Tonari no Satou-san Chapter 4

               

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Chapter 4 :
Orang yang duduk di sebelahku dan Ponsel

“Yamaguchi-kun cepat sekali mengetiknya.” (Satou)

 

Aku mendengar suara terkejut dari bangku sebelahku.

 

Aku berhenti mengetik di ponselku dan melihat ke arah bangku yang ada di sebelah kiriku.

Saat pandangan kami bertemu, Satou-san terlihat sedikit kaget.

 

“Oh, maaf. Apa aku mengganggumu?” (Satou)

“Enggak kok.” (Yamaguchi)

 

Aku menjawab sambil menggelengkan kepalaku.

Sebenarnya aku baru saja selesai mengetik. Aku berbicara pada Satou-san sambil mengirim pesanku.

 

“Ketikanku biasa saja kok. Masih banyak orang yang bisa mengetik dengan lebih cepat daripadaku.” (Yamaguchi)

 

Ponsel adalah alat untuk berkomunikasi. Tentu saja semakin baik jika kau bisa membalas dengan cepat.

Karena tulisan pendek bisa dikirim dengan cepat, maka semakin lama kau membalas, maka lawan bicaramu bisa saja menjadi cemas atau kesal. Beberapa orang bahkan bisa protes karena hal itu. Aku juga tidak suka melihat orang lain ribut karena aku “telah membaca” pesan mereka namun tidak membalasnya. Oleh sebab itu aku selalu membalas secepat yang kubisa setelah membaca pesan mereka.

 

 

“Kurasa itu sudah cepat.” (Satou)

Satou-san memiringkan kepalanya.

 

“Setidaknya lebih cepat dariku. Aku tidak punya cukup waktu untuk membalas pada saat istirahat makan siang, jadi aku selalu menjawabnya saat sudah pulang ke rumah.” (Satou)

“Begitu...” (Yamaguchi)

 

Sambil menjawab dengan datar, aku berpikir bahwa itu memang Satou-san banget.

 

Dia memang begitu.

Semua yang dilakukannya selalu lambat dan ceroboh. Terlebih lagi hasilnya juga akan buruk.

Mungkin dia terlalu lama berpikir untuk menjawab apa.

 

Tapi aku jadi terkejut meskipun telah berpikir sejauh itu.

 

“Eh, Satou-san punya ponsel?” (Yamaguchi)

 

Siswa SMA yang tidak punya ponsel adalah makhluk yang langka. Tapi kesampingkan dulu hal itu, apa Satou-san bisa menggunakannya? Kupikir dia ini tipe yang bahkan belum  membaca setengah dari buku manualnya.

 

(tln : gw malah yakin orang indo jarang ada yang baca buku manual ponsel. ‘3’)

 

“Ya. Aku punya.” (Satou)

 

Satou-san mengangguk.

Dia menjawab dengan semangat sambil menepuk kantong seragamnya.

 

“Biasanya aku selalu mematikan dan menyimpannya di kantong karena aku tak punya waktu untuk menggunakannya saat di sekolah.” (Satou)

“Hee....” (Yamaguchi)

 

Satou-san ternyata juga menggunakan alat modern.

Jujur saja aku tak bisa berhenti membayangkan dia terus salah menekan tombol saat mengetik pesan.

 

“Itulah sebabnya aku berpikir kalau Yamaguchi-kun sangat hebat saat aku melihatmu mengetik dengan satu tangan.” (Satou)

Satou-san mengatakan itu sambil tersenyum.

 

“Kurasa orang yang menerima balasan dari Yamaguchi-kun juga pasti akan senang.” (Satou)

 

Entah mengapa aku merasa sedikit tidak enak saat melihat senyum polosnya itu.

Aku yakin dia pasti sedang memikirkan sesuatu yang kurang sopan.

Aku pun kembali melihatnya dan menjawab.

 

“Mungkin. Memangnya kenapa?” (Yamaguchi)

“Soalnya siapa saja pasti akan senang saat pesannya dibalas dengan cepat.” (Satou)

 

Entahlah. Aku merasa biasa saja saat membalas pesan dengan cepat.

Soalnya dengan adanya ponsel, kau tidak bisa tidak menjawab saat seseorang mencoba menghubungimu.

Jika seseorang menghubungimu dan berharap balasan darimu, wajar saja kalau kau membalasnya secepat yang kau bisa.

Kupikir itu adalah hal yang wajar dalam berkomunikasi. Jadi aku tak pernah memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain.

 

“Aku akan senang jika mendapat balasan yang kutunggu dengan cepat. Bahwa ada seseorang yang terburu-buru demi diriku. Itu membuatku merasa terhubung dengannya.” (Satou)

 

Jawab Satou.

 

“Ketikanku sangat lambat. Aku membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkan apa yang harus dikatakan, bagaimana mengatakannya, itulah sebabnya membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk memikirkan satu kata saja.” (Satou)

 

Dia mengatakannya sambil tertawa.

 

“Itulah sebabnya kenapa aku selalu membalas saat sudah tiba di rumah. Agar orang yang menerima pesanku juga punya waktu untuk membalas. Dan aku juga punya waktu seharian untuk memikirkan apa yang harus kubalas selanjutnya.” (Satou)

 

Dia berbicara padaku yang telah berhenti mengetik dengan terlihat senang.

 

“Tapi orang selalu saja mengatakan ‘terus apa gunanya ponsel’ dan menertawaiku.” (Satou)

 

Yah, kalau begitu tentu saja tak ada gunanya dia punya ponsel.

Mungkin Satou-san memang tidak cocok menggunakan ponsel.

 

(tln : memang sih ponsel itu gunanya supaya bisa berkomunikasi secara real time. Kalau seperti yang dibilang satou sih, gak ada bedanya sama mengirim surat)

 

Tapi meski begitu, bukankah itu berarti bahwa dia masih bisa berhubungan dengan orang lain?

Dia membutuhkan waktu yang lama untuk memikirkan jawaban pesannya.

Bukankah itu berarti dia selalu memikirkan lawan bicaranya? Bukankah itu berarti perasaannya bisa tersampaikan dan terhubung pada orang itu?

Mungkin orang yang terhubung dengannya juga akan merasa senang jika tahu kalau Satou-san juga memikirkan soal dirinya.

 

Aku segera berpaling ke arahnya.

“Satou-san, bukanka—“ (Yamaguchi)

 

Ponsel di tanganku berdering dengan nada dering pendek di saat yang lagi penting seperti ini.

Apa yang ingin kukatakan tadi jadi menyangkut di tenggorokanku.

 

“Ah, maaf mengganggumu saat sedang sibuk.” (Satou)

 

Satou-san tersenyum seakan menyuruhku untuk melihat ponselku.

Aku hanya bisa melihat layar ponselku dan entah kenapa merasa kesal saat melihat stiker cuaca yang muncul di sana.

 

(tln : stiker di aplikasi LINE ‘3’ )

 

Tapi... sebenarnya itu tak ada hubungannya denganku sih.

Duduk di bangku sebelahnya bukan berarti aku dan Satou-san bisa saling memahami satu sama lain. Tempo kami berdua sangat berbeda hingga membuat jarak yang bisa dengan mudah terlihat, meskipun itu masih dalam topik komunikasi yang sama.

 

Rasanya agak aneh karena aku ingin bertanya dengan siapa dia bertukar pesan dan balasan semacam apa yang dipikirkannya.

 

Bukannya aku tidak penasaran dengan balasan macam apa yang diketik oleh tangan-tangan cerobohnya itu.

Tapi aku tak tahu bagaimana cara meminta nomor kontaknya, jadi pada akhirnya aku hanya diam saja.

 

(tln : Yamaguchi tsundere ‘3’)




Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

0 comments:

Post a Comment