A Rank Chapter 14

TranslatorGi & Eden
Editor
Eden
Proof Reader
Eden

Chapter 14 :
Ke Gunung Bersama Pemburu

“Err… Um, Aldo-san. Ada urusan apa dengan ayah hari ini?”

 

Flora yang ada di sebelahku, bertanya dengan sopan padaku saat kami menuju rumahnya melewati jalan yang sama untuk pergi ke ladang anggur.

 

“Ah, karena aku akhirnya akan menetap di sini, jadi kurasa aku ingin bertemu dengan para pemburu di desa.”

“Bukannya Aldo-san baru datang 4 hari yang lalu? Pasti masih harus bersih-bersih, kan? Kenapa sudah mau langsung berkerja?

 

Flora menatapku dengan perasaan kagum.

 

Seperti yang dikatakan Flora. Karena aku baru saja mendapat rumah baru, jadi aku harus melakukan bersih-bersih, mengatur perabotan, dan mencari dan memasak makananku sendiri. Memulai kehidupan baru tidaklah mudah.

 

Walaupun aku yakin tubuhku cukup kuat, tapi masih terlintas dipikiranku untuk beristirahat dua hari lagi dan bersantai sambil melihat ladang bunga.

 

“Yah, bagaimanapun semuanya telah banyak membantuku saat aku tiba disini. Karena itulah aku ingin secepat mungkin membalas budi kepada semua orang di desa”

 

Ergys-san, Fiona-san, Flora, Aisha, dan Toack… aku sudah banyak berhutang pada mereka berlima selama 4 hari ini. Tapi bukan hanya mereka saja, tanpa aku sadari, mungkin aku juga telah merepotkan banyak orang lain yang tidak aku kenal, terlebih mereka yang telah membantuku membuatkan futon dan beberapa pakaian.

 

Karena itulah aku ingin membalas budi pada mereka semua.

 

“Begitu yah…. Kalau begitu berarti mulai sekarang kami akan selalu makan daging lezat setiap hari, ya?”

 

Flora berkata begitu sambil tersenyum riang.

 

Bahkan sebelum aku mulai berburu, dia tersenyum padaku seolah-olah dia yakin bahwa aku akan berhasil.

 

“...Aku tidak bisa menjamin hal itu, tapi aku akan berusaha.”

“Tolong ya”

 

Saat aku menjawab dengan samar perkataan dari Flora. Dia membalasnya dengan mood yang baik.

 

Mengapa dia sangat percaya padaku? Tidak, mungkin dia hanya mengharapkan hal itu dariku. Atau justru dia mencoba untuk menekanku?

Ah, kurasa Flora bukanlah orang yang seperti itu.

 

Saat Flora berjalan dengan langkah riang, aku berpikir bahwa aku akan bekerja keras hingga bisa memenuhi harapannya.

 

***

 

“Ohh? Selamat datang kembali Flora. Kau bersama Aldo-san ya?”

 

Saat kami sampai di rumah Ergys-san, Ergys-san yang sedang bekerja di halaman belakang menyapa kami. Tampaknya dia sedang menarik rumput liar, karena dia sedang membungkuk dan mengenakan sarung tangan.

 

“Selamat Siang Ergys-san.”

 

Saat Flora Dan aku mendekati halaman belakang, Ergys-san berdiri sambil menepuk punggungnya.

 

“Selamat Siang, bagaimana dengan rumah mu?”

“Aku sudah selesai membersihkannya dan dengan barang-barang yang aku beli dari Toack, sekarang aku sudah dapat hidup seperti biasa.”

“Begitu, ya”

 

Ergys-san tersenyum setelah mendengar perkataanku. Namun setelah itu matanya terbuka lebar, bagaikan baru saja mengingat sesuatu yang penting.

 

“Omong-omong, kemarin aku belum memberimu persediaan makanan kan. Apakah kau sudah makan? Kalau kau lapar aku akan memberikannya…”

“Ah, Aku sudah makan. Toack memperbolehkanku membeli makanannya.”

“Ohh, syukurlah. Aku ingat masalah perabotanmu tapi aku benar-benar lupa kemarin soal makanan. Sekarang aku malah jadi panik.”

 

Ergys-san meletakkan tangannya di dada dan terlihat lega setelah mendengar perkataanku.

            Bagaimanapun juga, Ergys-san adalah manusia, jadi sudah sewajarnya dia bisa melupakan beberapa hal.

 

“Tidak tidak, semua itu adalah salahku sendiri, karena juga lupa soal itu kemarin.”

 

Sejujurnya kemarin aku tidak sempat makan apapun, jadi aku memutuskan pergi ke rumah Toack untuk sekalian membeli makanan. Tapi kurasa lebih baik aku tidak mengatakannya.

Karena pada akhirnya yang salah adalah orang yang melupakan persediaan makanannya sendiri, dan pastinya bukan kesalahan Ergy-san.

 

Untuk mengakhiri topik ini, akupun berbicara tentang alasanku dating kesini.

 

“Ergys-san, Kupikir aku akan mulai bekerja hari ini, jadi bisakah aku bertanya padamu soal apa yang kita bahas sebelumnya? Tentang mengenalkanku dengan pemburu di desa ini?”

“Kau sudah ingin bekerja meski baru saja pindah kesini? Kau tidak mau beristirahat sebentar selama beberapa hari dulu?”

 

Karena dia dan Flora mengkhawatirkan hal yang sama, Flora dan aku secara tidak sengaja sedikit tertawa.

 

“Tidak, tidak apa-apa. Aku ingin segera mulai bekerja.”

“…Baiklah. Menambah jumlah pemburu di desa ini adalah hal yang baik. Aku akan segera memperkenalkanmu kepada mereka. Flora, bisakah kau mengurus ladang?”

“Baik.”

 

***

 

Ergys-san pun pergi meminta pemburu bernama Loren-san, untuk menemuiku di pusat kota. Jadi, aku kembali ke rumah untuk mengganti pakaianku menjadi pakaian berburu.

 

Aku melepaskan baju kasual berlengan pendek putih dan menggantinya menjadi baju hijau lengan panjang, sarung tangan kulit, celana panjang dan sepatu bot kulit. Aku memakai pelindung dada dan pisau di sarung sabukku.

 

“…Sudah kuduga, rasanya berbeda dengan pedang panjangku”

 

 Aku bergumam saat mengangkat pedang favoritku yang terbungkus kain.

 

Ups. Sekarang, aku malah mengambil pedang panjang itu, mungkin karena sudah kebiasaan.  Bagaimanapun juga, aku telah menggunakan pedang ini selama tiga tahun. Pedang ini berada di sampingku saat aku menghadapi seekor naga. Bisa dikatakan kalau dia adalah partner disaat-saat aku melewati hari-hari yang berat dan bahagia.

 

Meskipun aku mungkin akan menghadapi beberapa monster di hutan, tapi pedang ini masih terlalu menonjol untuk dibawa kemana-mana.

 

Pedang ini dibuat oleh seseorang yang bisa disebut pandai besi terbaik di kerajaan.

Itu terbuat dari bahan mahal seperti Mithril dan Orichalcum, dengan bahan yang dicampur dari monster peringkat tinggi. Untuk orang-orang yang tidak terbiasa dengan senjata, mungkin hanya terlihat seperti pedang yang dibuat agar semuanya serba mewah, tapi orang-orang yang berpengalaman akan langsung tahu hanya dengan melihat kalau ini bukan pedang biasa.

(Eden: Mahal kaga dapetinnya susah. Masak iya cuma bisa diambil di gua tengah danau yang Cuma bisa diakses pas winter doang? Mending nanam nanas)

 

Jika aku membawa pedang ini di desa, akan ada desas-desus aneh yang terjadi. Karena itu, aku harus menyimpan pedang ini.

Pedang panjang yang terbungkus kain ini akan tinggal di belakang lemari, dan sebaliknya, aku akan menggunakan belati di pinggangku sebagai perlindungan.

 

Lalu aku mengambil busur dan memeriksa tali busurnya.

 

“Yah, ini masih terlihat bagus… Namun, bagian terpenting dari senjata ini… Anak panahnya tidak cukup”

 

Busurnya tidak rusak, tapi anak panahnya tinggal delapan karena belum sempat memasoknya.

Aku benar-benar lupa. Seharusnya aku memotong beberapa kayu kemarin dan membuat beberapa anak panah.

 

“Kurasa, tidak ada yang bisa aku lakukan. Mungkin aku bisa memintanya ke para pemburu lain.”

 

Aku bergumam begitu, sementara aku menyimpan busur di punggung dan tempat anak panah ke pinggangku.

 

Akhirnya, persiapanku selesai setelah mengemasi beberapa makanan kedalam tas rami kecil.

Akupun memeriksa kembali perlengkapanku, lalu bergegas keluar rumah dan menuju alun-alun kota.

 

Ketika sampai di pusat kota, ada para wanita yang sedang mengobrol dengan senang dan ada juga beberapa yang saling bertukar makanan.

Saat aku melihat sekitar, aku teringat kembali kata-kata Toack kemarin. Semua wanita di desa ini mengenakan pakaian yang tak kalah indah dengan bunga yang tumbuh di ladang.

            Jika mengatakan bahwa desa ini cantik, maka wanita di sini juga tidak kalah cantik dari desanya.

 

Ketika aku sedang menikmati pemandangan para wanita dengan pakaian cantik, aku memperhatikan pria besar dengan rambut coklat yang mengilap dan seorang anak laki-laki berambut pirang berdiri di sampingnya.

Jika ada seorang pria berotot besar berdiri di tengah tempat bunga mekar, tentu saja dia akan menonjol.

Dia membawa busur dibelakangnya sepertiku, mungkin dia adalah Loren-san si pemburu?

 

Saat aku masih ragu, dia mulai melambaikan tangannya dari sana seolah-olah dia memperhatikan perlengkapanku.

 

“Yo! Aku Loren, pemburu di desa ini. Apakah kau Aldo orang yang dibicarakan Kepala Desa?”

“Ya, itu aku. Maaf karena menemuimu tiba-tiba tanpa perkenalan yang sopan. Aku harap kita bisa akrab mulai sekarang.”

 

Aku dengan perlahan menurunkan kepala ke Loren-san, dan dia membalas dengan anggukan cepat.

 

“Kau memiliki sikap yang baik, tidak seperti kenalanku”

“Kumohon jangan umbar masa laluku.”

 

Saat Loren menyenggol anak itu dengan siku, anak laki-laki itu menjawabnya dengan cemberut.

Dari pembicaraan mereka aku mengerti kalau mereka sangat dekat.

 

“Oh, iya. Dia ini muridku, Kyle. Sekedar klarifikasi, anak imut ini bukan anakku, oke”

“Aku Kyle, 12 tahun. Senang bertemu denganmu.”

 

Kyle dengan cepat membungkukkan kepalanya dan memperkenalkan dirinya setelah Loren-san mengenalkannya.

 

Meskipun aku sadar bahwa mereka bukan ayah dan anak dari penampilan dan suara mereka, bisa dibilang mereka sangat dekat.

 

“Hari ini aku akan mengenalkanmu tentang pegunungan di sini, tapi aku ingin memastikan Kyle juga tahu. Jadi, apa kau keberatan jika kita membawa Kyle?”

 

Wajar saja bagi seorang pemburu membawa muridnya bersamanya untuk dididik, jadi aku bepikir tidak masalah.

 

“Ohh, bagus. Aku juga pernah mendengar dari kepala desa kalau Aldo jago dalam berburu, jadi sudah berapa lama kau menjadi pemburu?”

“Aku bukan pemburu, namun saat dalam perjalanan, aku sering berburu di sepanjang jalan. Aku juga pernah berburu di pegunungan sebelumnya.”

 

Karena aku hanya menggunakan busur untuk berburu dan menyelesaikan beberapa quest spesial, aku tidak sepenuhnya percaya diri. Jadi, aku mengatakan padanya pengalamanku dalam berburu.

 

“Aku mengerti! Tidak akan ada masalah kalau begitu. Menilai dari peralatanmu, kau tidak terlihat amatir pasti akan menyenangkan untuk bekerja sama denganmu.”

 

Sambil melihat peralatanku, Loren-san tertawa hangat sambil menepuk punggungku dengan ringan. Setelah itu kamipun pergi kegunung.


 Sebelumnya || Daftar Chapter  ||  Selanjutnya

4 comments: