Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 330 Bahasa Indonesia

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Arc 28: Pergerakan Janin

Chapter 330: Mikado dan Roh Salju





“Saya tak tahu soal Mikado-degozaru yo. Orang seperti beliau berada diluar jangkauan saya.” (Yae)

Itulah jawaban Yae setelah kutanya soal kaisar Ishen.
Dia benar-benar sosok yang misterius. Sepertinya tidak ada yang bisa bertemu dengannya selain para pemimpin daerah yang merupakan bawahannya.  Apa dia seorang Hikkikomori?

Untuk sekarang, ayo hubungi Ieyasu-san dan memintanya untuk membuat janji untuk bertemu.

Karena Ishen masih belum resmi menjadi anggota Aliansi Dunia, aku belum memberikan smartphone model produksi masal pada Ieyasu-san. Oleh karena itu, aku harus mengirim surat melalui cermin [Gate]. Aku menulis surat resmi dengan lambang Brunhild dan segera mengirimkannya.
Beberapa hari kemudian, aku menerima surat yang mengatakan bahwa Mikado bersedia untuk bertemu denganku, jadi aku membawa Yae dan berpindah ke istana Ieyasu-san di Oedo.

“Lama tak bertemu, Touya-dono.” (Ieyasu)
“Lama tak bertemu. Senang melihatmu baik-baok saja, Ieyasu-san.” (Touya)

Ieyasu-san yang terlihat lebih gemukan dari sebelumnya, menyambut kami dengan senyumnya yang seperti biasa.
Kami dibawa menuju ruang terpisah dan disuguhi teh. Oh, ini teh jenis houjicha... enak sekali.

Sudah lama juga aku tidak duduk di ruangan bertatami. Datang ke Ishen memang membuatku nyaman.

“Terima kasih atas kiriman beras dalam jumlah banyak pada waktu itu. Rasanya enak sekali. Yae juga selalu memakannya setiap hari.” (Touya)
“Itu karena masakan Claire-dono terlalu enak, sampai-sampai aku tak bisa berhenti makan... Tunggu- kenapa kau membicarakan hal itu di tempat seperti ini-degozaru ka! Touya-dono, kamu tega sekali-degozaru!” (Yae)

Kemudian aku harus menghibur Yae yang saat ini sedang membelakangiku sambil menggembungkan pipinya hingga terlihat sedikit merah. Aku tidak bermaksud jahat saat mengatakan hal itu, loh...
Melihat Yae yang dengan sangat bahagia melahap makanannya membuat hatiku terasa hangat. Itu membuatku merasa “Ah, hari ini tenang sekali, ya...”. Begitulah yang kurasakan. Lagian aku suka dirinya yang seperti itu...

“Hahaha, senang sekali melihat hubungan kalian sangat dekat. Saat Yae-dono masih di Ishen, dia hanya fokus pada latihan pedang. Kelihatannya dia sudah banyak berubah sejak bertemu pria yang dicintainya, ya...” (Ieyasu)

“Ci-Cinta... Ah.. eh.... um...” (Yae)

Yae terlihat semakin memerah saat mendengar perkataan Ieyasu-san tadi. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan sesekali mengintip ke arah sini sebelumm berbalik lagi karena merasa malu. Uwah... Makhluk lucu macam apa ini? Aku jadi ingin memeluknya saat ini juga.
Tapi tentu saja, tidak baik jika aku melakukannya di sini. Aku akan menahan diri... kemudian aku memberi sebuah batukan dan mulai membicarakan topik utamanya.

“Jadi, soal Mikado...” (Touya)
“Mikado tidak ada di Oedo. Beliau berada di Istana Kerajaan di Kyoto. Touya-dono pasti bisa dengan mudah kesana menggunakan sihir transfer. Tentu saja, aku juga akan ikut menemanimu.” (Ieyasu)

Kyoto, ya? Yah, aku memang menduga kalau dia ada di sana.

Aku masih belum mengetahui informasi penting mengenai Mikado. Aku cuma diberitahu “Kau akan mengerti saat melihatnya.”

Meskipun dia kaisar Ishen, Mikado sama sekali tidak ikut serta dalam masalah politik.
Hingga saat ini Ishen menggunakan sistem dimana setiap pemimpin daerah memimpin wilayahnya masing-masing. Dan meskipun sering terjadi masalah, Ishen masih bisa mempertahankan statusnya sebagai sebuah negara sambil mengatasi berbagai masalah dengan hati-hati.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, seseorang yang berniat untuk menggantkan Mikado telah muncul. Dia adalah Oda Nobunaga.

Nobunaga berniat untuk menyatukan Ishen dibawah pemerintahannya dan menyulut peperangan dengan pemimpin wilayah lainnya. Tapi karena pengkhianatan oleh salah satu bawahannya, Akechi Mitsuhide, Nobunaga kehilangan nyawanya sebelum bisa mewujudkan ambisinya tersebut.

Jika kita melihat kembali, yang sebenarnya menyulut ambisi Nobunaga mungkin adalah seekor monyet yang menamai dirinya Hashiba Hideyoshi... Aku sangat curiga bahwa semua itu adalah ulah dari dewa bawahan yang menyembunyikan dirinya di balik bayang-bayang Hideyoshi saat itu.

Pada akhirnya, kekacauan itu berdampak sangat buruk pada keseimbangan kekuatan antara pemimpin wilayah. Tapi Ieyasu-san telah berhasil mengambil posisi teratas pada saat kekacauan itu terjadi.

Pokoknya, jika Mikado setuju untuk bertemu, maka tak ada salahnya untuk segera pergi ke sana.
Jujur saja, aku tak peduli apakah Ieyasu-san berhasil menjadi perwakilan Ishen atau tidak saat ikut dalam aliansi nanti. Tapi akan gawat kalau nantinya muncul protes dari pihak lain.

Aku menerima ingatan tentang Kyoto menggunaka [Recall], dan kemudian membuka [Gate] ke sana.
Akupun berpindah menuju Kyoto bersama Yae, Ieyasu-san, dan beberapa penjaganya.

“Haa.... begitu... jadi ini Kyoto...” (Touya)

Seperti yang kuduga... Suasananya persis seperti ibukota pada masa era Heian yang sering muncul di drama sejarah. Ya ampun... bukankah jalannya waktu terlalu aneh di tempat ini? Tuh lihat, ada kereta sapi di jalan.
(Heian : 794-1185 M )

Di hadapan kami terdapat sebuah gerbang berwarna merah cerah. Di belakang kami terdapat sebuah jalan yang terbentang hingga kejauhan. Sebuah bangunan lima tingkat bisa terlihat di kejauhan. Kenapa tempat ini mirip sekali dengan Jalan Suzaku di Kyoto jaman dulu?
(Jalan Suzaku merupakan jalan panjang dari gerbang kota yang terbentang hingga istana kaisar di kyoto pada zaman dahulu. Sepertinya Ibukota jepang pada zaman dahulu dibangun mengarah ke selatan, sehingga dewa penjaga selatan yang berbentuk burung merah bernama Suzaku, dijadikan nama jalan ini.)

Gerbang merah itu terbuka dengan suara decitan yang keras ketika Ieyasu-san memberitahu kedatangannya.

Kami melepas sepatu kami dan masuk ke dalam istana yang terlihat seperti kuil sambil dikawal oleh dua orang yang berpakaian seperti bangsawan pada era Heian.

Kami berjalan melalui beberapa pilar berwarna merah untuk beberapa saat. Rasanya seperti sedang tersesat dalam sebuah labirin oriental.

Akhirnya orang yang menjadi pemandu kami pun berhenti di depan sebuah pintu geser yang terlihat sangat mewah yang sepertinya merupakan pintu ruangan terdalam istana ini.
Pemandu itu dengan perlahan membuka pintu geser yang memperlihatkan sebuah ruangan bertatami yang luas. Di ujung ruangan terdapat sebuah tempat duduk penguasa yang dihalangi oleh sebuah tirai bambu.
Aku merasakan keberadaan seseorang yang sedang duduk di sana. Kaisar Ishen, ya?

Setelah menyuruh pengawal Ieyasu-san untuk tetap tinggal di luar, pintu itupun kembali ditutup. Kami terus berjalan hingga tiba di depan tirai hingga Ieyasu-san berhenti di tempat yang telah ditetapkan.

“Yang Mulia. Beliau adalah Penguasa Brunhild Dukedom. Mochizuki Touya.” (Ieyasu)

Ieyasu-san mengubah gaya bicaranya, dan membungkuk sambil duduk di atas tatami. Meskipun Yae juga duduk dan menundukkan kepalanya, tapi aku sama sekali bukan rakyat negara ini maupun bawahannya, jadi aku sama sekali tidak ikut membungkuk.

Meskipun kecil, tapi tetap saja aku adalah penguasa dari sebuah negara. Jadi aku tak boleh menundukkan kepalaku dengan mudahnya. Atau begitulah pikirku... aku hampir saja ikut menunduk karena suasana di tempat ini. Yah, kalau cuma sedikit menundukkan kepala sih kurasa tak masalah.

“Terima kasih karena telah datang kemari, wahai penguasa Brunhild.” (Mikado)

Tirai bambu itu pun ditarik dengan perlahan menunjukkan orang yang sedang duduk di baliknya.

Orang yang duduk di sana memakai Junihitoe berwarna pink muda dengan warna putih sebagai dasarnya. Dia adalah seorang wanita cantik, dengan kulit seputih salju. Aku cukup terkejut melihat rambut panjangnya yang bahkan lebih putih dari kulitnya.
(Junihitoe adalah baju yang biasa dipakai oleh bangsawan wanita pada era heian. Silakan cari google kalau penasaran. Biasanya pakaian ini terdiri dari 12 lapis. Jumlahnya terkadang bervariasi tergantung era. Kalau kalian pernah lihat anime atau drama kekaisaran jepang, kalian pasti tahu baju yang sering dipake oleh kaum wanita di istana.)
(warna pinknya kira-kira seperti warna tulisan ini)

Tak kusangka... ternyata Mikado adalah seorang wanita.

Tapi ada lagi yang lebih membuatku terkejut. Dia memiliki mata yang berwarna merah, dengan dua buah tanduk kecil yang tumbuh di keningnya...
Oni. Itulah kata yang muncul di pikiranku saat melihatnya. Tidak, daripada disebut oni, dia lebih mirip seperti manusia yang memiliki tanduk. Demi-human?
(Shuna? *slime tensei)

“Namaku Shirahime. Aku telah menjadi Permaisuri Ishen selama kurang lebih dua ribu tahun.” (Shirahime)
“Ah. Halo... namaku Mochizuki Touya.” (Touya)

Dua ribu tahun, ya... Apakah dia termasuk ras yang memiliki umur panjang seperti Permaisuri Elfrau? Eh? Tapi meskipun ras bertanduk bisa hidup lebih lama dari manusia biasa, tapi kurasa umur mereka tak sampai sepanjang itu...
Dan juga, aura yang kurasakan dari dia.... rasanya pernah kurasakan sebelumnya... dimana ya... Ah.

“Apakah Anda telah menyadarinya? Meskipun ayahku berasal dari ras manusia bertanduk, namun ibuku adalah roh...” (Shirahime)

Shirahime sedikit tersenyum.
Oh iya... auranya memang sedikit sama dengan roh.
Roh juga bisa melahirkan anak jika dia mengubah dirinya menjadi manusia. Tapi untuk melakukan itu, roh tersebut akan kehilangan sebagia besar kekuatan rohnya. Bahkan lebih buruk lagi, itu bisa membunuhnya.

Tentu saja, roh tak bisa mati seperti halnya manusia. Mereka akan kembali bereinkarnasi menjadi roh. Namun roh tersebut tidak sama dengan roh yang telah mati sebelumnya. Apa mungkin roh yang menjadi ibu dari Shirahime melakukan itu meski sudah mengetahui konsekuensinya?

“Sebagai seseorang yang memiliki darah roh yang mengalir dalam dirinya, aku seharusnya menundukkan kepalaku padamu yang merupakan raja dari para roh. Jadi maafkan aku kalau aku tak bisa melakukan hal itu. Soalnya statusku juga adalah seorang pemimpin dari sebuah negara.” (Shirahime)
“Ah... tak perlu khawatir. Omong-omong, darimana kau tahu soal itu?” (Touya)
“Dependan roh es. Karena roh es sudah seperti bibiku, dependannya telah mengajariku soal banyak hal.” (Shirahime)
“Berarti, ibu dari Shirahime-san adalah...” (Touya)
“Roh Salju. Beliau adalah ibu yang sangat baik...” (Shirahime)

Begitu... jadi ibunya adalah roh salju. Itu menjelaskan kenapa penampilannya menjadi seperti ini.
Roh salju merupakan roh yang setingkat dengan roh es. Mereka hanya satu tingkat dibawah roh utama. Roh tingkat tinggi seperti mereka yang muncul ke dunia ini merupakan sebuah kejadian yang sangat langka.
Sepertinya, saat Shirahime masih muda, ibunya, roh salju, telah kehilangan seluruh kekuatannya dan menghilang.

“Sebenarnya aku sudah lama ingin berterima kasih padamu mengenai masalah Hashiba Hideyoshi.” (Shirahime)
“Soal monyet itu?” (Touya)
“Meskipun ini sangat memalukan, tapi aku tak bisa menentang orang itu. Penunjukannya sebagai pemimpin wilayah juga dipaksakan secara sepihak olehnya.” (Shirahime)

Yah, meskipun kepribadiannya sangat buruk, dia tetap seorang dewa bawahan, sosok yang suci. Bagi Shirahime yang hanya memiliki setengah darah roh, dia pasti sangat kesulitan melawan kehendak monyet itu...

“Saat Ieyasu yang ada di sana telah mengalahkan Hideyoshi, aku merasa kalau beban yang kurasakan telah hilang. Terima kasih.” (shirahime)
“Saya merasa sangat terhormat mendengarnya.” (Ieyasu)

Ieyasu mengatakan itu masih dalam keadaan menundukkan kepalanya. Err.... kurasa tak masalah jika kau mengangkat kepalamu sekarang.

“Lalu, soal pertemuan kali ini...” (Shirahime)
“Ah, soal itu...” (Touya)

Aku duduk bersama Shirahime-san dan mulai menjelaskan maksud kedatanganku ke sini.
Kami membicarakan soal keanggotaan Ishen dalam Aliansi Dunia telah resmi diterima. Dan juga soal Shirahime-san yang mengutarakan keinginannya untuk hadir dalam pertemuan aliansi. Yah, pertemuan selanjutnya juga mencakup sesi bersantai para anggota keluarga kerajaan di pantai pribadi Egret. Jadi mungkin pakaian Junihitoe yang dipakainya akan sedikit merepotkan.
Dan juga, baginya yang memiliki darah roh salju, mungkin matahari di iklim tropis aka sedikit tidak baik untuknya. Aku harus memikirkan solusi masalah itu juga.

Setelah itu, aku memberikan dua buah smartphon produksi masal berwarna putih kepada Shirahime-san dan Ieyasu-san, serta mengajarkan mereka cara memakainya.

Tak kusangka kalau Shirahime-san bisa menguasainya lebih cepat dari Ieyasu-san. Saat ini dia sedang mengambil foto dari berbagai barang yang ada di ruangan sambil tersenyum. Sepertinya dia sangat menyukainya.

“Oh iya, ada satu hal yang membuatku penasaran soal pembicaraan kita tadi. Ibunya Shirahime-san... roh salju, apakah dia pernah menampakkan diri di hadapanmu sejak dia menghilang dulu?” (Touya)

Kalau dia menghilang saat Shirahime-san masih kecil dulu, berarti itu sudah lama terjadi. Mungkin dia sudah hidup kembali.

“Jika roh hilang dari dunia ini, maka dia akan hidup kembali dengan kepribadian yang berbeda. Dia sudah bukan ibuku lagi. Aku tak yakin kalau dia akan bereaksi meskipun roh salju yang sekarang melihatku...” (Shirahime)

Aku tak bisa mengatakan apapun pada Shirahime-san yang menunjukkan senyum kesepian.
Memang benar. Roh Kegelapa yang dulu pernah kukalahkan juga terlahir kembali dengan kepribadian yang berbeda saat aku bertemu dengannya di alam roh waktu itu. Dia juga kehilangan ingatan sebelumnya. Tapi kurasa tidak semuanya hilang. Roh salju harusnya bisa sedikit merasakan sesuatu dari Shirahime-san yang telah dilahirkannya tak peduli sekecil apapun hal itu.

“Bagaimana kalau kita coba memanggilnya?” (Touya)
“Ibuku? Apa itu bisa dilakukan?” (Shirahime)
“Bisa. Tapi tentu saja, ada kemungkinan besar kalau dia tak akan mengingatmu. Tapi aku yakin kalau dia pasti bisa merasakan sesuatu dari anaknya sendiri.” (Touya)

Shirahime-san terlihat sedikit ragu. Tapi akhirnya dia mengangguk pelan.

Biasanya, untuk memanggil roh diperlukan sebuah medium (dalam kasus ini adalah salju untuk memanggil roh salju). Tapi karena aku telah menyandang gelar sebagai Raja Roh, maka aku tak perlu melakukannya.
Aku membangkitkan sedikit kekuatan surgawi, dan memanggil ke alam roh.

“[Atas nama Raja Roh. Datanglah. Wahai Roh Salju.]” (Touya)

Aku memanggilnya dengan menggunakan bahasa roh yang tak dimengerti oleh siapapun di ruangan ini.
Daripada penasaran dengan apa yang baru kukatakan, semua orang malah kaget melihat salju yang tiba-tiba muncul dalam jumlah yang banyak beterbangan dari suatu tempat di dalam ruangan.
Salju tersebut kemudian mulai menyatu dan membentuk sebuah sosok di hadapanku.

.... Aku jadi ingat, saat roh mati, bukan hanya ingatan mereka, tapi kepribadian dan juga jenis kelamin mereka juga akan direset. Duh, bagaimana ini. Apa yang harus kulakukan jika yang muncul adalah seorang pria macho? Itu mungkin akan menyebabkan trauma bagi Shirahime-san. Mungkin aku terlalu terburu-buru melakukannya.

Syukurlah...
Wujud roh salju yang muncul di hadapanku adalah seorang wanita cantik. Kurasa kekhawatiranku tidak terjadi...

Rambut dan kulit yang putih. Dia sangat mirip dengan Shirahime-san...
Orang bisa salah mengira kalau mereka adalah saudara... serius deh. Yah, tapi roh salju sama sekali tak memiliki tanduk dan mata merah.
Oya? Dia tidak muncul dalam wujud spiritual, tetapi menggunakan wujud nyata. Apa tubuhnya itu terbuat dari salju?
Tak lama kemudian, mata birunya itu terbuka, dan melihat ke sekeliling ruangan hingga berhenti pada Shirahime-san.

“I-I...bu...?” (Shirahime)

Roh Salju terlihat kebingungan dan hanya bisa menunjukkan senyumnya mendengar perkataan Shirahime yang bergetar. Kemudian aku mencoba bertanya padanya.

“Jadi... kau memang tidak mengingatnya, ya?” (Touya)
“...Ya. Ingatanku terasa sedikit kacau. Tapi ada sedikit perasaan yang mengatakan bahwa orang di depanku ini adalah anakku. Anak... yang sangat berharga bagiku. Itulah yang dikatakan oleh hatiku.” (Roh salju)

“Guh... I-Ibu....” (Shirahime)

Roh salju memeluk Shirahime yang mulai terisak-isak. Permaisuri Ishen, yang telah mengeluarkan air mata, merangkul roh salju dan memeluknya dengan erat.

Karena tubuhnya terbuat dari salju, harusnya terasa sangat dingin saat disentuh. Tapi Shirahime-san tak mempedulikan itu dan membenamkan wajahnya di badan roh salju dan menangis. Yah, lagian dia itu anak dari roh salju, jadi tak aneh jika dia memiliki ketahanan terhadap rasa dingin yang sangat tinggi.

Saat aku melihat ke sebelahku, Yae terlihat sedang menahan luapan perasaannya saat melihat pertemuan hangat antara keluarga yang sedang terjadi di hadapannya. Bahkan ingusnya sudah hampir meleleh dari hidungnya.

“guh... Uee.. Syukurlah-degozaruuu....” (Yae)
“Haah... pakai ini.”(Touya)
Aku mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menyeka wajahnya. Seperti biasa, Yae sangat mudah terharu. Yah, aku juga suka dengan kepribadiannya itu sih. Tapi Yae pasti akan marah jika aku bilang kalau dia sangat manis saat seperti itu.


“Uguh... Uuu... Syukurlah, Yang Mulia...” (Ieyasu)

Saat aku berbalik dan melihat ke arah sumber suara itu, aku melihat Ieyasu-san sedang melihat ke arah atap dengan air mata yang berlinang di wajahnya.
Kau juga?
Aku tak akan meminjamkan sapu tanganku padamu!

“Wahai Raja Roh. Meskipun Anda yang telah memanggilku ke sini. Saya mohon maaf pada Anda. Bisakah saya menjalin kontrak dengan anak ini saja?” (Roh salju)
“Hmm? Tak masalah.” (Touya)

Aku tak memanggilnya untuk membuat kontrak denganku. Lagian aku sama sekali tak butuh kontrak untuk memanggil roh. Daripada denganku, kurasa roh salju akan lebih senang jika dia bisa bersama Shirahime-san.

“Mulai sekarang, aku akan selalu berada di sisimu. Meskipun saat kau berada dalam kesedihan maupun kesulitan apapun, aku akan senantiasa melindungimu, mendukungmu, dan melangkah bersamamu menuju hari esok. Wahai anakku yang kusayangi. Semoga para Dewa memberkatimu.” (Roh salju)
“Ibu...” (Shirahime)

Kemudian roh salju berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang. Dia meninggalkan sebuah batu roh sebesar kelereng yang berwarna putih.
Aku meminjam batu roh tersebut dari Shirahime-san, kemudian mengeluarkan sebongkah mithril dari dalam [Storage] dan membuatkan sebuah gelang dan melekatkan batu roh itu disana menggunakan [Modelling]. Dengan begini, dia bisa menyimpannya dengan lebih mudah.

Shirahime-san menerima gelang itu dariku, dan memeluknya dengan sangat lemah lembut.

“Terima kasih atas hadiah yang sangat berharga ini, Yang Mulia Penguasa Brunhild Dukedom. Mari bersama menapaki jalan perdamaian dan kesejahteraan sebagai sesama teman, dan sesama penguasa sebuah negara.” (Shirahime)
“Ya. Mohon kerjasamanya.” (Touya)
(tln : Touya kena friendzone? Lol)

Aku pun berjabat tangan dengan Shirahime-san.
Mungkin karena dia baru saja memeluk roh salju, tangannya terasa dingin.
Tapi itu adalah rasa dingin yang terasa nyaman dan sangat lembut.

(Seperti sedang di ruangan AC saat cuaca panas ‘3’ atau seperti sedang makan es krim rasa vanila di musim panas ‘3’)






17 comments:

  1. Apakah ini pertanda issesuma update per hari?

    ReplyDelete
  2. Njir friendzone,isteri dah 9 pengurus babilon+profesor bejat 10 tambah insinyur elka dan klo touya masih mau nambah pasti gelar "raja muda nafsuan" pasti jadi kenyataan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Touya bisa punya istri sebanyak banyaknya kalo dia mau:v

      Delete
    2. kalo bininya nambah touya bisa dipukul ato disiksa bininya

      Delete
  3. Ditunggu kelanjutannya min

    ReplyDelete
  4. Istri sebanyak banyak nya,karena masih ada kesempatan di dunia kebalikan(iseuma)para gadis bisa dijadikan selir

    ReplyDelete
  5. Ntap...lanjut min.
    Thanks update sks.

    ReplyDelete
  6. Semangat min.....
    Lanjut kan!!

    ReplyDelete
  7. Terus min yang engslih udah jauh

    ReplyDelete
  8. 3 chapter terakhir yang ngerjain udesu mulu nih.yang lainya kemana?

    ReplyDelete
  9. Kirain nambah lagi calon istrinya 😅

    ReplyDelete