Saturday, 17 August 2019

Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 304 Bahasa Indonesia


TranslatorRamune
Editor
BUDI
Proof Reader
Mizuki Hashima


Arc 27: Dunia Kebalikan

Chapter 304: Keyakinan Pembantu Cilik, dan Para Dwarf



… kamu ngapain, Rene?(Touya)

Aku memanggil Rene yang berada di koridor istana.
Alasannya, ia berjalan dengan tumpukan buku di atas kepalanya. Rene menjawab...

Aah, Touya-anicha……Duh, Raja Penguasa, selamat pa -ah!(Rene)

Satu persatu buku jatuh ke karpet merah. Tidak heran, soalnya ia membungkuk.


Aaah~, jatuh lagi…(Rene)

Rene pun mengambilnya dengan frustasi.

Sudah kubilang, kamu ngapain, bawa buku sebanyak itu?(Touya)

Aku, ehhh… saya sedang belajar untuk ujian masuk guild pembantu.(Rene)

Tidak ada orang, jadi pakai cara bicara biasa enggak apa-apa.
…ujian, yah?
(Touya)

Dulu, di Belfast, Rene itu pencuri anak-anak yang akhirnya kubawa pulang menjadi pembantu. sebenarnya, ia adalah keturunan Bangsawan Regulus, tapi Rene memutuskan untuk tetap menjadi pembantu dan tidak mau kembali ke keluarga ibunya.

Tak peduli seberapa kecil negara ini, pembantu harus beretika, tanggap, dan ahli. Tapi, Rene masih tahap pertumbuhan. Makanya, selain tugas ringan, tugasnya hanya mengurusi kebutuhan pribadi kami.

Sepertinya ia sangat bersungguh-sungguh. Gadis 9 tahun ini berjuang keras untuk bergabung ke guild pembantu agar menjadi pembantu kelas-atas.

Cecil-san memberitahu jika bisa jalan sambil membawa buku banyak akan membantu menyeimbangkan dan memperbaiki postur tubuh. Elegan itu salah satu kriteria ujian, jadi harus dipersiapkan.(Rene)

Hee. Niat sekali ya… Jangan terlalu memaksakan diri, lho ya? Tidak lulus pun, kami enggak akan mengusirmu.(Touya)

Yah, aku akan tetap mengejar kualifikasi itu. Aku ingin jadi pembantu kelas-atas dan mengabdi di sini. Tujuanku kan jadi Kepala Pembantu!(Rene)

Oh~ boleh juga ambisinya. Kepala pembantu kami itu Lapis-san, ia lah yang ada di atas. Mencoba melampauinya butuh usaha keras. Selain itu,  kemampuan bertarungnya juga hebat.

Dan juga, aku belajar bela diri dari Moroha-neechan…(Rene)
Lho…(Touya)

Baru denger. Hei! Kau tidak belajar yang aneh-aneh, kan? Kalau tidak salah, Rene juga belajar teknik melempar pisau dari Cecil-san serta belajar sihir dari Rin… Mungkin pembantu terkuat akan terlahir.

Kau juga sekolah, kan? Enggak bagus lho, kalau pembantu kelas-atas tidak cerdas.(Touya)

Rene juga bersekolah di tempat ibunya Sakura. Walau hanya dari jam 9 sampai 2, sepulang dari sana, Rene mengerjakan tugasnya.

Hadeh…apa tidak masalah membuat anak ini bekerja sangat keras. Padahal aku mau menambah waktu istirahatnya, tapi ia menolaknya.

Ia belajar untuk menggapai tujuannya, sehingga tidak melihat rutinitas ini sebagai beban.

Hei… istirahat saja sana, enggak apa-apa, kok.(Touya)
Enggak, tidurku sudah cukup, jadi tidak apa-apa. Yang butuh tidur itu Touya-niichan lho. Semuanya mengkhawatirkanmu!(Rene)

Malah aku yang dikasih saran. Umu. Apa aku terlihat seperti orang gila kerja? Padahal pekerjaanku sering kuserahkan ke Kousaka-san dan kutinggal main hooky.

Kalau gitu, aku akan memberi Rene hadiah karena sudah bekerja keras. Ada sesuatu yang kau mau?(Touya)

Eh? Umm… sungguhan enggak apa-apa?(Rene)

tidak masalah kok. Ini bonus bagimu yang sudah bekerja keras. Rene mau apa?.(Touya)

Bonus?(Rene)

Walah… Dia enggak paham? Sepertinya ada kata-kata Bumi yang tidak dipahami penduduk dunia ini.

Ka-kalau gitu… aku mau alat sihir yang sama dengan milik Sue-neechan…(Rene)

Sue? Aah, smartphone? Benar juga ya. Lapis-san dan Cecil-san sudah kuberi, tapi Rene belum.

Hmm, ngasih smartphone ke anak kecil?… bukannya aku sudah memikirkan ini, Sue kan sudah kuberi. Smartphone punya aplikasi memo dan fungsi lain seperti kamus dll yang berguna untuk tes itu. Enggak apa-apa dah.

Aku pun mengambil smartphone putih dariStoragedan memberikannya pada Rene. Aku juga memberi buku manualnya. Setelah tahu isinya, ia pasti bisa mengoperasikannya dengan baik.

Te-terima kasih, Touya-niichan!(Rene)

Jangan bawa ini ke sekolah lho ya. Kalau sampai hilang atau tercuri, bilang aja. Aku janji enggak bakal marah.(Touya)

Iya!(Rene)

Setelah menerimanya dengan senyum berseri-seri, aku mengelus kepalanya.

Kalau sampai dibawa ke sekolah, masalahnya tidak hanya pencurian karena rasa iri atau karena orang tahu betapa langkanya benda itu. Tapi kalau melihat status Rene, kurasa tidak akan ada yang mengganggunya. Tapi tetap saja, lebih baik menghindari masalah yang bisa dihindari. Kami tetap akan memarahi anak yang mengganggu Pembantu Cilik kami, tak peduli walau mereka anak-anak…

Untuk sekarang, aku memasukkan semua nomer pengguna kecuali para Pemimpin. Dengan itu, ia bisa memanggilku dan Sue.

Baiklah, yang semangat ya. Tapi ingat, jangan memaksakan diri.(Touya)
Un! Makasih! Aku akan menjaganya!(Rene)

Rene menaruh buku-buku itu di atas kepalanya dan berlari dengan hati-hati.

Ups! Habis ini aku punya janji, kan? Harus cepet makan ini! Aku pun berjalan ke sisi yang lain dari Rene.

***

Yaa-yaa. Maaf sudah membuat kalian menunggu.(Touya)

Itu kalimat kami,  Raja. Terima kasih sudah mau menemui kami di tengah kesibukan Anda.(Tamu)

Ucap ketua kelompok itu di tempat latihan Istana sambil menundukkan kepala.

Ucapannya to the point dan wajahnya tertutupi janggut tebal. Ototnya sekeras batu, karakteristik rasnya sangat menonjol.

Tinggi mereka bervariasi mulai 1.20 m sampai 1.50 m. Mereka laki-laki… kupikir begitu, tapi katanya perempuannya juga berjanggut, jadi aku tidak tahu.

Dwarf. Mereka adalah ras yang hidup di daerah pegunungan. Orang yang kuat menjadi penambang sementara yang terampil jadi pandai besi.

Mereka datang ke sini setelah aku mendapat surat dari Raja Lail.

Raja Lail Kingdom, Barsdor Dolga Lail ke-empat, adalah keturunan Dwarf, mayoritas penduduk Kerajaannya sendiri adalah Dwarf. Mereka mungkin juga termasuk penduduk sana.

Jadi, apa yang ingin kau perlihatkan?(Touya)
Umu. Akan lebih cepat jika Anda melihatnya sendiri. Hei!(Dwarf)

Di atas gerobak besar yang ada di belakang mereka, terdapat “hal itu”, sebuah benda setinggi 4 meter. Saat disuruh ketuanya, para dwarf menarik kain yang menutupi gerobak itu.

Loh…!(Touya)

Benda itu pun terlihat. Benda itu memiliki tangan besar dan kaki pendek. Bagian leher ke atas tidak ada dan kokpit yang ada di punggungnya kosong.

Prajurit-Besi. Mesin itu dibuat secara rahasia oleh organisasi bernama “Gordian” yang mencoba menginvasi Ferzen setelah berhasil meratakan Yuuron. Untuk sesaat, pikiranku terlena pada robot itu, tapi ternyata tebakanku salah. Gimana ya? Benda ini lebih jelek daripada Prajurit-Besi.

Benda itu…. seperti mobil yang bagian tengahnya dipotong, sehingga bagian depannya ada di kerangka tubuh dan di bawahnya terdapat kaki besar… Gimana cara menjelaskannya? Sangat jelek.

Tapi, benda ini memang robot. Robot yang bisa dikendalikan.

Kami menamainya Dverg. Untuk pengetesan, sekarang digunakan untuk pembangunan dan pengiriman bijih besi. Tapi sampai sekarang, kami belum ingin melakukan produksi massal.(Dwarf)

“Dverg”, yah? Kalau tidak salah, itu nama leluhur dwarf? Bentuknya yang pendek dan besar benar-benar mencerminkan tubuh dwarf.

Bentar, kenapa mereka bisa membuatnya? Teknologi dwarf memang patut ditakuti.

Lantas, kenapa kalian menunjukkannya pada kami?(Touya)

Bukannya Anda punya Prajurit Raksasa? Kami ingin membandingkannya dengan Dverg ini.

Huh? Boleh atau tidak, ya? Seumpama mereka tidak bersedih hati karena kalah, ya enggak apa-apa sih, enggak masalah.

Mungkin sudah terlambat, tapi kalau dipikir, pembuat Prajurit-Besi itu, Dr. Bowman, orang yang sangat jenius. Walau egois sih...

Gateterbuka dan Chevalier turun dari “Hanggar” Babylon.

“Brak” Chevalier itu mendarat, dan semua dwarf yang melihatnya pun ternganga. Mereka terlihat sangat terkejut.

Ini FrameGear yang diproduksi massal, Chevalier. Model ini lah yang paling mudah dibuat, tapi yang satu ini merupakan versi mutahir.(Touya)

Aku tidak tahu mereka mendengar penjelasanku atau tidak, Mulut mereka masih terbuka dan terus melihati Chevalier.

Yah…bukannya enggak paham. Tinggi Dverg hanya 4 meter sementara FrameGear 15 meter. Persis bocah dengan orang dewasa.

I-ini, apa Anda menemukannya di reruntuhan kuno?(Dwarf)

Model lamanya, iya. Sedangkan yang sekarang, termasuk ini, kami membuatnya dari 0. Selain itu, kami juga sudah mengembangkan beberapa model lain.(Touya)

Apa aku ketularan Dwarf itu yah? Gaya pengucapanku jadi blak-blakan. Yah…enggak masalah lah, soalnya gaya ini membuat penjelasannya menjadi lebih mudah, iya kan?

…Sa-saya punya permintaan. Kenalkan kami pada pembuatnya. Setelah melihat ini, mustahil kami tidak ingin melihat pembuatnya. Sebentar saja tidak masalah!(Dwarf)

Eh? Ah~… tidak masalah…(Touya)

Enggak masalah sih, tapi ya….

***

Pe-pembuatnya adalah bocah!?(Dwarf)

Oh-oh! Hangat sekali sapaannya. Yah, mereka kan Dwarf, jadi mengurusi hal seperti ini tidak ada faedahnya…(Regina)

Melihat Profesor yang memakai baju kebesaran biasanya, para Dwarf sekali lagi tercengang.

Pasti karena pembuat FrameGear itu terlihat seperti gadis berumur 10 tahun.
Ketua Dwarf menghela nafas, dan berkata...

Apa kau dari ras berumur panjang?(Dwarf)
Hampir tepat. Kesampingkan ras-ku, benda itu buatan kalian, bukan?(Regina)

Sambil mengeluarkan tangannya dari saku, mata Profesor melihat Dverg.

Hmm-hmm. Tidak terlalu bagus, tapi aku bisa merasakan keuletan pembuatnya daripada Prajurit-Besi yang meniru karyaku. Core-nya… Heee. Dari tungku sihir, yah? Bagian dalamnya bukan hanya partikel sihir dari atmosfir…terus… katalisnya adalah kekuatan sihir yang dipadatkan… begitu rupanya…(Regina)

Kau tahu hanya dari melihatnya!?(Dwarf)

Para Dwarf terkejut, tapi Profesor tahu karena diam-diam menggunakan “Analyze”. Jangan tertipu woi!

Tapi… medium yang mengekstrak kekuatan sihirnya tidak bisa mengalirkan sihir ke semua bagian tubuh mesin. Jika seperti ini, kekuatannya akan bocor di persendian dan terbuang ke atmosfir, ini membuat performanya jelek.(Regina)

Sial… tapi, untuk bisa mengalirkannya, kami butuh system output yang lebih baik. Untuk kebocoran itu, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Apa ada metode lain untuk mengatasinya?(Dwarf)

Itu mah gampang. Buat ukiran saluran kekuatan sihir di badan mesin dengan sihir ukiran. Dan juga, gunakan adamantite sebagai bahan dasar mesin, maka…

BEGITU YA! …metode seperti itu ternyata ada!(Dwarf)

Tiba-tiba mereka membicarakan masalah tekhnis permesinan, membuatku diam seribu bahasa.

Setelah mendapat ilham… aku pun mengeluarkan smartphone dan memanggil seseorang yang ada di Babylon.

Ah~, Rosetta? Di sini ada pembicaraan langka lho, ayo ikut. Yap, Profesor juga ada kok.(Touya)

Ketua bagian maintenance kami juga harus ikut.

Tak lama kemudian, dia pun datang. Rosetta membahas pembaharuan sistem Dverg dengan antusias.

Akhirnya, mereka melakukan ini itu pada Dverg di pojok area latihan.
Saat Dwaf dan Rosetta membongkar badannya dan berdebat, Profesor mendekatiku.

Wah-wah, menarik sekali. Seperti perkumpulan pembuat mesin bertukar ide.(Regina)

Jadi gimana? Apa cara pembuatannya sama seperti Prajurit-Besi?(Touya)

Ada yang sama dan yang beda, tergantung dari cara melihatnya. Kedua mesin itu memang menggunakan teknologi Frame, tapi Dverg berbeda karena para Dwarf menerapkan teknologinya sendiri. Intinya ya… tidak 100% meniru, jadi sama seperti belajar hal baru, mungkin?(Regina)

Gitu ya. Jadi mereka membuat karya orisinil berdasarkan informasi  FrameGear dan Prajurit-Besi. Tak kusangka mereka sangat cerdas di bidang ini, tapi kalau dipikir, Dwarf dan Elf adalah ras berumur panjang. Kurasa mereka mendapatkan ilmu ini dari peradaban kuno.

Bentar, kabar mengataan insinyur yang mengerjakan kereta sihir yang dikembangkan di Ferzen adalah Dwarf.

…apa mesin itu aman?(Touya)

Aku paham maksudmu, tapi pengembangan ilmu sihir dan peradaban mereka sudah mentok, alias tidak bisa berkembang lagi. Atau kau mau menyita karya itu dan menghabisi ras Dwarf?(Regina)

Profesor mengatakannya dengan senyuman keji. Ya mustahil lah! Aku tidak akan melakukannya!

Walau enggak dihancurkan pun, mesin seperti ini akan tetap ada. 5000 tahun yang lalu, hal yang sama pernah terjadi. Kalau dilihat dari sejarah, para Dwarf ini bisa dibilang telat. Prajurit-Besi pun pernah didahului mesin-mesin lain.(Regina)

Gitu ya…(Touya)

Yah, kita bisa menyebutnya dengan ‘kembalinya teknologi’. Mesin-mesin ini masih kurang sempurna untuk digunakan sebagai kendaraan domestik, selain itu, benda itu bisa dihancurkan dengan sekali serang.(Regina)

Benar sih… kalau untuk kendaraan domestik sih bisa.. tapi kalau untuk senjata perang, mustahil.

Kurasa cepat atau lambat mesin ini bisa selevel dengan FrameGear.

Teknologi di dunia ini kalah dibandingkan dengan teknologi di dunia kebalikan. Bis-Kepiting Sancho-san yang kemarin itu lebih bagus daripada alat transportasi di sini.

Ya iyalah... Kalau insinyur dunia ini dengan dunia itu bekerja sama, mereka mungkin bisa membuat benda yang bermanfaat. Mudah diucapkan daripada melakukan sih...

Kalau sampai 2 dunia menyatu… Aku berhenti berpikir yang tidak-tidak dan menatap para Dwarf tadi.

Mungkin sedikit terlambat, tapi aku sangat ingin melihat cara kerjanya. Bisakah aku melakukannya?(Touya)

Orang amatir pun bisa melakukannya kok. Anda ingin mencobanya?(Dwarf)

Aku duduk di kokpit yang ada di belakang dan para Dwarf mengajariku caranya. Karena Dverg tidak bisa membaca keinginan pengendalinya, semuanya manual.

Oke. Alirkan kekuatan sihir pada batu sihir yang ada di dekat gagang kontrol. Lakukan dan baterai sihir Dverg akan aktif. Setelah itu, coba jalankan secara perlahan.(Dwarf)

Oke~. Alirkan kekuatan sihir ────(Touya)
Aah, tunggu! Kekuatan Master sangat …!(Rosetta)

Rosetta kelihatannya mengatakan sesuatu, tapi aku sudah terlanjur mengalirkannya ‘seperti yang sebelumnya’.

Satu detik kemudian, Dverg mengeluarkan suara ane, dan armor bagian perutnya pun meledak hebat.

「「「Uoaaaaaaaaaa──────────a!?」」」(Dwarf)
Eh?(Touya)

“Gararaaaan!”  Armor itu terlempar ke tanah, bagian perutnya mengepulkan asap hitam legam.

Aku pun turun dari Dverg dengan panik sementara para Dwarf hanya diam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, mulut mereka tertutup-terbuka, seolah tak percaya apa yang terjadi di depan mata.

Lho! Ini salahku?

Aa~…dengan kuantitas kekuatan sihir Master, tidak ada baterai biasa yang bisa menahannya. Sama seperti menghidupkan lilin dengan fireball.(Rosetta)

Kekuatan sihir yang melebihi kapasitas baterai pun meledak..(Regina)
Ya ngomong dulu lah……(Touya)
(Ramune: Dulu kan udah pernah, goblok!)

Aku tidak tahu harus bilang apa pada para Dwarf yang terdiam itu.
“Enggak sengaja!” – Setidaknya aku ingin mereka percaya.

Sambil melihati punggung Dwarf yang masih melihati Dverg rusak itu, aku merasa sangat bersalah.

Apa mereka akan mengampuniku jika kukasih beberapa tong anggur, yah…?

(Mizuki: Disuap dengan tong anggur, biar diem!)

Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

7 comments: