Maseki Gurume Chapter 12

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Chapter 12 :
Perjalan Kedua ke Ibu Kota (di Benua Lain)


Beberapa jam telah berlalu setelah menerima penjelasan yang mengejutkan dari Olivia.
Sekarang Ain telah turun dari kapal besar dan sedang bergerak ke lokasi yang berbeda.
Sebagai catatan, kapal yang mereka tumpangi sebelumnya memiliki sebuah nama, dan berdasarkan apa yang dikatakan oleh Chris, namanya adalah “Puteri Olivia”.

(Bukankah itu berarti bahwa kapal itu adalah kapal khusus milik ibu?)

Setelah pembicaraan yang memiliki kalimat seperti puteri dan Olivia-sama, Ain tak punya pilihan lain selain menerima kenyataan itu, meskipun dia belum sepenuhnya percaya.

Kecepatan “Puteri Olivia” sangat tidak biasa. Biasanya diperlukan dua atau tiga hari menggunakan kapal untuk mencapai benua ini dari Kota Pelabuhan Roundheart, tapi kapal ini hanya memerlukan waktu yang sangat singkat. Jadi mereka dapat tiba di Ishtarika dengan sangat cepat.

Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Chris, bahan bakar kapal ini menggunakan batu sihir untuk menciptakan gaya dorong, sama seperti kapal yang ada di Heim.
Akan tetapi, meskipun bahan bakar yang digunakan sama, ada perbedaan besar dalam kecepatannya dikarenakan jumlah dan  ukuran mesin yang sangat berbeda.

Bahan yang digunakan untuk membuat mesin dan berbagai bagian lainnya tidak disebutkan dengan jelas, tapi biasanya, ukuran dan jumlahnya ditentukan berdasarkan kekerasan bahan yang digunakan untuk membuatnya.
Dengan perbedaan sebesar ini, bahan yang digunakan untuk membuat lambung kapalnya juga pasti sangat hebat dan tidak diketahui oleh Ain.

Ain tidak tahu cara kerjanya, tapi kendaraan ini, yang menggunakan banyak batu sihir, sangat nyaman digunakan.
Dia merasa sangat puas saat menaikinya.

[Yah, kesampingkan dulu soal kapalnya, aku lebih terkejut mendengar kebenaran soal keluarga tempat ibu lahir.] (Ain)

[Ada apa Ain? Apa kau mengatakan sesuatu?] (Olivia)

[tidak apa-apa bu, aku hanya kaget soal kapal ini...] (Ain)

[Oh ya? Aku sangat bangga soal kapal ini, loh!] (Olivia)

Bisikanku tadi sepertinya terdengar oleh ibu.
Tapi sepertinya dia sama sekali tidak peduli.

Puteri kedua Kerajaan Persatuan Ishtarika, Olivia Von Ishtarika.
Itu adalah nama lama Olivia... atau lebih tepatnya dia kembali menggunakan nama itu sejak bercerai.

Ain kembali mengingat apa yang dia ketahui soal Ishtarika.

Jangankan Heim, bahkan benua tempat Heim berada bukan tandingan melawan Ishtarika jika dilihat dari besar wilayahnya.
Mereka kalah dua kali, tidak, mungkin hampir tiga kali lipat.
Jika semua pulau kecil di benua Ishtar juga dihitung, maka jumlahnya akan menjadi tiga kali lipat, dan kalau melihat dataran utamanya, jumlahnya sebesar dua kali lipat.
Meskipun ada banyak rakyatnya yang tinggal di pulau kecil, mereka tidak terlalu kuat dalam segi militer, karena mereka hanya terdiri dari petani dan rakyat kecil.

Mengingat semua hal itu, Ain merasa bingung kenapa kerajaan yang kuat seperti Ishtarika mengirim putrinya untuk menikah pada Heim.

***

[... Ibu.] (Ain)
[Hm? Ada apa Ain?] (Olivia)

[Sepertinya masih banyak hal yang tidak kumengerti...] (Ain)

Apa yang dijelaskan padaku sebelumnya adalah bahwa ibu adalah putri kedua, dan dia menikah dengan keluarga Roundheart karena ada sesuatu yang dibutuhkan oleh Ishtarika.

Dan juga, ksatria berambut piran yang bernama Chris ini adalah mantan ksatria khusus milik ibu, dan sekarang dia sedang bertugas sebagai ksatria di bagian lain.

Dan satu hal lagi yaitu tujuan kami saat ini.
Tempat yang kami tuju adalah ibukota Ishtarika, tempat dimana orang tua dari ibu tinggal... dengan kata lain, istana.
Kudengar bahwa istana tersebut (seharusnya) sangat indah dan dinamai “Ksatria Putih (White Knight)
Sepertinya nama itu berasal dari raja pertama yang mempersatukan Ishtarika adalah seorang ksatria yang menggunakan zirah putih.

Tapi hal yang paling tidak aku mengerti adalah kenapa ibu menyembunyikan fakta bahwa dia adalah putri kedua, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Ishtarika?
Soalnya mereka sudah mempunyai teknologi yang sangat hebat seperti ini.

Mereka punya banyak sumber daya, mereka tidak punya masalah soal kebutuhan makanan, dan mereka juga punya kekuatan militer yang sangat hebat.
Apa yang mereka butuhkan hingga membuat seorang putri menikah ke kerajaan lain?

[Maaf karena telah membuatmu mengalami keadaan yang sulit, Ain.] (Olivia)

[Ti-Tidak apa-apa kok! Aku baik-baik saja. Soalnya aku tidak terpisah dari ibu dan jadi sendirian, kan?] (Ain)
Biasanya sih begitu.
Sang ibu mengorbankan dirinya dan membiarkan anaknya kabur.
Kemudian sang anak akan berjanji untuk balas dendam pada pria yang menyebabkan kematian ibunya.

[Tak mungkin aku membiarkan hal itu terjadi. Sampai saat kita naik ke kapal di pelabuhan Roundheart, aku sempat berpikir bahwa itu mungkin terjadi... tapi tak peduli seberapa banyak aku memikirkan hal itu, tak mungkin aku akan membiarkan hal itu terjadi. Aku yakin kau pasti punya banyak pertanyaan, kan? Ada beberapa hal yang tak bisa kuputuskan sendiri, jadi mungkin besok... ah, harinya sudah berganti ya... aku akan mengatakannya padamu saat kita tiba di istana nanti.. tak apa-apa, kan?] (Olivia)
[Baiklah... tapi daripada khawatir, aku lebih merasa sedikit tertarik dengan tempat yang akan kita tuju sekarang! Jadi aku akan menunggu dengan sabar.] (Ain)
[Bagus sekali... dia benar-benar anak yang pintar yah, Olivia-sama...] (Chris)
[Ya, dia memang anak yang luar biasa.] (Olivia)


Setelah turun dari kapal, Chris-san tetap berada dekat bersama kami.
Dia bilang, tak ada yang lebih kuat dibanding dirinya di dekat kami saat ini.
Dia pasti adalah seorang ksatria yang hebat, soalnya dia pernah menjadi pengawal puteri.

[Kalian hebat sekali karena bisa bertahan dengan “itu” selama ini... ah, maaf kalau aku lancang.] (Chris)

[... aku masih sedikit menyesal terhadap orang itu, tapi sebagian besar perasaanku sudah lenyap sejak dulu, dan lagipula, sejak awal perasaan itu memang sudah tidak jelas bagiku.] (Olivia)

Tidak hanya Chris yang menyebut ayah Ain sebagai “itu”, bahkan penilaian Olivia terhadapnya tidak terlalu bagus.

(Chris dan Ibu terlihat sangat akrab....)

[Ah!! O-Oh iya... kendaraan apa yang akan kita naiki selanjutnya?] (Ain)
Aku tak tahu soalnya setelah turun dari kapal, kami masuk ke sebuah terowongan...

Aku tidak sadar saat kami berganti kendaraan, soalnya ada karpet dan suasana mewah yang sama dengan yang ada di kapal saat kami berjalan, dan tanpa sadar, kami sudah masuk ke ruangan mewah lainnya.

Tapi dari suara yang kudengar di luar...

[Ah, maaf Ain-sama... kita telah berganti dengan kendaraan yang disebut kereta air... tapi sepertinya tidak ada kendaraan jenis ini di Heim.] (Chris)
[Ke-Kereta air?] (Ain)

Jadi memang sebuah kereta, ya? Aku sudah menduganya dari suara yang kudengar sih... ah, tapi kalau dipikir lagi, mereka memiliki tingkat teknologi yang hebat untuk membuat kapal yang besar dan juga memiliki banyak sumber daya, jadi bukan tak mungkin mereka bisa membuat sebuah kereta dengan mudah.

Tapi, apa maksudnya kereta air? Apa kereta ini berjalan di atas air?

[Ya, kereta air. jika menjelaskan prinsipnya secara mudah...  batu sihir yang dihancurkan kemudian direndam ke sebuah tangki air berbentuk khusus. Ada sebuah lapisan khusus di bawah tangki tersebut yang membuat batu sihir yang telah dihancurkan salin berinteraksi di bagian luar, kemudian menciptakan sebuah energi panas.] (Chris)

Begitu ya... bukankah itu adalah uap?
Sepertinya sih lebih ramah lingkungan dibandingkan menggunakan batu bara, soalnya tidak ada asapnya.

[Jadi, kereta ini bergerak dengan cara menciptakan uap?] (Ain)

[... aku sangat terkejut. Jadi Ain-sama paham dengan cara kerja kereta ini?] (Chris)

[Ain, kapan kau mempelajari soal hal ini?] (Olivia)

[A-Aku kebetulan pernah membacanya di sebuah buku...] (Ain)

Maafkan aku. Aku hanya tau sampai sebatas uap saja. Selebihnya, aku tak tahu bagaimana cara kerjanya.
Yah, seperti... benda ini menghasilkan uap menggunakan dari mesinnya, tapi hanya itu saja yang kuketahui.
Lagipula, aku tidak tahu bentuk turbinnya ataupun ccara kerjanya.
Aku hanya tahu sedikit saja...

[Begitu ya, memang sangat penting untuk mempelajari pengetahuan seperti itu...] (Chris)

[Aku kebetulan saja membacanya.] (Ain)

[Dia benar-benar anak yang luar biasa, kan?] (Olivia)

Aku cukup puas hanya dengan pujian dari ibu.
Senang rasanya sesekali dipuji atas ilmu yang aku ketahui.

[Omong-omong, seberapa cepat kereta air ini? Aku sama sekali tidak merasakan guncangan sedikitpun.] (Ain)

[Apa Anda juga tahu bahwa kecepatan dapat mengurangi guncangan? Yah, izinkan aku menjelaskannya, kecepatan maksimum kereta ini bisa mencapai 1100R, tapi kecepatan normalnya antara 850 hingga 950R.] (Chris)

R adalah satuan yang setara dengan Km. Dan aku bisa dengan mudah memahaminya karena aku masih memiliki ingatan soal itu.

[Kereta ini bisa melaju secepat itu?] (Ain)

Kalau kecepatan pesawat penumpang adalah kira-kira 800km/jam, maka kau pasti paham betapa hebatnya kecepatan kereta ini.
Dengan begitu, kereta ini sama sekali tidak berguncang, selain suara gatangoton (sfx kereta api) yang terdengar samar dari luar, tak ada suara lain yang terdengar sehingga membuat kereta ini sangat nyaman.

[Ya. Begitulah. Anda sama sekali tak merasakan guncangan karena kereta ini dikendalikan dengan sebuah unit pengendali dimensi khusus yang dibuat khusus untuk kereta ini.] (Chris)

Apa itu unit pengendali dimensi? Maksudnya dimensi lain?
Aku jadi takut untuk mendekat ke jendela.

[Be-Begitu ya... berarti penduduk Ishtarika bisa dengan nyaman berpergian kemanapun?] (Ain)

[Saat ini tak ada kereta air yang bisa digunakan oleh rakyat biasa. Omong-omong, kereta ini adalah kereta jalur khusus menuju Stasiun Mawar Putih (White Rose Station), stasiun terbesar di ibukota. Kita berjalan mengikuti rute yang sama dengan kereta air lain, tapi jalur kereta ini adalah jalur pribadi, dan tentu saja kereta ini juga memiliki peron tersendiri di stasiun.] (Chris)

Jadi itu sebabnya kereta ini langsung terhubung dengan kapal tadi?
Yah, jujur saja, aku memang merasa diperlakukan seperti seorang VIP.

[Tapi menaiki kendaraan khusus untuk anggota keluarga kerajaan seperti ini... aku merasa sedikit tidak enak.] (Ain)

Mendengar perkataan Ain, Olivia tertawa kecil, kemudian menutup mulutnya dengan tangan sambil tersenyum.

[I-Ibu? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?] (Ain)

[Tidak kok, Ain, aku hanya merasa itu sedikit lucu... maafkan aku.] (Olivia)

[Baiklah.] (Ain)

Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu?

Kemudian Chris menjelaskan padanya.

[Ain-sama, ini adalah hal yang tidak Anda ketahui sebelumnya, jadi kurasa akan sulit untuk langsung menerimanya...] (Chris)

Dia terlihat merasa bersalah, namun ia tetap melanjutkan penjelasannya.

[Anda juga adalah anggota keluarga kerajaan Ishtarika yang sah, Ain-sama. Anda adalah anak yang sah dari Olivia-sama, putri kedua, jadi tentu saja Anda berhak untuk menggunakan kereta ini.] (Chris)

Be-Benar juga! Aku juga anggota keluarga kerajaan.
Terlebih lagi, aku adalah anak dari seseorang yang statusnya cukup tinggi, yaitu putri kedua!
Tentu saja aku bisa menaiki kereta ini!
Dan izinkan aku mengatakannya lagi...
Jus ini sangat enak!

[Jujur saja, aku benar-benar lupa. Tentu saja anak dari ibu juga adalah anggota keluarga kerajaan.] (Ain)
[Syukurlah kalau Anda mengerti.] (Chris)
[Tak perlu memikirkan hal itu, oke? Soalnya Ain adalah anakku satu-satunya.] (Olivia)

Saat pagi Ain menaiki kereta kuda dan pergi ke ibukota Heim, kemudian dia kehilangan posisinya karena anak kedua, lalu dia tak boleh masuk ke pesta, dan sekarang dia diperlakukan layaknya VIP dan anggota keluarga kerajaan.

Tentu saja alur kejadian ini sangat diluar ekspektasinya.

Ain sangat yakin, bahwa kehidupan keduanya ini adalah bagian dari rencana Dewa, soalnya sudah jelas tertulis “Keluarga Earl” di gacha tersebut.
Oleh karena itu, kejadian ini juga mungkin adalah pengaruh nasib yang menyertainya.

[Oh iya, Olivia-sama.] (Chris)

[Ya, ada apa?] (Olivia)

[Ada satu masalah... yah, mungkin tidak bisa disebut masalah, tapi ada hal merepotkan yang mungkin akan terjadi saat kalian tiba di istana nanti.] (Chris)

[Aku sudah menduganya, soalnya aku mendadak bercerai dan pulang ke sini.] (Olivia)

[Bukan soal itu.] (Chris)

Chris-san sepertinya mencoba mengatakan sesuatu...

[... burung pembawa pesan yang Olivia-sama kirim telah tiba, tapi pesannya diberikan ke kantor kepala pelayan keluarga kerajaan.] (Chris)

Burung pembawa pesan hanya sekedar nama dan bukan burung asli, itu adalah sebuah alat pembawa pesan yang hanya bisa digunakan jika pengirim dan penerima memiliki satu set alat tersebut.

Cara kerjanya adalah dengan membagi sebuah batu sihir menjadi dua menggunakan teknik khusus, sehingga bisa menjaga koneksi.
Jumlah uang yang diperlukan untuk mendapatkan sepasang setnya  tergantung pada jarak yang bisa dicapainya, dan tentu saja, harganya sangat tinggi untuk bisa digunakan antar benua seperti kali ini.

Namun uang juga menjadi masalah, soalnya alat ini tidak begitu praktis karena hanya bisa digunakan satu arah dan hanya sekali penggunaan... atau begitulah yang kudengar.

[Sepertinya memang begitu... soalnya Chris dan para ksatria langsung datang menjemputku...] (Olivia)

Berkat itu, mereka datang menjemput kami di pelabuhan Roundheart dengan sangat cepat, kalau tidak, mengingat waktu yang dibutuhkan untuk mengirim suratnya, mungkin mereka akan membutuhkan waktu kurang lebih seminggu.

[Suratnya memang sudah diantar ke sana, tapi sebelum sampai di kantor pelayan... tidak, bahkan hingga saat kita sampai, Yang Mulia... dan anggota keluarga kerajaan lainnya masih belum diberi kabar tentang kepulangan Olivia-sama.] (Chris)

[Oh.] (Olivia)

Ibu bereaksi seakan tidak peduli soal masalah itu.
Tapi kurasa hal itu pasti akan cukup bermasalah.

[Pada situasi kali ini, karena anggota keluarga kerajaan tidak diberitahu, izin penggunaan kereta air keluarga kerajaan dan “Puteri Olivia” dianggap sebagai perintah darimu, Puteri Olivia. Soalnya Anda adalah anggota keluarga kerajaan.] (Chris)
[Baguslah...] (Olivia)
[Kenapa Raja tidak diberitahukan soal ini?] (Ain)
[Aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Jika dia tahu, ayahku pasti akan mengirim “Raja Putih (White King)] (Olivia)

[Ibu, apa itu “Raja Putih”?] (Ain)

Aku mendengar sebuah nama yang asing bagiku.

[Itu adalah nama sebuah kapal khusus milik ayah... milik Raja Silvard. Kapal itu lebih besar dari “Puteri Olivia”, dan juga karena kapal itu memiliki banyak senjata, kapal itu tak bisa sembarangan pergi keluar pelabuhan.] (Olivia)

[Seperti yang dikatakan oleh Olivia-sama, dan juga karena kami tak mungkin bisa menghentikan Yang Mulia...  dalam banyak artian] (Chris)
Aku sedikit takut untuk bertanya apa yang ia maksud “dalam berbagai artian” tersebut.

[Aku mengerti apa yang kau pikirkan, Chris. Kau pasti sangat ingin berterima kasih pada orang yang bekerja di kantor pelayan, kan? Aku pasti akan menyampaikan rasa terima kasihku pada mereka nanti.] (Olivia)
[Terima kasih atas pengertian Anda.] (Chris)

Ibu ingin mengatakan bahwa ibulah yang telah memberi perintah agar tidak memberitahu Raja dan yang lainnya.
Dan soal izin menggunakan kereta dan “Puteri Olivia”, sepertinya status ibu sudah lebih dari cukup untuk memberi perintah penggunaannya.

Orang-orang yang bekerja di kantor pelayan pasti tidak akan mendapat masalah, soalnya, jika putri kedua Olivia memerintahkan mereka untuk tidak memberitahu, maka mereka harus menurutinya.

[Oh, berarti aku telah menjadi anak yang tiba-tiba pulang tanpa kabar, ya?] (Olivia)
[Aku tidak mengerti apa yang maksud sebenarnya dari kalimat itu, tapi kuharap hal ini tidak akan menjadi masalah besar.] (Ain)
[Fufu... Tak masalah, kan? Sepertinya akan menarik.] (Olivia)

Yang lebih penting, aku juga senang saat ibu terlihat senang.

[Apa jadwal Ayah besok?] (Olivia)

[Sebelum kami menjemput Anda, Olivia-sama, aku telah memastikan bahwa beliau tidak memiliki jadwal khusus untuk besok.] (Chris)

[Baguslah, berarti tak masalah kan jika aku masuk ke istana seperti biasa? Setelah mandi, aku akan segera ke kamarku... tak masalah, kan?] (Olivia)

[Ti-Tidak masalah. Tapi sebelum itu, tolong beritahu Yang Mulia dulu.] (Chris)

[Tapi Ain terlihat lelah. Aku akan menemui ayah saat Ain sudah cukup beristirahat. Tak masalah, kan?] (Olivia)

Aku tak keberatan mendengar rencana ibu.
Hingga saat ini, ini pertama kalinya aku melihat ibu jadi egois mengenai apa yang diinginkannya.

(ibu yang seperti ini bagus juga.)

Meski begitu, aku merasa sedikit kasihan pada Yang Mulia, jadi... ayo beri sedikit bantuan.

[Bu, jika kau tiba-tiba pulang tanpa memberitahu mereka, mereka pasti akan merasa khawatir. Chris-san, jam berapa kereta ini akan tiba di stasiun?] (Ain)

[Y-Ya, jadwal tibanya sekitar jam 11 pagi.] (Chris)

[Terima kasih. Oh iya, kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan menuju istana dari Stasiun?] (Ain)

[Sekitar 20 menit jika kita menggunakan kereta kuda.] (Chris)

Berarti kita akan tiba di istana kira-kira pada pukul 11.20, ya? Ibu bilang kalau dia ingin mandi dulu saat tiba di istana, berarti...

[Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan dulu pada pukul 12.30. Kemudian beristirahat sebentar sekitar pukul 1 siang, setelah itu kita akan pergi menemui Yang Mulia pada pukul 3 sore... Apa tak masalah, bu?] (Ain)

[Baiklah, tapi apa kau akan baik-baik saja, Ain? Kalau mau, kita bisa juga beristirahat selama beberapa hari.] (Olivia)

Itu terlalu lama.

[Karena mulai sekarang aku akan tinggal di sana, aku ingin segera memberi salam pada Yang Mulia. Aku tak ingin beliau mengira aku tidak sopan dan berpikir kalau “Olivia telah gagal dalam mendidiknya”.] (Ain)

[Lihatlah! Ain-ku sangat manis dan hebat sekali kan? Baiklah kalau begitu.] (Olivia)

Asik, aku dapat pelukan dari ibu.

[Oh iya, apa kau bisa menyiapkan sebuah kamar untukku, Chris-san? Aku merasa tidak sopan karena tiba-tiba datang begini.] (Ain)

[Anda sama sekali tidak terlihat tidak sopan, Ain-sama... Kalau soal ruangan--](Chris)
[Untuk sementara, bagaimana kalau berbagi kamar denganku? Tak masalah kan, Ain?] (Olivia)

Sepertinya aku mendapat yang TERBAIK!!!

Hei Chris, jangan melihat kami dengan ekspresi begitu dong...












Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

4 comments: