Tuesday, 4 June 2019

Isekai wa Smatrphone to Tomo ni Chapter 291 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
Mizuki Hashima
Proof Reader
Mizuki Hashima


Arc 27: Dunia Kebalikan

Chapter 291: Hari Ke-3, Siang Sampai Sorenya



Di atas panggung, terlihat enam orang sedang bertarung sengit.

Menyerang, bertahan, menghindar, menerima serangan, menusuk, menebas satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, satu persatu mulai tumbang.

Mereka yang kalah atau pingsan akan langsung ditransisikan ke luar panggung, ke tempat di mana perawat berpengalaman akan menyembuhkan mereka.

Untuk melindungi nyawa peserta, berbagai alat telah dipasang di panggung. Sihir transisi barusan itu adalah salah satu dari mereka.

Dua orang terakhir masih terus menyerang. Seorang adventurer bersenjatakan pedang besar sementara peserta lainnya adalah pemuda bersenjatakan katana.

Siapa pemuda itu? Ah! Rupanya Kokonoe Juutarou-san, kakak Yae.

Kami meminjamkan senjata pada para peserta, semuanya akan baik-baik saja karena senjatanya tumpul. Akan tetapi, menerima serangan langsung pedang besar akan membuat patah tulang atau bahkan kematian.

Yah…selama mereka belum mati, ada kesempatan sembuh. Selain itu, Moroha-nee-san, selaku wasit akan menghentikan pertandingan seumpama situasinya bahaya.

Juutarou-san menghindari tebasan pedang besar sambil memperbesar jarak.

Kalau dilihat dari penampilan, pengguna pedang besar itu unggul, akan tetapi, saat aku berpikir Jutarou-san mencari kelengahan lawan, ia melesat ke depan secara tiba-tiba.

Katananya mendarat ke tubuh lawan secepat kilat.

Duak! Sebuah suara terdengar dan pengguna pedang besar itu pun jatuh, yang akhirnya ditransisikan ke luar panggung.

Selesai! Pemenaang grup G adalah… Kokonoe Juutarou!!!

Moroha-nee-san berteriak dan sorakan + suara tepuk tangan penonton pun terdengar.

Juutarou-san membungkuk, turun dari panggung dan berjalan menuju ruang tunggu peserta.

Ia menang dengan mudah, yah?(Yumina)
Iyalah… soalnya kakanda sangat terampil.(Yae)

Yae meng-iyakan ucapan Yumina dengan penuh bangga.

Kami, yang datang untuk melihat laju babak penyisihan turnamen seni bela diri, terdiri dari aku, Yumina, dan Rue. Di sana, kami bertemu dengan Yae dan Hilda yang sampai duluan.

Sepertinya berjalan dengan mulus, hampir setengah peserta telah selesai bertanding. Jumlah peserta turnamen ini sangat banyak, jadi babak penyisihan pun dibuat menjadi battle royal atau baku hantam bebas. Tak bisa dipungkiri…mode baku hantam seperti ini punya ciri khas tersendiri.

Hilda…apakah Raja Ksatria…apa Reinhardt-san sudah selesai bertanding?(Touya)

Kakanda ada di grup A, yang sudah selesai dari tadi. Mungkin ia sedang melihat pertandingan lain dari bawah sana.(Hilda)

Tempat yang ditunjuk Hilda adalah ruang tunggu yang ada di lantai 1.

Ah! Hampir lupa. Tergantung laju pertandingan, kakak Yae dan Hilda mungkin akan bertemu. Aku harus mendukung yang mana, yah? Walau terdengar sepele, aku tidak bisa mendukung mereka berdua.

Apa kenalan kita ada yang sudah lolos?(Touya)

Ada…Komandan Ksatria Gaspar dari Regulus, Jendral Leon dari Belfast, dan Baba-dono sudah lolos.(Yae)

Jadi Baba-ossan juga lolos, yah…? Yah…aku mengatakannya karena melihat umurnya, aku tidak ingin ia melakukan hal berat.

Kurasa hasil ini sesuai dengan harapan dari salah satu 4 Raja Surgawi Takeda.

Touya-sama, lihat itu…(Hilda)

Aku melihat wajah yang tak asing dari salah satu peserta grup H, yang akan bertarung di panggung.

Ia memiliki kulit coklat disertai pola sisik dan telinga dengan ujung yang tajam. Dua tanduk di kepala, dan ekor tebal di belakang, menunjukkan kalau ia berasal dari Suku Naga.

Sepertinya Sonia-san juga berpartisipasi.(Touya)

Petarung wanita jarak dekat dari Suku Naga, ia adalah seorang adventurer dan salah satu kenalan kami saat kami mengikuti “Upacara Pemangkasan”, yang merupakan turnamen seni bela diri di Hutan Besar. Kami juga melawan Kaisar Surgawi palsu di Yuuron bersama-sama.

Setelah mengalahkannya, rupanya ia terus bekerja sebagai adventurer dengan pergi ke dungeon kami dan dengan hal lain, jadi tidak heran ia berpartisipasi dalam turnamen ini. Kalau dipikir-pikir, ia berpetualang untuk mempelajari seni bela diri lain.

Omong-omong, Rengetsu-san pasti juga ikut. Aku mengingat si botak pengguna bojutsu. Ia pernah berkata kalau ia adakah teman seperjuangan.

Saat aku terdiam memikirkannya, pertandingan dimulai dan atraksi peserta bisa dilihat di panggung.

Seorang pengguna kapak menerima pukulan Sonia-san, membuatnya hampir keluar panggung.

Berkebalikan dari ekspektasiku, ia menerima serangan lain. Serangan tak terlihat menyerangnya dari depan, dan ia terhempas keluar. Tentu saja, keluar itu sama saja dengan diskualifikasi.

Itu pasti “Hakkei”-nya Sonia-san. Kemampuan itu sangat menyusahkan karena jaraknya yang cukup jauh.

Pada akhirnya, Sonia-san lolos dan maju ke babak selanjutnya dengan mulus. Petarung dengan gaya yang sama dengannya, seperti Jendral Leon Belfast akan tampil, tapi sepertinya ia lebih terampil darinya…

Yah…orang bijak berkata kalau kemenangan itu tergantung kemujuran nasib, jadi kami semua tidak tahu pasti.

Aku kok jadi ingin ikut, yah…(Yae)

Aku juga…(Hilda)

Oioioi. Sudah kubilang, bukan…kita ini orang yang akan mengurusi masalah apapun yang mungkin terjadi….jadi yang fokus, oke?(Touya)

Yae dan Hilda pun mengeluarkan suara penuh kekecewaan, jadi aku harus mengingatkan mereka berdue dengan sebuah senyuman.

Ini adalah pendirian…dan aku sedikit khawatir seumpama membiarkan mereka berpartisipasi, terlebih lagi mereka berdua dan Elzie.

Selain itu, mereka juga telah menjadi Dependan dari beberapa Dewa sekaligus. Tidak menutup kemungkinan kalau 3 peserta terkuat akan dimonopoli Brunhild, yang akan membuat festival menjadi membosankan. Aku tidak ingin membuat orang berpikir bahwa turnamen ini sudah didesain sedemikian rupa.
(Ramune: Daripada melihat orang OP, melihat adegan orang biasa bertarung sekuat tenaga akan lebih menyenangkan bagi kebanyakan orang..
Hal ini juga berlaku pada lomba, dan kompetisi lain.
Makanya gak heran kalau orang-orang akan menjauhi anak jenius/berbakat…)

Kelihatannya berjalan dengan mulus. Ayo pergi ke tempat lain. Ooo iya, Sakura dan yang lain sedang melakukan sesuatu di sekolah …(Touya)

Saat aku ingin mengajak mereka ke sekolah, ada telepati dari salah satu binatang panggilan yang tersebar di kota.

…maaf, ada sesuatu.(Touya)

Eh?

Aku meninggalkan semuanya, dan ber-teleport ke tempat lain.

Aku melakukannya di bawah bayangan bangunan agar tidak terjadi keributan. Setelah itu, aku langsung berpindah ke jalan yang ramai.

Saat melawan arus jalan, terlihat seseorang ber-bandana hitam sedang berlari. Di belakangnya ada seekor tikus kecil. Tikus itu ialah anak buah Kohaku.
Jadi ia orangnya, yah?

Aku langsung menghadangnya.

Ah? Siapa kau?
Bisakah kau mengembalikan barang yang ada di sakumu?
…aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.
Kau memeganginya, bukan? Dompet yang kau curi.

Chi! Ia menjentikkan lidahnya dan daripada dompet itu, ia mengeluarkan pisau dari sakunya dan menusukkannya padaku. Sepertinya ia benar-benar bodoh, ia kan bisa langsung kabur.

Aku menghindarinya, memegang tangannya, memutarnya dan mengangkatnya ke atas. Kesakitan karena tangannya tertekuk, ia pun menjatuhkan pisaunya dan jatuh ke bawah.

Guaaa!? Ba-bangsat! Apa yang kau lakukan?!

Aku cuma menyerangmu sekali, lho. Si tikus menarik keluar dompet darinya. Dompet itu terbuat dari kain kelas tinggi, tidak selevel dengan penjahat sepertinya.

Menurut laporan tikus, orang ini mencurinya dari pedagang keliling. Kalau dilihat dari posisi, aku lah yang terdekat, jadi aku langsung menghadangnya.

Tak lama kemudian, beberapa ksatria Brunhild datang dan menangkapnya.

Awalnya, ia bersikeras kalau dompet itu miliknya, dan ia memintaku untuk menunjukkan bukti kalau ia mencurinya. Akan tetapi….ia langsung terdiam setelah aku menunjukkan status sosial-ku dan memproyeksikan adegannya, yang kuambil dari si tikus dengan “Recall”.

Para ksatria membawanya ke pos jaga. Setelah melihat mereka pergi, aku memutuskan mengembalikan dompet itu ke pemiliknya. Uang di dalamnya sangat banyak, pemiliknya pasti sedang kerepotan.

Untungnya, karena aku punya ingatan tikus itu, aku tahu siapa pemiliknya.

Aku membuka peta, dan menemukannya dengan mudah. Sepertinya orang ini ada di depan. Aku harus segera mengembalikannya.

Saat sampai di depan stan, terlihat lelaki gemuk berpakaian ala pedagang sedang bertengkar dengan pak tua pemilik stan. Warna baju orang itu terlalu banyak merahnya. Aku tidak tahu ini karena penglihatan tikus itu cuma 1 warna. Ia pedagang yang cukup nyentrik.

Apa maksudmua dengan “aku tidak punya uang”!? Kalau kau mau kabur tanpa membayar, maka…

Tidak! Dompetku tidak ada! Mungkin jatuh atau aku kecopetan…

Oops! Sepertinya situasi ini menjadi “Tak punya dompet dan pergi tanpa membaayar”. Ini buruk.

Permisi pak. Apa ini dompetmu yang hilang?(Touya)

Eh? Ah! Dompetku!?

 Setelah memanggilnya dari belakang, aku mengembalikannya. Sepertinya aku tidak salah orang.

Setelah aku menjelaskan situasinya secara detail dan menjelaskan kalau ia tidak punya niatan buruk, ia berhenti marah-marah dan menerima uang darinya.

Terima kasih banyak atas bantuannya.

Ia membungkuk. Sejak pertama kali melihatnya, aku tertarik pada 1 hal darinya.

Baju merahnya terlihat menarik, dan ia memakai topi yang sama dengan turban. Untuk orang berumur 40-an, fisiknya bagus. Semua itu ditambah dengan janggut hitamnya membuatnya terlihat seperti pedagang Arabi. Akan tetapi, hal yang menarik perhatianku adalah warna kulitnya.

Kulitnya lebih merah bahkan dari Sonia-san sekalipun. Sangat merah sampai-sampai kau bisa memanggilnya lelaki merah. Apa mungkin ia ini…

Apa kau salah satu penduduk merah… dari suku Arkana?(Touya)
Oya? Apa kau kenal dengan keluargaku?

Sudah kuduga. Suku kuno yang punya keyakinan kalau merah adalah warna suci, mereka meninggalkan tulisan dan menyegel 1 Fraze di bawah bekas Ibukota Belfast. Kabar juga mengatakan kalau suku ini pernah mengunjungi Kerajaan Elfrau 1000 tahun yang lalu. Pedagang ini mungkin keturunan mereka.

Kalau kau memang berasal dari suku Arkana? Aku ingin kau melihat sesuatu.(Touya)
Baiklah…

Aku mengeluarkan beberapa foto dari “Storage”. Itu adalah tulisan yang ada di salah satu dinding reruntuhan saat kami mengunjunginya.

Mungkin ia bisa membacanya.

Ia memegangnya, dan…sambil menghela nafas, melihatinya.

Ini… tulisan suku Arkana sejak masa lampau. Di masa sekarang ini, hampir tidak ada yang bisa membacanya bahkan anggota suku sekalipun, lho?

Apa itu artinya kau tidak bisa membacaya? Addahhh….

Tidak..aku bisa melakukannya. Nenekku adalah penjaga kuil, jadi ia pernah mengajarkannya padaku. Saat ini, mungkin orang yang bisa membacanya hanya 5 orang.

Tidakkah itu terlalu sedikit..?  Tulisan itu….selain digunakan sejak masa lampai, mungkin digunakan untuk menulis sesuatu yang penting. Mungkin huruf-huruf itutidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Hmmm… “Kami, bangsa merah, menulis ini. gerombolan iblis bersinar muncul dari portal neraka dan memburu semua orang. Saat ibukota hampir hancur, 2 ksatria kecil, hitam dan putih, dipanggil oleh sang Raja. Mereka menembaki mereka sampai yang terakhir, menutup portal, dan pergi ke suatu tempat. Kami meninggalkan wadah iblis ini agar kau bisa mengalahkannya saat portal neraka terbuka lagi. Jangan sekali-kali mengalirkan kehidupan padanya”… kurang lebih seperti itu.

Hal yang ia baca….membuatku tambah pusing.

“Iblis bersinar” pasti fraze. “Portal neraka” mungkin keretakan barir.

Jadi…siapa “ksatria hitam dan putih”?

Di mana kau menemukannya?

Di sebuah reruntuhan kecil yang ada di bawah Ibukota lama Belfast.

Begitu ya… Sejarah mengatakan kalau orang yang berpisah dengan suku utama berpindah ke tanah Belfast. Tulisan itu mungkin salah satu peninggalan mereka.

1000 tahun yang lalu, para Fraze menginvasi Ibukota lama. Untuk mengirim pesan pada generasi selanjutnya, bangsa merah atau suku Arkana, membuat reruntuhan itu. Akan tetapi, kenapa mereka harus menguburnya? Reruntuhan itu bukan….dibuat untuk menghilang begitu saja…bukan?

Mungkin perintah Raja, dan setelah beberapa lama mereka lupa akan hal itu. Tidak…bangsa merah memang membuat bangunan bawah tanah untuk menyegel fraze… tapi tetap saja, masalahnya tidak terpecahkan.

Apa yang tertulis di sana mungkin merupakan sejarah yang kredibel. Fraze menginvasi ibukota, yang menghancurkan peradaban manusia.

Pasti ada beberapa yang mati dan juga melarikan diri dari ibukota.

Ksatria hitam dan putih. Mereka lah kuncinya. Bisa jadi mereka adalah pemilik golem dari Dunia Kebalikan, atau mereka memang benar-benar ksatria. Aku kesulitan mengolah infomasi ini.

Apa maksudnya? Aku mencoba mengolah semua bagian dari misteri tak terpecahkan ini…dan aku malah kebingungan bagaiamna caranya. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain mengunjungi Dunia Kebalikan lagi.

Terima kasih banyak…

Oh tidak perlu, seharusnya aku yang mengatakannya. Uang di dompet akan kugunakan sebagai dana dagang sekarang, kehilangan uang itu dan aku akan rugi. Sekali lagi, terima kasih banyak atas bantuanmu.

Sepertinya bangsa merah, yakni Suku Arkana, selalu berpindah ke suatu tempat sampai mereka sampai di sebuah pulau yang terdapat di antara Kerajaan Iblis Zenoasu dan Kerajaan Hanock.

Omong-omong…tempat itu sangat dekat dengan Zenoasu, kabar juga mengatakan kalau penduduk mereka hidup dengan tenang bersama dengan ras-iblis.

Pedagang ini… Porunga-san meninggalkan pulau sejak kecil dan menapaki hidup seorang pedagang. Saat ini, ia berkeliling dunia sebagai seorang pedagang dewasa. Kedatangannya ke Brunhild tidak lain dan tidak bukan karena ada banyak komoditas unik yang hanya bisa didapat di sini.

Karena tujuan Porunga-san adalah dagang, aku pun mengenalkannya pada Perusahaan Strand milik Alba-san. Tempat itu kan menyimpan banyak barang unik.

Setelah berpisah dengannya, pikiranku langsung tertuju pada ucapannya barusan.

2 ksatria…yah?(Touya)

A-se-e-k…ini buruk. Aku tidak tahu apa artinya. Untuk sekarang lupakan saja.

Aah! Itu dia. Touya-san!!

Aku pun menoleh ke asal suara itu dan terlihat Yumina dan Rue sedang melawan arus jalan dan melambaikan tangan.

Hebat sekali kalian bisa menemukanku.(Touya)

Walaupun lokasiku tidak terlalu jauh, mereka langsung datang ke mari sesaat setelah aku berteleportasi. Aku menanyakan bagaimana caranya mereka melakukannya karena hal ini terasa janggal, tapi mereka malah menjawabnya dengan melihat satu sama lain dan lalu memiringkan kepala.

Yah… detailnya kurang tahu sih, tapi akhir-akhir ini kurang lebih aku tahu di mana lokasi Touya-san. Rue-san juga sama kok… (Yumina)

Tidak begitu jelas…tapi saya sering merasa…“di sini”…  sepertinya yang lain juga sama kok, Touya-sama.(Luu)

Hei! Apa-apaan dengan sensor gak jelas ini?! Apa ini termasuk salah satu  efek menjadi Dependan?!

Kekuatan mereka sepertinya akan meningkat kalau hubungan masing-masing denganku menjadi lebih dekat. Kekuatan itu…yang dimiliki Kohaku dan lainnya, mungkin sama.

Tapi ya…gimana yah….istri bisa tahu lokasi suaminya itu…..gak enak, ya kan? Hal-hal seperti selingkuh tidak bisa dilakukan. TIDAK! Aku tidak  akan melakukan hal seperti itu!

Lha…mana Yae dan Hilda?(Touya)

Mereka bilang ingin terus menonton. Tadi Elzie-san juga datang lho.(Rue)

Yah…kurasa petarung keluarga kami memang mereka bertiga.

Seperti yang diduga…mereka adalah Elzie, Yae, dan Hilda. Lindzey, Rin, dan Sakura termasuk penyihir. Sisanya…Yumina, Rue, dan Sue termasuk keluarga Kerajaan, mungkin? Tidak..bukannya Hilda dan Sakura juga termasuk, yah.

Setelah ini, kami mengunjungi acara yang diselenggarakan di sekolah, menikmati keterampilan band jalanan, dan menghajar orang mabuk yang membuat keributan.

Di acara itu…cukup menggelikan saat melihat Raja Iblis membacakan cerita itu dengan ekspresi menakutkan. Setelah acara selesai, ia dimarahi habis-habisan oleh Sakura karena membuat mereka semua menangis. Kenapa ia harus melakukannya dengan nada yang terkesan jahat, sih?

Kalau ia sampai melihaat kami, maka semalaman pun tidak akan cukup, jadi kami memutuskan untuk kembali melihat shogi. Bukankah sudah saatnya pemenangnya diumumkan?

Kami sampia, dan langsung melihat monitor yang empat-empatnya sama-sama memperlihatkan 1 permainan. Sepertinya babak final telah dimulai.

Etto… Ooh! Bukankah itu Raja Paluf dan Doran-san? Hebat sekali mereka berdua!(Touya)

Beberapa penonton bahkan sampai mengeluarkan komentar yang mengejutkan.

Raja bocah Kerajaan Paluf Kingdom, Ernest Din Paluf, ternyata berpartisipasi menggunakan nama alias Er Palus.

Karena efek lencana yang kuberikan, semua orang melihatnya sebagai orang lain, akan tetapi dengan umur yang sama.

Bocah 10 tahun ingusan melawan seorang lelaki dewasa di final. Sudah pasti kalau semua orang terkejut.

Tidak salah lagi, ia memang jenius… Sepupunya, Rachel dari dulu sudah begitu, tapi kalau digabung dengannya, mereka akan menjadi pasangan yang mengerikan.

Saat aku melihat-lihat penonton, terlihat Rachel sedang melihat permainan tunangannya. Di sampingnya ada beberapa ksatria Paluf.

Rachel menontonnya dengan tegang. Kadang-kadang ia meminta penjelasan pada ayahnya, Duke Rembrandt, yang ada di sebelahnya. Ia pasti khawatir.

Sementara itu, entah karena ia tahu perbuatannya atau tidak, si Raja bocah berkosentrasi penuh pada bidak yang ada di atas.

Lawannya, yakni Doran-san, pemilik penginapan Silver Moon di Leaflet, membuat wajah tegangnya menjadi lebih tegang dari biasanya saat melihat bidak-bidaknya. Ia menakutkan… Seumpama lawannya bocah biasa, ia pasti akan langsung lari dengan kecepatan penuh.

Bidak-bidak itu berwarna abu-abu, yang artinya waktu hampir habis. Oleh karena itu, Doran-san mengulurkan tangannya dan memindahkan “Silver general” ke kanan secara diagonal.   

Kemudian, si bocah cemberut dan mengerang. Doran-san membalik jam pasir yang ada di meja sebelah. Warna bidaknya pun kembali normal. Giliran si bocah.

Menurut anda, siapa yang akan menang?(Rue)
Hmmm, menurutku, Doran-san lebih unggul…(Touya)

Itu lah jawabanku pada Rue. Akan tetapi, sebenarnya aku tidak begitu yakin. Semuanya bisa berubah tergantung dari gerakan ini, dan juga bagaimana aksi lawan.

Bidak yang mereka berdua pegang diperlihatkan di layar sementara para penonton mulai berkomentar atas ini dan itu.

Ada beberapa yang tidak shogi, tapi ikut serius karena ketegangan yang mereka berdua perlihatkan.

Warnanya bidak berubah, waktunya hampir habis.

Raja Paluf menggerakkan bidaknya. “Kuda” bergerak ke atas meja secara diagonal.

Saat ia melakukannya, warna bidak pun kembali normal. Kali ini, bocah itu lah yang membalik jam pasir tadi.

Wajah Doran-san menjadi lebih mengerikan. Ohh? Apa ia kalah oleh si bocah? Aku tidak begitu paham. Yap, sepertinya memberi komentator mulai tahun depan adalah ide yang bagus.


Merasa tertekan, Doran-san memindahkan bidaknya. Dalam situasi di mana semua orang ragu untuk menyoraki mereka, satu-satunya hal yang bisa kami lakukan hanyalah melihat mereka bertanding seolah-olah menggunakan pedang asli dengan tegang. 



Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

1 comment:

  1. Touya oh Touya, sudah banyak Istri masih aja mikir selingkuh 😅

    ReplyDelete