Isekai wa Smartphone to Tomo ni Chapter 331 Bahasa Indonesia

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Arc 28: Pergerakan Janin

Chapter 331: Pantai dan Dua Tamu





Untuk rapat Aliansi Dunia kali ini, selain anggota yang telah lama bergabung, terdapat enam anggota baru yaitu : Egret, Ishen, Ryle, Hanock, dan Palerius yang akan ikut serta untuk pertama kalinya.

Meskipun aku sebut rapat, tapi seperti biasa kami hanya akan melakukan sesuatu seperti pesta rumah dengan tujuan utama yaitu menikmati waktu bersama dengan yang lainnya.

Ah iya, pulau Palerius sekarang dengan resmi telah menjadi Kerajaan Palerius setelah diakui sebagai sebuah negara oleh yang lainnya. Mentor Cental juga telah dinobatkan sebagai ratunya.

Dengan begini, selain Kerajaan Nokia dan Horn, seluruh negara di dunia ini telah bergabung dengan Aliansi Dunia yang telah beranggotakan sebanyak 18 negara.

Sebenarnya, Xenoas dan Ferzen telah meminta kedua negara yang telah kusebutkan tadi soal keinginan mereka untuk begabung dengan Aliansi Dunia, tapi sepertinya hasilnya tidak begitu bagus.

Aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya ada beberapa konflik internal pada kedua negara tersebut. Dan mereka sama sekali belum bisa memikirkan tentang hubungan luar negeri.

Untuk sekarang, aku telah mengundang perwakilan negara anggota yang baru saja bergabung ke ruang konferensi, atau lebih dikenal sebagai ruang bermain, di istana Brunhild.

Yang pertama kulakukan adalah memberikan smartphone produksi masal kepada mereka, dan mengajarkan mereka bagaimana cara memakainya. Sedangkan anggota yang sudah lama bergabung melakukan hal yang biasa mereka lakukan seperti meminum teh, bermain beberapa permainan, dan saling mengobrol satu sama lainnya.

Shirahime-san, Mikado dari Ishen, telah kuajari cara menggunakan smartphone sebelumnya, jadi sekarang dia sedang membantuku untuk mengajarkan cara penggunaannya pada yang lain.

“Begitu ya... ini memang benar-benar praktis.” (Carlo)

Raja dari Kerajaan Hanock, Carlo Oru Hanock, mengatakannya sambil mencoba untuk menelepon orang yang sedang berada di depannya.

Aku sudah pernah bertemu dengannya sebelum ini saat konflik dengan Yulong dengan bantuan dari kaisar Regulus. Dia adalah seorang pria tua yang menggunakan kacamata berumur kurang lebih 40 tahun dan tidak memiliki ciri khas apapun.

Dia sangat mirip dengan seorang pegawai swasta dari sebuah perusahaan. Tapi meskipun terlihat biasa saja, aku dengar dia cukup hebat sebagai seorang penguasa.
Yah, kalau dia tak memiliki kemampuan apapun, tak mungkin dia bisa mempertahankan negara kecilnya dari serangan politik oleh Yulong. Ini yang dinamakan “jangan lihat buku dari sampulnya”.

“Benda ini sungguh hebat karena bisa melakukan banyak hal. Bukan cuma untuk berkomunikasi, tapi ini juga bisa digunakan untuk merekam sesuatu. Aku jadi ingin merekam beberapa pertunjukan opera dengan menggunakan benda ini.” (Barstra)

Raja Kerajaan Ryle, Barstra Durga Ryle Keempat, tertawa sambil menerima telepon dari raja Hanock.

Dia adalah seorang pria tua pendek dengan perut yang buncit. Meskipun darah Dwarf mengalir dalam tubuhnya, dia ternyata orang yang cukup cinta damai. Karena ada banyak dwarf yang tinggal di Kerajaan Ryle, dia telah ditunjuk sebagai perwakilan dari rakyat dwarf. Entah kenapa dia bisa memimpin para dwarf meskipun dia ini tidak suka kekerasan dan tidak minum alkohol. Sungguh kebalikan dari sifat dwarf.

“Oh, jadi begitu! Berarti aku bisa mengambil gambar diriku sendiri dengan benda ini, kan?” (Central)
“Kalau bagian ini fungsinya untuk apa, Shirahime-sama?” (Ratu Elfrau)
“Oh, cahaya akan keluar dari situ saat kau mencoba untuk mengambil gambar di tempat gelap. Kau bisa mengubah pengaturannya sesuka hatimu, tapi menggunakan [Auto] adalah yang terbaik. Soalnya smartphone ini akan menentukan sendiri dalam kondisi seperti apa fungsi itu akan digunakan.” (Shirahime)

Mentor Central, yang sekarang merupakan ratu Kerajaan Palerius, diajari cara menggunakan kamera oleh Shirahime-san bersama ratu dari Kerajaan Elfrau.
Tak berapa lama kemudian, mereka bertiga mulai mengambil foto bersama. Mereka sudah terlihat seperti sekumpulan gadis SMA saja. Yah, meski dua diantara mereka sudah berumur lebih dari seribu tahun sih.

“Karena negara kami sangat jauh dari yang lain, ini adalah hadiah yang sangat berguna.” (Lefan)

Raja Kerajaan Egret sedang menyapu jarinya di layar smartphone. Bulu emas yang ada di kepalanya bergoyang mengikuti setiap gerakannya. Saat ini aku sedang mengajarinya cara mengirim pesan. Kupikir dia adalah tipe prajurit yang pikirannya cuma bertarung. Tapi tak kusangka dia sangat cepat belajar dan memiliki jari yang sangat lihai.
(itu pasti karena sering digunakan untuk istri-istrinya ( ͡° ͜ʖ ͡°) )

Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk berhenti karena dia sudah bisa mengirim, menerima, serta membalas pesan.

Untuk sekarang, seluruh pemimpin yang ada di ruangan ini bebas untuk bersantai. Jadi mereka saling bertukar alamat email dan nomor telepon antar sesama pemimpin sambil membicarakan berbagai hal.
Setelah ini, tepatnya saat sore tiba, kami akan berpindah ke pantai pribadi milik Raja Egret.


+++++++


Pantai pribadi milik raja Egret memang luar biasa. Aku bisa melihat pemandangan kelas atas seperti pasir putih yang sangat lembut dan juga air laut yang sangat jernih. Sebuah vila yang megah juga telah dibangun di atas tebing yang menghadap ke laut. Pemandangan dari sana sangat memukau.

Kemarin aku telah mempersiapkan keamanan di sini, termasuk membuat [Prison] untuk menghalau monster lauy yang berbahaya agar tidak mendekat ke pantai. Kalau ada yang tenggelam saat bermain di laut, maka Sango dan Kokuyo akan segera menyelamatkan mereka.

Tapi tetap saja... pantai ini langsung berubah dari pantai pribadi menjadi pantai publik saat semua anggota keluarga kerajaan di tambah pasukan mereka datang ke sini. Jumlah orangnya terlalu banyak oi...

“Jumlah anggota keluarga kerajaan jadi makin banyak ya-degozaru na...” (Yae)
“Kalau sesuatu terjadi di sini, itu akan jadi krisis buat seluruh dunia, ya...”( Elze)

Yae dan Elze yang sudah berganti menggunakan pakaian renang mengatakan hal itu seperti hal yang biasa. Jangan ngomongin hal berbahaya seperti itu dong...

Kebanyakan dari anggota yang datang ke sini telah berganti menggunakan pakaian renang dan bersantai di pantai. Beberapa orang lainnya yang tak suka dengan laut, atau mereka yang tak bisa menahan kuatnya sinar mentari wilayah selatan sedang bersantai di vila.



Aku menggunakan celana pendek dan sebuah parka. Semua pakaian renang yang ada di sini merupakan barang dengan kualitas bagus yang telah dipersiapkan oleh toko pakaian milik Zanack-san.

Grup anak-anak segera berlari untuk bermain di pantai sambil membawa pelampung, bola pantai, dan juga perahu karet yang telah kupinjamkan pada mereka.

Coba kita lihat... di kelompok itu ada Pangeran Remza (10 tahun) dan Pangeran Alba (7 tahun) dari Misumide, Putri Lilac (10 tahun) dan juga Putri Milnea (8 tahun) dari Hanock.

Di sana juga ada Raja muda Kerajaan Paluf (10 tahun) dan tunangannya Rachel (10 tahun) yang sedang bermain bersama di daerah laut yang dangkal.
Anak-anak memang mudah akrab, ya...

Oh, aku melihat Pangeran Ridis (12 tahun) dar Refreese dan Putri Tia (11 tahun) dari Misumido sedang tertawa bersama di bawah naungan pohon.

Oya oya... Aku merasakan atmosfer yang menarik di antara mereka....

“Ah... cinta pertama yang sungguh menyilaukan nano yo...” (Karen)
“Dan dia pun muncul...” (Touya)

Tanpa kusadari, Karen nee-san sudah berdiri di sebelahku dan memandang ke arah yang sama sambil tersenyum. Dia memakai bikini berwarna pink dan juga satu set pareo. Dia benar-benar sudah dalam mode liburan...



“Aku cuma ingin memberitahu... jangan ganggu mereka, oke?” (Touya)
“Enggak kok no yo. Aku tak mungkin mengganggu kejadian menarik seperti cinta pertama diantara mereka berdua no yo!! Itu tidak sopan no yo!” (Karen)

Perkataanmu itu saja sudah termasuk tak sopan buat mereka. Ah sudahlah. Kalau dia bilang tak akan mengganggu, kurasa tak perlu khawatir.

Karen nee-san kemudian pergi menuju tempat Yumina dan Sue berada.
Aku ingin duduk di kursi pantai yang telah di pasang sebelumnya, tapi saat aku sudah mau duduk, aku melihat seorang pria sedang terbujur kaku di kejauhan. Dia terlihat sudah mati selama berabad-abad.

“... Kenapa Raja Iblis Xenoas tergeletak di sana?” (Touya)

Sengatan panas? Kupikir begitu, tapi sepertinya aku salah. Spica-san yang bertugas sebagai pengawal Sakura, datang dan kemudian menjelaskan soal itu padaku.

“Um... Yang Mulia Raja Iblis sedang mengambil banyak foto Sakura-sama yang sedang memakai pakaian renang dengan smartphone miliknya. Saat Sakura-sama menyadarinya, dia memberi pandangan sinis dan mengatakan “menjijikkan” tepat di hadapan Yang Mulia...” (Spica)

Dan kemudian dia pingsan karena syok ya? Pasangan anak-bapak ini masih saja seperti biasanya.
Yah, kurasa seorang pria yang mengambil banyak foto dari seorang wanita yang memakai pakaian renang itu memang sesuatu yang sangat buruk. Tak peduli meskipun dia adalah bapak kandungnya sendiri.

“Bawalah dia ke suatu tempat yang teduh. Kasian kalau kena sengatan panas.” (Touya)
“Baik” (Spica)

Kurasa Raja Iblis tak akan terkena sengatan panas. Tapi yah, buat jaga-jaga saja.
Spica-san dibantu oleh ayahhnya, Sirius-san yang juga menjadi pengawal Raja Iblis, mengangkat tubuh yang sudah seperti mayat itu pergi.

“Touya-san.” (Linze)
“Hmm? Ah, Linze... dan juga Putri Liliel... “ (Touya)
“Lama tak bertemu.” (Liliel)

Aku dengan reflesk mengambil jarak saat melihat sosok putri pertama Kerajaan Refreese yang berada di sebelah Linze.

Dia adalah pengarang novel romantis yang berbahaya... bisa dibilang, dia telah kuanggap sebagai musuhku dalam artian yang berbeda.

“Kalian berdua saling mengenal?” (Touya)
“Kami telah sering berbincang berkat bantuan Yumina. Dia adalah salah satu pembaca setiaku, jadi...” (Liliel)

Putri Liliel mengecilkan suaranya agar tak bisa didengar oleh orang lain di sekitar kami. Dia juga telah menyembunyikan identitasnya sebagai penulis dari ayahnya, Kaisar Refreese.
Kalau cuma sebagai pengarang biasa sih, tak ada alasan untuk menyembunyikannya... tapi karena karyanya itu...

“Touya-san, sebenarnya... aku sangat berharap kalau Touya-san juga memberikan smartphone pada Riru-sensei... ah, maksudku Tuan Putri Liliel.” (Linze)
“Eh? Kenapa?” (Touya)
“Tentu saja untuk keperluan menulisku. Karya yang kutulis sangat berbahaya jika dilakukan di atas kertas. Pelayan yang membersihkan kamarku bisa saja tak sengaja menemukan naskah yang gagal dan kemudian melaporkannya pada ayahku. Tapi kalau aku punya smartphone, aku bisa membawanya kemanapun aku pergi. Dengan begitu, aku juga bisa menulis dimanapun juga. Kerahasiaannya juga terjamin. Smartphone adalah benda sihir yang sangat sempurna bagiku.” (Liliel)

Aku hampir saja terjatuh dari kursi pantaiku saat dia mendekat sambil membicarakan kelebihan smartphone dengan sangat tiba-tiba. O—Oh... jadi karena alasan itu, ya...

Aku mengerti sih... tapi apa tak masalah memberikan itu padanya? Aku merasa kalau aku harus menolaknya. Demi diriku, dan juga demi para pria yang telah menjadi model dalam ceritanya selama ini.
Dan saat aku sedang merasa ragu, Linze memberi alasan bantuan.

“Touya-san, Riru-sensei sebenarnya juga menulis naskah untuk pertunjukan drama juga. Saat ini dia sedang dalam proses membuat karya terbarunya. Jadi bisakah kau membantunya?” (Linze)

Pertunjukan drama? Oh iya, waktu itu aku pernah menontonnya bersama Yumina saat sedang berada di ibukota Belfast. Kalau tak salah judulnya “Petualangan Sang Pahlawan Toya yang Telah Menyelamatkan Sang Putri dari Naga Hitam.”

Jelas sekali kalau dia menjadikan aku dan Yumina sebagai model dalam ceritanya. Tapi jalan ceritanya merupakan karya orisinil. Pertunjukan itu sangat bagus dan cukup menghibur...

Aku kembali melihat Linze dan menghela nafas. Yah kalau Linze sampai meminta seperti itu, aku jadi tak bisa menolaknya, kan? Kurasa Liliel tak akan menyalahgunakannya. Dia adalah orang yang baik, dan juga teman dekat Yumina. Meski begitu, terkadang dia juga membuat beberapa masalah sih...

Kemudian aku mengeluarkan smartphone model produksi masal dari [Storage] dan memberikannya pada Putri Liliel.

“Minta Linze untuk mengajarimu  soal cara memakainya. Tolong jangan gunakan untuk hal yang melanggar norma dan aturan publik. Ingat, jangan melanggar norma dan aturan publik.” (Touya)
“Kenapa kau memberitahukan hal itu sampai dua kali? Yah, terserahlah. Terima kasih. Oh iya, apa kau juga punya benda sihir yang bisa digunakan untuk mencetak?” (Liliel)

Ya ampun, nih orang...
Kalau soal benda sihir untuk mencetak sih, aku sudah berencana untuk memberikannya juga pada negara lain. Tapi kurasa tak mungkin dia bisa meminjamnya dari ayahnya, Kaisar Rifreese, ya...

Aku membuka [Storage] lagi dan mengeluarkan sebuah benda yang mirip notebook tipis yang tertutup. Jika kau menaruh kertas di antara kedua sisinya dan menempelkan smartphone di atasnya dan kemudian menekan tombol “cetak”, benda ini akan mencetak apa yang ingin kau cetak pada kertas itu. Dengan kata lain, ini adalah sebuah printer portabel.
(notebook ini bukan buku catatan ya ‘3’ tapi notebook laptop ‘3’)

Tapi karena benda ini dibuat olehku tanpa bantuan profesor, saat ini aku hanya bisa menggunakanya untuk mencetak selembar kertas dalam sekali print saja.

“Meskipun ini masih dalam tahap ujicoba, tapi kurasa sudah cukup untuk penggunaan pribadi.” (Touya)
“Terima kasih. Aku akan membalasnya dengan novel baru---“ (Liliel)
“Tak perlu! Serius deh, kau tak perlu membalasnya!” (Touya)

Aku tak mau kau membalasnya dengan hal aneh seperti itu.
Linze pun mengajak Putri Liliel dan pergi menuju vila. Mungkin dia akan mengajarkan cara menggunakan smartphone padanya.

“Yaa... apa kau sedang bersenang-senang?” (Lefan)
“Iya, oh, ini kan....” (Touya)

Raja Egret yang duduk di kursi di sebelahku memberikanku sesuatu. Benda yang kuter dan kuterima ini berbentuk seperti sebuah lidi kering dan memiliki aroma yang unik.

“Oh, Tentakra kering?” (Touya)
“Ya. Akhirnya jadi juga. Cobalah.” (Lefan)

Saat aku memasukkan ujungnya ke dalam mulutku, aku bisa merasakan teksturnya yang keras dan rasa yang kaya akan umami. Enak juga.

“Enak juga.” (Touya)

“Ya. Kurasa ini sangat cocok dimakan sambil minum alkohol. Tak kusangka kalau makanan ini berasal dari Tentakra yang terlihat menjijikkan itu.” (Lefan)
“Ya. Kurasa akan lebih enak kalau kau menambahkan sedikit mayonnaise. “(Touya)

Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan sedikit mayonnaise pada piring kecil dari [Storage] dan mencelupkan Tentakra kering itu dan memakannya. Uo. Mantap abis. Mungkin memakannya dengan sedikit saus cabe juga mantap. Tergantung pada orang yang memakannya sih.

Raja Egret juga mencelupkan Tentakra kering pada mayonnaise dan mencoba memakannya.

“Ini... mantap sekali! Aku jadi ingin minum alkohol!” (Lefan)

Dia mengajakku untuk ikut minum, tapi aku menolak karena aku tidak suka minum. Lagipula aku masih di bawah umur kalau melihat standar orang jepang. Tapi bagi orang di sini, umur 14 atau 15 tahun sudah boleh minum.

Mungkin karena mendengar pembicaraan soal alkohol, raja Misumide dan Ferzen datang ke sini. Mereka bertiga pun mulai minum sambil memakan Tentakra kering yang dibawa oleh raja Egret tadi.

Aku mencari waktu yang tepat, kemudian mohon pamit pada mereka.

Maaf saja, tapi aku tak mau berurusan dengan orang yang sedang mabuk. Apalagi mereka bertiga terlihat seperti tipe yang suka bertarung. Jadi pasti akan sangat merepotkan nantinya.

Saat aku melihat ke arah pantai, Moroha nee-san sedang bertarung dengan Raja Reinhardt dari Restia menggunakan pedang kayu. Kalian ini... padahal kita sudah jauh-jauh datang ke pantai.

Karina nee-san sedang menangkap ikan menggunakan seruit. Tanpa kusadari, Suika sudah bergabung dengan kelompok yang sedang minum-minum tadi.
Suara yang terdengar seperti lagu dari hawaii ini... kurasa tak perlu kujelaskan darimana asalnya.

Kousuke ojii-san sedang memotong semangka dan membagikannya pada yang lainnya. Semangka dari Brunhild sangat manis dan enak. Tentu saja, yang menanamnya kan Dewa Pertanian, jadi sudah pasti hasilnya akan bagus.

Aku merasa lapar. Tetakra kering tadi hanya bisa dianggap sebagai cemilan. Aku cari makan dulu deh.

Kemudian aku mengeluarkan sebuah set barbeque dari [Storage], menutupi sebagian permukaan panggangannya dengan jala besi dan sebagian lagi dengan piringan besi. Aku meminta beberapa sayuran dari Kosuke ojii-san dan mulai memanggangnya beserta daging naga.

Karena bau yang enak, ketiga tunanganku yang sangat tertarik dengan makanan yaitu Yae, Sue, dan juga Rue, datang ke sini.

“Kelihatannya enak sekali” (Sue)
“Degozaru na...” (Yae)
“Sebentar lagi matang. Jadi bersabarlah. Rue, bisakah kau membantuku?” (Touya)
“Serahkan padaku.” (Rue)

Aku meminta Rue yang jago masak untuk membuat yakisoba agar aku bisa lebih fokus pada panggangannya. Aku mengoleskan kecap di atas jagung yang telah selesai kubakar dan memberikannya pada Sue dan Yae.

“hafu- hafuu... panasnya.” (Yae)
“Panas.. tapi rasanya manis, enak sekali!” (Sue)

Mereka berdua sangat menikmati jagung itu.
Sekarang sudah saatnya untuk memasak dagingnya. Aku juga menambahkan sayur-sayuran seperti bawang, labu, dan juga paprika hijau. Makanan harus selalu seimbang.

“Oh, sepertinya enak.” (Raja Belfast)

“Touya-dono, kami juga mau.” (Kaisar Refreese)
“Sebentar—“ (Touya)

Aku mulai membakar jagung untuk raja Belfast dan kaisar Refreese. Aroma dari daging dan sayuran dan juga aroma kecap yang semerbak mengundang lebih banyak orang untuk datang ke sini.

“Yakisoba sudah jadi.” (Rue)
“Aku mau coba yang dibuat oleh Lucia. Kelihatannya enak.” (Kaisar Regulus)
“Aku juga mau.” (Elysia)

Kaisar Regulus memakan makanan yang dibuat oleh putrinya. Kakaknya Rue, Putri Elysia, juga ikut mencobanya.

Aku meminta Kousuke ojii-san untuk menggantikanku sebentar, dan mencoba yakisoba yang dibuat oleh Rue.
Lada hitam yang ditabur di atas mie yakisoba ini rasanya sangat nendang. Hmm, enak. Jahe merah yang ditabur di pinggirannya juga memberi rasa yang mantap. Sepertinya kemampuan memasak Rue semakin hari semakin hebat, ya...

Tanpa berhenti, Rue terus memasak masakan lainnya seperti ikan yang dibakar dalam bungkusan kertas foil dari ikan yang telah dipancing oleh raja Lihnea, tulang iga bakar yang diolesi madu, onigiri bakar, cangkang turban bakar, udang yang dibakar dengan ditaburi garam, okonomiyaki, dll.
Semua masakan itu sangat enak. Kousuke ojii-san bahkan membuat tomat-keju bakar dalam kertas foil dan ditaburi dengan bawang bombay yang telah dikukus. Masakan ini enak sekali. Rasa dari bahannya dikeluarkan dengan sangat sempurna.
(udesu : serius dah, gw kagak tau ini masakan rasanya kyk gimana... udah seperti reporter makanan aja ‘3’)

Kamipun bermain hingga matahari terbenam setelah menikmati aneka masakan yang sangat lezat tadi.

Setelah mengantar pulang para undangan ke negara mereka menggunakan [Gate], kamipun izin pamit dengan raja Egret dan kembali pulang ke Brunhild.

“Ah... capeknya...” (Elze)
“Salah sendiri karena terlalu banyak bermain.” (Touya)
“... aku tak bisa menyangkalnya.” (Elze)

Aku mengkomentari keluhan Elze sambil tiduran di sofa. Aku juga merasa capek karena harus mengawasi banyak hal saat di pantai tadi.

“Tiduran seperti itu tidak baik, loh, Touya-sama.” (Hilda)
“Ah, maaf. Sebentar saja...” (Touya)

Hilda menegurku. Tapi maafkan aku. Aku sangat lelah sampai-sampai tak aneh kalau aku bisa tertidur saat ini juga... ah, gawat... aku jadi beneran ngantuk.

“Maaf mengganggu disaat kau sedang lelah seperti ini.” (Shesca)
“Uooh.... bikin kaget saja!” (Touya)

Saat aku membuka mataku yang sudah terpejam, aku melihat wajah Shesca yang berada sangat dekat dengan wajahku sampai-sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Oi! Wajahmu terlalu dekat!
Akupun terjatuh dari sofa karena terkejut.

“Oya? Sayang sekali karena kau terbangun sebelum aku bisa memberikan ciuman untuk membangunkanmu.” (Shesca)
“Berisik! Ada apa?” (Touya)

Dasar maid mesum... apa dia sengaja melakukan itu?

“Ada dua orang yang ingin bertemu dengan Master di depan gerbang istana. Aku melaporkannya karena mereka bilang kalau mereka pernah bertemu dengan Master.” (Shesca)
(UDesu: aku lagi malas lihat chapter-chapter sebelumnya untuk menyesuaikan gaya bahasa Shesca dari penerjemah sebelumnya, jadi maafkan aku jika tidak sama ‘3’)

“Dua orang? Siapa mereka?” (Touya)
“Aku tak bisa melihat wajah mereka karena keduanya memakai kerudung yang menutupi wajah. Tapi sepertinya mereka berdua adalah wanita.” (Shesca)

Siapa, ya? Aku sama sekali tak punya ide tentang siapa mereka. Mungkin petualang wanita yang pernah bertemu denganku?

“Mungkin mereka ingin meminta pertanggung jawaban.... jadi, dimana kau menghamili mereka?” (Shesca)
“Siapa yang ngomong soal menghamili, hah? Tunggu, ini salah paham, oke? Itu tadi cuma tuduhan tak masuk akal yang diucapkan oleh maid bodoh ini, oke?” (Touya)

Aku segera menjelaskan pada semua tunanganku yang daritadi melihat ke arahku.
Tidak, aku sama sekali tak bersalah, jadi aku tak perlu membela diri!

“Tidak kok. Kami percaya padamu degozaru yo. Mana mungkin Touya-dono berani melakukan itu... ah, maksudku, Touya-dono pasti tidak bersalah...” (Yae)
“Hanya saja... Touya-sama punya kebiasaan untuk menarik perhatian wanita. Jadi apa boleh buat...” (Yumina?)
“Ada juga kemungkinan kalau mereka lah yang ingin mendekatimu...”
(udesu : gw gak tau ini siapa yang ngomong, karena di sumbernya juga gak dijelasin siapa)

Oi, tunggu dulu. Apa maksudmu dengan “kebiasaan menarik perhatian wanita”?
Untuk sekarang, sebaiknya aku memastikan siapa mereka. Aku menggunakan [Teleport] untuk berpindah ke depan gerbang istana.

++++++

Di depan gerbang istana, ada dua sosok berjubah dengan kerudung yang menutupi wajah mereka.
Saat melihatku, salah satu dari mereka maju dan memanggilku.

“Lama tak bertemu, Mochizuki Touya.” (???)
“...? Siapa... Ah!” (Touya)

Meskipun penerangan sudah redup karena hari sudah senja, mataku masih bisa melihat wajah di balik kerudung itu. Aku hanya pernah bertemu sekali dengannya, tapi tak salah lagi...

“Rize, ya?” (Touya)
“Ya. Aku sedang mencari keberadaan Endymion. Tolong beritahu aku jika kau mengetahui sesuatu.” (Rize)

Rize, salah satu orang yang berada di puncak makhluk kristal, Fraze.
Dia adalah tipe penguasa berjenis kelamin wanita yang bergerak bersama Ende.
Kalau tak salah, dia sedang bergerak secara terpisah dengan Ende saat ini. Seharusnya dia sedang menghubungi adiknya, tipe penguasa yang bernama Nei.
Kalau benar begitu, berarti...

Aku melirik ke arah sosok yang berdiri di belakangnya. Wajah yang kulihat di balik kerudung itu adalah wajah yang sama dengan Fraze yang pernah menyerangku dulu. Dengan refleks, tubuhku mengambil posisi bertarung.
Di depanku berdiri Nei, tipe penguasa yang saat ini menjabat sebagai pemimpin pasukan penyerbu Fraze.






11 comments:

  1. Semangat min update issesuma harianya

    ReplyDelete
  2. Gue pengen nih chapter dianimasiin pengen liat maou terkapar karena disebut menjijikan ama anaknya sendiri

    ReplyDelete
  3. hmmm.... mungkin kah nei jadi baik?

    ReplyDelete
  4. Wow update lagi, thanks min.
    Lanjut...

    ReplyDelete
  5. Makasih min ditunggu next chap 👍

    ReplyDelete
  6. Masih nunngu lama buat si mao(ayah sakura)terkapar gara gara di bilang ''menjijikan ama anak nya sendiri.

    ReplyDelete
  7. Matap betul semangat next si tunggu

    ReplyDelete
  8. Sumpah gw jadi laper pas baca tentang makanan

    ReplyDelete