Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 332 Bahasa Indonesia

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Arc 28: Pergerakan Janin

Chapter 332: Reuni Tuan dengan Bawahan, dan Rasa Terima Kasih




“Nei... ya? Tak kusangka kau datang ke sini.” (Touya)
“Kenapa kau tahu namaku? Apa Endymion yang memberitahumu?” (Nei)
“Ah. Aku juga mendengarnya dari Mel.” (Touya)

Nei dengan seketika maju dan menggenggam kerah bajuku saat mendengarnya. Ksatria yang bertugas menjaga gerbang yang melihat hal itu langsung mengangkat dan mengacungkan tombak mereka ke arah Nei, tapi aku melambaikan tanganku untuk memberitahu mereka kalau semua baik-baik saja.

“Kau! Kenapa kau tahu soal [Penguasa]? Apa beliau telah terlahir kembali? Dimana beliau? Cepat beritahu aku!” (Nei)
“... [Power Raise]” (Touya)
“Guh... oo!?” (Nei)

Aku menggenggam tangan Nei, memelintirnya agar melepaskan cengkramannya pada kerah bajuku, dan kemudian melemparnya ke parit di depan istana. Nei tenggelam di parit itu sambil membuat cipratan air yang sangat besar. Sepertinya tipe penguasa tetap tak bisa berenang karena berat tubuh kristal mereka.
Tak lama kemudian, Nei melompat keluar dari parit itu dan menyebabkan sebuah pilar air yang menjulang tinggi. Sepertinya dia melompat dari dasar parit.

“Brengsek!” (Nei)
“Ende dan Mel sedang berada dalam perlindunganku. Aku tak keberatan untuk membawa Rize ke sana, tapi tidak untukmu.” (Touya)
“Apa yang-“ (Nei)
“Mel ingin berbicara denganmu. Tapi dia tak ingin kau melukai siapapun. Selama kau masih berniat mencelakai kami, maka kau akan melanggar keinginannya. Kalau begitu, aku tak akan bisa membawamu untuk menemuinya.” (Touya)
“Kau berbicara seolah kau tahu segalanya... orang sepertimu-” (Nei)

Rize menghentikan Nei saat dia berubah menjadi mode bertarung dengan armor kristal yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Nei, tenang dulu. Jika kau salah langkah, [Penguasa] pasti akan pergi menjauh darimu. Lagipula, bukankah kau ingin memberikan sesuatu pada [Penguasa]?” (Rize)
“Ugh... kau memang benar, tapi...” (Nei)
“Lagipula, kurasa dia tak akan mencelakai [Penguasa]. Dia juga telah mengalahkan Gira, apa kau yakin bisa menang melawannya?” (Rize)
“... Aku mengerti. Seperti yang Rize bilang, aku harus bertemu dulu dengan [Penguasa]... kali ini aku akan mendengarkan perkataan Rize.” (Nei)

Nei berkata demikian dan melepaskan mode bertarungnya. Sepertinya Rize berhasil membujuknya. Dari apa yang kudengar, Rize adalah adiknya Nei, tapi sepertinya sedikit berbeda dari apa yang kubayangkan...

“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” (Rize)
“Pertama, kalian harus rela masuk ke dalam barier seperti yang kulakukan pada End dan Mel. Kalau tidak, aku tak akan bisa membawa kalian.” (Touya)
“Baiklah.” (Rize)

Rize mengangguk mendengar usulanku. Sedangkan Nei hanya memalingkan pandangannya seolah mengatakan bahwa aku boleh melakukan apapun yang kumau.
Mereka menerimanya dengan sangat mudah, ya...
Mungkin dia pikir kalau dia bisa dengan mudah menghancurkan barier yang dibuat oleh manusia kapanpun dia mau dan memandang rendah padaku.

Kemudian aku memasang [Prison] yang ditambah dengan kekuatan surgawi pada mereka berdua. Bagaimanapun juga, akan gawat kalau mereka sampai mengamuk saat berada di Babylon.
Saat menyadari barier yang muncul di sekitar mereka, Nei hanya sedikit memicingkan matanya, sedangkan Rize mengetuk dinding [Prison] dengan rasa penasaran.

Dengan pertemuan dengan Rize dan Nei ini, kurasa ada kemungkinan bagi kami untuk menghidar dari pertarungan melawan Fraze di masa yang akan datang. Tapi kalau sampai salah langkah, ini malah bisa menjadi peperangan menyeluruh dengan mereka.

Yah, untuk sekarang, Nei sudah berada dalam [Prison], jadi dia tak akan bisa melakukan apapun yang berbahaya.

Kalau lawannya adalah tipe penguasa yang sudah mendapat kekuatan dari dewa jahat, mungkin mereka bisa menghancurkan [Prison] ini seperti yang pernah dilakukan oleh End.

Kemudian aku mengeluarkan smartphone milikku, lalu menghubungi End dan Mel. Aku telah memberi smartphone kepada mereka berdua.

Karena aku mengurung mereka dalam ruang terbatas di Babylon, setidaknya aku harus memberi mereka hiburan seperti buku untuk dibaca, atau permainan. Terkadang mereka juga pergi ke [Taman] untuk bermesraan. Sepertinya mereka juga sedang berada di sana saat ini.

“Un... Ya. Rize dan Nei telah datang. Aku akan segera datang ke sana dengan mereka sekarang... Sebaiknya kau bersiap karena ada kemungkinan kalau mereka akan menghajarmu.” (Touya)

Aku menutup telepon setelah selesai mengatakan itu pada End. Sepertinya tadi dia meneriakkan sesuatu sebelum kututup... terserah deh. Kurasa Mel pasti akan menghentikan Nei jika dia berniat menghajar End.

“Baiklah, ayo pergi.” (Touya)

Mereka berdua mengangguk. Akupun berpindah ke [Taman] Babylon menggunakan [Teleport] bersama mereka yang berada di dalam [Prison].

Di bawah langit berbintang, terdapat sebuah taman yang indah, dengan pepohonan dan bunga yang sedang mekar. Mel berdiri sendirian di bawah pohon terdekat.
Oh? End tidak bersamanya? Apa dia melarikan diri?

“[Penguasa]... Mel-sama.... Mel-sama!!! Aduh!” (Nei)

Sesaat setelah Nei melihat sosok Mel, dia pun segera berlari- dan kemudian dengan hebatnya membentur dinding [Prison].

Jangan lihat aku dengan pandangan seperti itu dong. Itu kan bukan salahku.

Mel segera mendekat ke sini dengan wajah khawatir. Karena di taman ini sudah ada [Prison], akupun menghilangkan [Prison] yang mengurung Rize dan Nei.

“Mel-sama...” (Nei)
“Lama tak bertemu, Nei.” (Mel)

Suara Nei terdengar bergetar saat dia berlutut dan memegang tangan Mel. Mungkin karena akhirnya bertemu dengan rajanya setelah sekian lama.

“Rize juga. Kau terlihat baik-baik saja.” (Mel)
“... Ya.” (Rize)

Oya? Apa barusan Rize tertawa? Bagi dia yang ekspresinya selalu datar, ini adalah sebuah kejadian langka.

“Touya-san, terima kasih karena telah membawa Rize dan Nei ke sini.” (Mel)
“Tak masalah, soalnya kita juga sudah memikirkan soal ini. Gunakanlah kesempatan ini untuk memberitahu mereka dengan jelas soal apa yang kau inginkan. Soalnya aku juga ingin agar Fraze tidak menghancurkan dunia ini lebih jauh lagi.” (Touya)
“.... Karena [Penguasa] sudah ditemukan, sudah tak ada alasan lagi bagi kami untuk menyerang dunia ini.” (Nei)
“Heh. Syukurlah kalau begitu. Jika situasi ini terus berlanjut, maka aku tak punya pilihan lain selain memusnahkan seluruh populasi Fraze.” (Touya)

(udesu : njir...)

Nei melototiku setelah mendengar apa yang baru saja kukatakan. Tapi, yah, setidaknya aku punya hak untuk mengatakan itu, kan? Kalian pikir sudah berapa banyak orang yang mati karena kalian?
Memang sih, kami juga melawan balik dan membunuh beberapa diantara mereka. Tapi itu hal yang wajar untuk membalas saat kau dihajar orang. Kebanyakan orang disini tak punya hobi untuk dibunuh tanpa perlawanan.
Seseorang pernah mengatakan, “Mereka yang membunuh orang lain juga harus siap untuk dibunuh.”

“Kalian sudah tak ada kesempatan untuk memusnahkan kami. Soalnya sebagian besar prajurit kami telah diambil alih oleh si [Emas]” (Nei)
“Emas? Maksudmu varian?” (Touya)
“Varian... nama yang aneh. Tapi kurasa cocok juga. Pengkhianat yang memimpin mereka, Leto dan Luto, telah menyerang kami dan mengubah sebagian besar pasukan kami menjadi milik mereka. Kami tak punya cara untuk melawan mereka. Mereka yang diambil alih kemudian berubah menjadi [Emas]... mereka berubah menjadi varian, menjadi sesuatu yang tak bisa lagi kami sebut saudara. Sekarang kamilah yang diburu oleh mereka.” (Nei)

Sel dewa jahat seperti patogen, menyebar pada organisme lain dan mengubah mereka menjadi makhluk baru secara paksa.
Itu seperti cerita dalam film zombie. Mereka yang sudah terinfeksi tak akan bisa kembali seperti semula.

Sungguh menyedihkan karena musuh terbesar mereka malah muncul dari dalam kelompok mereka sendiri.

“Mengingat apa yang telah kalian perbuat pada dunia lainnya, kurasa ini adalah karma bagi kalian.” (Touya)
“....” (Nei)
(udesu : medis mana medis... Touya terlalu brutal.)

Nei tidak menjawab perkataanku. Cih, kalau begini sih aku terkesan seperti sedang membully-nya.
(YA... STOP BULLY)

Aku tak akan berhenti sampai di sini saja jika orang terdekatku pernah mati atau terluka parah karena ulah mereka. Tapi karena itu tidak terjadi, aku tak punya alasan untuk dendam terhadap mereka.

Jujur saja, aku tak akan mempermasalahkannya selama mereka mau meninggalkan dunia ini.

“Yah, untuk sementara, kalian berempat harus membicarakannya bersama-sama.” (Touya)
“... Berempat?” (Rize)

Rize terlihat bingung.

“Bukankah ada satu orang lagi dibalik pohon yang ada di sana?” (Touya)
“Jangan beritahu keberadaanku dong, Touya.” (End)

End keluar dari tempat yang kutunjuk tadi dengan ekspresi menyesal. Aku bisa melihat selendangmu sejak tadi, loh.

Saat Nei melihat End, matanya mulai terlihat menyala.

“Endymion....!” (Nei)

Nei berdiri dari posisi berlututnya tadi, dan mengubah tangannya menjadi bentuk sarung tinju yang terbuat dari kristal. Dia terlihat sangat serius.
Yah, bagi Nei, End adalah orang yang telah memperdaya tuannya dan membawanya kabur.

“Tu-Tunggu dulu, Nei! Aku tak akan mengizinkanmu untuk menghajar Endymion!” (Mel)
“Tapi, Mel-sama... Aku tak bisa meredakan kemarahan ini kalau tidak menghajarnya.” (Nei)
“Y-Yah... Tenang dulu... Me-Mel juga bilang begitu, kan?” (End)
“Kau diam dulu!” (Mel)

Mel menahan Nei yang ingin menghajar End, dari belakang.
... Oi, oi, jangan buang-buang waktu dong.
Kemudian aku melirik ke arah Rize yang ada di sebelahku. Ekspresinya datar seperti biasa seolah tak tertarik sama sekali.

Yah, aku juga tak peduli sih meski End dihajar olehnya atau tidak.
Tapi kalau begini, pembicaraannya tak akan bisa dimulai.

“End, biarkan dia meninjumu sekali. Dengan begitu kita bisa melanjutkan pembicaraan ini.” (Touya)
“Apa? Kau pikir-“ (End)
“Aku akan menyembuhkanmu selama kau tak mati. Tak masalah, kan, Nei?” (Touya)
“... Tidak bisa... Tapi untuk sementara, kurasa aku harus cukup puas dengan itu.” (Nei)
“Jangan sampai membunuhnya, oke?” (Mel)
“Aku mengerti. Meskipun aku ingin membunuhnya, tapi Mel-sama pasti akan merasa sedih jika dia sampai mati.” (Nei)

Aku merasa bersalah melihat Mel yang sedang berdiri diantara mereka berdua dengan panik. Tapi ini adalah cara tercepat. Kalau masih ada perasaan yang mengganjal, kalian tak akan bisa membicarakannya dengan tenang. Kurasa End juga merasakan hal itu. Tapi lebih baik kuhiraukan saja.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara hantaman di taman Babylon dan End pun terlempar ke udara.
Oh... tinggi juga.

+++++++

“Lalu, apa yang terjadi setelahnya?” (Hilda)
“Tidak banyak. Saat ini Mel sedang berusaha untuk membujuk Nei, tapi Nei tak mau menyerah untuk membawa kembali Mel ke dunia asal mereka. Sepertinya pembicaraan mereka masih akan membutuhkan sedikit waktu.” (Touya)

Aku berusaha menahan kantukku sambil menjawab pertanyaan dari Hilda.
Mereka masih terus berdiskusi sepanjang malam... terlebih lagi, hal yang mereka diskusikan sama sekali tak mengalami kemajuan... malah menjadi debat panjang.

Fraze mungkin tidak membutuhkan tidur. Meskipun mereka bisa tidur, mungkin itu lebih mirip seperti seperti mode standby atau seperti beruang yang sedang hibernasi. Fraze pertama yang kami temui juga seperti itu.

... Jika aku menghalangi aliran energi sihir dari luar menggunakan [Prison] dan menyerap seluruh energi sihir yang tersisa di dalamnya, apa mereka bertiga juga akan menjadi seperti itu?

Yah, kalau aku mencoba melakukan hal itu, End mungkin tak akan memaafkanku. Lagian itu cuma sebatas hipotesisku saja. Sebaiknya aku tak menambah permasalahan yang ada.

Aku mengusir pikiran aneh itu dari kepalaku, dan menghabiskan teh yang ada di depanku untuk melawan rasa kantuk.

Saat ini sudah lewat waktunya untuk sarapan, dan sepertinya tunanganku yang lain juga sudah pergi untuk melakukan aktifitas mereka masing-masing. Saat ini hanya Hilda yang ada bersamaku di teras.

“Rakyat Restia juga telah menderita akibat ulah Fraze. Perasaanku agak sedikit berkecamuk saat memikirkan semua ini.” (Hilda)

Aku mengerti tentang apa yang dia rasakan. Soalnya ini seperti berusaha berteman dengan musuh yang selama ini dilawan dengan mempertaruhkan nyawa.
Pikiranmu mengatakan bahwa hal ini bisa memberimu keuntungan, tapi hatimu tak mau menerimanya. Sebagai manusia, menghadapi situasi seperti itu memang hal yang sulit.

“Omong-omong, apa yang sedang Hilda lakukan?” (Touya)
“Ah, aku? Aku sedang membaca buku yang kupinjam dari Linze” (Hilda)
“... Buku yang kau pinjam dari Linze?” (Touya)


Aku segera melihat judul buku yang berada di atas meja tersebut karena mengingat kejadian dengan pengarang buku BL kemarin. Itu.... kurasa itu adalah novel romantis yang menceritakan seorang protagonis wanita yang saat ini sedang sangat laris diantara para pelajar di Roadmare. Kurasa buku itu termasuk “normal”...

“Apa ceritanya menarik?” (Touya)
“Karena aku jarang membaca cerita seperti ini, rasanya sangat baru dan menyenangkan. Novel yang kubaca biasanya bercerita tentang seorang ksatria yang menyelamatkan tuan putri dari seekor naga, dan semacamnya.” (Hilda)

Hilda menjawab sambil terlihat sedikit malu. Yah, apa boleh buat, soalnya dia dibesarkan di keluarga ksatria... tapi bukankah cara kalian membesarkan anak sedikit keliru, Kerajaan Ksatria Restia?

“Aku sedikit malu untuk mengatakannya, tapi sejak dulu, aku selalu mengagumi cerita seperti itu.” (Hilda)
“Soal putri yang diselamatkan?” (Touya)
“Bukan... tapi soal ksatria yang menyelamatkannya.” (Hilda)
“Ah... soal itu toh...” (Touya)

Yep, aku salah sangka...

“Tapi aku jadi mengerti soal perasaan seorang putri yang telah diselamatkan setelah bertemu dengan Touya-sama. Sosok gagah Touya-sama yang muncul saat aku hampir mati... Aku sangat mengagumi sosokmu yang mengalahkan Fraze  satu demi satu pada saat itu.” (Hilda)

Ah iya, pertama kali aku bertemu dengan Hilda adalah saat dia sedang bertarung dengan sekelompok Fraze.

“Setelah itu, aku terus mencari tahu soal Touya-sama... sampai-sampai abangku terdiam saat melihatku. Mengalahkan naga hitam, meredam pemberontakan... setiap kali aku membaca soal apa yang telah kau lakukan, hatiku terasa berdetak semakin kencang... tak lama bagiku untuk ingin bertemu denganmu lagi.” (Hilda)
(Udesu : kawaii... sasuga ore no waifu.)



Guh... mendengarnya secara langsung membuatku merasa tersipu malu... apa sikap terus terangnya ini juga karena dia dibesarkan sebagai seorang ksatria? Abangnya, Raja Reinhardt, juga memiliki sikap yang sama.


Akupun mengatakan sesuatu yang aneh untuk menutupi rasa maluku...
“Jika Fraze tidak muncul di dunia ini, mungkin kita berdua tak akan pernah bertemu... kurasa kita harus berterima kasih pada para Fraze itu, ya...” (Touya)

“Benar juga.... yah, tapi kita tak seharusnya berterima kasih pada mereka.” (Hilda)
Hilda tertawa saat mengatakannya.


“Itulah sebabnya... saat aku membaca buku ini, aku jadi bisa merasakan apa yang dirasakan oleh protagonisnya. Tentang rasa rindu saat tak bisa bertemu, atau kekesalan saat tak bisa mengutarakan apa kata hatimu, atau rasa bahagia saat kau menerima sesuatu darinya meski sekecil apapun itu... Yah, begitulah... aku jadi sangat suka membaca buku seperti ini.” (Hilda)

Begitu, ya... memang sih rasanya sedikit geli saat mendengar apa yang dikatakannya itu ada hubungannya denganku. Tapi aku mengerti soal apa yang dia maksud.
Aku pun berpikir dan mencoba mengatakan apa yang mungkin bisa membuatnya senang.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi menonton film romantis atau semacamnya?” (Touya)
“’Film’? Wah... aku sudah sangat lama tidak menonton film...” (Hilda)

Dia terlihat sangat senang. Aku beberapa kali menonton film bersama para tunanganku. Tapi karena filmnya tentang dunia lain, ada saatnya aku harus menjelaskan maksud dari ceritanya pada mereka. Oleh karena itu, kami hanya menonton film dengan judul yang mudah dimengerti, film fantasi, atau film komedi yang ceritanya simpel. Ini pertama kalinya aku akan menonton film romantis dengannya.

Akupun membuka aplikasi toko online yang menjual film di smartphoneku. Berkat Kami-sama, uang elektronikku menjadi sangat banyak dan aku bisa membeli apapun dengan menggunakan smartphone milikku ini... Aku tidak mengunduh film bokep, oke?
(Udesu : njir... iri gw... enak banget tuh buat gacha ‘3’)

Bagusnya yang mana, ya? Ah, bagaimana kalau yang ini.

Ini adalah sebuah film tentang seorang pria pemilik toko buku yang jatuh cinta pada seorang bintang hollywood. Aku pernah melihatnya sekilas saat tayang di TV dulu, dan kurasa ceritanya cukup menarik.

Kamipun pindah ke sofa di ruang tengah. Aku menutup gorden dan memproyeksikan video tersebut ke ruang di depan kami.

Film pun dimulai. Film ini menggunakan dub Bahasa Jepang, tapi entah kenapa orang-orang di sini masih bisa mengerti... yah, aku juga bisa langsung mengerti bahasa mereka saat pertama kali tiba di dunia ini, jadi kurasa itu semua berkat Kami-sama.

Hilda terlihat sangat fokus menikmati film tersebut saat aku memikirkan hal itu. Sebaiknya aku juga fokus menontonnya.
Ada beberapa adegan percintaan yang membuat kami tersipu malu, tapi sepertinya Hilda sangat menikmati film ini...


Saat filmnya selesai, ada sebuah panggilan telepon dari profesor. Sepertinya benda yang pernah kubicarakan padanya waktu itu sudah selesai. Sebuah alat komunikasi yang bisa menghubungkanku dengan Dunia Kebalikan. Dengan benda itu, aku bisa mendapatkan informasi dari dunia sana meskipun aku sedang berada di sini.

Oh iya, beberapa saat yang lalu Insinyur Elka juga memberiku proposal soal memperkuat golem.

Saat ini, golem yang berasal dari dunia sana akan kesulitan untuk melawan varian. Kebanyakan dari mereka tak memiliki ukuran yang besar seperti FrameGear.

Karena itu, dia berpikir untuk membuat semacam armor yang bisa digunakan oleh golem.

Aku pernah melihat hal seperti itu di trailer film yang kulihat beberapa hari yang lalu. Itu adalah film terkenal tentang beberapa pahlawan komik Amerika yang bersatu melawan kejahatan. Kurasa kita bisa melawan varian menggunakan golem jika dia berhasil membuatnya.
(tln : Avengers?)

Akupun segera pergi menuju Babylon.


13 comments: