Tonari no Satou-san Chapter 5

                

TranslatorUDesu
Editor
UDesu
Proof Reader
UDesu

Chapter 5 :
Hari minggu bersama gadis yang duduk di sebelahku

Aku menaruh kembali majalah yang kubaca ke rak bersamaan dengan bergantinya musik yang diputar di toko. Aku punya kebiasaan untuk nongkrong di swalayan saat sedang berpergian di hari minggu. Tidak ada hal menarik yang kulakukan. Aku hanya membeli permen karet untuk menghabiskan waktu. Aku selalu melakukan itu setiap hari libur.

 

Aku masih melihat-lihat rak majalah. Aku sendiri sadar kalau ini bukanlah kebiasaan yang baik untuk dilakukan.

Tak lama kemudian, aku melihat pintu otomatis yang berada di sudut pandanganku terbuka.

 

“Ah...” (Satou)

 

Seorang gadis masuk dan membuat suara kecil.

 

Aku mengenali gadis itu. Kenapa aku bisa bertemu dengannya di sini? Kudengar kalau dia tinggal di dekat SMA Timur.

Aku memalingkan pandanganku darinya sehingga pandangan kami tidak bertemu. Mungkin aku akan berpura-pura tidak mengenalnya saja. Tapi aku malah mendengar suara langkah sepatu yang mendekat. Aku segera mengambil majalah film yang berada dekat denganku dan membaca informasi seputar film baru yang sebenarnya tidak terlalu menarik perhatianku.

 

Langkah kaki itu berhenti tepat di sebelahku. Usahaku tadi jadi hancur oleh sebuah suara yang tak asing bagiku.

 

“Apa... apa mungkin kamu adalah Yamaguchi-kun?” (Satou)

 

Aku tak bisa menghiraukannya lagi setelah mendengar dia menyebut namaku.

Aku mengangkat pandanganku dari majalah yang sedang kubaca dan dengan enggan menjawabnya.

 

“Satou-san...” (Yamaguchi)

 

Ya. Dia adalah Satou-san yang duduk di sebelahku.

 

Dia memakai baju berwarna krem. Rambutnya diikat ke belakang dengan simpul yang biasa saja. Dia juga mengenakan  sepatu kets. Seperti halnya penampilannya saat sedang di sekolah, gaya berpakaiannya saat ini sama sekali tidak ada imutnya. Jika aku bertemu teman sekelasku di luar sekolah, biasanya aku akan sedikit gugup karena mereka sangat manis saat mengenakan pakaian normal. Tapi itu tidak terjadi pada Satou-san. Rasanya malah menjadi canggung.

 

“Sudah kuduga kalau kamu Yamaguchi-kun!” (Satou)

 

Berbeda dengan isi pikiranku tadi, wajah Satou-san terlihat riang dan tersenyum.

 

“Kebetulan sekali ya bisa bertemu di sini.” (Satou)

“Ya...” (Yamaguchi)

 

Aku menutup majalah yang kubaca dan mencoba tersenyum samar. Aku tak mau orang lain mengira kalau aku senang bertemu dengannya di sini. Lagian, kurasa Satou-san pasti senang tak peduli siapapun teman sekelas yang ditemuinya.

 

“Apa Yamaguchi-kun tinggal di dekat sini?” (Satou)

“Kira-kira 15 menit berjalan kaki dari sini.” (Yamaguchi)

“Oh begitu, ya.... aku sama sekali tidak tahu...” (Satou)

 

Satou-san masih tersenyum.

 

“Aku berencana untuk bertemu dengan temanku di dekat sini. Aku baru saja tiba menggunakan bus.” (Satou)

“Oh ya?” (Yamaguchi)

 

Kurasa Satou-san juga akan merasa kesepian kalau menunggu seorang diri. Aku sedikit terkejut. Kupikir dia akan baik-baik saja saat sendirian.

Saat aku kesulitan untuk menjawabnya, dia berdiri di sebelahku dan melihatku sambil cemberut.

 

“Yamaguchi-kun, kau terlihat berbeda saat memakai pakaian biasa.” (Satou)

 

Aku semakin merasa tidak enak saat dia mengatakan kalau dia terkejut saat melihatku.

 

“Entahlah. Kurasa aku terlihat normal.” (Yamaguchi)

 

“Tidak, kau terlihat lebih dewasa. Saat pertama kali aku melihatmu, kukira kau orang yang lebih tua.” (Satou)

 

Satou-san menepuk kedua tangannya dan memujiku.

 

“Selera berpakaian Yamaguchi-kun sangat bagus.” (Satou)

 

“Enggak juga kok.” (Yamaguchi)

 

Aku tidak memintanya untuk memujiku, tapi dia tetap saja keras kepala. Kuyakin kalau dia berpikir siapapun pasti akan senang kalau dipuji. Sayangnya aku tak senang sama sekali saat dipuji oleh orang seperti Satou-san. Baju yang dikenakannya terlihat simpel dengan warna krem dan desain polos. Baju sepanjang lutut yang dikenakannya itu membuatnya terlihat seperti anak SMP. Gaya rambutnya juga terlihat sama seperti biasanya dan tak ada yang bisa dipuji darinya. Aku tak bisa menghiraukannya begitu saja setelah dipuji olehnya.

 

“Yah, Satou-san memang begitu orangnya.” (Yamaguchi)

 

Pada akhirnya aku tak menemukan apapun yang bisa kupuji darinya. Dan aku juga tak bisa mengatakan apa yang sedang kupikirkan.

 

“Kau juga terlihat manis mengenakan pakaian itu.” (Yamaguchi)

“Eh?” (Satou)

 

Mata Satou-san terbelalak saat mendengarnya.

 

“Baju yang kau pakai... kurasa desainnya sangat cocok denganmu, Satou-san.” (Yamaguchi)

 

Memang benar, pakaian itu sangat pas dipakai olehnya. Aku tidak bisa mengatakan kalau dia memiliki selera berpakaian yang bagus, tapi karena dia terlihat kekanak-kanakan dan lucu... ya, sebut saja dia lucu....

 

“Benarkan?” (Satou)

“Ya.” (Yamaguchi)

 

Dia bertanya kembali padaku, jadi aku tak punya pilihan lain selain mengangguk.

Lalu Satou-san tersenyum malu.

 

“Oh. Terima kasih.” (Satou)

“Ah. Jangan terlalu dipikirkan.” (Yamaguchi)

 

Itu bukanlah sesuatu yang mesti diberi ucapan terima kasih.

Tapi sebelum aku sempat mengatakan itu, pipi Satou-san terlihat sedikit memerah.

 

“Aku tidak sering dipuji, jadi aku merasa sedikit malu... tapi aku senang mendengarnya.” (Satou)

 

Warna merah di wajah tersenyumnya itu mengingatkanku pada wajah setelah selesai berendam di air panas. Aku sama sekali tak pernah melihat wajah malu akibat dipuji tersebut saat di sekolah.

 

Oh iya, ini pertama kalinya aku bertemu Satou-san di luar sekolah. Mungkin ini juga pertama kalinya aku memujinya. Aku tak bisa menemukan apapun darinya yang bisa kupuji. Dan aku juga tidak punya kewajiban untuk memujinya hanya karena aku duduk di bangku di sebelahnya.

Rasanya aku ingin menarik kembali ucapanku tadi. Satou-san adalah orang yang jujur. Aku yakin dia akan senang tak peduli siapapun yang memujinya, meskipun itu hanya sekedar sanjungan yang tidak memiliki maksud yang sebenarnya. Dia tetap akan senang mendengarnya.

Meskipun pujian yang didapatnya adalah pujian terhadap pakaian yang dikenakannya. Meskipun sudah jelas kalau itu semua bohong. Pakaiannya sama sekali tidak cantik. Ya, pakaiannya sama sekali tidak cantik.

 

“Ah.” (Satou)

 

Tiba-tiba Satou-san tertegun. Di kaca yang berada di belakang rak majalah terlihat seorang gadis sedang melambai ke sini dari luar. Sepertinya mereka telah janjian.

 

“Temanku sudah datang, jadi aku permisi dulu. Sampai jumpa besok, Yamaguchi-kun.” (Satou)

 

Setelah mengatakan itu, Satou-san berlari ke arah pintu swalayan. Dia bercakap-cakap dengan gadis yang baru saja masuk ke dalam swalayan itu. Tanpa melihat ke arahku, mereka pun berbelanja bersama. Suara percakapan mereka bisa kudengar menyertai suara alunan musik di dalam swalayan.

 

Aku pun menghela nafas dan ingat kalau saat ini aku sedang memegang majalah film di tanganku. Aku tak mau membelinya, lagian aku juga tidak tertarik dengan majalah ini. Jadi aku meletakkannya kembali ke rak dan berperilaku seakan tidak peduli sama sekali.

Terdapat kesamaan antara Satou-san dan swalayan ini. Mungkin sudah menjadi kebiasaan, tapi ada beberapa jam dalam sehari dimana aku melakukan suatu hal sambil berbicara dengannya. Tentu saja aku jadi menyia-nyiakan waktu berhargaku hanya untuk berpikir tentangnya.

Aku penasaran seberapa sering aku akan memikirkan tentangnya dalam satu minggu kedepan yang akan dimulai dari esok hari, dan seberapa banyak hal acak yang akan dibicarakannya denganku, yang akan membuatku bingung dengan kebiasaannya yang membosankan itu.

 

Dan begitulah, akhir mingguku telah dihancurkan oleh penyesalan yang baru.




Sebelumnya || Daftar Chapter  || Selanjutnya

0 comments:

Post a Comment