Evil God Chapter 64

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Chapter 64 :
Penaklukan Menara Kristal (2)


Kamipun menuju elevator yang akan membawa kami ke lantai enam.

[Mungkin Anda sadar, sebenarnya letak elevator ini persis sama dengan yang di lantai satu. Jadi Anda bisa menggunakan elevator ini untuk turun ke lantai satu.]

Jelas pak tua.

[Ada juga fungsi yang bisa merekam data biometrik Anda. Jadi jika Anda mendaftarkannya, maka Anda bisa pergi ke lantai berapapun antara lantai satu hingga enam.]

Sepertinya tak salah jika beranggapan bahwa lantai sepuluh juga memiliki struktur yang sama, dan fungsi ini akan bisa digunakan setiap lima lantai.
Akupun mendaftarkan data diriku kemudian melanjutkan perjalanan.

Lalu, musuh yang sama dengan lantai satu pun muncul di hadapan kami.

[Eh? Apa pola musuhnya sudah rusak?]
[Eh? Tidak, sepertinya bukan begitu.]

Serina terburu-buru menyangkal perkataanku.

[Lagipula, ada berapa banyak musuh yang Anda lihat?]
[Kurasa jumlahnya sekitar 40.]

Aku menjawab sambil memasang wajah bingung.

[Aku hanya bisa melihat lima. Mungkin yang lainnya terlihat tembus pandang.]

Setelah mendengar jawaban Serena, akupun melihat ke arah pak tua dan yang lainnya.

[Jadi kau tak bisa melihat mereka....]
[400 tahun yang lalu juga seperti ini. Mata manusia sungguh tidak berguna.]

Jeko mengangkat bahunya.
Evil eyes milik kami juga bekerja pada benda tembus pandang.
Mekanismenya tidak berguna pada kami.

[Omong-omong, tentang cara mematikan efek tembus pandangnya---]
[Tidak perlu.]
[Sudah kuduga...]

Apa dia telah memprediksi jawabanku? Serena membalas jawabanku dengan cepat.

***

Dengan begitu, kamipun menyelesaikan lantai sepuluh.
Mekanisme di lantai sepuluh adalah jika kau tidak mengalahkan bos dalam batas waktu tertentu, perangkap di ruangan itu akan meledak.
Saat kami mendengar penjelasan itu, bos musuh sudah kalah.

[Sepertinya tidak ada masalah. Yah, menara ini sudah berdiri sejak ribuan tahun lalu, jadi tidak mungkin isinya berubah secara tiba-tiba.]

Jelas pak tua.
Kegiatan memeriksa menara ini telah berakhir.

[Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Pulang?]

Tanya Adrigori.
Akupun berpikir sejenak.

[Karena aku bisa mengamuk sesukaku di tempat ini, aku akan bermain sebentar di sini. Kalian boleh kembali duluan.]
[Kalau begitu, aku akan ikut denganmu. Yah, meski aku hanya bisa menonton saja.]

Dari segi waktu, akan merepotkan jika kembali sekarang.
Ayo naik ke lantai 16.

Kalau aku membawa Adrigori dan Jeko, kita bisa mengambil jalan pintas antara lantai 11 sampai 15.

[Baiklah kalau begitu, kita akan pergi ke lantai 16.]

Jawab Adrigori.

[Aku tidak bisa.]

Kata Jeko.

[Bukankah kau sudah menyelesaikannya hingga lantai 15 juga?]
[Kupikir aku tak akan ke sini lagi, jadi aku tidak mendaftarkan diriku.]

Jeko sama sekali tidak malu mengatakan hal itu.
Yah, lagian mengharapkan dirinya adalah sebuah kesalahan.

Saat Adrigori mengoprasikan elevatornya, kamipun dibawa ke atas.

Lantai 16 memiliki musuh yang sama dengan lantai pertama, jumlahnya ada empat.
Ada juga tipe petarung jarak dekat yang menggunakan pedang.
Tapi aku merasakan aura yang belum pernah kurasakan sebelumnya dari mereka.

[Hm? Aura apa ini?]
[Ini adalah tipe ki yang dikeluarkan oleh spesies armor. Mungkin kita bisa menyebutnya kiki]
(Tlnote: mungkin dari 機械 (kikai) yang berarti mesin dan ki)

Pak tua dengan seenaknya memberinya nama.
Yah, karena tak ada satupun orang yang tahu soal aura ini, jadi dia berhak menjadi yang pertama menamainya.

[Meski mereka tidak hidup, tapi mereka bisa mengeluarkan ki? ]
[ilmu pengetahuan sihir milik kekaisaran kuno dapat membuatnya menjadi mungkin. Tak ada penjelasan lain selain itu.]

Itu tak mengubah apa yang akan kulakukan.
Level musuh semakin meningkat. Dan ki yang dikeluarkannya juga semakin kuat.
Seberapa kuat peningkatannya?

Pertama, aku akan mencoba mengamatinya.
Aku mendekati jarak serang musuh. Mengurangi kekuatan pelindungku, dan menerima serangan peluru sihirnya.

Peluru sihir itu lebih kuat dari dugaanku, menembus pelindungku lalu menggores lenganku.

[Tch... kuat juga.]

Aku melihat tanganku yang terluka.
Ada darah keluar dari luka tersebut.
Yah, tentu saja luka itu langsung sembuh.

[“Jika kau berhasil menyelesaikan lantai 15, maka kau pasti cukup kuat untuk mengalahkan raja iblis dari bencana iblis.” Ini sih lebih dari itu.]

Pak tua menyuruh Serena untuk berdiri di belakangnya.

[Bukan hanya itu, karena kita sudah berada di lantai 16, maka kekuatan musuh juga semakin kuat.]

Jeko menganalisa keadaan.

Ada juga kemungkinan kalau mereka memiliki trik tersembunyi.
Tapi tak ada orang yang pernah menyelesaikan lantai ini, jadi sayang sekali tak ada informasi tentang hal itu.

[Aku akan membawa Serena ke tempat yang sedikit jauh dari sini.]

Pak tua mengatakan hal itu kemudian mengambil jarak.
Ini bahkan bukan tempat dimana manusia seharusnya berada.

Mungkin lebih baik jika mengantarnya pulang sekarang.
Yah, meski begitu, dia sendirilah yang ingin terus ikut bersama kami.

Akupun mengambil katana dari Jeko dan berlari ke arah musuh.
Spesies armor itu kemudian berpencar kemudian menembak dari berbagai arah.
Aku hanya bisa menghindar ke atas atau ke bawah.
Aku harus memilih untuk terbang atau membungkuk.

Ada spesies armor yang menunggu pergerakanku sambil memegang pedang.

Kalau begini---

Akupun meluncur dan segera menuju ke arah spesies armor yang memegang pedang itu.

*Zash...*
Aku tak tahu apakah gerakanku tadi tak bisa diprediksi atau mereka atau tidak, tapi pergerakan spesies armor tersebut sedikit tertunda dan akupun memotong mereka menjadi dua.
4 spesies yang lainpun berusaha mengepungku. Tapi aku sudah memprediksi hal itu.

Aku bergerak ke samping mereka lalu memotong mereka satu per satu.

[Oh! Luar biasa!]

Adrigori kembali memujiku dengan wajah serius.

[Mereka mungkin juga termasuk anak buah, tapi kekuatannya cukup kuat juga.]
[Ini adalah salah satu dari fasilitas penting di era kekaisaran kuno. Itulah sebabnya penjaganya cukup kuat.]
[Kalau begitu ayo mulai serius. Soalnya itulah fungsi tempat ini.]

Akupun melepaskan cincin yang menahan jaki milikku.
Meskipun mereka bertambah kuat, tapi mereka tetap bukan lawan bagiku yang telah melepaskan jaki milikku.
Lantai 17 hingga 19 tidak memiliki trik tersembunyi. Dan kamipun melaluinya tanpa masalah.
Saat kami memasuki lantai 20, aku merasakan sebuah aura yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

[Aura apa ini?]

Aku mengerutkan keningku.

[Kami tidak tahu. Kami juga belum pernah merasakan aura ini sebelumnya.]

Karena pak tua juga tak tahu, ini pasti sesuatu yang baru.
Kamipun pergi menuju aura tersebut.

Yang terlihat oleh kami adalah seekor naga terbang.
Ada seekor naga di sebuah tempat yang sangat luas.

[Naga... tapi, ini bukanlah aura dari ras naga... naga apa ini?]
[Tidak mungkin...]

Pak tua membuat wajah terkejut.

[Apa kau tahu naga apa ini?]
[Kekaisaran kuno memiliki pasukan berupa spesies armor yang kuat. Lantas, apa yang mereka lawan? Bukankah naga ini yang menjadi lawan mereka?]

Dahulu kala. Jauh sebelum aku bereinkarnasi.
Di masa dimana dikatakan masih memiliki dewa.
Manusia sangat makmur di bawah perlindungan para dewa.
Di masa itu hanya ada satu negara.
Kekaisaran kuno Ulugu.

Menara kristal ini adalah salah satu fasilitas milik kekaisaran Ulugu.
Spesies armor adalah pasukan dari kekaisaran tersebut.
Lantas, apa yang mereka lawan?
Hal itu masih menjadi misteri hingga saat ini.

Perang pada masa itu. Perang yang mengakhiri era tersebut.
Perang itu sangat mengerikan.
Tapi semua itu menjadi masuk akal jika melawan naga ini, yang bahkan tidak diketahui oleh Dewa Iblis seperti kami.

[Hipotesismu sangat aneh. Jika musuh yang mereka lawan adalah naga ini, kenapa naga ini ada di fasilitas mereka yang paling penting?]
[Mereka pasti menangkap dan menggunakannya untuk sesuatu... Lihat itu.]

Saat aku menanyakannya, pak tua menunjuk ke arah naga itu.
Terdapat rantai di kepala dan kakinya.

[Mungkin naga ini ditangkap dan dipaksa menjadi penjaga tempat ini oleh kekaisaran kuno.]
[Apa itu berarti kekaisaran kuno Ulugu menang dalam perang tersebut?]
[Aku tidak begitu yakin soal hal itu.]

Pak tua mengangkat bahunya menandakan dia tidak mengerti.
Tak peduli mereka menang atau kalah, mereka tetap harus mengurus tahanan perang.

[Ini hanya perasaanku saja, tapi aura milik naga itu sangat mirip dengan aura milik para iblis.]
[Aku juga berpikir begitu.]

Adrigori sependapat dengannya.

[Kalau begitu, kita sebut saja dia iblis, tidak... mungkin lebih tepat disebut “Naga Iblis”]

Pak tua segera menamainya.

[Apa yang harus kita lakukan?]

Jeko bertanya padaku.
Aku tak merasakan adanya kecerdasan dari naga itu.
Mungkin tak ada gunanya mencoba berbicara padanya.
Lagipula, entah kenapa naga itu berada dalam kendali kekaisaran kuno Ulugu.

[Untuk sementara, kita hanya bisa mencoba melawannya.]

Aku merespon dan kemudian memasang posisi bertarung.




6 comments:

  1. Shortlink-nya error tuh..

    error 1005

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks sudah ngasih tau... ini sudah kami benarkan

      Delete
  2. Mohon di percepat update evil god nya min 👍

    ReplyDelete
  3. Mantap, masih penasaran apa yg bakal ada di lantai teratas menaranya,senjata rahasia kekaisaran?

    ReplyDelete