

Entah kenapa petanya tidak bisa dibuka.

Lah, kok bisa?
Apa ada barir di sekitar sini?
Atau apakah ini gara-gara “Penyihir Waktu”, Alerias Palerius?
Tidak, ia tidak bisa menyelesaikannya, jadi seharusnya tidak.

Akhirnya, aku mencoba memanggil Yae, tapi tidak bisa.

Hal yang sama juga terjadi saat aku mencoba menghubungi Kohaku lewat telepati.

Sepertinya barir yang kuat telah diaplikasikan di sekitar sini.

Rupanya, penggunaan sihir tidak terganggu karena aku bisa mengeluarkan sihir setelah mengaktifkan sihir angin.

Saat memikirkannya, aku mendengar suara pohon tumbang bersama dengan suara teriakan dari kejauhan.

Aku pun berlari ke tempat yang terlihat seperti jalan besar.

Di sana, terlihat pepohonan dicabut dari akarnya.

Apa-apaan ini!?

Aku pun melihat dinosaurus berkepala 2 yang terlihat seperti T-rex kecil menyerang kereta besi besar.

Haaa!?(Touya)

Reptil T-rex berkepala 2 (atau naga, yah) itu adalah makhluk sihir yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Hal ini membuatku berpikir keras.

Akan tetapi, aku melihat sesuatu yang lebih mengejutkan dari reptil itu.

Kereta besi… Biasanya, “kereta” adalah sesuatu yang ditarik kuda.

Melihat kereta besi itu sudah biasa, tapi makhluk yang menariknya bukan lah kuda.

Kereta itu seperti… kepiting?

Benda itu punya beberapa kaki di kanan kirinya, membuatnya terlihat seperti kepiting, tapi tanpa jepitnya.

Akan tetapi, benda itu terlihat seperti kepiting mesin yang membuatku semakin berpikir keras.

Selain itu, benda itu bukan kereta biasa.

Entah kenapa aku merasa kalau itu seperti [Bis].

Aku penasaran apakah aku bisa menyebutnya dengan [Bis-Kepiting].
(Ramune: Tolongi Toulol! Jangan berpikir keras lalu memberi nama aneh!)

Benda apa itu…? (Touya)

Saat aku mengucapkannya naga berkepala 2 menabrak kepiting itu, yang membuatnya terhempaskan.

Pada saat yang sama, terdengar jeritan orang di dalamnya.

Duh! Ini bukan waktu untuk berpikir keras dan melihat hal itu.
(Ramune: Tayo! Tayo! Dia Bis-Kepiting Bangs*t!)
(Mizuki: Sebagai Proofreader kalimat diatas saya segel.)
Ya elemen Api! Buatlah Pilar Api yang Suci! Inferno Fire!(Touya)

Sebuah pilar api pun mengelilingi naga itu karena sihirku.

Sambil merintih kesakitan, ia menjauh dari kereta itu, jadi aku pun berlari sambil mengeluarkan Brynhildr dengan Blade Mode dari [Storage], yang kulanjutkan dengan memotong kepalanya menjadi 2 dengan sekali tebasan.

Setelah kehilangan kepalanya, naga itu pun terjatuh yang membuat tanah sekitar bergetar.

Kepiting mesin itu pun kembali berdiri, dan beberapa orang terlihat mengintip dari dalamnya.

Sepertinya mereka baik-baik saja.

Kemudian, seorang lelaki menuju ke arahku sambil tersenyum lalu mengatakan sesuatu.

Atihsamirakusat. uotagiraomuod

su devas evah uoy. Uoy knahk

…Ha?(Touya)

Ini buruk, aku tidak paham bahasa mereka.
Hmm?
Apa mungkin bahasa yang kutahu tidak berlaku di sini?

Bisa kah Anda berkata dengan bahasa dunia?(Touya)

Hee? Eugnot ngierof a gnikaeps uoy era? Em ot tcelaid nwonknu na si ti, yllaer….

Duh.

Pedagang, pak tua berkumis itu pun terlihat bingung karena sama-sama tidak paham.

Oke lah kalau begitu.
 Kurasa aku tidak punya pilihan lain karena ia tak paham kata-kataku.

Aku pun menggunakan gerak tubuh yang menunjukkan bahwa aku tidak punya niatan jahat, lalu mengulurkan tangan.

Melihatnya, ia pun juga mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku.

Segala puji bagi Kami-sama, sepertinya mereka juga punya budaya bejabat tangan.

Aku melakukannya karena sihir yang kupunya tidak akan bekerja kecuali aku memegang lawan bicaraku.

Translation!(Touya)
(Ramune: All hail Google Translate!!!!)

Kekuatan sihirku pun mengalir padanya.

Setelah mendapat informasi yang berguna, ia pun kembali lagi padaku.

Apa kau memahami ucapanku?(Touya)

Ah, jadi kau bisa bahasa Alent, yah? Syukurlah. Aku sampai bingung barusan…(Pak Tua)

[Translation] adalah sihir dekripsi.

Sihir itu menyerap bahasa dari ingatan lawan dan membuat pengguna bisa mengetahui bahasa mereka.

Ooo, jadi bahasa “Alent”, yah?
Gak pernah dengar.

Namaku Pedro Sancho, pedagang keliling. Terima kasih karena telah menyelamatkan kami anak muda.(Pedro)

Sama-sama pak. Ah, nama ku Mochizuki Touya.(Touya)

Touya-san, yah? Nama yang unik. Di mana asalmu?(Pedro)

Aslinya sih “Bumi”, tapi mustahil bagiku untuk mengatakannya.
Oleh karena itu, aku harus menjawab seperti biasanya.

Aku lahir di Ishen, tapi sekarang tinggal di Brunhild.(Touya)

Ishen? Brunhild? Ini pertama kalinya aku mendengar nama itu. Apa tempat itu ada di perbatasan?(Pedro)

Ia tak pernah mendengar Ishen atau pun Brunhild?
Ada di mana aku ini oii!!!?

Aku pun menanyakan hal yang kupikirkan pada Sancho-san.

Umm, mungkin terdengar aneh, tapi apa kau tahu di mana tempat ini pak? Aku sedikit tersesat.(Touya)

Ooo… tempat ini adalah jalan menuju daerah timur ibukota Alen yang jauhnya 2 hari kalau memakai kereta.(Pedro)

Ibukota Alen?… Ibukota negara apa itu pak?(Touya)

Negara apa, katamu… Karena namanya ibukota Alen, bukankah sudah jelas kalau itu ibukota Kerajaan Suci Alent? Ah, tunggu sebentar yah.(Pedro)

Sancho-san pun berjalan ke kereta, lalu kembali lagi sambil membawa sesuatu yang persis kertas.

Ini namanya peta. Coba lihat, tempat ini merupakan daerah Kerajaan Suci Alent. Dan di sini lah ibukota Alen(Pedro)

…mustahil…(Touya)

Melihat isi peta itu membuatku ketakutan. Benda ini memang peta dunia. Tidak ada bedanya dengan peta smartphone kecuali 1 hal.

Ishen itu seharusnya ada di ujung timur, kan ya.

Nah, sekarang malah ada di ujung barat peta.

Bentuknya pun juga terbalik.

Yap.


Bagiku, peta ini adalah peta dunia yang terbalik kanan kirinya sama seperti  saat melihat sebuah cermin…


Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

4 comments:

  1. Kok orang yang pergi ke isekai tersesat lagi di isekai lainnya oh shit

    ReplyDelete
  2. Ahahahahahaha selalu ketawa klo baca selipan komen GG si Ramune di nih TL XD

    ReplyDelete