Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 328 Bahasa Indonesia

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Arc 28: Pergerakan Janin

Chapter 328: Egret dan Hidangan Cumi-cumi





Kerajaan Egret terdiri dari dua buah pulau. Pulau yang lebih besar, Egrand, terbentang dari utara sampai selatan. Sedangkan pulau yang lebih kecil, Mallet, besarnya hanya sepertiga pulau Egrand.

Kami berempat yaitu aku, Sue, Linze, dan sakura, ditambah dua ekor hewan yaitu Sango dan Kokuyo tiba di pulau yang kecil itu.

Aku telah mengirim ketiga anggota suku Louf ke ibukota, Letrabanba, terlebih dahulu menggunakan [Gate]. Alasan kenapa kami pergi ke pulau Mallet adalah untuk memeriksa keadaan naga laut yang telah kalah dari monster cumi-cumi, Tentakra.

Ujung terdalam gua tempat naga laut berada terhubung dengan gerbang teleportasi ke [Laboratorium]. Kami berpindah ke sana dan keluar dari sebuah gua kecil yang terlihat seperti sebuah tempat rahasia, menuju ke area terbuka. Tempat ini terlihat seperti sebuah danau di bawah tanah.

“Touya-san, itu...” (Linze)

Linze yang berada di sebelahku menunjuk ke arah sisi lain danau. Di sana terlihat sosok naga laut yang sedang terbaring dengan luka di sekujur tubuhnya.
Tubuh bagian atasnya terbaring di tanah, sedangkan bagian tubuh lainnya berada di bawah permukaan air. Sisik indah yang berwarna biru safir miliknya terkelupas di banyak tempat dan di sana juga terlihat bekas darah.

Naga laut yang kesulitan bernafas itu membuka sedikit matanya dan bertemu pandang denganku. Kemudian aku meletakkan tanganku di atas tubuh naga laut yang mencoba bergerak. Tunggu sebentar, aku akan menyembuhkanmu.

“Muncullah cahaya, perlindungan dewi, Mega Heal” (Touya)

Gelombang cahaya mulai melingkupi tubuh naga laut dan menyembuhkannya dalam sekejap. Sisiknya juga memperlihatkan kembali cahaya biru safir indahnya.

“Apa kau sudah baik-baik saja?” (Touya)

“Ya, terima kasih Touya-sama, Tuan dari Ruli-sama. Maafkan aku karena telah menunjukkan pemandangan yang tidak enak dilihat.” (Naga laut)

“Aku sudah mendengar apa yang terjadi dari orang Egret. Kau telah bertarung dengan... apa sih namanya? Tentakra?” (Touya)

“Ya. Soalnya mereka telah menerobos wilayahku... tentakel mereka sangat mengerikan... itu bahkan bisa meremukkan tulangku.” (Naga laut)

Oi oi... itu bisa meremukkan tulang naga? Tentakras terlihat seperti cumi-cumi, tapi mungkin ada sedikit kemiripan dengan gurita. Kalau aku tidak salah, 90% dari tubuh gurita terbuat dari otot...
Terlebih lagi, cumi-cumi disebut sebagai makhluk laut tak bertulang belakang tercepat. Mereka bisa melakukan gerakan mendorong seperti jet. Air akan disedot, kemudian dikeluarkan kembali untuk mendorong mereka. Kalau tidak salah, mereka bisa bergerak hingga 40km/jam.
Mungkin ini akan lebih sulit dari yang kupikirkan...

“Tenang saja, aku telah diminta untuk menghabisi monster tersebut. Setelah aku menghabisi mereka, kau bisa melanjutkan tugasmu untuk melindungi Egret.” (Touya)
“Terima kasih atas kebaikan Anda...” (Naga laut)

Naga laut itu membungkukkan kepalanya. Dia terlihat seperti manusia saja.
Tapi, ada satu hal yang membuatku penasaran.

“Tadi kau bilang ‘mereka’... bukankah jumlahnya cuma satu?” (Touya)
“Tidak. Jumlahnya lebih dari satu. Aku hanya bertarung dengan dua ekor dan aku terpaksa kabur saat yang ketiga datang. Jadi aku tak begitu yakin tentang jumlah mereka yang sebenarnya.” (Naga laut)

Jadi setidaknya ada tiga ekor ya? Pekerjaan yang merepotkan...

Sambil berusaha mengusir pikiran negatifku, kamipun berpamitan dengan naga laut dan pergi ke ibukota Letrabanba menggunakan [Gate] dengan ingatan yang sebelumnya telah kuperoleh dari Totora.

“Jadi ini ibukota Egret Letrabanba, ya? Kotanya bagus sekali.” (Sue)

Seperti yang dikatakan Sue, Letrabanba berada di sebuah bukit di dekat laut. Dan dari tempat kami berada saat ini, kami bisa melihat pemandangan tropis berupa pohon palem mirip pohon kelapa yang berbaris di hamparan pasir putih. Tak lupa laut yang terlihat berwarna hijau zamrud yang mengirim ombak kecil ke arah pantai.
Dari arah kota, tanaman berwarna hijau terbentang luas serta burung-burung berwarna pelangi terbang di atas langit. Kota ini terdiri dari bangunan yang terbuat dari batu. Di kejauhan terlihat sebuah menara tinggi dan sesuatu yang terlihat seperti sebuah kuil. Ada juga sebuah bangunan yang terlihat seperti piramid bangsa Aztec kuno.

Pegunungan di kejauhan juga terlihat dilapisi oleh tanaman hijau juga.
Tak lupa laut dan langit yang berwarna biru.

Tak salah lagi, tempat ini memberi kesan “menyatu dengan alam”.

Tapi saat kulihat lebih dekat, beberapa pohon palem telah tumbang. Beberapa bangunan dari batu itu juga terlihat roboh. Kerusakan akibat badai, ya? Cukup parah juga.

Bangunan yang berada di tengah Letrabanba mungkin adalah istana kerajaan. Untuk sementara kami akan berjalan ke sana dulu.

“Masyarakat di sini terlihat tidak bersemangat...” (Linze)
“Yah, mereka mengalami kekurangan pasokan makanan. Belum lagi masalah Tentakras di laut. Dan sepertinya jalan ke gunung juga ditutup karena takut terjadi longsor.” (Touya)

Bahkan tanpa diberitahu oleh Linze pun, aku bisa melihat masyarakat Egret yang berjalan dengan lesu.
Tentu saja, tak semua kota terkena kerusakan separah ini. Tapi beginilah suasana negara yang terkena kerusakan parah terhadap kekuatan nasionalnya.

Ibukota ini masih terlihat baik-baik saja, tapi sepertinya kota-kota di pegunungan dan juga kota pelabuhan di utara menerima kerusakan yang sangat parah. Perjalanan antar kota akan menjadi sulit akibat adanya tanah longsor dan banjir yang disebabkan oleh sungai yang meluap. Tapi kalau mereka punya sebuah kendaraan yang bisa melintasi laut... oh iya, di sana juga ada Tentakra.

Tiba-tiba, aku melihat sebuah kereta kuda yang datang ke arah kami. Er, tunggu dulu. Itu bukan kereta kuda. Kereta itu ditarik oleh seekor binatang yang mirip burung unta. Tapi melihat ukuran kepala dan lehernya, sepertinya burung itu lebih besar daripada yang ada di bumi.

Kereta burung itupun berhenti di depan kami. Di tempat pengemudi tak beratap pada kereta roda empat yang ditarik oleh dua burung itu terlihat adik dari Louf bersaudara, Lilicana, yang sedang memegang tali kendali burung.

“Saya datang untuk menyambut Anda. Raja kami telah menunggu di istana.” (Lilicana)

Oh... terima kasih karena sudah menjemput kami.

Tapi saat kami ingin menaiki kereta, sebuah suara teriakan keras terdengar dari arah pantai. Suara itu membuat orang-orang sekitar menjadi panik.
Saat kami melihat ke bawah jurang yang dibatasi oleh pagar besi di ujungnya, kami melihat sebuah kepala dari monster sihir berbentuk cumi-cumi raksasa telah muncul di permukaan air. Dia sedang menyerang orang-orang yang ada di sana menggunakan tentakelnya.
Jadi makhluk sialan itu bisa datang sampai sedekat ini ke daratan, ya?
Tentakelnya menangkap seorang pria dan mengangkatnya ke udara. Tentakras adalah makhluk karnivora yang biasanya memakan paus atau hiu. Tapi terkadang mereka juga memakan daging manusia.

“Muncullah air, bilah pedang tajam, Aqua Cutter” (Sakura)
Pedang air yang ditembakkan oleh Sakura memotong tentakel yang menangkap pria tadi.
Pria yang kemudian jatuh ke pasir pantai itu kemudian lari dengan panik. Sementara Linze menembakkan sihirnya ke Tentakra yang telah berlumuran darah berwarna biru.

“Muncullah api, bola api penyucian, Fireball.” (Linze)

Sebuah bola api besar meledak saat menyentuh kepala Tentakra yang berada di atas permukaan laut.

“Pugraagyaraaaaa” (Tentakra)

Tentakra kembali ke lautan sambil mengeluarkan teriakan yang tak enak di dengar. Aku berusaha mendaratkan serangan menggunakan [Fire Arrow], tapi Tentakra sudah keburu masuk ke bawah air sebelum seranganku mengenainya.

“Sayang sekali, dia berhasil kabur” (Touya)
“Bukankah ukurannya lebih kecil dari yang kita dengar?” (Linze)
“Mungkin itu anaknya.” (Sakura)

Meskipun masih kecil, dia tetap monster yang ganas.
Tentakel yang terpotong tadi masih menggeliat di atas pantai. Uwah... menjijikkan sekali.
Yah, aku mengerti kenapa pergi ke laut menjadi berbahaya dengan adanya mereka. Omong-omong, jumlah mereka ada berapa, ya?

Search. Jumlah Tentakra yang ada di laut sekitar Kerajaan Egret.” (Touya)
“Mencari... Selesai. Ditemukan : 53” (Smartphone-chan)
“Li-- “ (Touya)

Aku kaget mendengar hasil pencarian dari smartphone yang ada di kantong bajuku.
Meskipun jumlah itu termasuk yang masih anak-anak seperti tadi (meskipun aku tidak yakin), tapi bukankah jumlahnya terlalu banyak?
Kalau tak salah ingat, dalam buku yang ada di guild tertulis bahwa Tentakras bertelur seperti cumi-cumi biasa, tapi tidak seperti cumi-cumi yang bisa mengeluarkan ribuan telur dalam sekali proses bertelur, Tentakras hanya bisa bertelur dalam jumlah puluhan saja. Dan diantara puluhan telur itu, yang bisa tumbuh hingga dewasa hanya kurang dari sepuluh saja.
Apa mungkin ini juga efek abnormal yang terjadi karena penyatuan dunia?
Aku turun ke pantai, mengeluarkan brunhild dalam mode pedang, lalu memotong-motong tentakel yang ada di sana.
Cairan licin yang ada di permukaan tentakel itu membuatku kesulitan menebas karena arah tebasannya menjadi sedikit melenceng. Selanjutnya aku mencoba menusuknya. Meskipun sedikit keras, namun aku bisa menusuknya dengan normal.
Tentakel itu mulai menggeliat lagi. Mungkin karena aku menyerangnya... Ueeeh...
Mungkin kalau seorang ahli pedang setingkat Yue yang melakukannya, memotong tentakel ini pasti tak akan begitu sulit. Tapi dia bisa kesulitan jika lawannya lebih besar dari ini. Mungkin pedang sihir bisa membantu.

“Kira-kira atribut apa yang menjadi kelemahan Tentakras?” (Touya)
“Atribut api atau serangan petir dari atribut angin, dan mungkin serangan dari atribut cahaya juga. Untuk sihir atribut air, serangan tebasan seperti [Aqua Cutter] seperti tadi juga bisa. Tapi serangan seperti [Maelstrom] mungkin tidak terlalu efektif” (Linze)

Begitu, ya. Tapi kalau digunakan di dalam air, kekuatan sihir api dan petir akan berkurang  setengahnya. Dan juga kalau menggunakan sihir cahaya untuk menyerang dari atas permukaan air, kekuatan serangannya juga akan berkurang karena efek pembiasan cahaya oleh air.
Berarti jalan terbaik adalah memancingnya terlebih dahulu agar keluar dari laut. Berarti kali ini adalah event memancing cumi-cumi, ya?
Saat aku sedang berdiri di pantai sambil memikirkan itu, seorang pria dengan kulit kecoklatan yang memakai sebuah hiasan kepala yang terbuat dari bulu emas datang menghampiriku bersama beberapa prajurit. Di sebelahnya juga ada Louf bersaudara, Totora dan Lilicana.
Dia terlihat sudah berumur 40-an. Ototnya yang tidak terlalu besar memiliki tato dengan pola yang menarik. Dia mengenakan sebuah baju yang terkesan seperti baju penduduk asli dari America.  (tln : suku indian?)

“Kerja bagus karena telah berhasi makhluk tersebut, Yang Mulia Penugasa Dukedom Brunhild.” (Lefan)
“Dan kau adalah...?” (Touya)
“Namaku Lefan Letra, anak dari Lelaure Kocha, dan juga raja dari Kerajaan Egret.” (Lefan)

Yang Mulia Raja, ya? Dia terlihat seperti ksatria veteran, jadi kupikir dia pemimpin ksatria atau semacamnya.
Aku menjabat tangannya yang terlihat keras layaknya tangan seorang pendekar yang sudah lama berlatih untuk memperkuat dirinya.

“Aku adalah Penguasa Dukedom Brunhild, Mochizuki Touya. Senang berkenalan denganmu, Yang Mulia Lefan.” (Touya)
Sekalian aku juga memperkenalkan ketiga tunanganku yang sedang berdiri di belakangku. Aku menekankan bahwa mereka bukan hanya tunanganku, tapi juga pengguna sihir yang sangat ahli. Aku tak ingin orang lain berpikiran seperti, ‘Kau membawa banyak wanita ke sini, apa kau mau liburan?’”.
Untungnya ada banyak saksi mata yang melihat pertarungan tadi, jadi penjelasanku bisa dengan mudah diterima.

“Aku telah menggunakan sihir pencarian untuk memeriksa lautan di sekitar pulau ini. Dan sepertinya ada sekitar 50 Tentakras.” (Touya)
“Lima puluh? Apa-ap... ehm, dengan jumlah segitu, kapal kami tak akan bisa berlayar ke laut.” (Lefan)
“Kami telah mempersiapkan beberapa kapal baru untuk kalian, yang tersisa hanyalah mengalahkan para Tentakras itu. Musuh kali ini berada di dalam laut. Kurasa akan lebih mudah jika kita bisa memancing mereka keluar dari air.” (Touya)

Kemudian Raja Lefan memberitahuku tentang sebuah tanjung yang berada jauh dari ibukota Letrabanba. Dia bilang kalau tak masalah jika kita menggunakannya untuk bertarung, jadi aku memutuskan tempat itu sebagai tempat pembantaian Tentakras.
Selain itu...

“Kokuyou, apa benda ini bisa dimakan?” (Touya)
“Gimana ya? Benda ini tidak beracun, jadi tak ada masalah. Tapi aku tak bisa menjamin soal rasanya.” (Kokuyou)

Kokuyou menjawab dari belakang Sango yang sedang melayang mengitariku seperti biasanya.
Aku mencoba menggunakan [Analyze] untuk memeriksa apakah benda ini beracun atau tidak. Sepertinya aku bisa memakannya. Hmm... tak ada cara lain untuk mengetahui ini enak atau tidak selain memakannya...
Kemudian aku memotong sebagian kecil tentakel yang akhirnya berhenti menggeliat itu, melumurinya dengan garam, dan mencucinya perlahan untuk menghilangkan cairan licin yang ada di permukaannya. Lalu aku memotongnya kecil-kecil dan meletakkannya di atas piring yang baru saja aku keluarkan dari dalam [Storage].
Aku juga mengeluarkan kecap dan jahe dari Ishen dan mencampurkannya setelah menyerut jahe tersebut menjadi pasta. Dengan begini, aku selesai membuat ika somen.
(tln : ika somen adalah sejenis sashimi yang terbuat dari potongan tipis cumi-cumi. Bentuknya seperti mie somen, makanya disebut ika somen. Padahal tidak terbuat dari mie ‘3’)

“Yang Mulia Penguasa... apa kau yakin ingin memakannya?”(Lefan)
“Ini mungkin bisa menjadi solusi masalah kekurangan persediaan makanan saat ini, loh. Aku tidak terlalu menyukainya, tapi di Ishen, dan juga di tempat kelahiranku, ada beberapa hidangan yang dibuat dari bahan cumi-cumi seperti ini. Jadi aku berpikiran untuk mencobanya.” (Touya)

Di Ishen, mereka juga memakan  cumi-cumi dan gurita. Aku percaya kalau... apapun bisa dimakan selama tidak beracun. Sekarang aku hanya perlu memastikan rasanya enak atau tidak.
Meskipun warga Egret terlihat kaget, aku mengambil ika somen, atau lebih tepatnya Tentakra somen dengan sumpit dan memakannya setelah mencelupkannya ke cammpuran kecap-jahe yang telah kubuat terlebih dahulu. Hmm....

“Ba-Bagaimana rasanya?” (Linze)
Linze bertanya dengan khawatir.

“... lumayan. Aku tidak terlalu suka dengan sensasi kenyalnya, tapi rasanya lumayan juga. Mungkin ini bisa populer di kalangan orang yang suka makanan kenyal.” (Touya)
“Aku juga mau coba.” (Sakura)
Sakura kemudian juga mencoba memasukkan Tentakra somen ke mulutnya. Setelah itu, Sue, Kokuyou dan Sango, serta Linze juga ikut mencobanya.

“Ternyata enak juga.” (Sue)
“Aku tidak terlalu menyukainya... “ (Kokuyou/Sango)
“Teksturnya cukup enak. Kalau sausnya diganti, mungkin kita bisa merasakan berbagai macam rasa lainnya.” (Linze)

Kesan mereka berbeda satu sama lainnya. Dengan begini, kami telah memastikan bahwa tentakel ini “bisa dimakan” atau “enak” tergantung orang yang memakannya. Rasanya persis sama dengan cumi-cumi atau gurita yang ringan dengan sedikit rasa manis. Mungkin aku bisa membuat sashimi jika aku memotongnya sedikit lebih tebal.
Diantara orang-orang Egret yang menyaksikan, ada beberapa orang yang sepertinya penasaran dengan hidangan cumi-cumi ini. Salah satunya adalah Totoro, salah satu dari Louf bersaudara. Kemudian adiknya Lilicana pun juga ikut mencoba.

“Menurutku tidak terlalu enak... tapi setidaknya masih bisa dimakan.” (Totoro)
“Aku cukup suka dengan rasa segarnya. Rasanya sangat cocok saat ditambah dengan kecap-jahe ini.” (Lilicana)

Hmm... ternyata setiap orang memang punya pendapat yang berbeda, ya?

Dan akhirnya, raja Lefan pun juga ikut mencobanya.

“hmm... Rasanya tidak seburuk yang kubayangkan. Pikiranku tidak menyukainya, tapi seelah mencoba, ternyata tidak buruk sama sekali. Ya, ini memang tidak terlalu enak. Aku sih lebih suka kalau rasanya sedikit lebih kuat dari ini.” (Lefan)

Sepertinya beliau merasa kalau makanan ini tidak enak. Yah, wajar saja sih, soalnya dia baru pertama kali mencobanya.

Karena bisa dimakan, mungkin aku akan mencoba resep cumi-cumi lainnya.

Cumi-cumi goreng tepung, cumi-cumi goreng asam-pedas, cumi-cumi bakar pakai kecap dan mentega, cumi-cumi bakar dilumuri jahe. Mungkin karena aku mulai memasak berbagai hidangan menggunakan cumi-cumi, warga Egret mulai menerima bahwa ini adalah “bahan makanan”. Akhirnya beberapa chef profesional dari istana juga datang untuk membuat hidangan cumi-cumi dengan resep ala Egret.

Profesional memang hebat. Mereka bisa membuat masakan yang lebih terlihat layak dibandingkan diriku. “Tentakra goreng dengan daun Palse” buatan mereka enak sekali.

Karena ada makanan siap saji yang terbuat dari cumi-cumi, tentu saja kita juga bisa membuatnya dari Tentakra.

Kalau sudah begini, sepertinya aku memang harus memancing mereka dari laut.

Kami bisa saja melakukannya menggunakan Frame Gear. Apalagi Ortlinde Overload milik Sue yang memiliki kekuatan serang tertinggi diantara seri Valkyria. Dia bisa dengan mudah menarik Tentakra itu satu demi satu dari laut.
(Tln : Frame Gear buatan Touya dinamakan berdasarkan nama Valkyrie dalam mitologi Nordik. Makanya disebut Seri Valkyria)

Oh, kami tak bisa merusak tubuh mereka karena mereka akan dijadikan solusi masalah kekurangan bahan makanan di sini. Kalau tidak salah, kakekku pernah memberitahuku cara membunuh cumi-cumi dan gurita dalam sekali serang...

Mungkin aku harus mencaritahu di internet.

Hmm... Tusuk alat pemahat es tepat di antara kedua matanya... Uoooh....




22 comments:

  1. Nice min, semangat terus ya

    ReplyDelete
  2. Mantap min, makasih.
    Ngomong2 kok yumina bisa kalah jan ken? Padahal dia kan bisa melihat bbrpa detik kemasa depan, (mmm mngkin dia sedang mengalah :v)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemampuan itu bisa di non aktifkan, jadi kemungkinan Yumina tidak mengaktifkan kekuatan itu, biar adil.

      Delete
  3. Para tunangan nya(touya)
    pada ingin liburan

    ReplyDelete
  4. Yumina apakah dia mengalah?

    ReplyDelete
  5. Padahal udah yakin kalo yumina pasti ikut eh mah kalah

    ReplyDelete
  6. Mantap.....
    Njir Buat Iri Aja..Udah Maen Makan Aja...
    Pokoknya Mantap...
    Lanjutkan

    ReplyDelete
  7. SEMANGAT NGE TL NYA SOMOGA SEHAT SELALU.....TETAP WASPADA TERHADAP VIRUS KONOHA

    ReplyDelete
  8. Semangat dan lanjut terus min... Kami selalu mendukung kalian....

    ReplyDelete