Evil God Chapter 80

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Chapter 80 :
Mandi di Laut


Hari ini adalah hari libur.
Aku telah didesak oleh Tiraiza, sehingga kami memutuskan untuk pergi hari ini.

Kami berjanji untuk bertemu sesaat sebelum siang hari.
Saat aku pergi ke tempat pertemuan, Tiraiza ternyata sudah menunggu di sana.
Dia terlihat gugup.

Aku mengangkat tanganku dari kejauhan dan ingin memanggilnya.
Tapi sebelum aku sempat memanggilnya, seorang pria berpenampilan norak datang dan memanggilnya.

[Hei, kau terlihat sedang senggang, apa kau mau minum teh denganku?]
[Eh? Apa maumu? A-Aku sedang menunggu seseorang.]
[Tapi bukankah kau sudah menunggu sekitar satu jam? Apa kau yakin kau tidak ditelantarkan olehnya?]
[Ti-Tidak kok... Ah.]
Tiraiza melihatku kemudian berlari ke sini.
Melihat hal itu, pria tersebut terlihat kesal kemudian pergi.

[Maaf, apa aku membuatmu menunggu?]
[Tak masalah karena waktu janjian belum tiba.]
[Tapi tetap saja... menunggu satu jam itu-]
[Ti-Tidak kok! Orang tadi cuma asal ngomong!]
Mendengarku mengatakan itu, Tiraiza menjadi panik dan segera membantahnya sambil melambaikan kedua tangan.

Tiraiza mengenakan gaun hitam dengan banyak renda dan hiasan.
Apa ini yang disebut gaya gothic loli?
Dan entah kenapa, dia menggunakan sebuah penutup mata di mata sebelah kanannya.
Penutup mata itu memiliki desain sebuah payung hitam.

[Kenapa kau menggunakan penutup mata?]
[Fashion.]
Tiraiza menjawab pertanyaanku dengan serius.

[Biasanya kau tidak menggunakannya, kan?]
[Yah, aku tak sebodoh itu untuk menggunakannya saat bertarung. Benda ini bisa menghalangi penglihatanku.]
[Benar juga sih.]

Saat aku mencoba mendekat untuk melepasnya, Tiraiza dengan cepat berlari dan mengambil jarak dariku.
[Apa yang kau lakukan?]
[Er... aku cuma ingin tahu apa yang terjadi jika aku melepaskannya.]
Aku mencoba meminta maaf karena dia terlihat tidak suka dengan apa yang ingin kulakukan.

[Jangan, mataku yang sebelah kanan lagi berbahaya hari ini.]
[Bukankah biasanya tak ada masalah?]
[Hari ini berbeda. Hari ini sangat berbahaya. Mata kananku telah menjadi evil eye hari ini!]
[Apa kau bilang?]
Aku terkejut.

[Fuh... apa kau sudah mengerti? Hari ini aku berbeda dari biasanya.]
Mungkin karena melihat reaksi terkejutku, sepertinya moodnya menjadi lebih baik, dia pun memasang wajah bangga.

[Mataku juga Evil eyes]
Tak kusangka Tiraiza juga memiliki mata itu.

[Evil Eyes, ya.. . ya, kedengarannya keren. Aku suka istilah itu.]

Mungkin dia memiliki mata yang tipenya berbeda dari kami.
Aku tak begitu mengerti apa yang dia maksud.

[Tapi, apa kau perlu menyembunyikannya?]
[Fuh, mataku memiliki tingkat yang berbeda darimu. Siapapun yang kutatap dengan mata ini akan mati.]
[E-Efeknya mengerikan sekali.]
Sungguh mata yang mengerikan.
Matanya ternyata lebih hebat dari milik kami, para dewa iblis.

[Pokoknya, kau tak perlu khawatir soal mata ini.]
Aku hanya bisa mengangguk mendengar dia mengatakan itu.
Lagipula itu bukan sesuatu yang harus kupermasalahkan.

[Jadi, kemana kita akan pergi?]
Saat aku mengulurkan tanganku, dia sedikit menjauh.

[A-Aah... kita mau berpindah tempat, ya...]
Kemudian Tiraiza mengulurkan tangannya dengan malu-malu.
Lalu akupun berpindah menuju ibukota Kerajaan Island, Dubram.

[Ah. Anginnya memang kuat.]
Setelah tiba, entah kenapa Tiraiza terlihat mengerti tentang sesuatu.

[Soalnya kita dekat dengan laut.]
Saat aku menjawabnya, Tiraiza melihatku seperti dia sedang melihat seseorang yang mencurigakan.

[Kalau begitu, bagaimana kalau kita berkeliling kota?]
Akupun mengajak Tiraiza berbelanja dan makan siang.

[...]
Seharusnya semua berjalan lancar tanpa ada masalah, tapi entah kenapa Tiraiza terlihat tidak senang.

[Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak puas?]
[Kalau aku harus mengatakannya, mungkin karena semua berjalan lancar.]
[Memangnya ada yang salah dengan itu?]
[Rasanya aneh melihatmu sudah terbiasa dengan hal seperti ini.]
[Kenapa kau malah protes dengan apa yang harusnya menjadi tujuanku?]

Itu sama saja dengan mengatakan bahwa aku tak boleh mengatasi kelemahan ini.

[Kalau begini, bukan latihan lagi namanya.]
[Benar juga sih, tapi kau tak seharusnya kesal soal ini.]
[Kalau begitu, ayo pergi.]
Tiraiza tiba-tiba menggunakan sihir transfer.
Eh? Pergi kemana?
Sepertinya tujuan kami berada di sekitar pantai.

Penglihatanku menjadi buram, dan saat sudah kembali normal, kami berada di sebuah pulau kecil.

[Ini adalah pulau tak berpenghuni.]
[Oh...]
Jadi, apa yang akan kita lakukan di sini?
Saat aku sedang memikirkan itu, tiba-tiba Tiraiza melepas pakaiannya.

[9h#j$_5#, Q!J)P$JP @)(RH@H!U)] (Tiraiza, apa yang kau lakukan?)
 (tlnote : gw lagi malas buat kalimat dalam bahasa ashtal, jadi asal nekan keyboard aja ‘3’)
Aku dengan cepat memalingkan pandanganku.

[Aku bukan wanita murahan, jadi aku tak akan telanjang. Aku memakai pakaian renang.]

Saat aku kembali melihat Tiraiza, dia juga sedang memandangku.
Sepertinya dia sudah merencanakan soal ini.
Dia memakai pakaian renang di balik bajunya.

Dia mengenakan bikini putih dengan tipe terpisah. (tlnote : itu loh, bikini yang atasan dan bawahannya dipakai terpisah)
Biasanya dia memakai jubah besar, jadi sulit sekali untuk melihat garis tubuhnya.

Aku menjadi penasaran karena melihat sesuatu yang biasanya tertutup.
Tubuhnya kecil... begitu juga dadanya.
Tapi bokongnya terlihat sedikit montok.

Seorang gadis cantik sedang berdiri dengan malu-malu di depanku.

[Oi, apapun itu yang sedang kau pikirkan, kau terlalu lama melihatku.]
Tiraiza menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.

[Bukankah kau sendiri yang membukanya di depanku?]

[Soalnya kita mau masuk ke air.]
[Tapi aku tak punya baju renang.]
[Cowok bisa berenang memakai baju apapun, kan?]

Yah, memang begitu sih.]
Mungkin tak masalah kalau aku hanya membuka  baju bagian atas saja.
Lagipula, aku tak benar-benar ingin berenang.

Kamipun bermain di air untuk beberapa waktu.
Saat aku sedang lengah, Tiraiza melakukan sesuatu yang tak terduga.

[Eii.]
Tiba-tiba dia memelukku dari belakang.

[HFI@(H(!HF)OAHFI!FH(OI)!@#())] (A-Apa yang kau lakukan?)
[Kau terlalu lengah! Pertahanan bagian belakangmu terbuka lebar!]
Kuh, pasti saat ini dia sedang memasang wajah penuh kemenangan karena berhasil membuatku panik.
Kalau begitu... Terima ini!!!!!

Aku memegang tangannya lalu melemparnya ke depan.

[Hiyaa!!!!]

*Splaash....
Dia terjatuh ke air.

[A-Apa yang kau lakukan?]
Tiraiza berdiri dan protes padaku.
Tapi tiba-tiba dia berhenti bergerak.
Dia mungkin merasakan suatu keanehan, kemudian melihat ke bawah.

Bagian atas baju renangnya terlepas dan mengapung di air.
Aku bisa dengan jelas melihat dada kecil, mungil, dan lucu miliknya.

[Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!!]
Dia panik dan berbalik arah.
Dia segera memakai kembali baju renangnya.
Kemudian kembali berbalik dan menatapku.

Wajahnya menjadi sangat merah.
Apa itu karena rasa malu atau marah?

[IQOH@!R, H@(_!H!_F!J)_%(*R!FJ )](Tunggu, tadi itu sebuah kecelakaan!)
[Dasar Mesum!]

Aku menerima pukulan dari seorang penyihir.

Wajahnya masih terlihat merah, tapi karena keadaan sudah sedikit tenang, aku mencoba berbicara pada Tiraiza.

[Hei...]
[Aku tahu. Aku tahu kalau yang tadi itu adalah sebuah kecelakaan.]
Kata Tiraiza sambil menatapku.

[Tapi aku tetap tak akan memaafkanmu. Ini adalah sebuah dosa yang tak bisa dimaafkan.]
[Itu seperti perkataan seseorang yang baru saja membunuh orang lain.]
Memang aku salah, tapi bukan berarti aku harus mati, kan?

[Itu adalah kelemahanku. Sesuatu yang seharusnya tak boleh dilihat oleh siapapun.]
[Kalau begitu sembunyikan dengan lebih baik lagi.]

Lagipula, ukurannya sudah terlihat sangat jelas saat dia memakai baju renang itu.
Tapi Tiraiza sama sekali tidak mau mendengar perkataanku.

[Tanggung jawab... kau harus membuat ukurannya lebih besar.]
Dia mengatakan itu sambil malu-malu.

Tunggu dulu.
Sepertinya aku pernah melakukan pembicaraan berbahaya seperti ini sebelumnya.
Yah, waktu itu lebih terus terang sih.

[Bagaimana caranya?]
[Seperti yang pernah dikatakan oleh Yufi dan yang lainnya, kau harus memijat supaya lebih besar.]
....
....
....
[nggh... ya di situ...]
Tiraiza mengeluarkan suara yang menawan saat aku memijatnya.

[Enak sekali... ya... terus...]
Akupun memijat dengan sedikit lebih kuat di bagian itu.

[Lebih kuat... ya... nikmat sekali... haaah... aaah...]
Nafasnya mulai berat.

[Hnn... Ahn... aaaaah!]











Ya....
Aku sedang memijat.... bahunya....
Eh? Kenapa aku memijat bahunya?

Wanita berdada besar biasanya sering memijat bahunya.
Sepertinya mereka mudah merasa lelah karena dadanya besar.
Itulah sebabnya, Yufilia dan yang lainnya sering memijat bahu mereka.
(tlnote : lol di party Yufi cuma Tiraiza yang ukurannya kecil :v)
Ada juga mitos yang bilang kalau memijat dada dapat membuat ukurannya semakin besar.
Yah, kedua hal tersebut malah tercampur dan mengakibatkan kejadian ini.
Tiraiza sepertinya mengira kalau memijat bahu dapat membuat dadanya membesar.

Yah, tak apalah...
Selama dia mau memaafkanku hanya dengan ini.

Saat aku selesai memijatnya, dia berbaring di pasir dengan ekspresi penuh kenikmatan.
Sepertinya dia merasa puas.

[Haaa... aku sangat menantikan pijatan selanjutnya...]
Sepertinya tak cukup hanya sekali ini saja.

[Ah, dan juga, tolong rahasiakan ini dari Yufi dan yang lainnya. Soalnya terlalu memalukan.]
[Kurasa tak masalah jika mereka tahu, soalnya aku hanya memijat bahumu, kan?]
Meski begitu, aku tetap akan merahasiakannya seperti apa yang diinginkan oleh Tiraiza.



1 comment: