Wednesday, 3 April 2019

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 288 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Erixsu
Proof Reader
Mizuki Hashima


Arc 27: Dunia Kebalikan

Chapter 288: Hari Ke-2, dan Pagi Hari 



Hari ke-2 festival.

Babak final baseball dan penyisihan shogi akan dimulai hari ini.

Di pagi hari, akan ada permainan antara Restia vs Misumido, dan Belfast vs Regulus di stadion pertama dan kedua.

Di siang harinya, tim yang menang akan bermain lagi untuk menentukan siapa pemenang turnamen baseball ini.

Akan tetapi, sebelum itu akan ada permainan lain untuk menentukan siapa juara ke-3. Tim yang kalah akan bermain lagi. Walaupun mereka akan kelelahan, memulihkannya terasa mudah dengan adanya ramuan khusus buatan Flora dari “Bangunan Alkemi”.

Di sisi lain, permainan shogi akan terus berlanjut dari pagi sampai malam. Penyebabnya adalah jumlah peserta yang di luar dugaan, sangat banyak sehingga pembagian waktunya agak menyusahkan.

Biasanya, shogi punya sesuatu yang mirip dengan pembagian waktu, tapi hal itu terlalu menyusahkan. Oleh karena itu, telah ditetapkan bahwa “setiap pemain diberi waktu maksimal 2 menit untuk memindahkan bidak”.

Pembatasan waktu ini bisa dilihat dengan adanya bidak shogi spesial yang warnanya berubah ke abu-abu dalam 1 menit. Kalau 2 menit, warnanya berubah menjadi hitam, yang menyatakan pemain itu kalah.

Nah.. kalau bidaknya dipindahkan sebelum berubah menjadi hitam, warnanya akan kembali seperti semula.

Kami juga menyiapkan jam pasir dengan waktu 2 menit bagi pemain shogi untuk memikirkan gerakan mereka.

Sejujurnya, aku ingin turnamen shogi berjalan selaras dengan jadwal yang sudah dibuat, tapi pesertanya terlalu banyak, selain itu, turnamen ini berbeda dengan baseball dan seni bela diri. Hal ini dikarenakan shogi adalah permainan yang tidak dibatasi umur dan gender.

Orang yang menang di permainan hari ini akan bermain dengan pemain undangan keesokan harinya.

Aula tunggu dipenuhi banyak orang saat aku datang. Para pemain undangan seperti Doran-san dari “Silver Moon” dan si Raja bocah Paluf yang menyamar terlihat sedang mengamati permainan antar pemain lain dengan penuh semangat.

Karena aku bukan maniak shogi, aku menghabiskan waktu dengan berpatroli.

Barusan, ada seorang pemain yang membanting papan shogi karena ia hampir kalah. Akan tetapi, papan shogi khusus kami bisa merekam posisi setiap bidak. Oleh karena itu, usahanya sia-sia. Akhirnya, ia didiskualifiasi.

Omong-omong, Naito-ossan yang kemarin diberi cuti, sedang mengurus berjalannya babak penyisihan ini. Akan tetapi, kelihatannya ia sakit karena kebanyakan minum sake kemarin.

Yap, kurasa efek sakenya masih ada.(Touya)

Iya, tapi sepertinya semua orang bisa bersenang-senang. Coba lihat itu, kakek dan anak itu bermain dengan gembira.(Yae)

Di tempat yang Yae tunjuk, terlihat seorang kakek tua dan cucunya sedang bermain shogi. Kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya cucunya lebih unggul daripada si kakek.

Sebentar, apa tidak masalah bagi Yae tidak menemani Juutarou-san?(Touya)

Kakanda akan mengikuti turnamen seni bela diri mulai besok. Oleh karena itu ia melakukan latihan khusus di tempat latihan Orde Ksatria sejak tadi pagi. Aku tidak ingin mengganggunya, jadi... aku ingin menemani Touya-dono…(Yae)

Saat wajahnya memerah, Yae menyatukan jari-jarinya dengan gelagat menarik. Tentu saja, aku tidak punya alasan untuk menolak keinginannya 

Kalau begitu, mau lihat-lihat di stadion baseball? Kurasa sudah waktunya untuk penentuan tim yang akan maju ke final.(Touya)

Ha...?…ah! Kalau begitu, aku ingin ganti baju dulu, jadi… tunggu aku di “Silver Moon”…(Yae)

Hmm…oke…(Touya)

Setelah itu, Yae berlari menuju istana.

Kurasa ia tidak perlu ganti baju…

Ia mungkin berkeringat karena melakukan latihan tadi pagi.

Saat aku berjalan menuju “Silver Moon”, jubahku ditarik seseorang sehingga aku hampir terjatuh.

Aku pun menoleh ke belakang sambil berkata “Apa-apaan ini?” dalam benak.
Di sana, terlihat si Dewi alkohol bocah sedang memegangi jubahku.

Hey! Tunggu sebentar!

Oi, kau pikir apa yang sedang kau lakukan…?(Touya)

Touya-onii-san, ini permintaan sekali seumur hidupku. Pinjami aku uang buat beli alkohol. Tadi Karina-chan menyita alkoholku-u~. Ini kan festival, sedih rasanya tidak minum alkohol saat festival...(Suika)

Ucap Suika sambil terus merengek dan menarik-narik jubahku.

Hentikan! Ingusmu keluar! Ayolah! Apa-apaan sih Dewi bocah ini?

Sebelumnya, aku mengira ia bisa membuat alkolohnya sendiri karena ia adalah Dewi alkohol, tapi ternyata salah besar. Kelihatannya ia tidak boleh membuat alkohol karena hal ini termasuk ‘kekuatan para Dewa’.

Omong-omong tentang apa yang ia bisa ia konstribusikan, rupanya ia memiliki ilmu tentang alkohol. Oleh karena itu, ia bisa menganalisa sebuah alkohol dengan meminumnya, ia tidak akan bisa mabuk tak peduli seberapa banyak yang ia minum. Kalau dipikir-pikir, terdengar curang…

Oh~! Apa ia bisa melakukan seni bela diri mabuk, yah?
…curang sekali…

Walaupun ia terlihat mabuk, mungkin terasa sedikit pening saja baginya.

Bukannya kau punya gelas yang bisa membuat anggur?(Touya)

Ta-tapi! Tapi gelas ini hanya bisa membuat anggur suci para Dewa, “Nektar”, dan aku sudah bosan! Sudah BOSAAAAN!!!!! Selagi ada festival, aku ingin minum alkohol dari berbagai tempat!(Suika)

Ia mulai merengek “do-do-da-da”. Bukannya aku tidak paham perasaannya, tapi aku ingin setidaknya ia menjaga nama baiknya. Ia kan Dewi.

apa ia tidak punya yang namanya harga diri?
… orang sering berkata “kau tidak bisa menang melawan anak kecil dan orang mabuk”, tapi bocah ini termasuk dua-duanya.
Ini buruk! Tatapan semuanya membuatku malu.

Aku menghela nafas dan berjongkok sehingga ketinggian kepala kami sama.

Oke, gini… setelah festival berakhir tidak masalah. Kalau kau tidak membuat masalah dan membantu pelayan istana, aku akan membuat acara minum-minum untukmu. Janji...?(Touya)

Itu mudah! Kalau setelah itu aku bisa minum alkohol sepuas hati, aku bisa libur tidak minum alkohol dulu! (Suika)

Dilihat dari mana pun, cukup aneh rasanya mendengar bocah mengatakan libur tidak minum alkohol, tapi kurasa tidak masalah. Aku tidak ingin menemui masalah seperti ini lagi.

Sip. Beneran tidak masalah lho ya? Terus… ini lagi, ambil ini. Walaupun bentuknya aneh, kau tidak akan terluka, lho? (Touya)

Aku mengambil 1 koin emas dan sekantong daging sap….aa…naga dari dalam “Storage” dan memberikannya pada Suika.

Satu koin emas ini memang terlalu banyak kalau yang dibeli cuma alkohol, tapi bocah ini pasti akan beli alkohol. Selama itu alkohol, ia tidak mempedulikan harganya.

Omong-omong, ternyata ia tidak keberatan dengan rasanya. Walau seumpama tidak enak, ia berkata kalau setiap alkohol punya rasa unik tersendiri. Kalau memang begitu, apa ia tidak bohong dengan ucapannya tadi? Bukannya ia cuma bercanda?

Yah, seharusnya dengan ini ia bisa bertahan selama 3 hari. Ini lebih baik daripada memegangiku seperti tadi.

Yaafuu~! Terima kasih~! Aku mencintaimu, Touya-onii-chan~!(Suika)
(Ramune: Kalau loli biasa, semua orang pasti akan senang mendengarnya.
Tapi entah kenapa kalau lolinya kayak Dewi sialan ini, malah aneh..)

Setelah menerimanya, Suika mencium pipiku dan berlari menuju toko alkohol.

Dasar Dewi pecinta alkohol.

Setelah berpisah dengannya, aku berjalan menuju “Silver Moon”, yang lebih ramai daripada kemarin-kemarinnya.

Walau sekarang masih belum siang, tempat makan dipenuhi orang yang menyantap makanannya.

Kelihatannya ada banyak orang yang belum dapat makanan.
…aah! Apa ini gara-gara Doran-san pergi melihat pertandingan shogi, yah?

Biasanya “Silver Moon” tidak seramai ini, dan dengan adanya beberapa pelayan saja seharusnya mereka bisa mengurusi semuanya.

Saat aku masuk ke dapur, terlihat Mika-san memasak dengan terburu-buru.
Ia memasak seolah-olah sedang berada di medan pertempuran.

Yo Mika-san~ perlu bantuan?(Touya)

Ayo bantu! Aku terlalu sibuk! Pertama-tama, ambil dan antarkan ini ke meja 3!(Mika)

Walaupun aku mengatakannya dengan nada bercanda, aku langsung disodori talam berisi semangkok sup, daging, dan gorengan sayur.

Eeh? Serius?

Kalau seperti ini, mustahil aku menolaknya, jadi aku tidak komplain dan berjalan ke meja 3. Saat aku menaruhnya ke meja, ada 1 pelanggan memanggilku dari meja lain.

Bung. Ambilkan kami ikan polo bakar, kentang rebus, dan salad sayur.(Pelanggan)

Eeh? Aah, baik. 1 ikan polo bakar, 1 kentang rebus, dan 1 salad sayur.(Touya)

Aku disuruh-suruh.

Oi, tunggu dulu bung, aku tidak bekerja di sini tahu!

Tapi mau bagaimana lagi… aku pun kembali ke dapur dan memberitahu Mika-san mengenai pesanan orang tadi. Setelah itu, aku disodori talam berisi makanan lain.

Oi! Tunggu sebentar!

Aku mencoba mengatakan “kurasa sudah cukup”, tapi merasa tidak enak melihat tatapan dingin Mika-san yang seolah-olah mengatakan “Lakukan!”. Aku tidak punya pilihan lain selain menelan ucapanku.

Ini benar-benar medan perang.
Ia terlalu mengerikan.

Aku memang tahu kalau ada pepatah “Gunakan siapapun yang ada di sana” sih, tapi aku tidak menyangka ia akan menyuruh seorang Raja untuk melakukan pekerjaannya…

Aku pun kembali berjalan ke meja yang ia beritahu dan lagi-lagi mendapat pesanan.

Ini buruk! Aku tidak kunjung selesai!

Baginda?! Apa yang Anda lakukan?

Orang yang memanggilku dari depan “Silver Moon” tidak lain dan tidak bukan anggota Orde Ksatria baru kami, Lance-kun.

Apa ia ingin makan siang? Ia pasti ingin menemui Mika-san, tapi saat ini ia mengeluarkan aura yang mengerikan. Kesampingkan itu, sekarang aku bisa kabur dari semua ini!

Lance-kun! Aku memberimu Titah Raja!(Touya)

Eh?! Ah, baik!(Lance)

Untuk hari ini, kau harus membantu “Silver Moon”. Aku akan memberitahu keabsenanmu pada komandanmu. Tugasmu adalah mengantar, mengambil, makanan dan mencatat pesanan. Lakukan sekarang juga!(Touya)

Haa? duh, BAIK!!!!(Lance)

Sambil terus berdiri, ia mendengarkan titahku yang kemudian ia teruskan dengan berlari ke dapur.

Seperti yang diharapkan dari orang yang lahir di Kerajaan Ksatria Restia. Bahagia rasanya punya ksatria yang loyal seperti dirinya.

Tak lama kemudian, Lance-kun memakai apron. Ia mengantar pesanan ke meja, dan mencatat pesanan dari pelanggan persis dengan apa yang barusan kulakukan.

Jangan membenciku lho, ya? Anggap ini sebagai salah satu cara mengambil hati Mika-san.

Aku takut disuruh-suruh lagi, jadi aku meninggalkan tumbal dan kabur dari “Silver Moon”.

Sambil menunggu Yae di samping pintu masuk, aku menelpon Rain-san untuk mengabari situasi Lance-kun. Aku lega karena sepertinya mereka menyuruh orang lain untuk menggantikan tugasnya.

Kupikir semuanya akan jadi lebih baik kalau Mika-san menaruh brosur perekrutan pekerja di guild adventurer. Karena kalau dipikir-pikir, besok, Doran-san masih ikut turnamen.

Maaf membuatmu menunggu.(Yae)
Oh…(Touya)

Saat menoleh ke belakang karena mendengar suara itu, aku bisa melihat Yae berbusana yukata dengan gaya rambut topang.

Ia, yang bisa disebut dengan “Gadis anggun ber-yukata dari Jepang”,  memakai yukata ungu muda dengan corak matahari di dalamnya, selain itu, ia memakai obi biru muda, dan juga sepasang geta. Ia terlihat… menawan.


Sebelumnya kau berkata kalau ini adalah festival, jadi aku meminta ibunda dan kakanda untuk membawanya. Ba-bagaimana dengan penampilanku?(Yae)

Yah… cocok, kok. Aku sampai tidak bisa memikirkan kata yang pas untuk mengatakan seberapa cocoknya yukata ini denganmu.(Touya)

Sa-sampai segitunya, yah?(Yae)

Sejujurnya, kau bisa melihat banyak orang memakai yukata di sini. Hal ini dikarenakan Brunhild punya banyak imigran dari Ishen, jadi sudah lazim bagi mereka untuk memakai yukata di saat-saat festival seperti ini.

Akan tetapi, sampai saat ini, aku belum pernah melihat orang dengan yukata yang cocok secocok Yae dengan yukata-nya.

Apa ini gara-gara aku mencintainya sampai-sampai kesanku seperti ini?

Aku bahkan sampai meninggalkan katana-ku…(Yae)

Yah…kurasa itu sudah lazim, Yae…(Touya)

Yukata + katana…?

Gak cocok lah. Kalau ia benar-benar berpenampilan seperti itu, ia akan terlihat seperti samurai miskin tidak bertuan. Aku lega ia lebih memilih menjadi gadis dengan rasa gaya yang normal.

Walau aku tetap menyembunyikan sebuah belati di bagian perutku, sih.(Yae)

Walau tidak sepenuhnya normal sih…

Untuk saat ini, ayo pergi ke stadion. Walau pun tim yang maju ke babak final sudah ditentukan, tapi sepertinya babak penentu juara ke-3 masih akan dimulai. (Touya)

Begitulah. …ah…umm…e~to, Touya-dono. Bi-bisakah kita berpegangan tangan…?(Yae)

Aku pun memegang tangannya yang gemetaran tanpa ba-bi-bu lagi, dan mulai berjalan.

Walau sama-sama menunjukkan ekspresi malu, aku tetap berjalan menelusuri kota bersama dengan Yae yang terlihat bahagia.

Oo iya, kalau tidak salah kemarin aku menerima laporan tertentu. Intel kami mengatakan kalau ada beberapa rombongan yang mendirikan tenda di luar kota karena penginapan kota sudah penuh. Ini terjadi karena pada awalnya, aku tidak menduga kotaku akan kedatangan orang sebanyak ini.

Kami sudah membangun beberapa penginapan. Beberapa penginapan itu bisa mengatasi tamu dari mancanegara kalau tidak ada event seperti festival ini. Aku jadi penasaran, apakah jumlah penginapan kami sudah cukup?

Saat kami sampai di stadion baseball ke-2 di mana babak penentu juara ketiga diadakan, hasil dari permainan sebelumnya dipajang di sebuah papan yang ada di tempat masuk.

Stadion pertama — Misumido, stadion ke-2— Belfast, yah?(Touya)

Itu artinya babak penentu juara ketiga ini antara Restia dan Regulus.(Yae)

Betul sekali. Saat kami memasuki tempat penonton, permainan sudah dimulai. Ini sudah inning ke-3 dengan skor masih 0-vs-0, dengan Regulus yang memukul.

Saat kami mau duduk, suara keras terdengar dari tempat pemukul. Kami menoleh, dan terlihat sebuah bola putih terbang.

Oi! Bukannya arahnya ke mari? Oi, jangan ke sini lah. …syukurlah, tidak sampai ke mari.

Sorakan penuh kegembiraaan pun terdengar. Barusan itu adalah homerun yang mengagumkan.

Si pemukul mengangkat tangannya sambil berlari melewati base. Regulus punya banyak pemukul hebat, yah? Negara lain juga punya pemukul hebat sih, tapi milik Regulus adalah yang terbaik.

Di base ke-2 ada seorang runner. Oleh karena itu, skornya menjadi 0-vs-2. Permainan ini baru dimulai, jadi hal ini bisa terulang lagi. Yae dan aku pun memutuskan untuk melihat bagaimana berjalannya permainan ini.

***

Kalau aku disuruh mengomentari, hasilnya adalah “Regulus terus memimpin dengan perbedaan 2 poin di atas Restia”.

Itulah hasil dari babak penentu juara ketiga.

Sisanya adalah babak final antara Misumido dan Belfast di stadion 1.

Aku jadi penasaran siapa yang akan menang nanti.(Yae)

Misumido memang lebih kuat dari segi kekuatan fisik, tapi mereka tidak akan menang dengan mudah. Sedangkan Belfast, mereka punya tim dengan daya serangan, pertahanan, dan kecepatan yang seimbang.(Touya)

Para penonton mulai meninggalkan stadion ini dan pergi ke stadion 1. Mereka ingin menonton babak final.

Kami sendiri… juga sama, tapi kami bertemu dengan rombongan Belfast. Mereka memakai lencana bintang, jadi semua orang pasti melihat mereka sebagai orang biasa.

Yumina pun memberitahu Raja Belfast yang ia temani.

Sudah kuduga. Kau pasti mau melihat finalnya, kan?(Yumina)

Saya sangat tertarik dengan turnamen shogi, Touya-dono. Jadi tolong… kalau nanti anda akan mengadakan festival seperti ini lagi, tolong aturlah jadwalnya dengan lebih baik. Sungguh disayangkan jadwal festival ini kacau balau.(Trystwin)

Aku tersenyum pahit mendengar ucapannya. Ya jelaslah, persiapan festival ini kan sangat sebentar.

Sepertinya Raja Belfast ingin menonton babak penyisihan shogi karena besok ia akan ikut serta.

Ternyata, karena berkata akan mengalahkan kakaknya, Duke Ortlinde tetap tinggal untuk terus melihat bagaimana jalannya babak penyisihan shogi. Besok Duke juga akan berpartisipasi, jadi ia pasti sedang mengobervasi pergerakan lawan.

Aku penasaran apakah Sue akan bosan lalu pergi ke mari.

Saat Yae dan Yumina berbicara…

PAMAN! TOUYA! Oh! Yang lain juga ada!

Sambil ditemani pelayan keluarga Ortlinde, Reim-san, Sue berlari, melompat dan menabrak punggungku.

Dalam hal-hal seperti ini, ia masih sama seperti bocah, tapi tetap saja imut.

Sudah kuduga kau pasti datang. Apa kau bosan melihat shogi?(Yumina)

Di sana cuma ada suara kayu. Ayah cuma melihati bidak dan berbicara sendiri, jadinya aku bosan.(Sue)

Fuu! Sue menggembungkan pipinya. Ia cepat bosan, jadi ia pasti lebih menyukai permainan yang lebih mudah dipahami.

Biarlah..ayo menonton permainan baseball bersama-sama.

Saat Sue turun dari punggungku, ia melirik baju Yae.

Baju Yae bagus. Itu ki-mo-no, kan?(Suu)

Ini Yukata, Sue. Kami memakainya kalau ada festival.(Yae)

Busana itu memang bagus. Bagaimana kalau kita menyiapkan yukata untuk semuanya supaya bisa memakainya di festival selanjutnya?(Yumina)

Bagus tuh. Aku juga ingin memakainya nanti! (Sue)

Kalau begitu, kurasa kita perlu belajar menenun dari ibunda. Yukata-ku ini buatannya lho.(Yae)

Semenjak itu, aku mendengarkan percakapan para gadis yang entah kapan mulainya, sambil berjalan ke stadion 1 tempat di mana babak final diadakan.


Akhir dari turnamen ini akan dimulai.

Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

1 comment: