Monday, 31 December 2018

A Rank Chapter 11


TranslatorEden
Editor
Shiro7D
Proof Reader
Shiro7D

Chapter 11 :
Rumah yang Nyaman

Setelah itu, entah bagaimana aku berhasil membuatnya setuju untuk menjual makanan yang kuminta begitu saja, lalu aku pergi ke tempat kerjanya untuk menuntaskan tujuan utamaku kemari.
Di dalam, terdapat banyak meja yang berjejer. Dan di atasnya ada banyak hasil kerajinan kayu yang belum selesai beserta alat-alat untuk memotong seperti gergaji.
Mungkin karena terdapat sangat banyak kayu di sini, aku bisa mencium aroma kayu dari tempat ini.
Di setiap sisi dinding terdapat tumpukan kayu yang cukup panjang untuk menggapai atap. Kurasa kayu-kayu itu dipotong dari berbagai jenis pohon yang berbeda karena kayu-kayu itu punya nuansa warna yang berbeda mulai dari terang sampai gelap, bahkan sebagian kayu ada yang berbentuk melengkung.
Aku khawatir kalau tumpukan kayu itu akan jatuh, tapi nampaknya keamanannya sudah dipertimbangkan karena bagian bawahnya sudah dikunci dengan pengaman besi.
(Eden: Gembok kali yak?)
Baiklah, sekarang waktunya membahas urusan kita.
Toack-san pun masuk ke dalam bengkel dan mulai menyingkirkan sisa-sisa kayu yang ada di lantai.
Kau benar-benar akan menjual makanan padaku setelah ini, kan?
Iya-iya, aku mengerti.
Saat aku memastikan kalau dia akan menjual makanan padaku setelah ini, Toack-san menjawab dengan kesal.
Apakah dia tidak berniat menjualnya padaku atau dia hanya tidak peduli tentang hal itu yah?
Yah, yang terpenting aku sudah memegang ucapannya tadi, jadi mari mulai saja.
Jadi, apa yang kurang di rumahmu?”
Toack-san bertanya padaku sambil mengetuk meja setelah merapikan tempat kerjanya.
Itu berarti dia mulai berpikir serius.
Aku tak punya banyak benda untuk memenuhi kebutuhan hidupku saat ini. Jadi kurasa aku membutuhkan sebuah kursi, meja, tempat tidur, sofa, beberapa peralatan makan, dan juga sebuah lemari”
Hanya itu yang bisa kupikirkan sekarang. Beberapa hari lagi aku mungkin akan menyadari kalau ada banyak barang yang kurang. 
Oh. Itu akan membuatku sibuk. Tapi kalau kursi dan meja, ada yang sudah jadi. Di gudang juga ada beberapa lemari. Dan semuanya masih baru, kau mau melihatnya?
“Tapi aku ingin barang yang dibuat secara khusus”
Kalau membahas masalah uang aku jelas punya, karena itu aku mau kursi yang paling nyaman untuk kugunakan. Aku juga mau tempat tidur yang sangat nyaman yang dapat membuatku ingin tetap di sana saat aku bangun.
Mulai sekarang aku akan terus tinggal di rumah itu. Karena itu aku mau menggunakan perabotan yang bagus.
Saat aku memberitahukan rumah yang ideal untukku,Toack mengerutkan dahi dan menggaruk kepalanya.
Ehm… Kalau kau mau semua kubuat khusus, itu artinya akan memakan waktu cukup lama. Aku juga punya pesanan lain selain pesananmu. Apa kau tak masalah tinggal tanpa ada perabotan untuk sementara?
Hmm… Itu akan sulit..."
Aku menjawab dengan mengerutkan wajah setelah mendengar ucapan Toack-san.
Kemarin aku cukup kesulitan melalui hari tanpa perbotan rumah. Jadi setidaknya aku ingin punya meja dan kursi secepatnya untuk saat ini, lalu untuk tempat tidur kurasa aku masih ingin yang dibuat secara khusus.
Mari mulai memikirkan barang yang di perlukan seminimal mungkin untuk saat ini, dan memesan barang-barang yang ingin dibuat secara khusus untuk kedepannya.
Yah, mungkin kalau hanya tempat tidur saja, aku bisa membuatkannya secara khusus agar jadi yang paling nyaman untuk ditiduri.
Ohh, kalau begitu tolong buatkan aku sebuah tempat tidur secepatnya. Aku tak mau tidur di atas lantai dengan sehelai kain sebagai selimut lagi.
Saat bangun, aku merasakan sakit yang hebat di punggungku. Bahkan aku masih merasakannya. Aku mau bangun dengan nyaman di pagi hari.
Kalau begitu kau sebaiknya membeli sofa. Harusnya bisa menjadi pengganti tempat tidur untuk sementara.
Benar juga!!”
Jika aku sudah punya sofa, aku bisa sering bermalas-malasan dan tak perlu duduk di atas lantai.
(Eden: -_-)

Aku diyakinkan oleh ucapan Toack, jadi aku melihat-lihat kursi dan meja di sudut ruangan.
Tapi selain melihatnya, aku juga ingin duduk dan menyentuhnya agar tahu bagaimana rasanya, jadi aku meminta izin kepada Toack-san untuk melakukan itu.
Aku meminta izin padanya untuk berjaga-jaga agar dia tidak marah karena menyentuhnya tanpa seizinnya.
Bahkan pandai besi di toko senjata akan marah jika kau menyentuh pedang buatan mereka tanpa izin.
Ini produk yang sudah jadi, kan? Tidak akan rusak kalau aku mencoba mendudukinya, kan?
Semua yang di sini adalah barang jadi, jadi tenang saja. Ahh, tapi yang satu itu, salah satu kakinya akan patah. Karena sudah mulai lapuk.”
Toack mengerutkan dahinya sambil menunjuk salah satu kursi di samping.
Oioi, apa itu baik-baik saja? Kepalaku tidak akan terbentur karena kehilangan keseimbangan kalau duduk di situ kan?”
Selain barang itu, semuanya baik-baik saja. Itu hanya kebetulan tercampur di sini. Selain itu semuanya sudah aku cek.
Aku menatap Toack dengan curiga.
Apa dia yakin? Aku sedikit khawatir.
Yah, aku akan mempercayainya setelah aku memeriksanya sendiri. Jika aku melihat ada barang yang seperti itu tercampur lagi aku akan menjadikannya alasan untuk mendapat bahan makanan yang lebih banyak darinya.
Aku mulai dengan memeriksa kursi. Nampaknya kursi-kursi ini dibuat dari jenis kayu normal yang berwarna terang dan lengkungan di punggung dan gagangnya dibuat dengan sangat indah. Teksturnya sangat lembut dan rasanya nyaman.
Aku duduk sambil merasakan sandaran kaki yang pas dan tidak ada tanda-tanda akan goyang.
“Kurasa kalau itu Toack-san… Dia pasti bisa membuat sebuah kursi yang bagus dan nyaman walaupun wajahnya seperti itu.”
“Wajah tidak ada hubungannya dengan membuat perabot yang bagus!”
Dengan wajah masam, Toack-san menjawab perkataan yang kugumamkan saat duduk di kursi.
Begitukah? Sebagai orang yang membuat perabot untuk digunakan orang lain, bukankah kau takkan bisa membuat sesuatu tanpa memikirkan mereka? Bagaimana jika ada orang yang suka membengkokan punggung mereka agar merasa nyaman saat mereka duduk?

Kau juga harus menyesuaikan usia dan tinggi pelanggan, jadi kupikir mustahil untuk membuat perabotan yang bagus tanpa memikirkan orang yang akan menggunakannya.
Apaan?… Nyengir-nyengir sendiri.
Ucap Toack saat dia berbalik dengan tatapan kurang nyaman setelah aku menatapnya dengan tatapan hangat.
“Tidak, aku hanya berfikir kalau kursi ini sangat nyaman”
Itu karena kursi itu aku sesuaikan untukmu. Itu sangat pas untukmu yang tingginya hampir sama denganku, bukan? Yah, walaupun kurasa setiap orang dewasa pada umumnya memiliki tinggi yang hampir sama." 
Yep. Nampaknya itu pas untukku. Mungkin aku harus meletakkannya di ruang tamu nanti”
Kebetulan sekali aku dan Toack memiliki ukuran tubuh yang hampir sama, mari lihat apa lagi yang akan dia sarankan padaku.
Baiklah, masih ada yang lain  dengan jenis yang sama di gudang, jadi aku akan membawanya kemari. Dengan begitu, aku tak perlu membuatnya lagi.
Ucap Toack-san ketika aku memutuskan kalau aku mau kursi yang ini.
Eh? Aku tak membutuhkan satu set dengan empat kursi, karena aku tinggal sendirian.”
Oi, bagaimana kalau kau kedatangan tamu? Karena kau bisa dibilang sedang bergantung pada kepala desa, bukankah lebih baik kau mengundangnya ke rumahmu untuk menyantap cemilan sebagai tanda terima kasih karena diperbolehkan menetap?”
Ah, benar juga.
Aku tidak memperkirakannya karena aku selalu tinggal di penginapan.
Sama seperti saat Flora mengunjungiku kemarin, tidak baik jika Ergys-san datang dan aku tak bisa mempersilakannya duduk untuk minum teh.
Tampaknya aku belum menghilangkan kebiasaanku yang biasanya tinggal di penginapan.
Mulai sekarang aku akan sering mengajak Toack bersantai di rumahku.
Jadi, aku mau rumahku bukan hanya nyaman untukku, tapi juga untuk para tamuku.

***

Tak lama setelah itu, Toack-san membawa beberapa kursi yang sama dari gudang dan juga sebuah meja yang sesuai untuk di ruang tamu.
Tinggi kursinya sangat cocok dengan mejanya, jadi kurasa aku akan meletakkan keduanya di ruang tamuku.
Setelah itu kami pergi ke gudang dan memilih beberapa laci dan sebuah lemari yang pas untuk rumahku.
Kurasa nanti Toack-san akan membantuku membawanya ke rumahku.
Sekarang tinggal peralatan makan.
Aku bergumam di atas kursi yang akan kubeli.
Kalau mulai sekarang kursi ini akan menemaniku, aku akan membuat diriku nyaman dengannya.
Kalau mau peralatan makan, aku juga punya.
Walaupun kau seorang pengrajin perabot?”
Aku terkejut dengan ucapan Toack.
Aku tinggal di desa sekecil ini, lho? Aku tak akan bisa melewati hari-hariku tanpa membuat barang-barang yang kuperlukan. Yah, membuat peralatan makan juga menyenangkan, dan juga bisa menjadi latihan dasar yang baik.
Aku mengerti. Apa aku boleh melihatnya?
Tentu, ikuti aku.”
Aku bangkit dari kursi dengan cepat dan mengikuti Toack-san.
Aku melihat banyak sendok dan garpu dari kayu saat dia membuka laci di dinding. Saat dia membuka laci lain di sebelahnya, aku bisa melihat setumpuk piring yang dipakainya untuk sarapan. Dan di atasnya, ada banyak piring dalam berbagai ukuran, mulai dari piring datar, piring sup, piring kecil, dan bahkan terdapat cangkir yang jelas sekali dibuat dengan handal.
Hehh… Ini luar biasa.
Aku membuka lebar mataku saat melihat ini semua.
Ehm, Ini tidak terlalu sulit.
Ucap Toack sambil menggaruk pipinya. Dia tampak sedikit malu.
Yah, aku sudah tahu ini sih, tapi dia itu memang orang yang tak mau menunjukkan jati dirinya.
Aku menoleh ke arah lain dan diam-diam tertawa.
Semua alat makan buatan Toack sangat halus dan bagus. Dan saat aku memegangnya, terasa sangat nyaman.
Meski begitu, semua barang ini sangat bagus yah, sampai-sampai aku bingung mau pilih yang mana. Bahkan aku sempat berpikir untuk membeli semuanya.
Entah kenapa ini mengingatkanku pada saat aku punya cukup uang dan mengganti senjataku untuk pertama kalinya.
Ohh, nampaknya piring ini cocok untuk dituang sup. Piringnya bagus karena masuk cukup dalam... dan yang ini juga... yang ini juga bagus jika saja bagian bawahnya sedikit diperdalam.
… Nampaknya kau sedang bersenang-senang”
Ucap Toack-san saat melihatku kesulitan memilih berbagai jenis peralatan makan di tanganku.
Hmm, iya. Aku akan memilih yang akan kupakai tiap hari, kan? Memikirkannya membuatku sangat senang. Lagian, semua peralatan makan buatanmu nyaman dipegang.

… Begitu ya.
Toack-san memberi jawaban singkat dan berpaling menghadap jendela.

Aku bisa melihat wajahnya sedikit senang.
Yah, sudah kuduga dia orang yang tak mau jujur. Walaupun kurasa begitulah dirinya dan aku tidak bisa membayangkan jika dia menjadi orang yang jujur.
Aku berbalik menghadap ke laci dan mengambil beberapa peralatan makan lagi.
Oi, bodoh. Jangan ambil semua sendok yang ukurannya sama, kau akan membutuhkan ukuran sendok yang berbeda agar lebih mudah makan makanan yang berbeda.

1 comment: