Bannou Murazukuri Chapter 5

     

TranslatorRena
Editor
BUDI
Proof Reader
Shiro7D

Chapter 5 :
... *Endus ... *Endus ...


Desa Luke

Level Desa: 1

Sisa Poin Desa: 10 (11 poin diterima per-hari)

Jumlah Penduduk Desa: 1

Skill Desa: Tidak ada

 

“Jadi, sekarang secara resmi aku telah memiliki satu penduduk desa. Ditambah lagi, poin yang kuterima per-hari bertambah sedikit.” (Luke)

 

Sepertinya, dengan meningkatkan jumlah penduduk desa maka poin yang aku terima juga akan meningkat.

 

“Aku ragu bisa mendapat lebih banyak penduduk desa…” (Millia)

“Fufufu, Saya pikir hanya berdua saja tidak buruk kok....” (Millia)

“…Hm?” (Luke)

“Tidak apa-apa.” (Millia)

 

Namun sekarang, aku tidak punya cukup poin untuk membangun sesuatu. Jadi kurasa aku harus menunggu setidaknya satu hari.

 

Setelah itu, pada saat kami sudah selesai menyantai makanan yang Millia siapkan, matahari sudah mulai terbenam…

Tidak seperti di ibukota, disini pencahayaannya sangatlah minim, karena hanya berasal dari sinar bulan dan cahaya bintang saja.

 

Karena tidak ada hal yang dapat kami lakukan di dalam kegelapan ini, jadi kami memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk yang telah kubangun. Meskipun kami telah membuat sebuah lubang kecil di dinding agar ada sedikit cahaya masuk, tapi bagian dalam gubuk itu masih gelap gulita.

Setelah meraba-raba di kegelapan, kami berhasil menutupi tubuh dengan sebuah selimut dan berbaring bersampingan.

 

Tapi tetap saja… Tidak kusangka kalau [Gift]-ku dapat melakukan semua ini.

 

Pada awalnya aku berpikir kenapa aku bisa mendapatkan Gift semacam ini. Namun sekarang, aku pikir kalau Gift ini tidak terlalu buruk.

 

Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak menyukai petarungan. Daripada tinggal di dunia yang penuh petarungan memperebutkan wilayah dan sumber daya, aku lebih memilih tinggal di dunia dimana semua orang berinteraksi dengan damai. Aku sudah berpikir seperti itu sejak kecil. Dan ditempat dimana aku bisa membangun sebuah desa kecil ini akan menjadi kesempatanku untuk menikmati kehidupan seperti itu. Mungkin tidak mewah, namun setidaknya damai…

 

…Aku terlalu fokus memikirkan hal itu sampai-sampai aku tidak dapat menyadari sesuatu: orang disebelahku membuat suara-suara aneh…

 

“*huff…puff…huff…puff…* (Gufufu, untuk bisa mencium aroma tubuh Luke-sama sedekat ini sepanjang malam, surga macam apa ini!?)”

 

…Aku tidak yakin apa itu, tapi perasaanku mengatakan kalau lebih baik kalau aku mengabaikannya.

 

***

 

Keesokan paginya, aku terbangun oleh sinar matahari yang melewati lubang yang kami buat.

Sedangkan Millia masih tertidur pulas sambil memeluk diriku dengan erat.

 

“…Hmm, kurasa memang lebih baik membangun satu gubuk lagi.” (Luke)

“Jangan. Apa satu saja tidak cukup?” (Millia)

“Eh? Kamu sudah bangun!?” (Luke)

“Iya. Sudah kewajiban bagi seorang maid untuk bangun lebih awal dari tuannya.” (Millia)

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak bangun tadi?” (Luke)

“(Tentu saja agar aku bisa menikmati wajah imutmu ketika sedang tidur dan memeluk tubuh lembutmu selama yang kubisa!)” (Millia)

 

Ada saat ketika aku merasa kalau Millia sedang menyembunyikan sesuatu dariku… Yah, kurasa  semua orang pasti memiliki sebuah rahasia...

 

“Namun kamu kan sudah bukan lagi seorang maid. Jadi, kurasa kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk bangun lebih awal.” (Luke)

“Iya, akan tetapi saya saat ini adalah seorang penduduk desa sedangkan Anda adalah seorang kepala desa, jadi sudah sewajarkan kalau saya melakukan sesuatu untuk menunjukkan rasa hormat saya.” (Millia)

 

Emang begitu ya?

Aku tidak pernah hidup di desa, jadi aku tidak begitu mengerti.

 

***

 

“Oh, aku punya 21 poin sekarang.” (Luke)

“Selamat, Luke-sama. Anda sekarang dapat membangun sawah, bukan?” (Millia)

 

Karena sehari telah berlalu, jadi aku sekarang poin desaku telah bertambah. Setelah dibujuk mati-matian oleh Millia, akhirnya aku memutuskan untuk membangun sebuah sawah.

 

<<20 Poin Desa akan dikonsumsi untuk membangun sebuah sawah. Melanjutkan? {Ya} | {Tidak}>>

 

Sebuah pesan yang serupa dengan sebelumnya muncul dalam pandanganku.

Ketika aku memilih {Iya}, area di depan gubuk mendadak berubah menjadi sepetak sawah.

 

“Ini… Luke-sama, tanah ini sangatlah luar biasa! Dengan ini kita pasti bisa menumbuhkan tanaman yang luar biasa di sawah ini.” (Millia)

 

Dengan semangat berkata seperti itu, Millia mulai menanam benih yang kita bawa.… dia seorang mantan maid, namun dia menanam benih dengan kecepatan tinggi dan anggun.

Apakah dia punya pengalaman bertani sebelumnya?

 

“Ahh, aku akan membantu!” (Luke)

“Luke-sama, pekerjaan seperti ini tidak—“ (Millia)

“Tolong jangan perlakukan aku seperti seorang pewaris. Ini adalah desaku, jadi ini adalah tanggung jawabku. Aku ingin melakukan sesuatu yang dapat membuatnya berkembang juga.” (Luke)

“…Baiklah. Kalau begitu saya akan menerima bantuan Anda.” (Millia)

 

Sawah ini berbentuk persegi dengan setiap sisinya berukuran sekitar 50 meter,

Meskipun Millia telah mengajariku cara menanam benih dengan professional. Tapi karena hanya ada kami berdua yang mengerjakannya, jadi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya.

 

Dan ini semua barulah tahap penanaman… Kalau saja kami memulai dari tahap mempersiapkan tanah sawah, pasti kami akan memakan waktu yang lebih lama lagi.

Sebelumnya aku memakan makanannya seperti hal yang biasa saja. Namun setelah aku mengerti betapa sulitnya pekerjaan para petani di balik layar, mulai sekarang aku akan sangat menghargai makanan



Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

2 comments: