Evil God Chapter 85

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu


Peringatan!!!
Chapter ini mengandung deskripsi tindak kekerasan.
Adegan dilakukan oleh profesional dan tidak untuk dicontoh
=========================================== 


Chapter 85 :
Penyelamatan



Aku melihat Benteng Hamilton dari atas langit.

Aku tak bisa melakukan transfer ke tempat yang belum pernah aku kunjungi.
Waktu yang kulalui untuk bebas belum terlalu lama.
Itulah sebabnya tempat yang bisa kujadikan tujuan transfer dengan bebas hanyalah di langit.

Aku datang ke benteng ini dengan cara terbang menggunakan sihir levitation.
Tapi karena aku terbang dengan kecepatan tinggi, sepertinya aku telah disangka sebagai fenomena misterius.

Aku melihat isi Benteng Hamilton menggunakan Evil Sight.
Mungkin saat ini Auretta sedang berada di tempat yang tak bisa dilihat oleh orang lain. Seperti ruang bawah tanah.

Aku dengan mudah dapat melihat pemandangan dimana Auretta sedang disiksa.
Dengan seketika aku membatalkan kutukan yang ada padanya.

Fuuh. Dengan begini, aku telah menghindari skenario dimana Auretta mati karena kutukan itu.
Akan tetapi siksaan terhadap Auretta terus berlanjut.
Tak akan kumaafkan.

Akibat luapan amarahku, hampir saja aku lepas kendali dan menerjang ke sana. Tapi aku putuskan untuk menahan diri.
Masuk kesana dan menyelamatkan Auretta sangat mudah.
Tapi apa yang aku kulakukan setelah itu?

Sepertinya masalah kali ini tak akan selesai kecuali aku memberi pelajaran kepada Kerajaan Scottyard.
Mereka sudah menaruh kecurigaan terhadapku.
Tapi aku masih ragu apakah aku harus melakukan itu.
Soalnya aku tak ingin melakukan sesuatu seperti menguasai dunia atau semacamnya.

Saat aku memikirkan itu, pak tua dan Serina muncul di sebelahku.

[Apa yang kalian lakukan?]
Aku melihat mereka berdua dan sedikit terkejut.
Serina sedang digendong seperti tuan putri oleh pak tua.

[Saya tahu kalau Anda sedang berada di langit, jadi...]
Pak tua mengatakan itu dan menurunkan Serina.
Tentu saja, Serina juga bisa menggunakan sihir terbang dan berdiri di udara.

[Kami telah mendengar apa yang telah terjadi. Kami segera datang ke sini untuk membantu Anda.]
[Saat ini Auretta sedang disiksa.]
Auretta tak kuat menahan siksaannya sehingga memutuskan untuk membuka mulut.

[Apa Anda bisa melihat ke dalam? Benteng Hamilton telah dilapisi oleh sihir pertahanan. Seharusnya sihir pendeteksi juga dihalau, tapi...]
[Sihir kami tak bisa dihentikan hanya dengan pertahanan seperti itu.]
Tanpa menunggu lama, pak tua langsung menjawab pertanyaan Serina.

[Jika kita membiarkan keadaan ini, masalahnya akan menjadi semakin besar.]  (pak tua)
[Ya. Aku juga khawatir soal itu.] (Ashtal)
[Kita harus bersiap-siap untuk keadaan darurat.] (pak tua / Serina)
[Tidak ada waktu untuk membicarakannya sekarang. Aku akan segera kembali.](Ashtal)

Aku tak bisa membiarkan Auretta dalam keadaan itu.
Akupun segera menggunakan sihir pertahanan di sekitar Auretta.

Sepertinya dia berpikir kalau kutukannya telah aktif. Tapi sebenarnya bukan.
Biasanya formasi sihir akan segera hilang saat sihirnya aktif.
Tapi kali ini aku sengaja membuatnya tetap terlihat.
Itu untuk membuat mereka sadar bahwa sihir pertahanannya masih aktif.

Kemudian aku melepaskan sihir terbangku dan terjun ke bawah.

Benteng Hamilton berbeda dari benteng biasa.
Benteng biasa hanya memiliki struktur pertahanan yang lemah terhadap musuh yang terbang di udara.
Tapi kalau musuh bisa dengan mudah menyerang dari udara, tak ada gunanya bertahan di benteng ini.
Oleh sebab itu, keseluruhan benteng ini dilapisi dengan material yang sangat keras.
Tentu saja, bentuknya bukan persegi.
Terdapat beberapa tonjolan dan bagian yang bisa dibuka-tutup.
Sepertinya karena saat ini bukan masa perang, beberapa bagian sengaja dibuka.

Aku mendarat di sisi barat-daya.
Tidak ada penjaga di sini.

[Tepat sekali.]
Aku menjawab para penyiksa yang sedang kebingungan.
Tentu saja aku menggunakan sihir untuk memproyeksikan suaraku dari sini.

Saat ini Auretta sedang berada di penjara tepat di bawahku.
Sepertinya dinding benteng ini diperkuat dengan sihir pertahanan yang sangat kuat, tapi tak ada gunanya di hadapanku.
Aku mengumpulkan jaki di kakiku dan menghentakkannya ke lantai.
*krak...
Terlihat retakan di lantai.

Ternyata lebih keras dari yang kuperkirakan.
Kemudian aku melompat dan mengumpulkan lebih banyak kekuatan, lalu menendang lantainya.
Aku berhasil menghancurkan atap beserta bangunan di bawahnya.
Lalu aku mendarat di tangga yang menuju ruang bawah tanah..

[Ashtal-sama!!!!]
Auretta terkejut melihatku.
Aku menghanjar salah satu penyiksa dan membuatnya terlempar.
Penyiksa itu kemudian jatuh tak bergerak.

[A-A-Apa kau yang bernama Ashtal?]
Penyiksa yang lain berusaha menggunakan Auretta sebagai sandra.
Dia mencoba mendekati Auretta, namun terpental oleh penghalang.

[Geh...]
Penyiksa itu jatuh tepat di depanku.
Kemudian aku menusuk tangannya dengan sebuah jarum baja besar yang ada di ruangan itu.

[Gaaaah!!!]

Aku mengambil kunci yang ada di pinggang si penyiksa dan melepaskan Auretta dari borgolnya.
Auretta yang sudah tak ada tenaga pun terjatuh ke arahku.
Tentu saja aku menangkapnya.

[Ah... tak kusangka Anda datang secepat ini.]
[Maaf karena aku sedikit terlambat.]
[Tidak, justru aku yang harus minta maaf karena telah membocorkan rahasiamu.]
[Informasi itu sudah tak berharga lagi. Jadi tak masalah.]

Auretta pasti merasa aneh karena kutukannya tidak aktif meskipun dia membocorkan rahasia tentangku.
Maka aku pun menjelaskan alasannya padanya.
Aku memberitahunya bahwa aku telah membatalkan kutukan itu sebelum dia sempat berbicara.

Lalu pak tua dan Serina datang.
Aku menyerahkan Auretta pada Serina dan melihat ke arah para penyiksa.

[To-Tolong maafkan aku. Aku hanya melakukan perintah.]

Aku menarik jarum baja di tangannya, menggenggam si penyiksa dan mendorongnya ke dinding.

[Siapa yang menyuruhmu?]
[Ka-Kapten Curtis, saat ini dia sedang berada di benteng, jadi...]
[Oh, begitu. Jadi kau hanya melakukan perintahnya, ya?]
Aku menyipitkan mataku.

[I-Iya!!]
[Kalau begitu, ini bukan kesalahanmu, ya?]
Penyiksa itu terlihat lega setelah mendengar kata-kataku.

[Kalau begitu, apa kau akan mengampuniku---ugyaaaaa!]
Aku memotong lengannya.

[Ke-Kenapa?]
[Tapi aku tetap tak akan mengampunimu.]
[Me-Meskipun itu bukan salahku?]
[Ya, ini kesalahan orang yang menyuruhmu. Aku akan mengirimnya ke neraka nanti. Jadi persiapkan keluhanmu dan tunggulah dia di sana.]

Itu adalah pernyataan hukuman mati.
Aku menemukan sesuatu yang menarik diantara alat siksa.
Bentuknya seperti sebuah peti dengan banyak sekali jarum di penutupnya. (tln : iron maiden)
Kemudian aku memasukkannya ke dalam peti itu dan mencoba menutupnya.

[Benda ini sangat cocok untuk menyiksamu.]
[Tu-Tunggu dulu! Jika kau menutupnya, aku akan beneran mati!]
[Terus kenapa benda ini ada di sini?]
[Benda ini digunakan untuk mengancam korban, kami tidak benar-benar menutupnya.]
[Kalau begitu... aku akan mengajarkanmu cara pemakaiannya.]
[TIDAAAAAAAAK]
Aku menutup peti itu dan memberi tekanan agar tutupnya tidak terbuka.
Darah terlihat keluar dari dalam peti diiringi suara teriakan penyiksa itu.

[Apa seharusnya aku membuatnya lebih tersiksa?]
Saat aku bertanya dan melihat ke arah Auretta, dia hanya menggelengkan kepala.

[Ashtal-sama, tak seharusnya Anda menghabiskan waktu untuk hal semacam ini.]

Aku melihat kearah pak tua karena sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.

[Katakan kalau kau ingin mengatakan sesuatu.]
[Saya telah memikirkan sebuah jalan keluar untuk masalah ini, tapi kalau Anda ingin mengamuk seperti ini, maka saya tak akan menggunakannya.]

Kemudian aku melihat kembali ke arah Auretta.
Aku melihat pada luka yang ada di tubuhnya.

[Tak ada cara lain selain ini.]
Aku harus menunjukkan sesuatu kepada orang yang berani melakukan ini.

[Pikirkan apa yang seharusnya kau lakukan selagi aku membereskan mereka.]
[Baiklah, Dewaku.]

Pak tua hanya bisa memberi senyuman pahit dan membawa Auretta berpindah dari sini.
Akupun menaiki tangga dan berjalan ke luar.







3 comments: